Bianglala (Revisi)

Bianglala (Revisi)
4.1 [Rhea] Keributan Kecil


__ADS_3

Gue kembali ke kamar setelah selesai makan, membiarkan Kak Eza membereskan sisa-sisa makanan yang kami makan tadi. Sedikit keterlaluan sih gue, tapi kalau nggak kayak gitu gue pasti masih terjebak di ruang kerja Kak Eza sekarang.


"Tapi kenapa gue jadi sedikit merasa bersalah, apa bantu aja ya." Di kamar gue malah kepikiran soal Kak Eza yang pasti kerepotan membereskan semuanya sendirian.


Tapi pada akhirnya gue tetap berdiam diri di kamar, karena ternyata gue justru tidak bisa tidur. Kalau seperti ini lebih baik gue bantu Kak Eza tadi, tapi yaudahlah sudah terlanjur.


"Enaknya ngapain ya?" Gue kebingungan karena tidak ada hal yang bisa dilakukan tengah malam seperti ini. Sampai suara dering ponsel gue berbunyi nyaring dan sedikit membuat gue kaget.


"Lo belum tidur?" Aga membuka pembicaraan dengan pertanyaan yang jawabannya sudah jelas dan itu membuat gue sebal padanya.


"Kalau gue tidur, mana mungkin gue jawab telpon lo Aga."


"Iya juga sih, udah beres proposalnya? Tadi gue telpon lo nggak di jawab, terus gue telpon Mei katanya lo di ruang kerja Bang Eza beresin proposal." Jelas Aga panjang lebar, padahal gue juga nggak tanya apapun.


"Kan gara-gara lo juga gue terjebak di ruang kerja Kak Eza." Gue marah sama Aga, karena ini ulah dia tapi gue yang harus membereskannya.


"Ya maaf, gue tadinya mau balik kesana tapi nggak bisa karena ada urusan."


"Urusan apa sih? Biasanya lo juga lebih sering duluin gue daripada urusan lo." Gue benar-benar marah pada Aga, dia tidak seperi biasanya dan justru lepas tangan dengan apa yang dia buat.


"Ah, gue tahu. Lo terlalu sibuk deketin Mei."


"Apasih, Rhea. Kok lo jadi ngaco gini. Lo tidur aja gih, istirahat biar besok lo nggak ngantuk pas kuliah. Biar pikirannya bener juga." Aga mengalihkan pembicaraan ketika gue menebak-nebak soal dia dan Mei.


"Nggak tahu, tanya sama diri lo sendiri." Ucap gue dan memutus panggilan dengan Aga.


Jujur saja, gue sedikir kecewa dengan sikap Aga. Kalau memang mau menjemput Mei silahkan, tapi kenapa harus mengabaikan tanggung jawabnya dan merugikan gue.



Keesokan paginya, gue terbangun karena suara Mei. Ah, sepertinya semalam gue ketiduran setelah bertelpon dengan Aga.



"Lo rapi amat Mei? Ada kuliah pagi?"



"Aku ada latihan band dari pagi. Kuliahku masih nanti siang." Mei menjelaskan alasannya sudah bersiap sejak tadi.



"Terus ini lo berangkatnya gimana? Gue sama Lyra kuliahnya masih nanti siang." Gue tiba-tiba malah jadi bingung sendiri memikirkan bagaimana Mei berangkat ke kampus.



"Aku bareng temenku, kamu nggak perlu khawatir." Sahut Mei santai.


__ADS_1


"Ah, lo bareng Kak Eza aja. Kan sekalian dia mau ke kantor. " Entah ide dari mana, gue mengusulkan Kak Eza.



"Bahas apaan deh kalian, kok nama Kak Eza kedengeran sampai luar." Lyra yang sedari tadi tidak terlihat di kamar.



"Ini, Mei kan ada latihan pagi ini dan gue usul Mei berangkat bareng Kak Eza aja." Gue menjelaskan pada Lyra kenapa gue menyebut nama Kak Eza. "Tapi ya, kalau Kak Eza mau."



"Lo bikin ulah apa lagi Rhea? Ini masih pagi lho." Kak Eza tiba-tiba sudah berdiri di ambang pintu.



"Sok tahu lo, Kak. Gue nggak bikin ulah apapun." Bantah gue tidak mau di salahkan.



"Pokoknya Mei berangkat bareng sama Kak Eza."



"Siapa lo nyuruh gue, urus sendiri urusan lo itu dan nggak usah bawa-bawa gue dalam urusan lo itu."sangkal Kak Eza masih tidak mau mengiyakan permintaan gue.




Dan dengan bantuan Lyra, akhirnya Kak Eza mengiyakan ucapan gue. Tapi jujur saja, gue sedikit takut tadi. Apalagi kalau sampai Kak Eza mengungkit keisengan gue tadi malam.



