
Hari minggu kali ini Grace hanya berdiam diri di dalam kamarnya. Sejak kemarin dia masih bingung bagaimana dia akan berhadapan dengan Thomas nanti. Sejak kemarin Thomas sibuk menelphonenya. Tapi tidak ada satupun yang di angkat oleh Grace. Dia masih kerap kali menangis mengingat jika sebentar lagi Thomas akan pergi.
Saran sang bunda pun hanya bisa melintas begitu saja di kepalanya. Tidak ada satupun yang di lakukan Grace. "Huh!." Desahnya lesu.
"Aku harus bagaimana?." Ucapnya pada dirinya sendiri.
Tuk! Tuk!
Suara seperti benda yang mengenai kaca di kamarnya membuat perempuan itu mendekat. Dia sedikit membuka jendela kamarnya dan melihat keluar. Disana, dia melihat Thomas yang saat ini sudah memegang se-bouqet bunga mawar pink dan juga kantung plastik yang sepertinya isinya berbagai macam makanan ringan.
"Please, kasih aku kesempatan untuk jelasin ke kamu Grace." Teriaknya dari bawah. Grace melihat ada gurat kesedihan yang juga terlihat di wajah Thomas. Dia berfikir bukan hanya dirinya saja yang sedih. Tapi Thomas pun merasakan hal yang sama.
"Buat apa?."
"Please, Grace. aku enggak bisa jelasin disini dengan bicara sama kamu seperti ini." dengan kesal, Grace mengangguk. dia mengijinkan Thomas untuk naik ke kamarnya melalui tanaman merambat yang ada di depan kamarnya. Thomas memanjat pelan melalu pagar besi tempat dimana bunga itu merambat. Thomas masuk melalu celah jendela yang sekarang sudah dibuka lebar oleh Grace.
Thomas meletakkan bunga dan plastik makanan yang dibawanya. Dia kini berjalan maju dan langsung menarik Grace ke dalam pelukannya. "Aku kangen kamu, Grace."
__ADS_1
Grace hanya bisa terdiam tanpa membalas pelukan tiba – tiba ini. dia masih terkejut Thomas bisa jadi seberani ini. apalagi ini di dalam kamarnya. "Aku mohon kasih aku kesempatan buat jelasin ke kamu, Grace." ucapnya lagi.
Merasa Grace tidak merespon sama sekali. Thomas sedikit mengendurkan pelukannya tanpa melepas rangkulannya di tubuh Grace. "Grace."
Semburat merah muncul di wajah putih milik Grace. dia mengalihkan pandangannya dari Thomas. "Tatap aku." Thomas menarik lembut dagu Grace hingga kini dia bisa melihat jelas pacarnya.
"Kamu masih marah?." Grace menggeleng pelan. "Lalu kenapa kamu belum ngomong apapun?."
"A-aku bingung."
Grace menatap Thomas dalam. "Aku bingung apa yang harus aku omongin ke kamu."
"kamu bisa keluarin semua pertanyaan yang ada di kepala kamu. aku akan jawab semuanya. Asal jangan diemin aku kayak gini."
Thomas melepas pelukannya dan membawa Grace untuk duduk di pinggir kasur perempuan itu. Thomas mengambil bouqet bunga yang di bawanya dan menyerahkan itu pada Grace. "Aku harap kamu suka."
Dengan malu – malu, Grace mengambil bunga tersebut dan menghirup wanginya "Makasih."
__ADS_1
Thomas juga membawa plastik makanan ringan yang tadi sempat di belinya. Dia mengeluarkan beberapa coklat kesukaan Grace dan juga es krim berbagai rasa. Di sana juga ada martabak coklat kesukaan Grace yang di beli Thomas di toko langganan perempuan itu.
Melihat kegigihan Thomas, Grace merasa malu pada dirinya. Bagaimana bisa dia marah akan hal yang mungkin sepele ini. sejak kecil dia tahu bahwa Thomas akan melanjutkan kuliahnya di sana. Tapi, mengingat statusnya yang berubah membuat Grace melupakan cita – cita Thomas tersebut. Egois. Hal itulah yang dia pikirkan saat ini. Grace merasa jika dirinya menjadi egois semenjak status mereka berubah. Dan hal itulah yang membuatnya malu berhapan dengan Thomas saat ini.
"Aku tahu kamu marah karena aku baru bilang akan hal ini. tapi, kamu tahu sejak kecil inilah cita – cita aku. Memang keberangkatannya agak lebih cepat karena papa yang mengurus meminta aku untuk mengurus beberapa hal disana."
Thomas menatap Grace dalam. "Aku minta maaf karena sudah membuat kamu marah. Aku siap terima kemarahan kamu. asal setelah itu kita bisa kembali berbaikan."
"Iya. Aku juga minta maaf sama kamu karena sudah bertindak egois. Sejak dulu aku tahu kalau ini cita – cita kamu. tapi, mendengar hal ini membuat hati aku sakit. sebentar lagi kita akan berpisah. Dan aku belum siap akan hal itu. sekali lagi aku minta maaf."
"Hey! Lihat aku." Thomas mengangkat dagu Grace hingga perempuan itu kini menatap kedalam matanya.
"Kamu pantas marah karena hal ini. status kita bukan lagi sahabat. Dan aku sama sekali enggak marah akan hal itu. jadi enggak ada yang perlu di maafkan, mengerti?." Grace mengangguk. "iya. Aku mengerti."
"Jadi mau berbaikan?." Senyuman Thomas seolah membuat situasi kembali menghangat.
---THE END--
__ADS_1