Bianglala (Revisi)

Bianglala (Revisi)
21.3 [Mei] Gundah


__ADS_3

Sejak pertengkaranku dengan Zayn di ruang musik siang tadi, aku sama sekali tidak berminat untuk sekadar menjawab semua panggilan telpon dari Zayn. Bahkan aku lebih memilih berpura-pura tidur dibanding berbicara dengan Zayn yang sedang mengobrol dengan Lyra lewat telepon.


Iya, tadi Lyra tiba-tiba datang saat aku sedang berdiam diri dikamar. Dan sekarang dia sedang menjawab panggilan dari Zayn.


"Gue nggak akan maksa lo cerita, karena gue sendiri juga lagi nggak mood."


Lyra berujar pelan setelah memutuskan sambungan telepon Zayn. Sepertinya dia memang sedang dalam suasana hati yang tidak baik.


Bahkan ketika Rhea datang pun, Lyra hanya menyapa seadanya. Padahal biasanya dia akan langsung semangat meledek Rhea atau mengajaknya marathon movie.


Kami bertiga terlalu sibuk dengan pikiran masing-masing. Tidak ada satu pun diantara kami yg berniat untuk memulai obrolan.


"Gue nggak akan tanya kalian ada masalah apa, karena gue pun belum tentu bisa kasih saran atau yang lain. Tapi gue harap, kalian masih bisa menyelesaikan itu sendiri." Rhea tiba-tiba berucap, sepertinya dia tahu soal kami. Walaupun aku dan Lyra sama sekali tidak menyinggung apa pun soal masalah itu.


Aku pun tahu, kalau sebenarnya Rhea juga menyembunyikan masalahnya dariku dan Lyra. Tapi aku tidak akan memaksa anak itu untuk bercerita. Karena Rhea akan tetap menceritakan pada kami nanti, saat dia sudah siap.


"Apa pun itu, apa pun masalah yang lagi kita hadapi sekarang. Gue harap kita bisa bertahan," ujar Lyra sambil meletakan ponselnya.


Jujur saja, pikiranku terlalu penuh sekarang, apalagi mendengar ucapan Lyra barusan. Rasanya dalam benakku berputar segala kemungkinan buruk tentang aku dan Zayn.


Bohong kalau aku berkata aku tidak marah atas perlakuannya padaku. Tapi mau bagaimanapun aku menyayangi Zayn. Dia satu-satunya lelaki yang bisa benar-benar memahamiku saat ini.


"Tidur Mei, yang tadi nggak usah terlalu dipikirin." Rhea berbisik padaku, agar Lyra yang sudah terlelap tidak mendengarnya.


Mungkin Rhea benar, lebih baik aku tidur sekarang. Karena besok pagi aku harus bersiap untuk kelas pagi dan mungkin juga untuk bertemu dengan Zayn.

__ADS_1


"Besok ikut gue, kita nggak usah masuk dulu. Sesekali bolos nggak masalah. Cuma kena amuk abangnya Lyra palingan karena ngajak adiknya bolos," ucap Rhea sebelum aku benar-benar terlelap.


...~~~...


Aku terbangun karena teriakan Lyra dan Rhea yang bersahutan. Mereka sudah membuat keributan di pagi hari. Padahal semalam mereka bilang tidak akan masuk kuliah, tapi kenapa sepagi ini sudah berebut kamar mandi.


"Berisik banget sih kalian. Katanya mau bolos, kenapa pagi-pagi ribut banget sih." Aku memprotes kelakuan Rhea dan Lyra yang merebutkan kamar mandi. Padahal sebenarnya di luar kamar ini masih ada kamar mandi yang tidak dipakai, tapi mereka justru memperebutkan kamar mandi yang ada di kamarku.


"Hah? Siapa yang bilang." Lyra menatapku dengan mata membelalak.


"Lagi pula percuma masuk, paling ujung-ujungnya disuruh nutup pintu dari luar." Rhea berucap santai dan malah duduk diranjang, begitu juga dengan Lyra. Padahal tadi mereka berebut kamar mandi.


"Aku duluan aja yang mandi, kalian kelamaan." Aku menyambar handuk dan langsung masuk kamar mandi.


Selesai mandi dan membereskan kamar yang sedikit berantakan, kami bertiga bergegas berangkat. Kami mampir ke salah satu warung pinggir jalan untuk sarapan. Kami berakhir sarapan soto ayam atas permintaan Rhea.


