
"Ha? Kau becanda, Mas?" Lana tidak mungkin percaya secepat itu, lalu untuk apa Kevin menikahinya jika bukan karena cinta.
Kevin tersenyum. "Ada yang sanggup membayar dia 1 triliun, bagaimana menurutmu?"
"Apa?" Lana kembali tercengang. "Sehebat itukah dia diranjang?" Lana mengedip-ngedipkan bola matanya berkali-kali. Mustahil ada yang membayarnya semahal itu.
"Jadi, itu artinya. Kau akan menceraikan dia?" Tanya Lana lagi, sedikit ada rasa senang dihatinya. Karena dengan begitu dia akan kembali menjadi satu-satunya istri Kevin. tetapi tidak dipungkiri juga jika ada ngilu di dasar hatinya. Membayangkan bagaimana nasib Emeryl di tangan para pria tak punya hati. Apa lagi Lana tahu betul, seperti apa lelaki bejat memperlakukan wanita yang disewanya saat berhubungan badan.
Tidak usah mencari contoh lain, apa lagi seorang mafia. Ia juga sering mendengar wanita mainan Kevin menjerit-jerit keenak kan meski Ia dapat mendengar jelas jika Kevin memukul Bokongnya dengan sangat keras dan sudah di pastikan sampai membalur merah.
(Aku tahu calon bayiku mati oleh Kakakmu, Emer. Tapi mendengar kau di jual, kenapa hatiku miris. Bagaimana nasib mu sekarang ada ditangan mereka?...)
"Lana, kau memikirkan sesuatu?" Kevin melihat wajah sendu di dalam garis kecantikan istrinya.
"Tidak, Mas."
"Baiklah, aku ada urusan sebentar." Kevin melepaskan diri dari Lana dan berteriak memanggil kaki tangannya.
"Petir! Kesini kau!"
Sekumpulan anak buah Kevin menoleh dan berlari mendekat. "Maaf, Bos. Bang Petir pamitan semalam, sampai sekarang belum kembali," jawab salah seorangnya.
"Oya? Kenapa tidak minta izin dariku?" Tanya Kevin. Ia terlihat marah. Bisa-bisa orang yang diandalkan bersikap demikian.
"Ada urusan penting, Bos. Dia sedang menemui seseorang yang kemaren memesan barang."
Kevin kalang kabut, sepertinya otaknya harus bekerja seorang diri untuk yang satu ini. "Kalian ikut aku, kita ke kantor Elang hitam sekarang!" Ajak Kevin, dengan tegas.
"Baik, Bos," jawab mereka serempak. Beberapa orang segera menyiapkan mobil Jeep dan berangkat.
...🏵️🏵️🏵️🏵️...
Sedangkan di daerah penghijauan dekat dengan villa, Emeryl yang tidur dengan nyenyak terganggu. Ia merasakan ada cahaya yang tiba-tiba menerpa wajahnya.
__ADS_1
Dengan serta merta, tangannya menyilang menutupi cahaya yang menyilaukan tersebut. Ia baru sadar, rupanya hari sudah siang. Tapi Ia terlalu nyenyak untuk bangun tepat waktu. Di edarkan tatapannya ke segala penjuru ruangan. Tidak ada siapa pun. Ia pun melihat ada jam weker diatas meja. Lekas tangannya menggapai jam itu tanpa melepas selimutnya.
"Apa? Jam sembilan?" Emeryl sedikit terkejut. "Senyenyak itu kah aku tidur? Tunggu!" Emeryl baru ingat jika semalam Ia hilang kesadaran setelah menelan obat pemberian Elang.
"Jadi? Obat itu bukan racun? Ku pikir, hidupku akan berakhir semalam?" Tanya Emeryl seorang diri. Ia tak bisa menjabarkan rasa bersyukurnya masih bisa bernafas lagi.
"Oh... se sempit itu pikiranmu?" sahut seseorang. Entah sejak kapan sudah berdiri tak jauh dari ranjang. Pria yang selalu menutupi sebagian wajahnya dari siapa pun.
Senyum bahagia Emeryl langsung memudar berganti dengan tatapan sinis. "Apa maksudmu melakukan itu, orang aneh?"
Elang mendudukkan diri disamping Emeryl dan mengurai rambut sedikit keriting dibagian ujungnya. "Aku, sudah membayar Kevin 10 M, lalu aku membunuhmu, begitu? Tidak, Emeryl. Tentu aku rugi jika sampai dirimu terluka sedikit saja?"
