Bermula Karena Dendam

Bermula Karena Dendam
Bab 7 Kabar


__ADS_3

Bolak balik menikmati lumeran dalam kubangan madu, suasana dingin mencekam semakin menusuk tak kala hari mulai memasuki waktu subuh.


Elang yang merasa sudah cukup melakukan beberapa ronde layaknya malam pertama dengan Emeryl bergegas bangkit dari tempat tidur. Ia tidak ingin sampai kesiangan hingga identitasnya diketahui orang.


Emeryl sendiri masih membuka mata tidak melepaskan pandangan sedikit pun pada sosok bayangan Elang, yang kembali memakai semua atribut saat datang menemuinya.


Tapi sebelum pergi, Elang menyempatkan waktu menatap Emeryl yang tengah membenahi selimutnya. Pria itu nampaknya belum rela untuk berpisah. Lekas Ia naik lagi keranjang dan melabuhkan kecupan terakhir di bibir Emeryl.


"Kita pasti bertemu lagi." Suara bisikan itu seakan menjadi cambuk yang akan membongkah menjadi gundukkan kebencian Emeryl padanya.


Usai mengatakan kalimat terakhir, Emeryl melihat Elang keluar dari kamar tersebut dan menutup pintunya kembali.


Dirasa sudah jauh, Emeryl yang sejak tadi menahan amarah hanya bisa menumpahkan air matanya. Ia memukul-mukul tubuhnya sendiri karena merasa dia sangatlah kotor.


"Sialan, kenapa aku harus mengalami hal semacam ini. Bahkan aku tidak pernah berpikir memiliki pacar sama sekali sampai. Lalu dengan mudahnya aku bersedia dinikahi pria biadab seperti Kevin, hik... Kenapa? Kenapa ini harus terjadi?"


Emeryl mengacak-acak rambutnya yang memang sudah berantakan semakin kacau lalu melempar semua bantal ke segala arah.


"Aku benci diriku, aku benci!" teriaknya terus-menerus. Ia melemparkan bantal terakhir tepat dikaki Kevin yang rupanya sudah berdiri di balik pintu.


Melihat kamar tersebut Kacau, Kevin mengeratkan rahangnya. Ia sangat marah. Di pagi buta, Emeryl sudah menjadi perusak suasana hatinya.


Dengan langkah tegas, Kevin mendekat naik keranjang, dan dengan sangat gampangnya tangan pria kekar tersebut mengayun keras kewajah Emeryl.


Plak!


"Aw... !" Emeryl memekik kesakitan. Ia memegangi pipinya yang terasa begitu nanar. Belum juga mereda, Kevin menekan kedua sudut bibirnya secara kasar. Tidak perduli air mata kesakitan meluncur bagaikan hujan.


"Perempuan sial, kau mau main-main denganku, ha? Cukup memasang wajah manis sesudah berhubungan dengan pelanggan apa susahnya? Tadi dia mengeluh, kau terus memakinya tanpa henti bahkan tidak bisa memuaskannya diranjang, jadi dia memotong setengah uang tersebut!" Geram Kevin.


"Ma_ maaf, Bang. Saya tidak mau melakukannya, Bang. Itu menjijikkan."


Plak!


Tamparan kedua melayang lagi.


"Diam bocah kecil, atau kau akan menderita setiap waktu!" Amuk Kevin lagi. Sesaat kemudian ponselnya berdering. Ia melihat jika yang menelpon adalah Lana.


Kevin pun melepaskan Emeryl dan beranjak dari ranjang untuk menjawab panggilan tersebut. Meski suka berkhianat, Kevin selalu saja menyempatkan waktu menerima telpon dari istri tuanya itu.

__ADS_1


"Halo, ada apa Lana?"


"Mas, aku punya kabar baik?" Suara perempuan itu terdengar sumringah.


"Soal apa?"


"Kau ingat kan, seminggu yang lalu kita pergi chek-up ke Dokter spesialis kandungan?" Lana mengingatkan, dan jelas Kevin ingat betul hal itu.


"Lalu kenapa?"


"Kamu tahu gak, Dokter bilang apa?" Lana sengaja memberi sebuah pertanyaan berupa teka-teki.


"Hm?"


"Aku hamil, Mas!" teriak Lana dari dalam layar.


"Apa?" Kevin tersentak kaget. "Kau tidak sedang berbohong kan?" Akhirnya setelah sekian lama, Kevin merasa mendapatkan suatu anugerah.


"Enggak lah, Mas. Dokter langsung yang nelpon aku. Cepat pulang aku merindukanmu!"


