Bianglala (Revisi)

Bianglala (Revisi)
3.2 [Lyra] Kenangan


__ADS_3

Gue berakhir mengikuti Kak Bryan bertemu dengan rekannya karna saat kami makan tadi, tiba-tiba rekan Kak Bryan menghampiri kami. Dan sekarang, mereka asik membicarakan masalah yang sama sekali nggak gue pahami.


"Maaf ya, kamu jadi dicuekin kayak gini. Pasti bosen."


"Iya gue bosen."


Tapi jawaban itu hanya ada dalam pikiran gue. Karena tidak mungkin kan gue langsung berbicara seperti itu padahal baru saja saling kenal. Walaupun sebenarnya gue sangat ingin mengatakan itu karna sudah terlalu bosan.


"Nggak apa-apa kok, Kak Bryan beresin urusannya dulu. Abis itu kita pulang."


"Oke, sebentar ya. Ini sepupu saya katanya mau menyusul, nanti kamu di temenin dia dulu ya."


Setelah itu Kak Bryan kembali fokus berbicara pada rekannya itu. Membiarkan gue berkutat dengan dessert yang baru saja dia pesankan kembali.


"Lo temannya Mei kan? Kok bisa sama Bang Bryan?"


Entah sejak kapan, seorang lelaki yang gue yakini sepupu Kak Bryan duduk di kursi depan gue.


"Bentar, lo sepupunya Kak Bryan?"


Lelaki itu hanya mengangguk kecil menanggapi pertanyaan yang gue lontarkan. Dia sama sekali tidak merasa canggung ketika bertemu gue, justru langsung mengakrabkan diri dengan sangat baik.


"Kenapa? Lo nggak percaya?"


Gue menggeleng pelan merespon pertanyaannya, "Bukan nggak percaya, cuma kaget aja lo tiba-tiba nanya Mei."


"Gue Zayn, sepupunya Bang Bryan dan juga teman satu Band Mei. Lo Lyra kan?" Lelaki bernama Zayn itu memperkenalkan dirinya dan menjelaskan alasan mengenal Mei sama gue.


"Ah gue tahu. Lo Zayn Ivander Noah drummer yang paling banyak fansnya diantara anak Band yang lain."


Zayn hanya terkekeh mendengar perkataan gue. Tapi memang benar, Zayn termasuk anggota Band yang paling terkenal seantero kampus. Bahkan Mei pun yang vokalis kalah populer dari Zayn.


"Ngomong-ngomong soal Mei, lo tadi ketemu Mei nggak? Mau gue jemput kalau emang dia masih di kampus."


"Mei udah balik dijemput Kara." Sahut gue dan langsung membuat Zayn menunjukkan raut tidak suka ketika gue membicarakan tentang Kara.


Setelah itu, gue dan Zayn hanya saling diam dan fokus dengan ponsel masing-masing. Karena memang gue tidak terlalu mengenal dia dan jujur saja aku sedikit tidak suka dengan sikapnya yang arogan.


"Kalian satu kampus kan? Tapi kenapa kayak orang nggak saling kenal." Kak Bryan menatap heran kami berdua yang sejak tadi hanya fokus pada ponsel masing-masing.


"Nggak kenal, gue baru tahu kita satu kampus." Sahut Zayn sambil meletakan ponselnya dimeja.


"Gue juga baru ketemu Zayn sekarang, sebelumnya cuma tahu kalau dia drummer dan satu Band sama sahabat gue."


"Sekarang udah saling kenal kan?" Kak Bryan menimpali ucapan gue dan duduk santai di tempat duduknya tadi.



__ADS_1


Pada akhirnya gue terjebak bersama Kak Bryan hingga nyaris malam. Untung saja Kak Eza tidak mempermasalahkan hal itu. Coba saja bila gue yang pergi sendirian, pasti dia sudah membobardirku dengan panggilan.



"Makasih lho Kak, maaf kalau malah jadi ngerepotin lo." Gue mengucapkan terimaksih sebelum turun dari mobil Kak Bryan.



"Sama-sama." Sahut Kak Bryan sambil tersenyum manis.



"Ah, sungguh manis sekali senyumnya. Coba aja Kak Bryan sering tersenyum seperti itu, pasti banyak yang naksir."



Gue tersenyum tidak jelas membayangkan hal random setelah melihat senyum Kak Bryan, secandu itu memang senyum manisnya.



