
Empat tahun terlewat begitu saja. Ini saat yang ditunggu – tunggu Grace. Thomas mengatakan jika hari kelulusannya baru saja selesai beberapa hari yang lalu. Dan dia bilang akan pulang dalam waktu dekat. Grace sudah menyiapkan beberapa kejutan yang akan diberikannya untuk Thomas.
Hari ini, untuk yang kesekian kalinya Grace mencoba untuk menghubungi Thomas. Tapi belum juga ada tanggapan dari pria itu. Grace bahkan sudah berpuluh – puluh kali mengirimkan pesan untuk Thomas. Tapi, belum ada satupun yang dibacanya.
“kemana sih! kok gak ada kabar gini!.” Gerutunya.
Setelah kepulangannya dari London. Thomas tidak ingin lagi mengundur - undur waktu untuk niat baiknya ini. sudah sekian lama dia memikirkan langkah besar yang akan diambilnya ini. Dan, rasa itu kian membuncah setelah kakinya menginjakkan Indonesia.
Dia segera menelphone kedua orang tua Grace dan kedua orang tuanya perihal rencana yang akan di lakukannya hari minggu nanti. Grace memilih untuk merebahkan dirinya di kasur. Hari ini dia malas untuk melakukan apapun. Moodnya hancur karena Thomas.
Ting!Ting! Ting!
Dengan cepat Grace mengambil handphonenya yang tadi sempat di lemparnya. Berfikir jika itu Thomas. Tapi, wajahnya langsung lesu begitu dia melihat yang mengirimkannya pesan adalah Gina.
Gina: “Keluar yuk! Bete nih gua.”
Grace: “Yuk! Aku juga lagi bete sama Thomas!.”
__ADS_1
Gina: “Kenapa? Tuh anak buat ulah lagi?.”
Grace: “Nanti aja aku ceritain. Kamu jemput aku dirumah ya.”
Gina: “Siap bosque!.”
Grace langsung bangkit dari kasurnya dan memilih baju yang santai. Dia ingin memakai baju yang sudah disiapkanya untuk bertemu dengan Thomas jika laki – laki itu pulang nanti. Dia juga sempat mencobanya tadi. Tapi, langsung di ganti oleh Grace. mengingat dia hanya akan pergi dengan Gina. Tak perlu menggunakan baju yang terlalu heboh. Grace hanya akan menggunakan baju kaos putih dan juga celana dark jeans. Grace memilih untuk memakai sepatu kets hadiah Thomas sebelum dia berangkat ke London.
^^^
Papa: Papa baru saja bilang sama ayah Grace tentang rencana kamu. Dia juga sudah menyuruh sahabat
Thomas: Thanks pa. Kalau gitu sampai ketemu di rumah. Aku ketemu dengan Tito
dulu.
Dia menghubungi sahabatnya sejak SMA yang saat ini sudah membuka Cafe di bilangan Jakarta Selatan.
__ADS_1
'Woy! Kapan lo mau kesini?'
Thomas tersenyum. Dia meloudspeaker sambungan telphonenya. "Ini lagi mau berangkat."
'Yaudah hati - hati. Gua buatin lo pasta dan ice americano.'
"Thanks man!" Ketika sambungan itu terputus. Thomas langsung mengarahkan mobilnya ke cafe Tito. Sahabatnya ini sudah membuka Cafe selama satu tahun. Dan, Thomas berencana untuk memesan tempat disana untuk melancarkan rencananya.
Memakan waktu satu jam untuknya menerjang kemacetan ibu kota. Kini dia sudah berdiri didepan Cafe Tito yang memiliki dua lantai didalamnya. Lantai satu untuk pelanggan biasa. Lantai dua digunakan untuk acara khusus, dan tempat meeting untuk para customernya yang datang.
"Woy!" Suara Tito langsung terdengar di seantero cafenya, begitu melihat sahabatnya datang. "Lama di London udah buat lo keliatan kayak bule ya" ledeknya.
Thomas memukul dadanya pelan. "Bisa aja lo. Gua emang ada turunan bego! Kalau lo lupa." Laki – laki itu tersenyum seraya mengangguk. "Hahaha iya. Gua lupa. So, kapan rencananya?"
"Hari minggu. Setelah adzan magrib kalau bisa."
Tito tersenyum. Dia tidak menyangka sahabatnya ini akan melangkahinya. Dia yang dulunya menganggap Grace sebagai sahabat. Berani mengambil tindakan untuk merubah status itu. "Wih! Gak nyangka gua. Si 'status friendzone' kini udah mau nikah."
__ADS_1
"Rese lo! Yaudah jadi kapan nih kita bisa bahas plannya?"
"Wih! Gercep ya. Suka lah gua kalau gini. Yaudah lo naik dulu. Gua ambil makanan sama minum lo."