Bermula Karena Dendam

Bermula Karena Dendam
Part 60 Binar


__ADS_3

Menerawang jauh di sebuah rumah mewah di istana Elang Danuarta. Tania belum juga berhenti meraung-raung menangisi kepergian Abimanyu yang baru saja selesai di makamkan. Dia tidak menduga jika suami yang di kenalnya humoris dan hangat itu rupanya pembunuh Ibu Kandungnya sendiri.


"Tega kamu, Mas? Kenapa kamu lakuin ini, Mas?


Kurang apa aku jadi istri selama ini, hiks...?"


Eyang Kanesty yang jadi sasaran empuk, Tania terus saja memeluknya tanpa mau melepaskan diri.


"Sudah dong, Kak. Kasihan Eyang. Dia itu sudah tua. Masak Kakak dusel-dusel gitu." Elang masih saja berusaha terlihat baik meski tidak ada yang tahu seperti apa dasar hatinya. Ia cuma berniat mencairkan suasana duka yang baru saja terjadi agar tidak terlalu hanyut di dalamnya.


"Apa Papa akan di hukum mati, dek?" Tania kali ini melepas pelukannya.


"Entahlah, kita tunggu saja keputusan sidang, besok," jawab Elang yang tak kalah singkuh membayangkan kejadian mengerikan itu. Ia yang tidak mau berlarut-larut dalam kesedihan melirik Emeryl yang hanya diam saja disampingnya. Kemudian tangannya terulur menggenggam tangan perempuan itu.


"Jangan bersedih lagi ya, ada aku yang akan selalu siaga di sampingmu," bisik Elang, lembut.


Emeryl hanya menanggapinya dengan tersipu, sedih kehilangan Kevin pasti. Tapi tidak mengurangi rasa bahagianya ada di dekat Elang.


"Kalian menikah saja se usai, seratus hari Abimanyu!" Ucap Eyang Kanesty. Ia tahu kedua sejoli itu sedang di mabuk oleh dahaga cinta.


"Iya, Eyang. Kami tidak akan bisa menunggu lebih lama dari ini demi anak kami," ucap Elang, terang-terangan.


"Apa?" Eyang Kanesty menatap geram. "Jadi kalian sudah begini?" Perempuan tua itu mempraktekkan dengan tangannya membuat orang-orang disana tergelak menahan tawa.


"Uhuy, asyik ni. Tapi jangan lupa kamu harus menghadiri pernikahanku dengan lana leboh dulu. 40 hati lagi lepas masa iddah!" Seru Petir, tak mau kalah.


"Apa kau pikir aku senang mendengarnya, ha? Dasar julit." Elang melempar Petir dengan sepatu yang lagi-lagi di tangkap Petir secepat kilat.


Elang kembali fokus melihat Emeryl, rasanya Ia tidak perlu memberi tahukan Eyang Kanesty tentang nikah sirih Wanita pujaannya itu dengan Kevin. Toh, Elang sangat percaya. Emeryl tidak mungkin mau di sentuh oleh Kevin sama sekali selama pernikahan mereka.


"Boleh aku bicara?" Elang menggaet tangan Emeryl kekamar.


"Ada apa, Bang?" Keduanya saling berpandangan cukup lama. "Jangan khawatir, aku masih Emeryl yang tidak pernah di jamah Mas Kevin selain dengan Bang Elang." Emeryl seakan tahu jika Elang hendak mempertanyakan itu.


"Bukan, tapi ini." Elang mengusap perut rata Emeryl.


"Dari mana Abang tahu?" Seloroh Emeryl.


Elang menghela nafas lebih dulu. "Huh, aku tidak akan melepaskanmu dari pengawasanku," jawab Pemuda itu tersenyum simpul.


"Terima kasih, Bang. Aku senang, kamu selalu ada, bersamaku meski aku tidak menyadarinya." Emeryl mendaratkan kepalanya di dada bidang Elang yang kekar dan sangat hangat baginya.

__ADS_1


"Aku akan melakukan apa pun untuk wanita yang sejak SMP ku cinta."


"Ha?" Emeryl mendongak ke wajah Elang. "SMP? Maksud Abang?"


"Kita pernah satu sekolah, Emer. Kita tida akrab karena beda kelas. Tapi setiap hari aku selalu memata-matai mu karena rasa penasaranku. Namun untuk mendekat aku belum punya nyali." Elang mengingatkan lagi masa-masa indah itu sambil membayangkan bagaimana konyol nya Ia sering mencuri pandangan demi melihat Emeryl.


"Is, Abang." Emeryl mencubit gemas perut Elang, hingga wajah pemuda itu mengkerut kesakitan.


"Hehehe... tapi sekarang suka kan?" Goda Elang lagi dengan binar-binar yang tergurat di wajah tampannya.


Emeryl hanya tersipu malu, Ia tidak menjawab dan kembali memeluk Elang. Karena ada di sanalah hatinya seakan tentram.


"Berapa usianya?" Tanya Elang lagi pada benih di rahim Emery.


"Sekitar 3 minggu." Emeryl memperlihatkan nominal jarinya.


"Haih? Jadi dia sudah jadi saat pertama kali kita bermain? Manjur juga bibitnya," ledek Elang lagi. Menambah merah kulit wajah Emeryl.