"Abis jalan kemana sama Bryan?" todong Kak Eza sambil menatap gue heran, karena sedari tadi gue masih aja tersenyum lebar.



"Cuma makan siang dan Kak Bryan malah di datengin rekan kerjanya. Terus buat perintaan maaf dia ajak gue ke pasar malam." Gue dengan senang hati menjelaskan apa yang gue lakukan tadi bersama Kak Bryan.




Tapi sebenarnya, gue sendiri pun heran. Karena bisa-bisanya Kak Bryan mengajak gue ke tempat seperti itu dan gue mengiyakan ajakannya.



"Gue juga bingung Kak, tapi ternyata seru sih ke pasar malam." Gue kembali teringat kejadian tadi ketika di pasar malam dan langsung tersenyum geli seperti orang yang sedikit tidak waras.



"*Lyra mau mampir pasar malam nggak? Kayaknya di dekat sini ada pasar malam." Tiba-tiba Kak Bryan mengajak untuk mengunjugi pasar malam saat perjalanan pulang*.



"*Pasar malam? Emang ada Kak?" Gue bingung, karena dari mana Kak Bryan dapat informasi soal pasar malam, yang bahkan tidak gue tahu tempatnya*.



"*Ada, kalau kamu mau nanti kita mampir. Kemarin saya lihat ada pasar malam disekitar jalan dekat pertigaan itu*."


__ADS_1


*Ternyata memang ada pasar malam seperti yang Kak Bryan bilang. Karena penasaran, akhirnya gue mengiyakan tawaran Kak Bryan untuk mampir sebentar ke sana. "Boleh deh Kak, gue penasaran pasar malam tuh isinya kayak apa*?"



*Gue pikir, pasar malam itu sama seperti pasar-pasar yang gue tahu, yang menjual sayur dan kawan-kawannya. Tapi rupanya pasar malam sangat berbeda dengan pasar yang ada dalam bayangan gue. Disini banyak sekali penjual yang menjajakan jajan dan juga banyak wahana permainan yang bisa di mainkan pengunjung. Jujur saja, ini kali pertama gue ke pasar malam, jadi agak sendikit norak memang*.



"*Lyra mau coba wahana atau mau beli jajanan nggak?" Lagi-lagi Kak Bryan lebih dulu beinisiatif menawari ini dan itu sama gue*.



"*Apa ya Kak, gue bingung." Iya, gue benar-benar bingung menentukan pilihan mau membeli jajanan atau mencoba wahana permainan yang ada.  Gue mengedarkan pandangan gue ke seluruh penjuru tempat ini, memindai semua hal yang ada dan berharap ada satu saja yang menarik perhatian gue. Dan gue menemukannya*.



"*Kak, gue pengen coba naik bianglala deh. Kayaknya seru." Pilihan gue jatuh pada wahana bianglala, selain karna memang gue penasaran, wahana bianglala terbilang cukup sepi pengunjung. Jadi gue nggak perlu antri terlalu lama bila ingin menaikinya*.



"*Boleh, yuk antri kesana." Kak Bryan menarik tangan gue dan ikut masuk dalam barisan orang-orang yang mengantri untuk menaiki bianglala*.



*Pilihan gue tidak salah dan waktu mengantri yang terbilang tidak terlalu lama terbayar dengan pemandangan area pasar malam yang terlihat indah dari atas bianglala. Gue nggak menyangka, suasana malam di pasar malam bisa terlihat sangat bagus. Mulai saat ini, sepertinya bianglala akan menjadi hal favorit gue selain marathon movie*.



"Lah malah senyum-senyum nih anak. Masuk gih lo, Dek. Mandi terus istirahat."



Padahal lagi asik mengingat keseruan di pasar malam tadi, tapi Kak Eza malah ganggu. Mau tak mau, gue menyudahi sesi melamun dan bergegas masuk ke kamar untuk bebersih. Tapi sebelum itu, gue menyempatkan diri untuk mengirimkan pesan pada Kak Bryan.



***Me***


Makasih ya, Kak. Hari ini gue seneng banget. Lain kali ayo ke pasar malam lagi.



Mulai hari ini, pasar malam akan jadi list tempat dengan kenangan yang paling mengesankan buat gue. Kenangan indah yang suatu saat pengen gue ulangin lagi dengan orang yang sama.



"Sepertinya gue mulai tertarik dengan si cowok kaku sahabat Kakak gue sendiri."


__ADS_1


...~~~~~~~~~~...


__ADS_2