Bermula Karena Dendam

Bermula Karena Dendam
Bab 26 Pertanyaan


__ADS_3

"Tidak mungkin, aku sulit untuk jatuh cinta?" Emeryl berusaha melepaskan diri dari Elang tapi pria itu memeluknya dengan sangat erat.


"Kau sudah menggodaku, maka kau harus membayarnya." Ujar Elang, dengan gagahnya.


"O ya? Aku merasa tidak melakukannya." Emeryl berkelit.


"Baiklah, kau mau menantangku rupanya." Elang mendudukkan diri sehingga Emeryl berada persis dipangkuan nya.


Pemuda itu menghujani Emeryl dengan ciuman di seluruh bagian wajah cabi nya hingga tak berkutik. Sampai gadis itu kesulitan untuk bernafas.


"Elang...!" Emeryl berteriak dan memukul pangkal pahanya. "Aku bisa mati jika begini!" Pekiknya lagi, dengan nada marah.


"Biarkan saja, aku sangat menyukaimu!" Elang mengacak-acak rambut sebahu milik Emeryl. "Seandainya aku bertemu dirimu lebih awal."


"Hem?" Emeryl menganga mendengar ungkapan Elang. "Kau mau apa emangnya?"


"Aku akan menikahimu," jawab Elang, sayu. Pemuda itu melepaskan Emeryl dan pergi keluar kamar. Dia sengaja meninggalkan kata-kata yang membuat pikiran Emeryl seakan melayang-layang.


"A_ apa yang dia katakan?" Emeryl bergumam seorang diri. Tubuhnya bergetar menanggapi kata-kata manis yang baru pertama kalinya Ia dengar dari seorang pria.


...🌺🌺🌺🌺...


Matahari mulai menampakkan bias-bias cahaya nya dari ufuk timur, perempuan tua berusia lebih dari 60 tahun itu sedang joging di halaman rumah.


"Elang, dimana kekasihmu?" Tanya Eyang Kanesty. Sebab Ia mendapati Elang keluar seorang diri.


"Aku titip kekasihku sebentar, Eyang . Ada urusan mendesak," jawab Elang dari kejauhan. Pemuda itu sudah menaiki motornya dan berlalu dari halaman.


Emeryl mengamati Elang, Ia sengaja mau melihat wajah Elang sehingga memutuskan melihat dari atas balkon. Tapi sayang, usaha Emeryl sia-sia. Ia hanya dapat melihat kepala dan tubuh jangkung nya saja dalam keadaan memakai helm.


"Aku sangat penasaran dengan pria itu? Pasti dirumah ini ada fotonya yang terpajang."


Emeryl masuk kembali ke dalam kamar dan memeriksa ruangan kamar yang kini terlihat terang-benderang. Tetapi anehnya ruangan itu tidak ada satu pun Foto Elang ataupun orang lain.


Emeryl melihat Laptop diatas meja, tapi Ia yang tidak berpendidikan tidak mungkin bisa mengecek ke dalam benda canggih itu. Setahunya benda itu juga bisa dipakai menyimpan Foto dan segala yang penting.


"Sial, apa pria itu tidak pernah berfoto sekali pun." Emeryl benar-benar kesal. Ia pun keluar dan memeriksa setiap dinding ruangan yang dilewatinya. Hanya ada foto Eyang Kanesty berdiri memakai tongkat, foto keluarga yang didalamnya tidak ada yang bisa di anggap sebagai Elang dan beberapa pernikahan foto Tania dan suaminya.

__ADS_1


"Ya ampun, aku tidak melihat apa pun?" Emeryl berdecak, jengkel.


"Ehemz...!" Rupanya Diana mengamati tingkah laku Emeryl. Perempuan yang masih terlihat garis kecantikannya itu menyilang kan tangan menatap sinis.


"Kau mau cari apa? Jangan bilang kalau kau mau cari barang berharga yang bisa di jual ke tukang loak?" Mommy Diana menyindir seakan Ia adalah pencuri.


"Maaf, Bi_."


"Apa, Bi? Sejak kapan aku menjadi Bibimu?" sela Mommy Diana. Ia berkata sambil melotot. Emeryl sendiri sampai kaget mendengarnya. Sepertinya Mommy Diana tidak suka panggilan orang kampung yang di ucapkan barusan.


"Ma_ maaf, saya tidak tahu harus memanggil apa?" Emeryl menundukkan kepalanya. Ia menjimpit baju yang masih sama saat Ia datang.


Mommy Diana memandangi Emeryl secara menyeluruh. "Ya ampun, apa kau belum mandi se siang ini. Mana bau lagi." Mommy Diana mengipas-ngipas hidungnya seakan-akan merasa terganggu.


Emeryl jadi salah tingkah, Ia mendengusi seluruh tubuhnya dan meyakini farfum nya masih menyeruak kedalam rongga hidungnya.


