
Malam semakin merayap menyambut hati yang kian temaram, diwarnai sejuta bunyi-bunyian jangkrik dan burung-burung kegelapan. Dimana hati pilu itu belum juga terobati mungkin sampai sang waktu menjemput nafas yang mulai terganggu.
Emeryl masih berada di ranjang, Ia belum bisa tidur karena cemas akan rencana Kevin pada dirinya. Ia juga belum bisa melupakan bayangan akan sosok Elang yang mulai mengisi kekosongan hatinya.
Cekrek!
Terdengar deritan pintu di buka, jantung Emeryl mendadak bergetar hebat. Ia takut akan terjadi sesuatu pada dirinya.
"Sayang, kau belum tidur?" Kevin menyondongkan tubuhnya ke arah Emeryl. Ia mengusap jejak basah di pipi istrinya dengan sangat lembut.
Emeryl yang mendapat perlakukan baik, terheran-heran. Masih belum sepenuhnya yakin jika Kevin telah berubah.
Kevin yang sudah membaca isi kepala Emeryl mengembangkan senyum. Ia mengelus-elus pipi wanita itu cukup lama.
"Aku mencintaimu," bisik Kevin, pelan. manik mata Emeryl sampai terlonjak.
"Kau tidak percaya? Aku bersungguh-sungguh," ucap Kevin lagi, sangat-sangat pelan bahkan hampir tidak bisa di dengar dengan baik oleh Emeryl.
"Kenapa kau berubah?" Selidik Emeryl.
"Ada hal yang terjadi di dunia ini hingga mengubah pikiranku. Apa pria bejat tidak berhak menjadi orang yang lebih baik?" Tanya Kevin, balik. Masih sambil tersenyum lepas seakan tanpa beban.
Emeryl menggeleng. "Justru itu yang di harapkan, Bang." Kali ini Emeryl juga tersenyum.
Kedua hanyut dalam obrolan panjang hingga pada akhirnya. Kevin yang terpukau akan bibir indah Emeryl hendak menjamahnya.
"Bang...!" Emeryl menahan dada Kevin.
"Kenapa...?"
"Tolong jangan minta lebih saat ini. Ku rasa kau tahu jawabannya?"
Kevin terus menatap mata indah Emeryl kemudian tetap melabuhkan ciumannya.
"Aku tidak akan memintanya sampai jika cinta itu telah hadir di sini." Tunjuk Kevin di dada Emeryl.
__ADS_1
"Terima kasih, Bang."
Kevin pun merebahkan diri disamping Emeryl. Tapi perubahan nyata benar-Benar Emeryl lihat. Pria itu terpejam sambil merengkuh tubuhnya sangat erat.
...πππππ...
Pagi-pagi sekali matahari mulai merambah ke segala penjuru waktu, memeluk dunia dan memberikan sejuta kehangatan.
Emeryl yang baru saja terbangun dari tidurnya tiba-tiba merasakan mual yang sangat hebat. Ia mengira semua itu terjadi karena Ia sedang jatuh sakit.
Oek.. Oek..
Emeryl menumpahkan seluruh isi perut ya ke wastafel. Kevin yang baru saja mengorder sarapan pagi dan berniat membangunkan Emeryl sangat terkejut. Suara Emeryl begitu nyaring sampai terdengar keruang tamu.
"Sayang, kamu kenapa?" Kevin melihat wastafel sangat kotor segera memutar kran air. "Kamu sakit?" Kevin memeriksa suhu kening Emeryl tapi hanya ada keringat dingin yang tersentuh olehnya.
"Gak tau, Bang. Perut ku sangat mual. Mungkin aku sedang masuk angin." Emeryl terus saja meringis memegangi perutnya. Wajah nya juga terlihat memucat.
"Kita sarapan dulu ya, habis itu ke dokter." Kevin menuntun Emeryl ke meja makan dan membuka kotak nasi yang di letaknya tadi. Emeryl terharu saat mendapati perhatian tulus Kevin yang menyuapinya dengan tulus.
"Gimana? Apa masih mual?" Tanya Kevin, khawatir.
Beberapa kali suapan perutnya mulai menolak.
Oek...
"Maaf, Bang. Aku sudah tidak sanggup lagi menerima makanan itu." Emeryl menjauhkan sendok yang hendak di suap kan oleh Kevin lagi untuknya.
