
"Mas Kevin...!" Teriak Emeryl tanpa sadar. Bola matanya berlinangan oleh air mata. Tak mampu jiwanya menerima kepergian suami yang baru saja menunjukkan kepedulian terhadapnya.
Luka yang dulu begitu menyakitkan dengan singkat lenyap berganti dengan rasa kehilangan. Dimas yang sejak tadi belum saling tegur sapa dengan Emeryl ikut meneteskan air mata. Mengenang sosok Kayla saat wanita itu meninggalkan Ia untuk selama-lamanya.
"Emer...!" Dimas melangkah mendekat. Emeryl yang tidak sempat melihatnya tadi menoleh dan sangat terkejut. Ia tidak percaya jika kini Sang Kakak berdiri di depannya.
"Bang Dimas, apa benar itu kau?" Tanya Emeryl, masih belum sepenuhnya yakin.
"Iya, dek. Abang belum mati, Elang dan Petir sudah menyelamatkan Abang."
Dimas duduk berlutut lalu memeluk Emeryl yang semakin histeris dalam tangisnya. Tubuhn itu terasa lemas, sedang dadanya seakan sesak melihat Kevin terkulai di pangkuannya.
Elang sendiri tak bisa berkata-kata. Emeryl pasti sangat sedih akan kematian Kevin yang telah merelakan wanita itu bersamanya . Pemuda itu kemudian bangkit dari duduknya dengan rahang mengeras seakan ingin menelan hidup-hidup tubuh Diaz.
"Kau puas sekarang, tua bangka? Aku tidak menduga di lahir kan dari sp_rma pria busuk sepertimu!" Hardik Elang, sambil menunjuk kan jarinya ke wajah Diaz dengan rahang mengerat.
Lelaki itu itu menatap skeptis. Ia belum bisa mencerna perkataan Elang.
"Siapa kamu?" Tanya Diaz, tanpa dosa.
Elang jengah mendengar perkataan dari mulut Diaz yang tidak mau mengenalnya sama sekali membuat darahnya seakan mendidih naik.
"Heh, keterlaluan. Kau bahkan tidak mengenali wajah ku yang mirip dengan dirimu, Diaz Danuarta" Kecam Elang semakin menguat geram dengan pandangan menyala.
Diaz kembali menatap datar, seolah meremehkan kemarahan Elang terhadapnya.
"Apa kau sudah bisa menebak?" Tanya Elang lagi. "Aku adalah anak, yang kau inginkan untuk mati saat di kandungan Diana Moerella. Berkali-kali wanita itu berniat menggugur kanku karena dirimu!" Pemuda itu menekankan setiap baik kalimatnya untuk menyadarkan Diaz. Barulah pria paruh baya itu tercengang.
__ADS_1
"Bukankah kau sudah mati?" Diaz balik bertanya. Sikapnya benar-benar layak disebut gila.
"Jadi kau belum sepenuhnya percaya?" Elang mengambil sebuah foto Diana dari sakunya saat masih mengandung besar ke wajah Diaz. Pria itu kemudian memungut dan mengamatinya.
Sekitar 24 tahun silam, Diaz mengingat kembali percakapannya dengan Diana soal Ia meminta sang iatri melakukan aborsi pada kehamilan Diana karena tidak mau lagi memiliki anak jika yang lahir perempuan semua seperti Alena dan Tania.
Karena menurutnya perempuan itu akan menjadi biang keladi dari sumber perzinaan seperti para wanita yang di sewanya untuk memuaskan diri. Baginya perempuan sama, mereka akan menjajakan diri karena kemolekan nya. Itu sebabnya Diaz tidak pernah menghargai kaum hawa. Mereka hanya akan menjadi teman ranjang saja itu sudah lebih dari cukup. Apa lagi dengan uangnya yang melimpah tentu mudah baginya merekrut wanita yang diinginkannya.
"Jadi Diana Moerella melahirkan anak lelaki?" Gumamnya seorang diri, tapi jelas Elang mendengarnya.
Elang berdecih jijik. "Bagus, apa kenyataan ini membuatmu tersadar? Jika apa yang kau pikirkan dahulu itu amat sangat tidak pantas. Wanita adalah makhluk paling mulia dimana mereka hadir sebagai seorang yang hebat bisa mengandung dan melahirkan anak hingga tumbuh besar. Tapi kau lupa, kelahiranmu di dunia ini adalah berkat Ibu yang membesarkanmu dengan tangannya tanpa meminta balasan. Mana baktimu, Tuan Diaz?" Seringai Elang, menghunus tajam.