Akhirnya hanya gue dan Lyra yang tersisa di rumah. Kami menghabiskan waktu dengan menonton movie kesukaan Lyra.


"Rhea, semalem Kak Eza tahan lo di ruang kerja sampai jam berapa?" Tanya Lyra sambil tetap fokus menonton movie.


"Sekitar setengah 10 sih. Kenapa emangnya?" Gue balik bertanya pada Lyra. Tapi gelagatnya aneh, dia sengaja tidak mau menjawabnya.


"Lo dikasih makan kan? Soalnya dia kadang lupa waktu." Lyra masih ajaa penasaran soal tadi malam.


"Aman Ra, gue kekenyangan malah. Kakak lo beli makan buat berdua kayak beliin makan buat orang sekampung." Sahut gue dan berhasil membuat Lyra tidak lagi bertanya-tanya.


Tepat jam setengah sepuluh gue sama Lyra bersiap untuk berangkat ke kampus. Tapi belum juga menginjakan kaki di luar pagar. Kak Bryan malah datang dan membuat gue dan Lyra mengurungkan niat untuk berangkat.


"Loh Kak, kok kesini. Kak Eza udah pergi sama Mei dari tadi." Gue memberitahukan keberadaan Kak Eza padanya.


"Gue mau ambil proposal." Sahutnya dan langsung melangkah masuk ke ruang kerja Eza.

__ADS_1


Setelah Kak Bryan selesai dengan urusannya, gue dan Lyra berangkat ke kampus. Kami berpisah di tempat parkir dan janji akan bertemu kembali setelah kuliah kami selesai.


Untungnya hari ini gue hanya mengumpulkan tugas dan mereview beberapa buku tentang sastra lama secara koletif. Setelah beres dengan urusan tugas, gue berjalan menuju perpustakaan dan menikmati kesedirian gue menunggu Lyra.


"Ditunggu di kantin ternyata malah disini." Protes Aga.


"Mau ngapain di kantin? Mending disini adem dan bisa tidur pula."


"Lo mah tidur mulu hobinya." Cibir Aga yang akhirnya bergabung bersama gue, duduk sambil membaca sebuah buku random yang dia ambil secara asal.


"Mumpung ketemu langsung, itu tuh proposal lo apain lagi kemarin. Kayaknya sebelum gue mandi udah gue save yang hasil revisi terakhir tapi kenapa masih salah." Gue curhat pada Aga berkedok menanyakan alasan di balik proposal yang harus di buat ulang.


"Kemarin pas lo mandi laptopnya sempat error, makanya jadi gitu."


"KENAPA LO NGGAK BILANG SIH KEMARIN? GUE KAN JADI KENA OMEL KAK EZA." Iya gue beneran marah sama Aga, karena itu benar-benar merugikan orang lain. Bodoamat ditegur petugas perpus, Aga ngeselin sih.


"Heh! Berisik, perpustakaan ini. Gue minta maaf, besok kalau ada revisi atau apa jadi tanggung jawab gue deh." Ucap Aga pasrah karena itu memang salahnya.


Gue menengok jam di pergelangan tangan Aga, jam 14.30 WIB kami harus menemui Kak Eza sama Kak Bryan di sekertariat ruang baca.


"Ayok, Rhea. Kak Eza nanti marah lagi kalo kita telat." Aga menarik tangan gue untuk berjalan keluar perpustakaan.


"Aga, Lyra kita tinggal?" Gue bertanya heran karena Aga langsung masuk mobil dan membawa mobilnya keluar area parkir kampus.


"Lyra bawa mobil, nanti kita kesini lagi jemput Lyra sama Mei sekalian."


Setelah ini gue harus bersiap kena omel Lyra karena meninggalkannya di kampus. Pokoknya kalau sampai Lyra ngambek, semuanya salah Aga.




Sekertariat komunitas menulis sudah mulai ramai dan gue lihat mobil Kak Eza sudah terparkir rapi di halaman.



"Sorry Bang, lo jadi kudu nunggu lagi." Aga langsung menemui Kak Eza begitu sampai di gedung komunitas.



"Nggak apa-apa, Bryan juga belum datang. Dia mampir ambil proposal dulu." Jelas Kak Eza.



"Yaudah, gue mau ke dalem dulu. Mau istirahat bentar sambil ngerjain tugas." Gue berpamitan pada Kak Eza dan Aga yang sudah sibuk kesana kemari.



"Gih, masuk aja lo. Istirahat, nanti gue panggil kalau ada Kak Bryan udah kesini." Ujar Aga memperbolekan gue untuk bersantai di salah satu ruangan khusus untuk gue dan Aga.

__ADS_1



...~~~~~~~~~~~...


__ADS_2