
Gue benar-benar berasa orang asing diantara Rhea dan Mei. Entah kenapa gue merasa mereka berdua sedang menyembunyikan sesuatu dari gue.
Tapi, gue tidak bisa memaksa mereka untuk menceritakan semuanya sekarang. Gue hanya bisa menjadi sahabat yang baik untuk keduanya.
Seperti kali ini, pagi-pagi sekali gue sudah berada di depan rumah Rhea untuk menjemput anak itu. Untung saja hari ini jadwal kami sama, kuliah pagi.
"Kalau jadwal kita beda ogah banget gue jemput lo pagi-pagi gini." Iya gue langsung mengomel begitu Rhea masuk ke dalam mobil.
"Ya karena jadwalnya samaan, makanya gue minta jemput." Sahut Rhea sambil membenarkan posisi duduknya.
Untungnya jalanan pagi ini tidak terlalu padat, jadi gue bisa sedikit lebih santai. Kalau bukan karena Rhea, gue lebih memilih berangkat bersama Kak Eza atau minta jemput Kak Bryan. Tapi berhubung Rhea minta jemput dan gue sahabat yang baik, jadilah gue menuruti permintaannya.
Begitu sampai di kampus, Rhea langsung mengajak gue menuju kantin. Seperti biasa, setiap kuliah pagi kami memang akan mampir ke kantin terlebih dulu. Gue akan membeli softdrink sedangkan Rhea akan membeli UHT dingin. Kalau ada Mei, pasti dia akan memarahi kami berdua.
Ngomong-ngomong soal Mei, tumben sekali gue belum melihatnya. Padahal setahu gue, Mei juga kuliah pagi.
"Lo lagi ribut sama Kara?" Gue kembali mencoba bertanya pada Rhea, berharap mendapatkan jawaban dari rasa penasaran gue sejak kemarin.
Tapi apa yang gue harapkan dari seorang Rhea. Dia terus saja mengalihkan pembicaraan dan berusaha tidak membahas hal itu.
"Ra, gue duluan. Mau ke perpustakaan dulu."
Tiba-tiba Rhea beranjak dari duduknya dan bergegas menjauh dari kantin.
Gue baru menyadari, ternyata Rhea pergi karena melihat Mei berjalan ke arah kantin bersama Kara. Ada apa dengan Rhea sebenarnya.
"Sendirian aja lo?" Sapa Kara sambil melambaikan tangan.
"Tadi gue sama Rhe-- eh, iya nih." Gue mengurungkan niat untuk memberitahu Kara dan Mei kalau tadi gue bersama Rhea.
"Lyra, kebiasaan. Masih pagi udah minum soda. Nggak baik ituu."
Nah kan, benar apa yang gue pikirkan tadi. Mei pasti akan mengomeli gue.
"Duh, Mei. Lo kan tahu, gue udah terbiasa kayak gini."
Gue memprotes Mei yang mengomel, padahal sebenarnya dia sudah tahu kebiasaan gue yang satu ini.
"Terserah deh, kalau sakit perut nggak usah ngeluh ke aku."
"Yaudah, gue ngeluh ke Rhea aja." Celetuk gue tanpa sadar.
"Lo udah ketemu Rhea?"
"Tadi sempet papasan, dia buru-buru ke perpustakaan." Ujar gue sedikit berbohong, tidak sepenuhnya berbohong sebenarnya.
__ADS_1
Mei dan Kara hanya menganggguk, menanggapi perkataan gue.
"Gue duluan, kelas gue jauh dari sini."
Gue bergegas membereskan kaleng bekas softdrink dan lekas menuju fakultas karena kuliah gue hampir mulai.
Kuliah gue ternyata selesai lebih cepat, tapi tetap saja gue harus tetap di kampus karena menunggu Rhea.
"Betah amat lo di kampus?" Tanya Zayn yang tiba-tiba menghampiri gue.
"Nunggu Rhea, dia kelamaan. Kuliahnya nggak kelar-kelar dari tadi." Sahut gue acuh tak acuh karena masih fokus pada ponsel.
"Tinggal aja sih. Biasanya juga dia bareng sama Kara."
Zayn memberi saran sama gue. Terdengar menarik sih, tapi yang benar saja gue ninggalin Rhea. Gue tidak berminat ribut dengan Rhea hanya karena meninggalkannya di kampus.
"Saran lo menarik, tapi gue nggak berminat deh." Sahut gue sambil lalu karena tiba-tiba mendapatkan panggilan telepon dari Kak Eza.
"Kenapa Kak?" Tanya gue sedikit enggan.
"Bisa minta tolong ambilin berkas di meja gue nggak, Dek? Gue mau ambil ke kampus masih kurang enak badan."
Hah, Kak Eza sakit. Kenapa dia nggak bilang gue dari pagi tadi.