"Baiklah...!"


"Cepat benahi dirimu! Kita kembali sekarang juga!"


Kevin berlalu keluar, meninggalkan Emeryl dalam tangisnya. Wanita 19 tahun tersebut menurut. Ia pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri lalu mengenakan pakaian yang sudah disediakan untuknya.


Setibanya dirumah, Kevin langsung disambut oleh Lana.


"Mas Kevin!" Teriaknya, sambil berlari kecil masuk ke pelukan Kevin dan melakukan adegan ciuman bibir didepan Emeryl tanpa memikirkan perasaannya.


"Em... Mas, ternyata aku sudah hamil satu bulan," ujar Lana, bangga.


"Syukurlah, itu artinya aku akan fokus mengurus mu," jawab Kevin, senang. Entahlah, Ia sendiri tidak tahu mengapa anak akan menjadi prioritasnya.


"O ya? Pastikan satu hal?" ucapnya kemudian pada Lana.


Perempuan 26 tahun tersebut mengerutkan dahi. Pasti ada sesuatu hal lagi yang diinginkan Kevin darinya.


"Soal apa, Mas?" Lana berharap Kevin tidak meminta sesuatu yang aneh.

__ADS_1


"Pastikan dia laki- laki, Sebab aku butuh penerus yang tangguh." Pernyataan Kevin sontak membuat Lana membulatkan kedua matanya.


"Apa?" Lana menggeleng tak percaya, Ia tidak menduga Kevin meminta hal yang tidak bisa Ia janjikan.


"Mas, jangan membebaniku. Aku tidak mungkin tahu anak kita ini akan lahir laki-laki atau perempuan."


"Turuti saja mauku," jawab Kevin, dingin. Tidak perduli Lana tersinggung dengan pernyataannya.


"Tapi, bagaimana jika dia perempuan, Mas?" Lana tidak mungkin mau dipisahkan dari anaknya sendiri.


"Gugur kan? Atau kau buang saja ke tong sampah," Jawab Kevin, se enaknya. Pria tersebut melangkah kemeja makan dan menarik satu buah kursi untuk duduk.


"Mas, tunggu dulu! Kita belum selesai, Mas. Aku tidak akan mau menerima keputusanmu," cecar Lana. Ia memasang wajah kecewa.


"Sudahlah Lana, aku tidak minta banyak dari mu." Kevin menatap dengan tatapan tajam. "Kau hanya perlu memberi aku satu orang anak berjenis kelamin lelaki, apa itu sulit?"


Lana menundukkan kepala, tangannya saling mengepal. Ia sangat ingin marah tapi dari dulu Ia tidak bisa melakukan apa-apa untuk membantah Kevin.


Sesaat Lana memegang perutnya. Setelah setahun berharap hamil, tidak mungkin rasanya jika Ia harus membuang bayi tersebut jika tidak sesuai harapan suaminya.


"Ayo sarapan!" Ajak Kevin, sedikit acuh. Lana menoleh kearah Emeryl yang masih terpaku di tempatnya.


"Hei, adik maduku. Kenapa diam saja? Kau tidak merasa lapar ya?" Walaupun Emeryl menjadi orang ketiga di keluarganya, Lana tidak akan mungkin tega membiarkan Emeryl seperti wanita yang tidak dianggap dirumah mereka.


Emeryl memilih diam, tapi Ia ikut duduk juga. Karena dia sangat kelaparan, dan itu kali pertamanya Ia bisa ikut makan di meja mereka.


"Makanlah yang banyak, sebab kau akan bekerja lagi nanti malam," celoteh Kevin pada Emeryl. Pria dingin tersebut, tidak menoleh sama sekali. Ia sibuk melahap sarapan paginya.


Dengan tatapan sinis, Lana kembali memperhatikan wajah Emeryl yang dipenuhi oleh lebam bekas tamparan.


"Ya ampun, apa dia tidak melayani mu dengan baik semalam sampai kau membuat banyak luka di sana?" Ucapnya setengah menyindir.


Kevin tidak menanggapi Lana, Ia tidak mau selera makannya menjadi hilang.


Sesaat ponsel genggam Kevin berdering lagi, kali ini Kevin gusar setelah tahu jika itu datangnya dari Bos tempat dia mendapat barang.


"Busyieet, aku tidak mungkin bisa lolos," ucapnya seorang diri. Ia meninggalkan kedua perempuan tersebut menjauh.


"Halo, Bos!"

__ADS_1


"Kevin, mana uang yang seharusnya kau setor. Jangan mencoba-coba untuk berkilah ya?"


__ADS_2