Bermula Karena Dendam

Bermula Karena Dendam
Part 49 Menyerang


__ADS_3

Keesokan harinya, Elang pergi ke perusahaan dimana Ia bernaung. PT Elang hitam adalah perusahaan dengan bangunan yang paling mewah. Tapi tak se mewah hati pemiliknya. Ia belum bisa berdamai dengan keadaan sebelum menemukan pelaku pembunuhan Mommy Diana.


Pemuda itu terlihat sangat gelisah, merenung, sesekali menggigit jari jemarinya sambil berpikir jalan apa yang harus Ia tempuh untuk mendapatkan sebuah bukti yang konkret.


Jack yang baru saja masuk hanya tertegun. Hingga tidak sadar seseorang menabrak bahunya.


"Hey, apa yang kau lihat Jack?" Petir bersiul merdu. Perasaannya tengah berbunga-bunga setelah akhirnya dapat menyaksikan Kehancuran Kevin tempo hari.


Jack hanya mengisyaratkan kondisi Elang dengan mengedipkan sebelah matanya.


"Oh, karena itu." Petir menghampiri Elang dan duduk di depannya.


"Apa yang kau pikirkan, Sobat?" Petir menatap dengan bola mata yang berbinar.


Elang yang sudah menyadari kedatangan Petir langsung melempar pemuda itu dengan kertas tisu yang teronggok diatas meja.


"Sialan, kau pasti habis bersenang-senangkan semalam?" cibir Elang. Pemuda itu memicingkan bola matanya sesaat. "Apa kau berhasil memisahkan keduanya?" Tanya Elang balik.


"Hahaha... ." Petir tergelak. "Tentu saja, siapa wanita yang tak tergiur jika di beri kepuasan lahir dan batin," jawab Petir, bangga.


Elang tersenyum kecut. "Dari dulu kau tidak berubah, Tir. Apa kau akan menikahi dia?" Seloroh Elang lagi. Ia membenahi posisi duduknya yang semula menyandar menjadi menjadi berdiri tegap.


"Entahlah, menikahinya bukanlah keputusan yang mudah. Dia bekas musuh kamu, Men. Tentu tidak mudah bagiku untuk menerima itu," sangkal Petir.


"Brengsek lo," umpat Elang, lagi. Ia mengambil sesuatu dari dalam laci. "Ini adalah rekaman CCTV yang didapat anak buahku dari restoran itu. Ternyata benar Mommy Diana memang berdebat hebat dengan pria tua itu."


Petir segera mengecek kedalam laptop milik Elang. Ia melihat dengan jelas jika Diaz sangat marah dengan Diana karena telah mengacaukan nya.

__ADS_1


"Apa kau menganggap jika orang itu suruhan Ayahmu?" Tanya Petir kemudian.


"Dia bukan Ayahku lagi, Tir. Kali ini aku tidak akan mengampuni kesalahannya, dan dengan tanganku sendiri akan ku buat Ia hancur," ujar Elang, penuh dendam. Sudah cukup rasanya hidupnya sebagai anak disia-siakan. Kehadirannya yang tak pernah dipertanyakan apa lagi dianggap ada oleh Diaz Danuarta sudah cukup membunuh kehidupan Elang. Ia sampai membenci Mommy Diana karena Ia tahu jika Ibunya itu mau membunuhnya gara-gara depresi, dan yang seharusnya dipersalahkan adalah biang keladinya.


"Jadi kau berubah pikiran? Kali ini kau akan menentangnya, begitu?" Petir dengar sendiri waktu itu Elang ingin kembali masuk kedalam kehidupan Diaz sebenarnya hanya untuk menyadarkannya tapi kematian Diana rupanya membuat Elang mendendam pada pria tersebut.


"Aku tak punya pilihan lain, Tir. Dia bukan lagi manusia, akan tetapi iblis yang berpotensi menghancurkan manusia di muka bumi ini dengan obat-obatan yang dia jual. Membunuh orang yang tidak berdosa, dan menindas mereka yang lemah untuk memuaskan diri."


"Baiklah, Lang. Aku akan terus mendukung semua keputusanmu."


Dari dulu Petir adalah sahabat sejati Elang. Ia akan selalu membantu masalah Elang dalam kondisi apa pun. Bahkan masuk ke dalam rumah Kevin yang sangat membahayakan baginya Petir pun rela.


