
Bulan ini adalah bulan pertama sejak kepergian Thomas ke London untuk menempuh kuliah S1 nya disana. Grace sudah cukup menangis selama seminggu didalam kamarnya. Saat ini, Gina, Tobi dan Jason datang untuk mengajaknya main. Atas perintah Thomas. Ketiga sahabatnya itu ditugaskan untuk membuat Grace bisa
sedikit melupakan kesedihannya.
Tobi, Gina dan Jason sudah pasti senang. Bukan hanya karena mereka bisa menghibur diri dengan makan sepuasnya, Thomas memberikan mereka tiket nonton gratis selama sebulan. Thomas memberikan mereka uang lelah untuk membuat kekasihnya senang. ketiganya memang bisa mencari untung di dalam kesedihan temannya. Thomas hanya bisa geleng – geleng kepala melihat betapa senangnya Toby dan Gina yang
diberikan tugas menyenangkan ini. Jason hanya bisa mengikuti asal gratis.
“Grace! Grace! Main yuk!” Teriak Tobi didepan pintu rumahnya. Setelah melewati izin di depan gerbang oleh beberapa pengawal dan anak buah dari ayah Grace. Tobi, Gina dan Jason kini bisa bertemu dengan sang pembawa rejeki untuk mereka. “Mulut lo toak banget, By!.” Kata Jason sambil menatap ke arah beberapa pengawal yang menatap mereka heran. Jason malu karena sikap memalukan Toby ini. seharusnya, Toby bisa menjaga sikap di dalam rumah pribadi presiden mereka saat ini.
“Biar si Grace denger.” Sahutnya tidak mau disalahkan.
Tak lama, pintu rumah didepannya terbuka. Mereka berdua melihat Grace yang masih mengenakan baju tidurnya lengkap dengan mata bengkak yang menghias di wajahnya. Gina menggeleng – gelengkan kepalanya melihat wajah Grace. “Lo nangis lagi semalem?”
“Enggak. Aku abis nonton drama.” Elaknya.
“Kamu tau kalau kamu gak bisa bohong kan Grace?” Kata Jason. Dia pun mendorong Grace untuk masuk kedalam rumahnya. Diikuti Toby dan Gina. “Mandi, cuci muka, gosok gigi. Abis itu dandan yang cantik.” Tambahnya lagi.
Grace memberhentikan langkahnya didepan kamarnya. “Mau kemana?”
“Jalan. Udah buruan.” Perintah Gina kali ini.
Grace masih menahan tubuhnya yang masih terus didorong Jason untuk masuk kedalam
__ADS_1
kamarnya. “Aku mager, Jas. Kalian aja deh.”
Toby dan Gina langsung menolak secara tegas. “Kita kesini atas perintah baginda Thomas. Jadi, sebelum dia dapet photo lo yang lagi jalan sama kita. Kita berdua akan kena amuk sama dia.” Ucap Toby dengan tegas dan menggebu - gebu.
“Nanti aku yang bilang sama Thomas. Dia gak akan marah.”
“Enggak. Pokoknya kamu hari ini harus keluar sama kita. Aku gak mau kuping aku budek karena
di teriakin Thomas kalau aku gak berhasil ajak kamu jalan.” Tambah Jason lagi.
“Haruskah?.”
Ketiganya mengangguk dengan tegas. “IYA!.”
^^^
Grace? Perempuan itu masih asik melamun. Dia masih saja merasa sepi karena kepergian Thomas. Padahal, baru juga satu bulan Thomas pergi. Kuliahnya akan dimulai minggu depan. tapi, Grace sudah sangat merindukannya.
Jika ingin egois, Grace ingin Thomas kuliah disini bersama dengannya. Tapi, London adalah salah satu negara yang sudah amat diidam – idamkan Thomas sejak kecil. Orang tuanya bahkan sudah menyiapkan semua keperluan Thomas sejak lama. Jadi, Grace tidak akan mungkin bertindak menjadi perempuan bodoh yang egois karena menahan Thomas. Ini ujian lagi untuk hubungan keduanya. Grace harus menjalani semua ini. baru juga satu bulan. Pikirnya.
Jason menatap Grace masih dengan kekaguman yang sama. ada secuil rasa suka yang dulu dimilikinya. Tapi, dia tidak ingin hal itu menjadi penghalang persahabatan ini. Baginya, merelakan Grace bisa bahagia bersama Thomas adalah hal yang pantas dan tepat.
“Grace, kenapa?” Dia merasakan usapan lembut di tangannya. Kesadarannya kini kembali. Dia melihat ketiga sahabatnya yang saat ini ternyata sedang menatapnya khawatir. Dia sudah cukup lama melamun. Sampai tidak sadar jika Jason, Toby dan menatapnya.
__ADS_1
“Gak apa – apa.”
Gina melihat wajah sendu Grace. Dia sangat tahu jika perempuan didepannya ini sangat tidak bisa menyembunyikan perasaannya. Terlebih jika mengenai Thomas. “Kamu kangen ya?” Tanya Jason lembut. Gina dan Toby juga kini menatapnya. Membuang nafasnya pelan, Grace pun mengangguk. “Iya.”
Gina kini menarik tangannya untuk dipegang. “Grace, lo harus kuat. Ini baru sebulan. Belum ada apa – apanya. Lo harus bisa kuatin diri lo buat Thomas. Jangan buat dia khawatir dengan liat keadaan lo kayak gini.”
“Susah, Gin.”
“Gua tau. tapi, lo tetep harus coba Grace. Thomas akan sangat khawatir disana kalau dia tau lo nangis tiap malem karena mikirin dia. Yang ada dia gak bisa fokus kuliah. Dia bakal lama kelarin kuliahnya. Dan lo, lo bakal lama lagi ketemu sama dia. Lo mau?” Tanya Gina.
Grace menggeleng. “Enggak. Aku mau Thomas bisa selesaiin kuliah dan balik kesini.”
“Kalau gitu, Kamu janji sama kita buat gak nangis lagi. Bisa?.” Tambah Jason.
“Iya. Aku janji.”
Jason, Gina dan Toby tersenyum lega mendengarnya. “Sip! Nah, kalau gitu kita photo dulu. Baginda Thomas udah ngamuk karena gua belum juga kirim photo lo.” sahut Toby yang menunjukkan kepada Grace chat Thomas di handphonenya.
^^^
Sejak Jason, Toby dan Gina membuatnya sadar untuk tidak selalu sedih karena kepergian Thomas. Kini, Grace sudah terlihat lebih ikhlas dan sabar. Sebenarnya gampang saja untuk Grace bisa menyusul. Tapi, dia juga harus mempersiapkan kuliahnya di Roma dalam waktu dekat. Dia ingin mengambil jurusan fashion di salah satu universitas yang di temuinya beberapa waktu lalu. Berkat usahanya yang gigih demi mendapat ijin kuliah di sana dari sang ayah. Grace kini sedang mengepak – ngepak barang – barang yang akan dibawanya untuk piknik bersama Gina. Kedua wanita itu akan mengelilingi Roma satu hari ini.
“Udah siap?” Tanya Gina yang sudah lengkap dengan dress floral orange dan tas basket yang berisi beberapa minuman dingin. “Yuk.”
__ADS_1
^^^