
Kali ini Grace mencoba untuk bersikap tidak seperti pacar yang pecemburu.
Ayolah grace! You even not his girlfriend.
Dia selalu mengatakan itu di hatinya. Jika dia bertingkah seperti seorang kekasih yang pecemburu, dia harus meminta Salsa untuk memukul kepalanya agar bisa menyadarkan dirinya untuk tidak bersikap bodoh.
Dia tahu, kedatangan Cindy pasti memporak - porandakkan hatinya lagi. Perempuan itu datang disaat Grace baru saja berbaikan dengan Thomas. Dan sekarang, cuma karena dia Grace akan bertengkar dan kembali saling mendiami.
Jangan harap!.
“Kamu berangkat sama siapa, Grace?" Tanya Renata di sela - sela sarapan paginya.
Tadi sebelum keluar kamar, Grace sempat melihat mobil Thomas yang masih terparkir di garasi rumahnya. Dia ingin seperti dulu yang bisa masuk kerumah Thomas, kembali membangunkannya, sarapan bersama dan berangkat bersama. Tapi dia tidak berani. Pasti akan canggung sekali, pikirnya. Grace dan Thomas sempat tidak bertegur sapa selama berbulan – bulan. Dan hal itu pasti akan membuat Kate menanyakan alasannya yang tidak pernah berkunjung lagi.
"Kayaknya sendiri Bun. Ayah dimana bun? belum pulang ya?." Renata mengangguk dengan pandangan bersalah. Dia sudah berjanji akan berubah untuk selalu bersama. Tapi, tugas sang suami tidak bisa di tinggal.
__ADS_1
“Iya. Ayah masih ada kerjaan yang harus diselesaikan. Tidak apa kan sayang?." Grace menggeleng. Dia mengerti.
“Aku mau panggil pas Asep ya bun." Renata mengangguk. ada raut sedih di wajah anaknya. dan, Renata bisa melihat itu. dia tidak ingin kembali membuat anaknya kecewa. Tapi, ternyata tidak bisa.
Grace berjalan dengan lesu ke depan gerbang. Ketika dia ingin menghampuiri pak Asep yang sedang meminum kopi paginya. Dia mendapat panggilan dari depan gerbangnya. "Hei.." panggil Thomas.
Grace tersenyum menyambut kehadiran Thomas. Laki – laki itu pagi ini terlihat sangat tampan. Sepertinya, dia baru saja memotong rambutnya. "Hai ... belum berangkat?" Balas Grace.
Thomas menggeleng "Belum. Kamu mau bareng?." Tanyanya lagi.
Pak Asep yang merasa terpanggil langsung menghapiri anak majikannya. "Mau saya antar, Neng?."
“Enggak pak. Biar Grace sama saya aja." Thomas sudah lebih dulu menjawab sebelum Grace sempat mengeluarkan kalimatnya. Pak Asep kembali melirik Grace. Tapi, tatapan Thomas dan paksaannya tidak bisa dia hindari.
“Yasudah pak, saya sama Thomas aja." Ada sebuah senyuman yang terlihat di wajah Thomas. Akhirnya. Dia sangat bersyukur Grace masih mau mengikuti apa katanya.
__ADS_1
^
^
^
Pagi ini, adalah hal yang sangat langka bagi Thomas. Dia sudah membuka matanya ketika matahari masih belum bersinar. Selepas sholat subuh, Thomas tidak kembali menutup matanya untuk tidur. Tapi, dia mempersiapkan dirinya dengan penuh semangat. Entah kenapa pikirannya sangat tidak sabar dari semalam ingin mengajak Grace untuk berangkat bersama.
Padahal dulu mereka memang sering berangkat bersama. Tapi, sejak mereka bertengkar, hal itu tidak pernah terjadi lagi. Walaupun dia dan Grace sudah berbaikan. Grace tidak kembali muncul untuk membangunkannya dipagi hari dan ikut sarapan bersama orang tuanya.
Jika ditanya masalah itu. Entah kenapa dia rindu masa - masa dimana cuma hanya ada dirinya dan Grace. Tanpa ada orang lain. Egois boleh gak sih?
Memang dulu Thomas sempat tidak yakin dengan perasaannya. Dia hanya menganggap Grace sahabat kecilnya saja. Tapi, sejak Grace dekat dengan Jason. Thomas terlihat tidak suka. Dia marah. Padahal dulu, dirinya sendiri yang menyuruh Grace untuk bisa berteman dengan yang lain. Tapi, ketika Grace mendapatkan seorang teman seperti Jason yang memiliki niat berbeda. Hal itu membuatnya jadi emosi dan membentak Grace.
Ketika dia keluar rumah, dia melihat Grace yang baru saja keluar dari rumahnya dan berjalan kearah mobilnya. Dengan niat yang sudah menggebu – gebu sejak semalam. Thomas menghampiri Grace untuk mengajaknya berangkat bersama. Ketika Grace mengatakan iya. Jangan tanya bagaimana hati Thomas saat ini. karena sudah pasti jawabannya adalah bahagia.
__ADS_1
^^^