"Emang nggakpapa gue masuk ruang dosen, Kak?" Tanya gue ragu-ragu.
"Minta tolong Zayn atau mahasiswa Kakak yang lain. Abis itu langsung bawa pulang." Ujar Kak Eza memberi saran.
"Oke, ini kebetulan ada Zayn. Yaudah gue tutup ya, sampai ketemu di rumah."
Gue langsung mengakhiri panggilan tanpa menunggi persetujuan Kak Eza.
"Minta tolong, ambilin berkas Kak Eza di ruang dosen."
Gue lekas meminta tolong pada Zayn yang kebetulan sedang duduk di depan gue. Untungnya dia tidak menolak.
"Lo tunggu sini, gue ambilin dulu."
...iMessage...
...10.40 AM...
Me
Rhe, gue balik duluan.
Kak Eza minta tolong soalnya.
Setelah mengirimkan pesan tersebut, gue menyipan ponsel ke dalam tas karena Zayn sudah kembali.
"Nih yang diminta Kak Eza."
Zayn menyodorkan map bersisi beberapa berkas yang dibutuhkan Kak Eza.
Gue bergegas membereskan buku gue yang kebetulan sempat di keluar kan dari tas tadi.
"Nih, Kak. Cek coba, semoga sih ngga ada yang salah."
Gue menyodorkan map yang sedari tadi gue pegang dan berniat langsung ke kamar.
"Makasih ya, Dek." Ujar Kak Eza sambil menerima map yang gue sodorkan. "Gue minta maaf soal yang kemarin." Lanjutnya.
Gue mengurungkan niat untuk ke kamar dan duduk di samping Kak Eza.
__ADS_1
"Gue juga minta maaf, Kak. Nggak seharusnya gue ngomong kayak gitu kemarin."
Gue menunduk, merasa bersalah mengingat pertengkaran kami kemarin. Perkataan gue kemarin memang sedikir keterlaluan.
"Kakak juga minta maaf, nggak seharusnya Kakak nyalahin kamu. Padahal kamu nggak tahu apa-apa."
Kak Eza mendekat ke arah gue dan memeluk gue sambil mengelus pelan pucuk kepala gue. Ah, gue jadi terharu, tanpa sadar mata gue sudah berkaca-kaca. Kalau sudah seperti ini, rasanya gue ingin terus dipeluk Kak Eza.
"Lah, Dek. Kok lo mewek sih."
Ah, Kak Eza merusak suasana saja. Padahal lagi terharu malah diledekin.
"Dih, Kakak mah. Gue tuh terharu tahu. Kayaknya udah lama banget kita nggak kayak gini. Jadi kangen manja sama Kakak."
Kak Eza hanya terkekeh menanggapi protesan gue dan malah mengacak rambut gue gemas.
"Sini deh sini, Kak Eza sayang-sayang dulu adeknya Kakak." Ujar Kak Eza sambil memeluk gue erat-erat.
"Udah iih, Kak. Badan lo demam, ntar gue ketularan lagi."
Gue berusaha melepaskan diri dari Kak Eza, karena lama-lama gue merasa sesak juga dipeluk erat seperti ini. Apalagi dengan keadaan Kak Eza yang sedang demam.
"Lo udah minum obat belum, Kak?" Tanya gue memastikan, karena kadang Kak Eza itu malas untuk minum obat dan harus dipaksa.
"Udah kok, tadi juga sempat tidur bentar. Terus inget kalau ada kerjaan, makanya tadi buru-buru telepon lo, Dek."
"Bentar deh, kok lo tahu gue kuliah pagi? Kayaknya gue nggak pernah cerita ke Kakak."
Gue baru sadar kalau Kak Eza belum pernah gue beritahu soal jadwal kuliah yang baru.
"Kakak tanya Bryan, soalnya dia pernah ijin ke Kakak buat anter kamu pagi-pagi." Ujar Kak Eza menjawab rasa penasaran gue.
"Ngomong-ngomong soal Bryan, lo pacaran sama dia, Dek?"
Gue hampir saja menyemburkan air yang baru saja gue minum ketika mendengar pertanyaan Kak Eza. Gue pacaran sama Kak Bryan, yang benar saja?
"Nggak Kak, cuma sekedar temen doang. Beberapa kali jalan, setelah gue balikin dompetnya waktu itu."
Gue menjelaskan soal hubungan gue dengan Kak Bryan, agar Kak Eza tidak salah sangka lagi. Bisa-bisanya mengira gue berpacaran dengan rekannya yang super kaku itu.
Siang itu, gue berakhir mengobrol banyak hal dengan Kak Eza. Rasanya sangat nyaman. Mungkin karena sudah lama kami tidak sepeti ini.
__ADS_1
...~~~~~~~~~...