"Makasih untuk segalanya, Tir. Aku berhutang banyak denganmu," ujar Elang, diakhir percakapan mereka.


"Santai, Bos. Kau juga sudah sangat membantuku."


Wanita itu adalah satu-satunya wanita yang mampu menarik perhatiannya dan membelenggu dirinya dengan taburan cinta. Seandainya Kayla masih hidup pasti mereka sudah bahagia sekarang.


Pemuda itu terus melepas sesuatu yang menekan hatinya selama ini sampai banjir air mata, Ia tidak tahu harus memulai berkata dari mana. Hatinya sangat hancur mengetahui kalau Kayla sudah tidak ada pada saat Ia bebas dari penculikan waktu itu. Ada penyesalan mengapa Ia tidak nekat masuk untuk melihat wajah Kayla yang terakhir kalinya meski harus kehilangan nyawa sekali pun atas pengeroyokan keluarga Anggara yang membuat luka bacokan di lengannya masih membekas sampai sekarang.


"Maafkan aku, Kayla. Aku memang lelaki lemah. Tidak seharusnya kita memiliki perasaan cinta itu jika harus berakhir dengan kepergian mu dan calon anak kita."


Kevin rupanya mengikuti Dimas, Ia hanya mendengar dan melihat kesedihan Dimas dari kejauhan untuk membuktikan apa yang di katakan Dimas memanglah benar.


"Kayla, aku sangat mencintai kamu Kayla. Aku belum mampu melupakanmu sampai hari ini. Dimana makam tempatmu di kuburkan telah berubah mengeras."


Dimas sampai mencium batu nisan Kayla berulang-ulang. Ia tidak bisa menjabarkan apa yang dilewatinya setelah Kayla sudah tidak ada di dunia.

__ADS_1


"Aku mohon temui aku sekali saja, dan katakan padaku jika kau bahagia disana. Maka aku akan tenang, Kayla!"


Tanpa Kevin sadari air matanya meleleh, Ia dapat melihat seberapa dalam rasa cinta Dimas pada adik perempuannya itu. Selama ini Kevin telah salah menilai, Ia sudah membuat Dimas semakin hancur karena dendam yang tidak beralasan.


"Maafkan Kakak, Kayla. Dulu, Kakak tidak pernah mendengarkan mu jika Dimas adalah pria yang sangat mencintaimu," gumam Kevin seorang diri.


Ia yang tak kuasa melihat Dimas meraung-raung meluapkan kepedihannya, memilih meninggalkan tempat itu. Ia sudah berjanji akan mencari dan mendapatkan Emeryl untuk di bahagiakan sebagai balasan atas kesalahannya pada Dimas dan Emeryl.


Kevin mengendari mobil dengan kecepatan tinggi, Ia nekat menerobos kekantor Elang untuk meminta Emeryl secara terang-terang. Jalan-jalan satu-satunya adalah menodongkan senjata untuk menakuti karyawan PT. Elang Hitam.


"Diam di tempat, cepat katakan dimana Bos kalian berada!" Para karyawan kantor ketakutan, mereka mengangkat kedua tangan berharap Kevin tidak menembakkan senjata berbahaya itu.


"Cepat katakan atau kalian akan meregang nyawa?" Desak Kevin, tidak sabar.


"Ma_ Maaf, Pak. Tolong turunkan dulu senjata an_ anda. Biar saya antar keruangan beliau," jawab salah seorang karyawan pria.


"Tidak perlu," sahut Petir yang baru saja keluar dari dalam lift.


Melihat Petir ada di tempat itu, Kevin mengatupkan giginya hingga saling bergetar.


"Cih, sudah kuduga jika kalian telah sekongkol," Decih Kevin, geram.


Petir hanya menanggapi dengan tersenyum nakal. Ia merasa punya kekuatan lebih untuk membuat Kevin semakin lemah. "Begitu malang nasibku Kevin, rupanya nyali mu besar juga sampai nekat masuk kedalam sini."


"Petir..., aku tidak ada urusan denganmu. Dimana Elang? Dia tidak berhak menyembunyikan istriku!" Pekik Kevin, seraya mengamuk.


"Lebih baik kau ceraikan dia, Kevin." Elang sengaja keluar untuk menyambut kedatangan musuhnya.

__ADS_1


__ADS_2