Bermula Karena Dendam

Bermula Karena Dendam
Bab 30 Pesta


__ADS_3

"Kenapa menolak?" Kevin mengusap kasar wajahnya. Ia tidak menyangka jika istrinya sendiri menghindari sentuhannya. "Oh iya, kau sudah mendapatkan sentuhan pria lain ya, jadi kau merasa puas?" Kevin berbicara masih saja dengan nada merendahkan.


Emeryl tidak perduli, Ia mendorong dada Kevin dan beranjak keluar. Tapi Kevin tidak tinggal diam dan menahan lengan Emeryl kemudian memeluk perempuan itu dari belakang.


"Aku menyesal tidak menikmati tubuhmu lebih dulu!" Hati Emeryl bergemuruh mendengarnya. Kevin tidak berpikir jika perkataannya semakin membuat Emeryl serasa muak.


"Sayang, berikan aku satu kecupan saja sebelum si tua bangkotan itu menyentuhmu!" Kevin menyelusup ke jenjang leher yang kini telah terbalut dengan cadar. Sering merasakan sakit tidak membuat Emeryl merasa pantas menerima sentuhan suami sendiri.


Jika suaminya adalah suami yang mencintai istri karena Allah, Ia tidak akan mungkin menyakiti hati pasangannya meski sebesar biji jagung sekalipun. Tapi kenyataanya, Kevin tega menjual dirinya layaknya wanita murahan pada pria lain dan sampai hati menjadikan Ia sebagai alat membayar hutang.


Emeryl diam saja, Ia tidak bereaksi apa pun atas tindakan Kevin. Pria itu mengecup pipinya sesuka hati. Hingga sebuah hentakan pintu terbuka sampai mengagetkan keduanya.


"Maaf, Bos!" Rupanya dia adalah Petir. Kevin sampai jantungan dibuatnya. Ia mengira jika yang datang adalah Diaz atau pesuruhnya. Maka tamatlah riwayatnya.


"Bos Diaz sudah menunggu!" Ujar Petir. Pria bertubuh besar itu tidak berani menatap Kevin dan Emeryl. Ia terus saja menundukkan kepalanya lalu berlalu meninggalkan keduanya lebih dulu.


"Kau sudah siap, Baby. Kamu tenang saja, aku akan melenyapkan Diaz lewat tanganku secepatnya. Dengan begitu kau akan menjadi milikku tanpa beban," bisik Kevin di telinga Emeryl. Pria itu langsung menggeret lengannya keluar dan menyerahkannya pada Diaz dengan cara melemparkannya hingga masuk ke pelukan Diaz.


Perempuan itu begitu ketakutan, tapi Ia berusaha untuk tetap biasa mengendalikan diri.


"Oh, bidadariku. Kau pasti tengah menyembunyikan kecantikanmu di bali kain itu! Aku benar-benar tidak sabar menantikan malam pertama kita!" Diaz membelai wajah Emeryl dengan lembut. Emeryl yang jijik kembali memalingkan wajah.


"Astaga, Kevin. Istrimu sungguh menggoda. Aku terhipnotis dibuatnya!" Diaz nampak berbinar, tidak peduli se geram apa Emer terhadap perlakuannya.


"Ayo, Sayang!" Diaz merangkul Emeryl dan membawa perempuan cantik itu keluar. Diikuti Kevin dan Petir dengan mobil berbeda.


Sepanjang perjalanan, Kevin terus membisu. Ia merasa kesal, marah dan benci pada Sikap Diaz tadi terhadap Emeryl. Ia jadi merasa tidak terima membayangkan bagaimana Emer akan bermalam dengan pria ujur tersebut.

__ADS_1


"Ck, dasar orang gila. Jika bukan karena ingin mendapatkan sesuatu, sudah ku lenyapkan dia dari dulu!" Cemo'oh Kevin seorang diri.


"Siapa, Bos?" Sahut Petir yang mendengar dumelan nya.


"Tidak ada, aku akan memberi tahumu jika sudah tepat waktunya," jawab Kevin masa bodoh. Ia membuka jendela mobil dan membiarkan alunan angin malam menerpanya. AC mobil yang menyala seakan tidak bisa mengurangi rasa gerah didadanya.