"Bener kan kata gue, sarapan soto tuh enak. Apalagi masih panas kayak gini." Rhea membenarkan sarannya sendiri.


Kami bergegas melanjutkan perjalanan setelah selesai sarapan dan membeli beberapa camilan untuk bekal. Karena kami bertiga tidak bisa bila tidak ada camilan. Sepanjang perjalanan, Rhea dan Lyra bergantian menyetir. Sedangkan aku hanya menjadi penunjuk arah saja, karena aku tidak mahir menyentir.


Perjalanan yang kami tempuh cukup jauh dan membutuhkan waktu lebih lama dibanding ketika aku bersama Zayn ternyata. Mungkin karena kami menggunakan mobil, jadi tidak bisa sembarangan menyalip kendaraan lain.


"Gila, pegel banget gue." Lyra merenggangkan badannya dan sedikit mengeluh. Tentu saja pegal, karena kami duduk selama hampir tiga jam di dalam mobil.


"Tapi terbayar sih, lihat lautnya bagus banget. Masih bersih juga. Kita stay semalem disini nggak sih?"

__ADS_1


Rhea melontarkan pertanyaan, tapi aku yakin jawabannya hanya satu, harus setuju. Karena memang sejak awal itu bukan pertanyaan, hanya formalitas saja. Tentu saja Lyra langsung setuju dan aku juga harus menyetujuinya.


"Berarti harus nyari penginapan. Tapi aku tidak tahu apakah ada penginapan atau tidak yang dekat dengan pantai ini." Aku berucap ragu karena ketika pertama kali kesini bersama Zayn kami tidak menginap.


"Gampang, nanti bisa tanya warga sekitar. Sekarang kita nikmati waktu disini," sahut Lyra yang langsung berjalan cepat mendekati bibir pantai.


"Gue tahu kalian lagi ada masalah. Gue nggak akan nuntut kalian buat cerita, tapi kalau kalian butuh temen cerita. Gue disini, gue siap jadi pendengar cerita kalian."


Entah kenapa, tiba-tiba Rhea berucap seperti itu. Aku rasa dia sudah tahu perihal masalahku dengan Zayn bukan hanya sekadar yang dia lihat kemarin. Sepertinya Rhea tahu lebih banyak dari yang aku kira. Lyra jauh lebih diam setelah mendengar ucapan Rhea. Mungkin Lyra juga memiliki masalah yang sedang dia simpan sendiri.


Aku tidak akan ikut campur, walaupun sebenarnya aku penasaran. Karena tidak biasanya Lyra terlalu diam seperti ini. Biasnya dia akan banyak berbicara bila berkumpul bertiga seperti ini.


"Tanpa aku ceritain, kamu jelas udah tahu karena kamu ada disana kemarin. Sedangkan Lyra pasti sedikit banyak sudah bisa menebak kalau aku ada masalah sama Zayn." Aku menatap Rhea dan Lyra bergantian.


"Intinya aku ada masalah sama Zayn dan aku minta jeda sama dia. Kalau misal dia nggak bisa diajak kerjasama ya mungkin kita udahan," ucapku tenang, seolah itu bukan masalah besar untukku. Padahal sebenarnya aku masih sedikit berharap Zayn bisa lebih baik lagi dan kami bisa berbaikan.


"Sebenarnya gue lebih setuju kalau kalian putus, karena orang kayak dia nggak pantas dikasih kesempatan kedua." Rhea dan ucapan sinisnya, dia selalu seperti itu berkata tanpa memikirkan perasaan orang lain. Tapi, walaupun sepeeti itu ucapan Rhea tidak salah.


"Kalau gue terserah lo, Mei. Lagi pula, mau gimanapun semua keputusan tetap ditangan lo. Gue sama Rhea cuma kasih saran." Lyra berbeda lagi, dia justru menyerahkan semua itu kembali padaku.


Aku mengangguk mendengarkan saran mereka. Meskipun sebenarnya aku masih ragu dengan keputusanku sendiri. Aku masih belum rela kalau harus berpisah dengan Zayn tapi aku juga tidak bisa terus menerus dalam hubungan yang seperti ini.


"Nggak tahu ah, aku mau istirahat aja." Aku menutup seluruh badanku dengan selimut, menyembunyikan segala gundah yang aku rasakan saat ini.


"Selamat istirahat, Mei." Rhea menepuk kepalaku pelan sebelum dia dan Lyra keluar kamar dan memberiku waktu untun menenangkan diri.

__ADS_1


\=\=\=\=\=\=\=


__ADS_2