"Oh ya, dilihat dari caramu berbicara. Sepertinya kau ini bukan perempuan kaya ya? Jangan bilang jika baju yang kau pakai adalah pembelian Elang?"


Ucapan Mommy Diana benar-benar bernada merendahkan. perempuan 19 tahun itu tidak menjawab, Ia bingung harus mengatakan apa. Karena pada kenyataan nya Ia bahkan tidak lulus Sekolah menengah atas.


"Diana...!" Panggil Eyang Kanesty, perempuan Lansia itu menekankan suaranya. Entah sedari kapan telah berdiri di belakangnya.


"Mama...." Diana berbalik dan melihat Eyang Kanesty sibuk mengelap keringat. "Cepat pergi ke dapur dan cek apakah sarapan ku sudah siap!" Lanjutnya lagi menambahi.


"Baiklah, Ma. Saya kebelakang dulu!" Diana melirik Emeryl sesaat, lalu menghentakkan sendalnya menuju dapur. Ia sangat terpaksa mematuhi keinginan Eyang Kanesty.


Sekarang ganti Eyang Kanesty yang mengintrogasi Emeryl.


"Ayo ikut Eyang!" Ajaknya, dingin. Emeryl mengikuti Eyang Kanesty ke sebuah taman.


"Duduk!" Titahnya lagi. Emeryl menurut. Lama memandangi Emeryl. Eyang Kanesty beralih menatap kearah Seorang pekerja kebun yang sedang memotong tanaman.


"Berapa lama kalian berpacaran?" Pertanyaan Eyang Kanesty sontak membuat Emeryl terbatuk-batuk. Perempuan lansia itu acuh tak acuh. "Apa dia pernah menidurimu?" Pertanyaan kedua terlontar lagi.


Emeryl mematung, Ia tidak mungkin mengaku pernah menjalani hubungan nista itu didepan Eyang Kanesty. Tapi walaupun tidak menjawab, sepertinya Ia sudah tahu jawaban atas diamnya Emeryl.


"Berapa kali?" Kali ini Eyang Kanesty menatap lekat wajah Emeryl.

__ADS_1


Dia menggeleng. Sampai saat ini, Ia masih ingat jelas Elang pernah melakukanya hanya di malam pertama mereka bertemu.


"Berkali-kali?" Tebak Eyang Kanesty.


"Apa? Adikku pernah menidurinya, Eyang?" sahut Tania dari jarak yang tidak seberapa jauh dengan mereka. "Murahan sekali dia. Adikku itu seorang yang terkenal, masa meniduri perempuan sederhana seperti dia!" Tania berkata bengis.


"Tidak usah ikut campur, masuk dan bantu Mommy mu menyiapkan sarapan!" Eyang Kanesty menimpali.


"Ck... menyebalkan." Tania dengan malasnya mengikuti perintah Eyangnya itu.


Emeryl meneguk salivanya berulang-ulang. Ia benar-benar seperti seorang tahanan yang sedang dimintai keterangan tentang keburukannya. Meski Ia sadar, perbuatan itu bukanlah keinginannya. Ia hanyanya korban perbuatan lelaki yang tidak punya hati seperti suaminya Kevin.


Jika bukan karena lelaki kejam itu, Ia tidak mungkin terus-terusan berhadapan dengan situasi yang teramat suli tseperti saat ini.


Berstatus masih istri orang bukanlah sesuatu yang mudah, dan dengan gampangnya Elang mengenalkan Ia pada keluarga besarnya sebagai seorang kekasih.


Mustahil, satu kata itu yang menyelimuti pikiran Emeryl. Kevin pasti akan terus membuat hidupnya bagaikan di neraka karena dendam yang tidak Ia ketahui.


"Eme, kau belum menjawab satu pun pertanyaan Eyang?" Perempuan lansia itu menyadarkan Emeryl dari kemelut yang mengganggu otaknya.


"Saya baru beberapa hari mengenal Elang, Eyang. Bahkan Ia juga baru mengatakan kalau Ia suka denganku pagi tadi. Aku juga tidak tahu, apa tujuannya mengenalkan ku sebagai kekasih pada Eyang dan keluarga," Jawab Emeryl sejujur-jujurnya.


Eyang Kanesty mengangguk-anggukkan kepala.


"Apa kau menerimanya?"


...🏵️🏵️🏵️...


Buah duku buah manggis


aku tersipu dirimu manis


...💥💥💥💥...


Okey, salam sayang semua, Ini adalah novel ke 9 yang saya tulis. Entah suka tidaknya kalian membaca, aku ucapkan terima kasih masih selalu menemani dan mensupport aku sampai ini.


Jangan lupa tinggalkan jejak manisnya di oretan lembar kerja saya ini untuk menjadi motivasi saya agar selalu semangat. I love you, Full...

__ADS_1


__ADS_2