Bermula Karena Dendam

Bermula Karena Dendam
Part 56 Bahaya


__ADS_3

Keadaan lalu lintas mendadak kacau, semua kendaraan saling bersenggolan. Ketika mobil Kevin melaju tak terkendali dan berulang kali menyerempet pengendara lain. Sedang celine mobil terdengar bersautan dari berbagai aspek.


"Bang, ayo Bang. Jangan sampai kita tertangkap. Ingat Emeryl, jangan sampai dia menangisi nasibmu," ucap Damar, kalap.


Kevin membanting setir, menghantam pembatas jalan untuk melewati Jalan di arus berlawanan, agar polisi kesulitan mengejar.


"Cepat hadang tersangka dari arah berlawanan!" Perintah seorang komandan polisi pada polisi yang membawa mobil lainnya.


"Siap, Pak. Kami sudah berada di belakang mobil tersangka," jawab polisi yang memiliki pangkat di bawah komandan.


Kevin tidak menyia kan waktu, Ia yang melihat mobil polisi semakin dekat langsung membelokkan mobilnya kesebuah hutan yang gelap nan senyap.


"Ayo cepat turun! Kita harus berhasil melarikan diri!" Teriak Kevin, dengan nada panik. Sial nya mobil polisi juga berhenti. Mereka yang melihat samar salah seorang dari mereka menembakkan pistolnya asal, tepat mengenai salah satu sasaran empuk.


"Ahk...!" Kevin memekik memegangi perutnya.


"Bang, kamu kenapa, Bang?" tanya Damar yang tadinya mau berlari lebih dulu malah kaget akan dentuman keras.


"Aku ter_ tertembak, Damar," jawab Kevin, tersengal.


Diantara gelapnya malam, Damar tetap menuntun Kevin berlari dari pengejaran, tidak peduli para polisi yang membawa senter itu tanpa henti mengejar mereka.


Kevin sudah lemas, Ia menyeret kaki berharap masih bisa selamat tapi Pria bertubuh tegap dan tinggi itu terjatuh. Ia tak mampu lagi mengendalikan diri.


"Bang Kevin!" Teriak Damar, takut. "Ayo bangun, Bang. Kamu harus kuat demi istrimu." Damar yang menggendong uang itu menyerahkan salah satu tas yang Ia jinjing pada anak buah yang satunya lagi.


"Bawa ini!" Damar melempar tas itu. "Tunggu aku di tempat biasa!" Titahnya lagi. Keduanya menurut dan segera berlari sedang Ia berjongkok di depan Kakak angkat itu dan minta Kevin naik keatas punggungnya.


"Tidak, Damar. Biarkan saja aku. Selamatkan dirimu!" Kevin pasrah jika Ia harus tertangkap atau pun mati oleh para polisi itu sedang cahaya senter polisi mulai mendekat.


"Tidak, Bang. Kita melakukan bersama jadi mati pun harus bersama!" Damar bersi kekeh menggendong Kevin dengan segala kemampuannya walaupun otaknya terasa tertarik akan beban berat diari tubuh Kevin. Melihat ada jurang dangkal Damar memutuskan untuk bersembunyi disana.

__ADS_1


"Bang, kita melorot kebawah. Aku akan mendorong Abang lebih dulu." Damar mendudukkan tubuh Kevin di tepi jurang dan mendorongnya sampai terguling. Melihat Kevin benar-benar tergeletak lemas, Damar segera menyusul dan menyeret tubuh Kevin bersembunyi dibawah semak belukar. Keduanya tidak bisa mengendalikan nafas yang memburu. Diam tanpa suara adalah pilihan yang tepat.


"Wah, sial kemana mereka lari. Briptu satu Cepat cari kesana!" Titah kepala komandan.


"Siap, Pak!" Mereka menyebar ke beberapa titik. Bahkan menyorotkan senter ke jurang itu. Tapi karena gelapnya malam mereka tidak mendapati apapun untuk di jadikan alat petunjuk arah.


Cukup lama berputar-putar disana, Kepala komandan menggiring mereka ketempat lain.


Damar yang yakin telah aman menoleh kearah Kevin yang tengah lunglai.


"Bertahanlah, Bang. Kamu pasti selamat." Damar melepas jaketnya lalu mengingat tubuh Kevin yang bersimbah darah dengan jaket itu. Meski sisa tenaga hanya seadanya, Damar kembali menggendong Kevin.