"Berhenti menggoda, aku ingin makan nasi goreng sekarang dan itu harus dengan tanganmu sendiri," sungut Emeryl. Mengembangkan pipinya yang memang sedikit berisi dari sebelumnya.


"Aku?" Tanya ulang Elang. Ia memutar bola matanya seakan tidak percaya.


"Iya lah, dia ngiler pengen dimasakin sama Ayahnya." Emeryl menjelaskan lebih detail.


"Abang, cepetan dong." Kali ini Emeryl nampak kesal. Ia menyilangkan kedua tangannya sambil memunggungi Elang.


Pemuda itu sangat gemas melihatnya. Ia pun menjahili Emeryl dengan memberikan kecupan di pipi wanita cantik itu.


"Elang junior, Papa masak dulu ya. Jangan nakal di perut Mama," ucap Elang yang berbicara begitu tulus dan mengusap-usap perut Emeryl.


"Iya, Papa ganteng. Mama nya udah gak sabar mau makan sekarang." Emeryl mencubit pipi Elang.


Keduanya beriringan melewati yang lain untuk pergi ke dapur. "Mau kemana dek?" Teriak Dimas.


"Bikin nasi goreng," jawab Emeryl.


"Yang banyak ya, Abang laper!"


"Sip, ada kokinya ni!" Tunjuknya pada Elang yang berdiri di sampingnya.


"Good, kita tunggu," sambung Petir pula. Ia tidak akan ridho jika tidak ikut menikmati makan malam.

__ADS_1


Di balik suasana yang mengharu biru dan tangis kehilangan, mereka tetap berupaya memperlihatkan sikap mereka setenang mungkin. Seolah-olah tidak pernah ada kejadian buruk sebelumnya.


Cukup lama bergelut di dapur sambil bersenda gurau, akhirnya Elang dan Emeryl selesai juga menyajikan makan malam seandanya pada suruh keluarga. Tapi meski ala kadarnya semua menjadi nikmat jika dirasakan bersama.


Keesokan harinya, berita siaran akan hukuman mati yang dijatuhkan pengadilan pada Diaz Danuarta menjadi trending topik. Mereka semua hanya bisa melihat dari layar kaca karena tidak di perbolehkan untuk datang menyaksikan langsung.


"Aku tidak habis pikir dengan semua ini, Eyang. Bahkan aku belum pernah sekali pun bertemu dengan pria itu," sesal Tania.


"Belajar ikhlas cucuku, percayalah jika semua ini sudah


jalan sang pemberi kehidupan!" Eyang Kanesty tak menampik jika Ia ikut merasakan kesedihan itu. Sebab, bagaimana pun buruknya Diaz Danuarta. Dia lah wanita hebat yang telah melahirkannya.


Elang sendiri hanya diam tanpa suara. Ia berusaha menyembunyikan kesedihan di dadanya agar tidak ada seorang pun yang tahu akan lukanya.


Tapi Emeryl mengerti betul, sejahat-jahatnya seorang Ayah tidak akan ada anak yang sanggup melihat kejadian naasnya di depan mata.


Elang tak sanggup lagi menonton lebih lama, Ia pun mengambil remote kontrol di atas meja lalu mematikan televisi itu.


"Lebih baik tidak melihat, anggap saja kita tidak kenal Diaz Danuarta seperti sebelumnya," tukas Elang, dengan nada sumbang. Pemuda itu memilih keluar dan menyepi di taman di susul oleh Emeryl.


"Bang, yang ikhlas ya. Semua akan baik-baik saja." Emeryl mengapit satu tangan besar Elang masuk di dalam kedua tangannya.


"Iya, Sayang. Terimakasih sudah menguatkan aku." Elang menghela nafas dalam-dalam untuk melepas beban di hatinya. Mereka pun saling berpelukan sambil menatap pohon-pohon yang sibuk bergoyang di tiup oleh udara pagi itu.


"Lihat, Bang. Dahan mereka saja kokoh di sana meski di terpa badai sekalipun, masak Abang kalah?" ejek Emeryl.


"Oya, baiklah. Siap-siap saja kau yang akan kalah bergoyang di rajang setelah aku menikahimu," timpal Elang, sembari membelai rambut curly Emery.


"Yakin, bisa? Kau harus menunggu 8 bulan, eh bukan, bukan, tapi 1 tahun agar bisa melakukannya."


Elang mengerutkan dahi. "Kok bisa?"


"Ya, masak lupa? Karena ini lah?" Jawabnya yang memperlihatkan perutnya.


"Ahk, sial. Kenapa lama sekali. Kau menang banyak ya."


"Hehehe...!


❤️❤️❤️❤️❤️**SAMPAI JUMPA❤️**❤️❤️❤️❤️


Sejatinya tak akan ada kejahatan di dunia ini yang abadi, cepat atau lambat kejahatan itu pasti akan berbuah penyesalan, baik ketika orang itu akan hijrah menjadi orang yang lebih baik atau di ujung nafasnya yang tersisa.

__ADS_1


Salam hangat untuk yang setia baca sampai akhir🙏🙏🙏


__ADS_2