Malam itu jatuh tepat pada tanggal lima belas bulan jawa, dimana Bulan purnama di ibu kota terlihat hanya temaram saja dikalahkan oleh jutaan lampu yang berjejer rapat pada semua bangunan yang berdiri berderetan di tepian tak jauh dari jalan. Menghiasi keindahan hakiki yang menjadi tempat idaman orang dikampung untuk menyambanginya.


Namun sayangnya, hanya sebagian dari mereka yang memimpikannya saya yang bisa menginjakkan kaki disana Karena semua adalah garis takdir.


Tak semua yang sampai disana juga memiliki nasib yang baik, nyatanya banyak yang akhirnya hanya hidup menjadi pengemis, pedagang asongan, pemulung bahkan sampai menjual diri demi sesuap nasi.


Kevin sendiri terlahir di kota Palembang. Tapi akhirnya memutuskan tinggal di Ibu kota karena pekerjaan yang mungkuni. Ya, dia sudah menjadi seorang pengedar barang ilegal sejak usia 17 tahun.


Setiap bulan, pria itu mengirim uang pada keluarga dengan jumlah yang banyak. Jika ditanya dari mana uang itu. Kevin selalu bilang Ia mendapatkannya dari hasil bekerja di kantoran. Setelah memiliki rumah sendiri, mereka semua diboyong ke kota.


"Bos, Anda sedang memikirkan sesuatu?" Tanya Petir, menatap skeptis.


Kevin menggeleng. "Apa sebentar lagi kita akan sampai?" Tanya Kevin, balik.


"Iya, Bos. Lima menit lagi," jawab Petir.


Benar saja, mobil mereka menepi pada sebuah Restoran bintang lima. Dimana musik sudah berdendang ria. Pasti sang empunya acara telah membooking nya sehingga bisa di pergunakan dengan leluasa.


Kevin keluar mobil sambil terus memperhatikan Diaz merangkul Emeryl didepannya. Jika bukan karena ada maunya. Kevin ingin sekali menghancurkan wajah Diaz hari itu juga.


"Hai kawan, siapa dia?" Sang pemilik acara menyalami Diaz dan terus memperhatikan Emeryl dengan tatapan ******.

__ADS_1


"Hey, Sobat. Berhenti memandanginya, dia adalah hiasan permataku malam ini," sindir Diaz. Ia tidak rela ada yang tertarik dengan wanitanya. Emeryl sendiri mengkerut disamping Diaz. Ia sangat jijik pada tatapan orang-orang disana.


Semua tamu sangat ramai, mereka datang sambil bergandengan dengan pasangan. Rupanya semua perempuan kompak memakai penutup wajah dan itu sangat mengejutkan Diaz dan Petir.


Tidak mau ambil pusing, Kevin dan Petir memilih duduk pada satu pasang kursi yang ditata sedemikian rupa. Sepertinya akan banyak pesta yang akan terjadi nanti.


"Sayang!" Teriak seorang perempuan memakai cadar berwarna kuning serasi dengan pakaiannya. Kevin paham betul itu adalah suara Lana.


"Hai, kamu datang juga. Sama siapa?" Tanya Kevin.


"Sendirilah, O ya makasih berliannya!" Lana begitu bangga menunjukkan kalung yang melingkar di lehernya. Tentu saja Kevin akhirnya bertanya-tanya sebab dia merasa tidak pernah memberi Lana sesuatu.


"Oya? Emang ini pesta apa sih? Kok aku penasaran ya?" Belum juga mendapat jawaban, Lana sudah mengalihkan topik pembicaraan.


"Entahlah, aku juga tidak tahu. Yang punya acara agak sinting kali?" Cibir kevin, sesukanya.


Lana pun menggeret kursi dan duduk, tapi dia tidak mau diam. Sampai akhirnya Ia sadar jika Kevin tengah mengamati seseorang yang duduk di kursi utama.


"Mereka siapa, Mas?" Tanya Lana, ingin tahu.


"Bis Diaz," jawab Kevin agak sungkan.


"Oh itu orangnya terus yang pakek cadar merah siapa?" Tanya Lana lagi. "Oh, jangan bilang kalau itu maduku ya?" Lana tersenyum puas melihat Emeryl tertekan karena Diaz tak henti-hentinya membelai wajah Emeryl.


"Is, menjijikan. Apa terong si pria tua itu masih sangat tangkas?"


...💥💥💥💥...

__ADS_1


__ADS_2