
Sejak Aga mendatangi gue ke rumah sore itu sampai saat ini, gue tidak pernah lagi bertemu dengannya. Gue memang sedikit menghindari Aga, karena jujur saja gue masih merasa marah dengannya.
Bagi gue, apa yang Aga lakukan itu sudah keterlaluan. Gue sama sekali tidak mengenal Aga yang sekarang, dia sangat berbeda dan gue nggak suka itu.
Tidak hanya Aga, sampai hari ini pun gue belum bertemu dengan Mei. Gue bukan menghindarinya juga, tapi sepertinya Mei memang belum mau menceritakannya pada gue. Dan mungkin memang lebih baik seperti ini dulu. Tidak saling bertemu dan menyelesaikan masalah kami masing-masing.
Sekarang gue lebih banyak menghabiskan waktu bersama Kak Eza, karena kedua sahabat gue sepertinya masih butuh waktu sendiri. Anehnya, semakin lama gue justru merasa nyaman dengan kehadiran Kak Eza dan tidak ada lagi adu mulut karena hal tidak penting diantara kami.
Bahkan, kali ini pun semenyebalkan apapun kelakuan Kak Eza, gue hanya akan diam dan memilih untuk tidak terlalu mempedulikannya. Begitupun sebaliknya, Kak Eza hanya akan menatap gue tanpa berkomentar apapun ketika gue tanpa sengaja melakukan kebodohan.
"Kenapa lagi kalian? Kayaknya akhir-akhir ini lo sama Mei bermasalah terus."
"Nggak tahu, Kak. Gue pusing."
Gue menelungkupkan kepala ke meja, berharap dengan begitu akan sedikit mengurangi pusing di kepala gue ini.
Gue merasakan usakan lembut dikepala gue, rasanya sangat nyaman.
"Gue nggak tahu apa yang lagi lo pikirin sekarang, tapi buat Eza, Rhea itu sosok yang keren bgt. Hebat, tangguh, bisa tetap tenang menghadapi semua masalah yang ada. Tapi kamu juga boleh berhenti sebentar, hanya beristirahat sebentar."
Gue masih bisa mendengar Kak Eza berbicara lembut menenangkan gue. Memberikan kata-kata penenang untuk sekedar menghibur gue.
Sangat manis bukan? Sayangnya hal seperti ini tak akan bertahan lama. Karena Kak Eza tetaplah Kak Eza, yang hobi membuat gue kesal.
"Dih, rambut lo kusut nih. Masa cuma diusap-usap lembut gini langsung kusut. Jelek amat sih rambut lo."
Benar kan apa yang gue bilang, Kak Eza itu aneh dan menyebalkan. Padahal baru saja tadi dia bersikap manis dan menenangkan gue. Sekarang dia sudah kembali membuat gue kesal karena ulahnya.
"Bodo amat Kak, capek gue ngadepin keanehan lo. Gue heran, bisa-bisanya lo jadi salah satu dosen di kampus dengan kelakuan kayak gini."
Kak Eza hanya terkekeh mendengar ucapan gue, padahal dulu dia pasti akan membantah dan kami berakhir adu mulut. Tapi sekarang, dia hanya akan tertawa dan sama sekali tidak mempermasahkan ucapan gue yang terkadang memang sengaja menjelekkan dirinya.
"Gue kayak gini cuma sama lo dan di luar area kampus." Bantahnya sedikit membuat gue merasa diistimewakan.
"Tapi kan ini masih di kampus Kak."
Gue mengingatkan Kak Eza kalau kami berdua masih berada di area kampus. Ya walaupun sebenarnya tidak akan ada orang yang kurang kerjaan sampai tempat ini sih. Karena kami berada di rooftop gedung belakang yang sudah jarang dipakai.
"Siapa sih yang kurang kerjaan sampai sini, nggak akan ada Rhe. Cuma kita doang ini, kalau ada palingan ya satpam kampus."
Gue mengiyakan ucapan Kak Eza dalam hati. Tidak salah memang ucapannya, tapi kenapa terdengar menyebalkan ya? Apa karena secara tidak langsung dia mengatakan kalau kamilah orang yang kurang kerjaan itu.
