Between Friendship And Love

Between Friendship And Love
Episode Tigasembilan


__ADS_3

Keesokan harinya, Grace mendiami Thomas. Sikapnya semalam masih teringat jelas di otak Grace. Dia tahu Thomas cemburu. Tapi, bentakannya tidak bisa diterima akal sehat. Apakah Thomas tidak bisa bicara baik - baik? Kenapa harus marah.


Ketika pagi ini Grace ingin naik ke mobil. Thomas sudah berdiri didepan gerbang dengan motornya. Dia pasti ingin mengajak berangkat bersama. Tapi, Grace sedang dalam mode marah.


"Grace!" Panggilnya begitu Grace sudah membuka gerbang tapi tidak berjalan mendekatinya. Grace berbalik untuk masuk ke mobil.


"Grace!" Panggilnya lagi. Kali ini dia berhenti tanpa mau berbalik badan. Thomas menarik tangannya untuk menghadap kearahnya. "Liat aku kalau aku panggil." Ucapnya.


Dia terlihat kesal. Lagi. "Apa?"


"Aku mau bicara masalah semalam."


"Aku lagi gak mau bahas ini. Bisa nanti aja?"


"Gak bisa." Tolaknya. Dia langsung menarik lagi tangan Grace yang tadinya sudah dilepasnya dari genggaman Thomas. "Aku mau ini kelar."


"Apanya yang kelar? Marah - marah kamu?" Ucapnya dengan kesal.


"Aku tau. Aku salah karena udah bentak kamu semalam. Tapi aku lakuin itu karena aku cemburu. Cemburu liat kamu deket sama dia. Cemburu liat kamu sebut nama dia."


Kenapa Thomas belum mengerti juga? Padahal Grace sudah sering mengatakan jika hanya Thomas yang ada di pikiran dan hatinya saat ini. Dia tidak peduli dengan Jason. Walaupun Jason sudah baik padanya.


"Harus berapa kali aku bilang kalau cuma kamu. Jadi gak usah khawatir."


"Setiap orang pasti akan terbuai dengan setiap perhatian dari orang lain. Apalagi jika hal itu terlalu sering terjadi."

__ADS_1


"Maksud kamu? Aku akan terbuai dengan segala tindakan Jason yang kasih perhatian lebih ke aku?" Kalimat Thomas yang meragukannya makin membuat amarah Grace meningkat. Bukannya meminta maaf. Thomas justru malah semakin menyalahkannya.


"Aku cuma kasih perumpamaan." Elaknya.


"Seharusnya kata yang kamu ucapin saat ini adalah minta maaf. Bukan nuduh aku sembarang. Aku kecewa sama kamu, Thom. Setelah sekian lama dan setiap tindakan yang aku tunjukin ke kamu masih belum buat kamu ngerti."


Setelah mengatakan itu. Grace langsung masuk kedalam mobilnya  dan menyuruh pak Asep untuk berangkat.


Dia melihat Thomas yang terdiam. Thomas bahkan tidak mencoba mengejarnya. Entah kenapa Grace merasa jika selama ini Thomas belum benar - benar mencintainya.


Apa laki – laki itu mengajaknya berpacaran supaya agar Grace tidak menjauhinya? Apa seperti itu? Apa selama ini dia masih tetap sama? Cinta sebelah pihak? Kenapa rasanya sangat sakit.


^


^


^


Gina dan Tobi yang melihat wajah murung sahabatnya kesal karena sejak tadi Thomas terlihat seperti orang gila. Marah – marah tidak jelas dan mengetuk – ngetuk meja kantin untuk melampiaskan kekesalannya. 


“Lo kenapa sih! kesel gini gua liatnya." Ucap Tobi.


“Gua berantem sama Grace."


Terdengar decakan Gina yang sudah paham dengan sikap sahabatnya ini. "Lo itu emosian, wajar Grace marah sama lo."

__ADS_1


“Tapi kan Grace juga harus tau kalau gua itu cemburu liat dia deket sama si kampret itu." Masih tidak ingin mengalah. Thomas masih tetap mengeluarkan kekesalannya.


“Wajar lah dia marah. Perempuan mana yang mau di bentak. Apalagi ini Grace. Perempuan polos begitu lo kasarin." Balas Tobi mencoba menyadarkan Thomas.


“Tapi kan gua ..."


“Ck! Dari tadi lo kebanyakan tapi!." Potong Gina. "Gua kesel liat laki – laki emosian dan gengsinya tinggi kayak lo gini. Kalau gua jadi Grace, lebih baik gua cari pacar lain."


Wajah Thomas terlihat tidak senang dengan kata – kata Gina. "Kok lo malah doain gua putus sih?!."


“Abis lo kelakuannya bikin kesel!. Kalau lo salah apa susahnya minta maaf. Jangan gedein gengsi taunya nanti lo malah kehilangan Grace."


Mengacak rambutnya dengan kasar. Thomas akhinrya pasrah. Dia butuh saran dari kedua pasangan aneh didepannya ini. "Jadi gua harus apa?." Ucapnya sendu. Dia benar – benar tidak ingin Grace memutuskannya.


“Lo sekarang samperin Grace dan minta maaf sama dia sampai dia mau maafin lo." Kata Tobi.


“Kalau dia gak mau?."


Dengan geram Gina mengetuk kepala Thomas dengan sendok yang dia gunakan sehabis makan bakso barusan. "Ih! Jorok lo Gin!."


“Lagian lo bikin kesel. Kata – kata lo kayak orang ****!. Jadi gua ketok dulu kepala lo biar agak pinteran dikit." Sahutnya Gina tak mau kalah.


“Yah, kan gua bingung aja kalau Grace gak mau maafin gua."


“Lo lebih kenal Grace dari kita berdua. Seharusnya lo tau apa yang bisa bikin dia bisa maafin lo, dodol!." Setelah mengatakan itu, Gina menarik tangan Tobi untuk pergi dari kantin. Dia sudah kesal melihat kebodohan Thomas. Jadi, dari pada dia membanting meja di kantin dan membuat keributan. Dia lebih memilih untuk pergi bersama Tobi. Karena hanya Tobi yang bisa menampung amukan dan kekesalan Gina.

__ADS_1


^^^


__ADS_2