
Hari H Launching Rumah Baca dan pagi ini gue sudah bersiap untuk berangkat. Biasanya gue pasti akan berangkat bersama Kara. Tapi kali ini, gue sengaja berangkat lebih pagi bersama Lyra dan Kak Eza sebelum Kara datang menjemput.
"Buruan Rhea, lo udah bikin gue harus muter arah dulu buat jemput dan lo malah belum siap sama sekali. Buang-buang waktu. Tahu gitu nggak usah gue jemput!"
Gue bisa dengar Kak Eza yang terus menerus mengklakson dan mengomel karena gue terlalu lama menurut dia. Padahal ini masih sangat pagi, jadi sebenarnya tidak masalah. Hanya saja, Kak Eza sangat tidak sabaran.
"Sabar kenapa sih, Kak. Berisik tahu dari tadi klakson mulu, masih pagi juga."
Gue mengomeli Kak Eza sesaat setelah masuk mobil.
"Lo kelamaan, Rhea. Ini tuh hari kerja, kalau kita kesiangan ntar jalanan macet." Ujar Kak Eza tidak mau kalah.
"Iya deh iya, buruan berangkat. Katanya ntar kalau kesiangan macet, tapi Kak Eza malah ngomelin gue mulu nggak berangkat." Cibir gue sambil fokus mencari playlist untuk di putar.
Akhirnya kami berangkat juga, walaupun sebelum berangkat ada drama perdebatan dulu. Tapi setidaknya kami berangkat dengan damai dan tiba tepat waktu.
Gue baru sadar setelah tiba di gedung sekertariat komunitas, kalau ternyata Lyra tidak ikut bersama Kak Eza. Itu berarti sejak tadi gue hanya berdua dimobil dengan Kak Eza, pantas saja ketika kami berdebat tidak ada yang menengahi.
"Kak, gue baru sadar kalau tadi Lyra nggak bareng kita ya? Dia bareng Kak Bryan?"
Gue bertanya pada Kak Eza karena sedikit penasaran. Karena biasanya kalau ada acara bersama seperti ini Lyra pasti berangkat bersama Kak Eza.
"Tuh bocahnya, tadi di jemput sama Zayn dia. Katanya sih disuruh Bryan." Sahut Kak Eza sambil menunjuk Lyra yang sedang berjalan ke arah kami.
"Sampai juga kalian, udah ditungguin dari tadi lho."
"Kita juga udah dari tadi disini."
"Gue ikut nih anak tadi." Lyra menunjuk Zayn yang berdiri di sebelahnya.
"Kok nggak bareng Kak Bryan, tapi malah bareng Zayn?" Tanya gue penasaran.
"Kak Bryan sibuk, makanya gue dijemput Zayn." Sahut Lyra menjelaskan.
"Lah, ini Mei sama Kara belum kelihatan." Zayn bertanya setelah menyadari kalau Mei berada di tempat ini.
"Nggak tahu." Tukas gue singkat.
"Biarin, mending kita masuk aja." Kak Eza mengajak kami semua untuk segera masuk ke aula yang digunakan sebagai tempat acara.
Tepat jam delapan acara di mulai, pembawa acara mulai memandu acara Launching Rumah Baca. Acara berjalan dengan lancar dan cukup meriah menurut gue.
"Gimana perasaan lo? Setelah akhirnya project ini selesai." Bisik Kak Eza bertanya.
__ADS_1
"Seneng Kak, akhirnya beres juga. Abis ini pengen istirahat gue."
Gue berujar senang, karena setelah ini bisa bersantai. Gue bisa melakukan kegiatan yang sudah lama tidak gue lakukan.
Kami menikmati acara sampai selesai. Untungnya acara berjalan lancar tanpa halangan. Penampilan Mei dan Zayn sangat bagus, benar-benar diliar ekspektasi gue.
Akhirnya rumah baca resmi dibuka dan gue sangat senang. Salah satu project yang gue ikuti akhirnya membuahkan hasil. Semoga aja setelah ini Rumah Baca bisa semakin bagus lagi.
"Selesai acara kita langsung evaluasi ya. Banyak yang mau gue bilang ke kalian." Kak Eza berseru memberitahu kami. Agar nanti ketika acara selesai kami tidak langsung pulang.
"Thank you buat hari ini, kalian keren." Ujar Kak Eza memberi apresiasi untuk kami semua.