Elang membelai pipi Emeryl, gadis yang selalu ketakutan itu memegang selimutnya dengan erat. Ia tahu betul kalau dirinya masih polos didalam sana.
"Astaga, bunga lili bermekaran di pagi hari. Apa karena embun membuatnya segar!" Seru Elang, tiba-tiba.
Emeryl yang tidak mengerti maksud Elang mengernyitkan kening, Ia merasa yakin jika disana tidak ada bunga lili yang terpajang.
"Tidak, aku sedang memujimu," jawab Elang, santai. Ia terus menatap bola mata bulat tapi indah milik Emeryl. Cukup lama saling menatap, Elang melompat turun.
"Aku sudah siapkan sarapan untukmu, makan lah yang banyak dan jangan kau buang lagi!"
Elang sepertinya sedang menyindir, sebab Emeryl memang membuang nya keluar jendela. Tidak tahu kemana nasi itu telah jatuh.
"Apa maksudmu?" Tanya Emeryl pura-pura.
Elang berdiri dan meraih ponselnya dari atas sofa. "Bibi sudah tua, kasihan jika Ia harus menyapu seonggok nasi yang lengket di teras samping," Ucap Elang lagi, dan itu membuat Emeryl terenyuh.
"Kau bisa mandi disana dan pakai baju yang ada di situ!" Tunjuknya pada satu setel pakaian di atas meja. Bola mata Emeryl hanya mengekor melihat apa saja yang Elang katakan dan perlihatkan.
"Oya, aku akan pergi, pastikan kamu tidak kabur dari sini meski kau melihat tempat ini sangat sepi. Karena kemana pun kau pergi aku akan menemukanmu," ucap Elang lagi, menambahi.
Emeryl hanya diam, Ia acuh tak acuh akan perkataan Elang yang terakhir.
__ADS_1
Emeryl melihat Elang keluar dan itu membuatnya bernafas lega. Dengan begitu Ia sedikit bisa santai jika Ia tidak terus di dekati pria misterius itu.
Emeryl memberanikan diri turun dari ranjang dan memeriksa kamar mandi. Mendapati tempat itu sangat nyaman, Ia pun buru-buru membersihkan diri.
Tidak butuh waktu lama, Emeryl sudah memakai pakaian yang telah disediakan. Mungkin Elang sudah tahu ukuran baju nya hingga terlihat sangat pas ditubuh nya yang kecil.
Gadis itu berjingkat-jingkat mengecek pintu, apakah terkunci atau tidak. Rupanya Elang tidak mengunci nya, dan rasa penasaran Emeryl menuntunnya ke lantai bawah.
Disana Ia melihat seorang perempuan agak tua, tengah menyiapkan makanan yang banyak.
"Non, sudah bangun?" tanya Bu Izzah.
Dengan sedikit kaku, Emeryl mengangguk. Ia tersenyum pada perempuan tersebut.
"Panggil saya Bi Izzah, Non. Tidak perlu sungkan karena Nona adalah tamu Den Elang," ujarnya lagi penuh hormat. Beliau mendekati Emeryl dan menuntunnya duduk di meja makan.
"Ayo sarapan yang banyak, Den Elang tidak mau Nona kelaparan," katanya lagi panjang lebar.
Emeryl hanya mengangguk lagi. Ia membuka piring yang menangkup dan mengambil beberapa dari banyak makanan tersebut.
"Non, Non siapa ya tadi?"
"Emeryl, Bi?" Jawab gadis itu.
"Oh iya, kata Den Elang Non Emeryl pacarnya ya?" Goda Bi Izzah.
Emeryl mengernyitkan dahi sambil tersenyum heran. "Dia bilang begitu, Bi?"
Bi Izzah mengangguk. "Non adalah orang pertama yang datang ke sini," ujar Bi Izzah, melanjutkan.
Emeryl hanya mendengarkan, sambil sesekali menggigit satu irisan kue.
"Beruntung Non bisa jadi pacarnya, tapi ya itu? Den Elang sangat tertutup pada orang lain, Bi izzah aja jarang ngomong sama Den Elang kalau gak penting-penting sekali." Bi Izzah nampaknya berterus terang. Wajar saja, dia sepertinya perempuan tua yang tidak tahu apa pun soal kehidupan Elang diluaran.
__ADS_1