Bermula Karena Dendam

Bermula Karena Dendam
Bab 24 Perhatian


__ADS_3

Emeryl mengedarkan pandangannya ke segala penjuru arah. Entah mengapa Ia merasakan damai di tempat yang terlihat minimalis itu, bahkan sangat memukau pandangan matanya. Emeryl paham mengapa ruangan itu begitu elegan, alasannya karena Elang seorang pria, jadi mana mungkin Ia menyukai warna yang mencolok seperti kaum wanita. Namun begitu saja, sudah membuatnya betah berada disana.


Satu hal lagi yang membuat decak kagum Emeryl semakin mencuat, Kamar itu begitu harum dan rapi. Tanpa disadarinya Ia memutar tubuhnya berulang-ulang menikmati sensasi wewangian yang menggoda indra penciumannya.


Elang tak melepaskan tatapannya, Ia terpesona melihat tingkah laku Emeryl tanpa malu didepannya. Bahkan tidak sadar jika roknya sedikit terangkat oleh tindakannya.


"Kau menyukai kamar ini?" Elang tersenyum simpul. Ia berjalan mendekat menghampiri Emeryl tepat didepannya. Mendengar celotehan Elang, lekas Emeryl tersipu.


"Maaf, ruangan ini begitu nyaman." Wajahnya bersemu merah.


Sejenak Elang mendongak keatas langit-langit, kemudian kembali mengulas senyum pada wanita yang kini bersamanya.


"Jika kau suka, tempat ini akan menjadi milikmu." Pernyataan Elang yang tidak masuk akal membuat Emeryl mengerutkan dahi.


"Astaga, kau sedang membual ya." Emeryl terkekeh kecil.


"Tidak." Elang berkata jujur. "Aku bersungguh-sungguh dari hati," Imbuhnya lagi. Tatapan itu terlihat penuh keseriusan.


Senyum Emeryl tidak enak, Ia sendiri tampak bingung lalu memilih mendaratkan bokongnya di ranjang, menggoyang-goyang King size jumbo itu dengan riangnya.


"Itu semua pasti karena kau sudah membeliku kan?" Tebak Emeryl, asal. Karena begitulah kenyataan yang kini membelenggu hatinya. Menjadikan Ia wanita yang terkesan murahan didepan pemuda itu.


Elang sendiri mengikuti Emeryl duduk disampingnya. Ia tak henti-hentinya memperhatikan wajah Emeryl dari samping. Pipi merona, hidung sedikit mancung, alis yang terbentuk bagaikan bulan sabit juga bibir tipis yang menggoda.


Meski tubuh Emeryl kecil, dada yang terlihat datar dan tidak memiliki tubuh seksi layaknya model spanyol. Cukup membuat Elang tertarik akan tampang tengilnya.


Elang dapat menilai, jika Emeryl adalah karakter gadis yang ceria dan suka berbicara pada orang lain. Akan tetapi keadaan nya saat ini telah mengubahnya menjadi wanita yang pendiam dan penakut.


"Uang bukan segalanya Emer, tapi Uang bisa membeli apa yang ku mau." Ungkapan Elang membuat Emeryl menoleh kearahnya.


"Aku tahu, kau bahkan bisa membeli gadis untuk dijadikan pemuas kan?" timpal Emeryl, lagi-lagi mengulas senyuman tapi tidak sepenuhnya dari hati. Sepertinya Ia mulai berdamai dengan keadaan. Bahkan mengakrabkan diri dengan Elang.

__ADS_1


"Hah, kau mau menjadi istriku?" Bualan itu terungkap lagi. Emeryl tidak mungkin mudah terbawa perasaan akan omong kosong itu.


"Kenapa kau tidak menikahi model, artis, anak bangsawan atau seorang Dokter saja, kurasa mereka punya strata yang sama denganmu?" Tanya Emeryl. Ia meneguk salivanya yang seakan serat dan juga merasa kalau jantungnya tengah bermasalah.


"O ya, bolehkan aku melihat wajahmu?" Imbuhnya lagi, berusaha bersikap wajar. Emeryl tampak memohon. Mendekatkan wajahnya pada Elang, hingga kedua bola mata mereka saling berdekatan.


Maksud Emeryl ingin menyembunyikan detak jantungnya, akan tetapi saling berdekatan dengan jarak yang sempit membuat jantung itu bertambah getar.


"Kau deg-degan?" Elang memainkan kedua alisnya menggoda Emeryl. Ia dapat merasakan hembusan nafas yang tidak teratur nyaring keluar dari hidung Emeryl.


Wajah Emeryl merah padam, Ia yang malu memukul dada Elang hingga jatuh keatas king Size.