"Untuk hari ini kalian keren, terimakasih untuk kerja kerasnya. Terimakasih atas semua bantuan kalian, akhirnya rumah baca dapat berdiri." Kali ini gantian Kak Bryan yang berterimakasih dan memberi aspresiasi untuk kami semua.
"Terimakasih kembali, berkat Kak Eza dan Kak Bryan akhirnya project terbesar komunitas kami bisa terlaksana. Semoga suatu saat nanti, kita bisa bekerjasama dalam satu project lagi."
Evaluasi berakhir, setelah itu kami semua makan bersama dan pulang pada sore harinya.
"Thank you, Kak. Maaf kalau kadang gue ngeyel sama lo." Gue berterimakasih pada Kak Eza sebelum keluar dari mobil.
"Seharusnya saya yang minta maaf sama kamu. Maaf kalau selama ini saya selalu merepotkan kamu dan bikin kamu sebel. Tapi terimakasih atas bantuan kamu." Sahut Kak Eza tulus dengan mode formalnya.
Gue sedikit terharu mendengar ucapan Kak Eza. Karena bagaimanapun sikap Kak Eza kadang-kadang memang terlalu menyebalkan. Tapi gue sangat berterimakasih, berkat Kak Eza dan Kak Bryan. Rumah Baca baca bisa berdiri dan bisa digunakan oleh semua orang.
Keesokan paginya, rutinitas gue kembali normal seperti biasanya. Tapi masih ada beberapa hal yang harus gue selesaikan. Untungnya tidak sebanyak pekerjaan kemarin.
Gue menghubungi Kak Eza untuk meminta beberapa tanda tangan terkait berkas-berkas yang masih perlu di tanda tangani dan nantinya akan gue serahkan kepada Kak Bryan.
"Kak, masih banyak ini yang belum di tanda tangan. Kak Eza jangan pergi dulu. Pokoknya di ruang dosen dulu, nggak boleh kemana-mana."
__ADS_1
"Lah kenapa nggak boleh kemana-mana? Saya kan ngajar."
"Tunggu dulu Kak, gue lagi jalan kesana."
Gue memang bertelepon dengan Kak Eza sambil berjalan cepat menuju fakultas sebelah, lebih tepatnya menuju ruang dosen untuk menemui Kak Eza.
"Padahal besok lagi juga bisa, atau pas kamu main ke rumah buat ketemu Lyra. Tapi kamu buru-buru minta tanda tangan hari ini." Ujar Kak Eza menyambut kedatangan gue. Tapi walaupun protes seperti itu, dia tetap saja mau tanda tangan berkas yang gue bawa.
"Nggak mau Kak, mumpung hari ini gue free. Jadi mending gue selesain hari ini sekalian. Biar besok nggak ada lagi tanggungan bikin LPJ dan kawan-kawannya, karena udah gue bikin sekarang."
"Bener juga sih, yaudah kalau butuh tanda tangan atau yang lainnya chat aja. Abis ini saya ada kelas soalnya "
Setelah berucap seperi itu Kak Eza langsung keluar ruangan meninggalkan gue sendirian. Untung saja ruangan kantor dosen saat itu sepi, jadi gue tidak terlalu malu menemui Kak Eza dan berbicara padanya secara non formal.
Tugas gue berkurang satu dan itu cukup lumayan. Tinggal minta tanda tangan Aga, karena dia ketua pelaksana. Dan berkas-berkas ini bisa gue serahkan pada Kak Bryan.
Tapi, sampai saat ini gue dan Aga masih belum berbaikan sejak kemarin. Lebih tepatnya gue yang menghindar dan belum mau berbaikan, padahal Aga sudah beberapa kali berusaha untuk berbicara pada gue. Hanya saja gue yang keras kepala dan selalu menolak.
Sekarang gue kebingungan harus bagaimana meminta tanda tangan pada Aga. Karena jujur saja, gue masih malas bila harus berurusan dengan anak itu. Gue masih belum mau memaafkan sikapnya, walaupun sebenarnya gue juga salah saat itu.
Gue termakan emosi gue sendiri dan menuruti sikap egois gue tanpa mau mendengarkan penjelasan dari Aga. Bahkan Mei yang sebenarnya tidak tahu menahu soal hal itu ikut gue jauhi dan gue musuhi.
Memang ya, perasaan marah kalau diteruskan malah jadi merepotkan diri sendiri seperti ini. Apalagi dibumbui dengan rasa egois dan mau menang sendiri. Benar-benar kombinasi yang sangat buruk.
__ADS_1