Diaz Danuarta menggigit bibir, Ia menatap dalam pada seorang Elang yang memiliki fostur tubuh kekar seperti dirinya semasa muda.
"Aku hanya kecewa," jawabnya, lirih. "Ku pikir dia kembali mengandung anak perempuan yang membuatku muak," imbuh Diaz Danuarta lagi.
"Membunuh? Maksudmu?" Diaz Danuarta tidak tahu apa-apa.
"Aku yang telah membunuhnya atas permintaan Abimanyu," sahut salah seorang anak buah yang tengah terkapar tak berdaya saat perkelahian singkat itu.
"Apa? Jadi Kak Abimanyu biang keladinya?" Elang melebarkan mata tak percaya.
"Be- benar, Bang. Dia ingin menguasai harta Abang. Ta_ tapi ternyata dia tidak bernasib bagus," jawab orang itu terbata-bata. Elang yang telah mendengar saksi itu mengalihkan tatapan nya pada Abimanyu yang sudah tidak bergerak.
"Shieet, Untung dia cepat mati. Aku berhutang budi padamu, Kevin," ujarnya melirik Kevin dan Emeryl yang masih terisak dipundak Dimas.
"Angkat tangan!" Seru segerombolan Polisi yang tiba-tiba muncul mengepung tempat itu. Para polisi tersebut menodongkan senjatanya pada Diaz Danuarta yang sudah lama menjadi incaran mereka. Dia adalah bos Mafia yang meresahkan masyarakat. Berulang kali di tahan, Diaz berhasil menghilangkan bukti yang menjerumuskannya membuat pihak kepolisian akhirnya melepaskannya kembali.
__ADS_1
"Turun kan pistolmu!" Titah Komandan polisi itu lagi. Diaz tidak bisa berbuat apa-apa, Ia terpaksa menjatuhkan pistol di tangannya kelantai.
"Borgol dia!" Ucap komandan polisi tersebut pada beberapa bawahannya yang secepatnya bergerak menahan Diaz dan gerombolannya, termasuk Damar Arya atas tuduhan pembobolan Bank kemaren malam.
Damar pasrah, sebab Ia memang sudah siap akan segala konsekwensinya memilih membela Kevin.
"Aku tahu kamu baik, Mar. Kamu pasti cepat bebas," desis Elang, pelan sembari menepuk pundak Damar.
"Terima kasih, Bang. Aku tidak tahu sampai kapan aku di tahan. Jadi aku titip nenekku ya, Bang. Dia sendirian di rumah!" Pesan Damar, nanar.
"Jangan khawatirkan itu, Nenek mu akan baik-baik Saja."
Mendengar ucapan Elang, hati Damar menjadi tenang.
"Pak, saja janji tidak akan melarikan diri. Tapi izinkan saya melihat pemakaman Bang Kevin untuk yang terakhir kalinya!" Melas Damar pada kepala komandan.
"Aku harap kau bisa memberikan kebijakan Pak Adri!" Elang menatap dengan tersenyum.
Polisi itu mengangguk. Ia tahu Elang adalah orang yang sangat di kagumi. Ia memakai barang larangan itu juga atas izin pihak kepolisian.
Sedangkan Diaz tercekat dalam diam. Dia yang di giring keluar hanya berhenti sejenak disamping Elang tanpa satu patah kata pun. Lalu berlalu begitu saja tanpa berpikir jika Elang ngilu melihatnya. Ada harapan ingin mendengar pria itu memanggilnya dengan sebutan nak.
(Maaf, Papa. Mungkin akan tidak melihat mu setelah ini. Karena kesalahanmu sangat fatal...)
Sudah dipastikan Diaz Danuarta tidak akan lolos dari hukuman mati karena Ia adalah bandar narkoba terbesar se Asia sebagai menyuplai barang-barang tersebut ke berbagai negeri. Belum lagi dengan tangannya Ia sudah membunuh beberapa nyawa. Di tambah pula, Ia menjadi tersangka pelecehan seksual.
Beberapa waktu berlaku Emeryl, Elang, Dimas dan Petir selesai menghadiri pemakaman Kevin, begitu pula Damar yang di kawal polisi berdiri tak jauh dari sana di iringi lelehan air mata.
__ADS_1
Petir juga mengundang Lana untuk datang, sebab bagaimana pun kejamnya Kevin. Lana pernah menjadi bagian di hidupnya.