"Oke, tunggu sini. Biar aku ambil kunci dan dompet dulu."
Emeryl mengikuti langkah pria itu masuk kekamar sampai pria itu keluar lagi.
"Ayo, aku tidak mau kamu sakit." Kevin menuntun Emeryl masuk ke mobil yang membawa mereka menuju sebuah rumah sakit besar dan mewah di kota itu.
"Apa yang terjadi, Dok?" Kevin penasaran akan alat canggih yang di putar-putar seorang dokter pada perut Emeryl, alat itu terhubung dengan sebuah layar berwarna tak jauh dari tempat itu.
__ADS_1
"Wah, ini kabar bagus, Pak," ujar Dokter itu, ikut senang. Emeryl sedikit takut, Ia mendongak menatap raut wajah Kevin. Pasti ada hal lain yang tidak Emeryl sadari.
"Maksudnya kabar baik apa, Dok?" Kevin mulai tegang. Ia menoleh kearah Emeryl dan menebak-nebak ketakutannya.
"Istri Bapak rupanya tengah hamil, dan dalam fase ngidam, Pak," jawab Sang Dokter, terus terang.
Kevin dan Emeryl sama-sama terperangai. Mereka tidak tahu apakah itu adalah kabar baik sungguhan. Padahal Kevin sendiri sadar jika Ia tidak pernah menyentuh Emeryl sama sekali.
"Oh...," Jawab Kevin, bengong.
"Selamat ya Pak, Bu. Ini pasti bayi pertama kalian," ujar Dokter yang tidak tahu apa-apa itu. Sepanjang Penjelasan Dokter, Kevin hanya diam saja. Paling iya hanya menjawab em atau O karena kabar itu adalah pukulan terberat untuknya.
Emeryl ikut diam, tidak perduli apa pun penjelasan dokter itu karena yang ada dipikirannya adalah Ia takut Kevin akan marah besar atas berita kehamilan itu.
Usai pemeriksaan berakhir, keduanya masih saja bungkam hingga sampai di rumah.
"Bang...!" Emeryl tidak tahu harus berkata apa. Tapi diamnya Kevin membuatnya merasa bersalah. "Maafkan aku, Bang. Aku sendiri tidak menyangka hubungan itu membuat aku sampai mengandung."
Sakit hati Kevin mendengar penuturan Emeryl, tapi Ia tidak berhak untuk marah. Sebab, semua itu terjadi akibat kesalahannya sendiri.
"Bang, ku mohon jangan marah. Izinkan aku tetap menjaganya sebagai anak kita," tutur Emeryl lagi.
Kevin menoleh dan menatap dalam pada Emeryl.
"Apa kau tidak berpikir untuk membesarkan anak itu bersama Ayah biologisnya." Kevin harus berbesar hati mengatakan itu.
Emeryl menggeleng. "Aku tidak tahu harus mengatakan apa, Bang. Tapi yang pasti aku sangat ingin menjadi istri yang berbakti. Jangan hukum anak ini atas ketidak mampuanku menjaga diri." Emeryl mengelus perut yang masih sangat rata itu.
"Seharusnya kau menghardik, mencela atau memaki ku, Emer. Aku berhak mendapat karma atas semua kesalahanku. Jadi kamu tidak perlu merasa bersalah atas kehamilan mu."
Kevin kian rapuh, Ia tak mampu menahan air mata yang berat menerobos jatuh sebagai bentuk penyesalannya.
Emeryl juga tak bisa menyembunyikan perasaan nya, Ia ikut berderai air mata. Seandainya Kevin mencintai Ia sejak dulu, pasti kehamilan di luar perkiraan itu tidak akan pernah terjadi.
Kevin meninggalkan Emeryl seorang diri, Ia menyendiri di taman belakang sambil menangis sesenggukan.
__ADS_1
"Begini kah rasanya sakit saat seseorang yang dulu tidak berarti bagiku akhirnya telah mengabdikan hidupnya pada pria lain, dan aku baru menyadarinya setelah semua terlambat. Sekarang aku harus menerima ganjaran atas segala kesalahanku."
Emeryl tak bisa menghentikan air matanya, Ia bingung. Ada dua kegundahan yang menyelimutinya. Ia sangat ingin kembali bersama Elang dan membesarkan anak mereka bersama tapi Ia juga tidak tega meninggalkan Kevin yang kini telah berubah menjadi orang yang lebih baik.