"Apa maksudmu bicara begitu, aku tidak mungkin menyukai pria yang sudah melecehkan ku!" Dengan sewotnya Emeryl menjauh. Ia duduk di sofa berhadapan dengan makanan yang dibawanya tadi. Alhasil, mendadak perutnya berdemo, karena melupakan rasa lapar yang belum juga hilang.


"Bang, aku boleh tidak memakan nasi ini?" Rasanya Emeryl tidak tahu diri, tapi Ia tidak kuat lagi menahannya. Diizinkan atau tidak pun, Ia menarik piring itu mendekat dan bersiap melahap. Tapi sial, Eyang Kanesty telah berdiri dengan tatapan sinis didepannya. Ia kemudian menyorotkan matanya kearah Elang yang masih tidur di ranjang.


Emeryl melepaskan sendok ditangan nya dan berdiri. Ia menundukkan kepala takut. "Maaf, Nek. Bang Elang tidak mau makan, jadi aku yang mengalah. Mubajir kan jika dibuang?" Ucapnya, memberanikan diri.


"Elang, kau belum mengajarinya!" Nampaknya Eyang Kanesty sangat marah.


"Aku ingin makan berdua denganya, Eyang. Tapi dia menolak. Makanya aku ngambek," bohong, Elang.


Emeryl terpojok mendengar pengakuan Elang.


"Kapan maskermu itu kau lepas?" Oceh Eyang Kanesty lagi. "Kau malu ya memperlihatkan wajahmu yang jelek itu padanya." Eyang Kanesty begitu sinis.


"Eyang, kalau bicara suka bener, ih. Aku malu karena bibirku jontor akibat ke jedot di tembok kemaren," ujarnya, bernada manja. Ia terus menggoda perempuan tua kesayangannya.


Eyang Kanesty tidak pernah bisa serius bila marah pada Elang. Sebab pemuda itu sangat pandai mengambil hati.


"Eyang tenang saja, nanti aku ajari cara dia memanggil Eyang dan aku secara benar." Elang mengedipkan sebelah matanya kearah Emeryl. Wanita itu menarik sedikit bibirnya, cuek.

__ADS_1


"Ya sudah, ingat. Dia boleh ada disini tapi tidak tidur seranjang." Eyang Kanesty mengingatkan.


"Oke Eyang." Elang menunjukkan lingkaran jari Ibu dan telunjuknya tanda setuju.


Perempuan tua itu melirik Emeryl sebentar, kemudian meninggalkan keduanya di dalam kamar.


Emeryl memukul keningnya berkali-kali, Ia merasakan malu yang teramat sangat gara-gara hampir menyantap makanan Elang di depan Eyang Kanesty. Seolah-olah wanita yang tengah kelaparan dan rakus.


"Kenapa ekspresi mu begitu?" Elang menyiutkan bias matanya.


"Maaf, aku sudah bersikap tidak sopan." Emeryl mau kembali keranjang tapi Elang menahan lengannya.


"Duduklah, perutmu perlu di isi!" Pemuda itu mendudukkan Emeryl lalu bermaksud menyuapinya.


Emeryl mematung, Ia tidak menyangka Elang selembut itu pada wanita. Padahal jika diingatkan lagi saat pertama bertemu. Elang bersikap begitu culas dan bengis.


"Ayo makan!" Elang menempelkan sendok itu di bibir Emeryl, dengan terpaksa Ia membuka mulutnya.


"Terima kasih." Emeryl memasang wajah sedih. Ia sangat merindukan sebuah kasih sayang yang belum pernah didapatnya semasa kecil.


Suapan dari orang terkasih mungkin hal biasa, tapi baginya itu adalah hal yang sangat membahagiakan.


"Aku minta maaf sudah merepotkan." Air mata Emeryl jatuh tanpa terasa. Ia berusaha untuk tetap tersenyum pada Elang. Pemuda itu hanya menatapnya. Ia tidak berargumen sama sekali dengan kepedihan Emeryl.


Elang juga tidak tahu se kelam apa hidup yang Emeryl lewati, akan tetapi melihat Emeryl saja. Ia merasa perlu membantu gadis itu, terlepas sebagai pemuas dirinya.


"Kau harus membayar hutangmu itu," Kata Elang. Raut wajah itu berubah dingin.


"Apa yang harus aku lakukan?" Emeryl mengusap air matanya.


"Melayani aku di dua malam yang tersisa," Jawab Elang.

__ADS_1


"Ck, sudah kuduga, kau melakukan ini karena tidak mau merugikan?"Decih Emeryl, kesal.


"Tentu, aku tidak mau membuang waktu hanya untuk sekedar berbaik hati."


__ADS_2