Tepat pukul 03.00 dini hari, Emeryl terbangun. Perasaannya seakan sangat risau. Ia teringat akan kata-kata Kevin siang tadi yang mengatakan jika Ia lebih baik memilih mati dari pada menyerahkan dirinya pada Diaz Danuarta.


Wanita itu mendudukkan diri dan melihat sekitaran, Ia tidak menemukan Kevin di tempat itu. Karena khawatir, Emeryl segera keluar kamar dan memeriksa setiap ruangan yang biasa di jadikan tempat Kevin menyendiri. Tapi sangat disayangkan, Emeryl tidak menemukan apa pun.


Firasat buruk seakan kuat menyerang, membuat Perempuan itu memegangi dada yang berdenyur ngilu.


Tok! Tok! Tok!


Terdengar ketukan pintu misterius. Emeryl yang tidak perduli akan bahaya langsung berlari ke pintu dan membukanya.


Bola matanya membulat, saat mendapati Kevin lemas di gandengan Damar sampai pemuda itu tak mampu menahan beban tubuh Kevin yang meloyor jatuh.


"Mas Kevin...! Teriak Emeryl, takut.


"Maaf, Emer. Aku kehabisan tenang menggendong Ban Kevin." Damar dan Emeryl segera membantu Kevin yang setengah sadar berdiri dan membaringkannya di sofa.


"Apa yang terjadi, Damar? Bagaimana kita mengobatinya?" Cecar Emeryl, yang sangat marah.


Damar sendiri tidak tahu, tapi yang pasti dia harus memeriksa perut Damar untuk mengeluarkan peluru yang mungkin saja bersarang disana.

__ADS_1


Pemuda itu segera membuka pengikat jaket dan melepas baju Kevin. Emeryl terkaget-kaget. Darah segar terus keluar dari perut Kevin. Dengan keberanian yang ada di diri Damar. Pemuda itu segera mengambil sebuah alat runcing untuk mengeluarkan peluru.


"Tahan, Bang. Ini pasti sakit." Damar mencongkel benda bulat yang sedikit dalam itu dengan jerih payahnya.


"Aw, Damar. Sakit...!" Teriak Kevin. Keringat bercucuran dari dahi pemuda bermata tajam itu.


"Sebentar, Bang. Aku mendapatkannya!" Damar berhasil mengambil benda itu dengan sebuah besi berani yang di tempa runcing.


"Emer, tolong ambil kan kotak obat!" Pinta Damar. Kini Ia merangkap jadi seorang Dokter gadungan. Emeryl yang ngeri melihat kondisi Kevin segera mengambil apa yang diminta oleh Damar.


Cukup cekatan juga Damar membersihkan lukanya dan membubuhkan obat anti sakit di perut Kevin lalu menempelkan perban cukup tebal yang di tempel rem perekat berwarna hitam.


Setelah mendapat penanganan, Kevin terlihat membaik. Emeryl yang masih berdiri di samping Kevin berinisiatif memberinya minum.


"Terima kasih, Sayang," ucap Kevin, sengau. Tak lupa Ia juga berterima kasih pada Damar karena telah menyelamatkan nyawanya.


"Abang berhutang nyawa padamu, Damar." Kevin tetap bisa tersenyum sambil memukul pundak Adik angkatnya itu.


"Ah, biasa aja, Bang. Untung tidak mengenai isi perut Abang karena menepi disisi pinggir perut, kalau tidak aku tidak bisa membayangkan semuanya," Ujar Damar yang akhirnya bisa bernafas lega.


"Apa yang baru saja kalian lakukan?" Todong Emeryl dengan tatapan melotot. Siapa yang bisa tenang jika suaminya ada dalam marabahaya.


Kevin menatap sayu mata Emeryl, Ia menggapai pipi wanita yang berdiri disebelahnya itu dengan tangan bergetar.


"Maafkan aku, Sayang. Aku sedang berjuang melindungi dirimu. Kau tidak berhak menuai penderitaan atas kesalahanku."


Lelehan air mata mengalir deras diantara Kevin dan Emeryl. Pemandangan itu sangat-sangat mengharuksn bagi Damar mendapati perubahan luar biasa di diri Kevin.


"Tapi aku tidak mau terjadi apa pun padamu, Mas.Terlepas dari apa sang telah terjadi. Kau tetap suamiku," ujar Emeryl, takut.


"Tidak akan terjadi apa pun, ku pastikan kau akan bahagia setelah semuanya berakhir," ucap Kevin, berjanji.

__ADS_1


__ADS_2