"Terserah lo, Kak. Gue mau pulang."
Gue beranjak dari duduk dan membersihkan debu yang menempel di celana karena tadi gue duduk lesehan dilantai tanpa alas. Kak Eza mengikuti gue berdiri dan merapikan bajunya.
"Ayo, gue anter lo pulang. Tapi sebelum itu, kita mampir makan dulu. Jam makan siang udah lewat dari tadi."
Kak Eza menarik gue pelan dan tidak melepaskan genggamannya sampai tiba di area parkir.
__ADS_1
Tujuan awal kami adalah untuk mencari makan siang. Tapi kami justru berakhir di sebuah mall dan berkeliling hanya sekedar untuk melihat-lihat. Memang ya semua hal tidak akan selalu bisa berjalan sesuai rencana.
"Kak, mampir gramedia bentar boleh?"
Entah kenapa gue tiba-tiba ingin mampir ke gramedia untuk melihat-lihat beberapa novel dan untungnya Kak Eza mengiyakan ajakan gue.
Tanpa menunggu lagi, gue langsung melangkah cepat menuju gramedia dan berkutat dengan beberapa novel yang menarik perhatian gue.
"Kok dibalikin lagi? Nggak mau beli sakalian aja?"
"Nggak ah, dirumah masih ada yang belum selesai gue baca. Lagi pula bukan buku yang harus dibeli saat ini juga, cuma novel doang."
Gue agak kaget sebenarnya, karena orang itu sekilas mirip dengan Kak Bryan dan dia jalan bersama seorang gadis.
"Kak, nanti dulu deh makannya. Gue penasaran itu tadi Kak Bryan atau bukan."
Gue mengajak atau lebih tepatnya memaksa Kak Eza untuk mengikuti orang itu, karena gue sangat penasaran.
"Buat apa sih? Lagi pula itu bukan urusan lo. Biarin aja udah, paling ketemu sama kenalannya." Sahut Kak Eza menolak permintaan gue.
Kak Eza justru menyeret gue ke arah eskalator untuk turun ke lantai bawah. Dia berniat membawa gue menjauh agar tidak lagi penasaran soal apa yang gue lihat tadi.
__ADS_1
"Katanya mau makan, kenapa malah balik ke parkiran sih."
"Nggak ada, nanti gofood aja. Lo mau mampir ke rumah Mei kan? Gue anter sekalian."
Mau tak mau gue mengiyakan usulan Kak Eza, karena sepertinya untuk yang kali ini dia tidak ingin dibantah.
Entah kenapa sejak keluar dari mall tadi sepertinya suasana hati Kak Eza sedang tidak baik. Gue bisa melihat raut wajahnya yang tidak secerah tadi.
Kalau boleh jujur, eskpresi Kak Eza yang sekarang sama seperti Kak Eza yang menyebalkan di awal pertemuan kami. Kak Eza yang galak dan tidak ramah sama sekali.
Sepanjang perjalanan ke rumah Mei, gue hanya diam dan sibuk dengan ponsel. Gue sama sekali tidak berani untuk mengajak Kak Eza mengobrol.
"Maaf ya, Rhe. Lain kali gue ajak lo jalan lagi. Maaf juga kalau tadi bikin lo kaget karena tiba-tiba diem."
Kak Eza baru membuka suara setelah kami tiba di depan rumah Mei. Gue hanya menggangguk merespon ucapan Kak Eza. Ah, ternyata dia cukup peka juga.
"Ah iya, drivernya sudah dijalan. Kamu tunggu disini sebentar ya, tapi maaf nggak bisa nemenin, gue masih ada urusan. Titip salam buat Lyra sama Mei." Ujar Kak Eza sambil mengacak pelan rambut gue sebelum benar-benar pergi.
"Hobi banget sih, Kak!"
"Gemes kamu tuh kalau ngambek."
Kak Eza benar-benar langsung pergi, begitu juga gue yang langsung masuk rumah setelah menerima makanan yang dipesankan Kak Eza.
...~~~~~~~~~~...
__ADS_1