Bianglala (Revisi)

Bianglala (Revisi)
19.3 [Mei] Possesive Boyfriend


__ADS_3

Hari ini aku sengaja menghindari Zayn setelah keributan yang terjadi di rumah sore itu. Aku masih enggan bertemu dengan Zayn karena wajah marahnya masih saja terbayang olehku.


Aku merasa sedikit takut dengan Zayn sekarang. Entah kenapa rasanya jadi tidak aman. Aku takut sewaktu-waktu amarahnya itu akan kembali datang.


Bukan hanya Zayn, aku pun menghindari Kara. Aku benar-benar menjauhinya saat ini. Aku merasa kecewa dengannya, bagaimana bisa dia menolak Rhea yang jelas-jelas sangat menyanyanginya dan malah mengejarku yang sudah jelas memiliki pacar dan tidak mungkin menerima Kara.


Untuk saat ini, aku rasa keputusanku benar. Menghindari Kara dan juga Zayn. Karena aku perlu meluruskan masalah ini dengan Rhea tanpa gangguan siapapun.


Aku berjalan pelan menuju perpustakaan. Iya, aku mendapatkan informasi dari Lyra kalau Rhea ada di perpustakaan sekarang.


Dan disinilah aku, duduk diam di depan Rhea yang sedang fokus membaca novel. Tidak ada percakapan diantara kami, hanya ada keheningan.


Aku sengaja melakukan itu, membiarkan Rhea menyelesaikan bacaannya. Karena aku tahu, akan seperti apa reaksi Rhea kalau kegiatan favoritnya diganggu dan aku tidak mau membuat keributan.


"Ada apa? Tumben banget mau nungguin gue baca."


Rhea menutup buku yang sedang di bacanya dan menatapku penuh tanya.


Benar, memang tidak biasanya aku mau menunggu Rhea menyelesaikan bacaannya.


"Aku mau minta maaf, maaf kalau karena aku jadi bikin kamu kayak gini. Maaf kalau bikin nggak nyaman."


Rhea hanya menatapku tanpa ekspresi, jujur saja saat seperti ini aku bingung, karena aku tidak bisa membaca Rhea sama sekali. Tidak ada ekspresi apapun di raut wajahnya, hanya datar.


"Kemarin Kara dateng ke rumah, dia cerita soal kalian yang ketemu. Setelah itu dia nembak aku."


Aku sedikit melirik Rhea, memastikan bagaimana reaksinya setelah mendengar pengakuanku, tapi ternyata masih sama saja seperti tadi.


"Tapi, kamu nggak usah khawatir. Aku tolak Kara, aku nggak mungkin terima dia karena aku punya Zayn dan aku juga nggak mau bikin kamu sedih."


"Sebenarnya mau kamu tolak atau terima dia, itu bukan ururan gue sih."


Aku mendongak, iya sejak tadi memang aku tidak menatap Rhea yang duduk di depanku. Aku terlalu takut dengan respon Rhea nantinya.


"Lo buang-buang waktu kayak gini tuh, gue nggak peduli. Toh, ini semua nggak ada kaitannya sama lo. Dengan li nolak Kara berarti urusan lo selesai, soal gimana Kara nanti itu urusannya dia. Lagi pula lo udah punya Zayn, kenapa malah pusing mikirin orang lain, mending lo temuin Zayn dan jelasin ke dia soal lo sama Kara karena dari tadi Zayn cariin lo."


Aku bungkam, ucapan Rhea barusan membuatku berpikir lagi tentang hal-hal yang aku khawatirkan saat ini. Hal yang sebenarnya bukan urusanku, tapi aku justru kebingungan sendiri untuk menyelesaikan semuanya.


"Dan soal gue, itu bukan urusan lo, bukan ranah lo buat ikut campur soal itu. Kalau nggak ada yang mau diomongin lagi, gue pergi."


Rhea benar-benar pergi tanpa memperdulikanku yang sebenarnya masih ingin berbicara dengannya. Tapi mungkin ucapan Rhea tadi benar. Aku tidak memiliki hak apapun untuk ikut campur.




Aku akhirnya menemui Zayn, ah atau mungkin lebih tepat kalau Zayn yang menemuiku di perpustakaan tadi. Dia menarikku entah kemana, karena saat ini aku hanya bisa pasrah mengikuti langkah kaki Zayn yang kelewat lebar.



"Zayn, pelan-pelan jalannya."



Aku sedikit memprotes Zayn, jujur saja mengimbangi langkahnya yang kelewat lebar seperti itu membuatku sangat lelah.



"Diem, ikut aja nggak usah banyak protes." ketus Zayn membuatku sedikit takut.



Tidak biasanya Zayn berbicara dengan nada seperti itu padaku. Ada apa ini? Apa aku membuatnya marah. Tapi bukankah kami baru saja bertemu. Lalu Zayn marah karena apa?



Akhirnya aku hanya diam dan mengikuti Zayn tanpa protes. Aku tidak mau membuat moodnya semakin jelek. Aku tidak mau Zayn marah seperti kemarin, itu sangat menakutkan.



"Loh, ke ruang musik?"



Rupanya aku di bawa ke ruang musik oleh Zayn, tumben sekali dia mengajakku kesini. Padahal semenjak kami berpacaran Zayn sudah jarang mengajakku ke ruang musik kecuali saat latihan.



"Iya, pengen peluk. Biar nggak ada yang ganggu, jadi aku pakai ruang musik dan aku kunci dari dalam."



Zayn langsung menarik pinggangku dan memeluku erat, menyembunyikan wajahnya di ceruk leherku.

__ADS_1



"Zayn, itu bibirnya nggak usah nakal. Geli astaga."



"Kangen, Mei. Pengen cium." Ujar Zayn sambil menangkup pipiku.



"Heh! Nggak ada cium-cium. Masih diarea kampus kita tuh."



Aku menampar pelan bibir Zayn yang sengaja di dekatkan ke wajahku. Yang benar saja minta cium di bibir, cium pipi saja aku masih merasa malu setengah mati.



"Sakit, Mei. Kamu mah galak."



Aku hanya tertawa pelan melohat Zayn merajuk. Dia menjadi sangat menggemaskan bila sedang seperti ini.



Kara is calling.....



Tiba-tiba ponselku berdering cukup nyaring dan membuat Zayn yang tadinya sudah terlelap di pangkuanku terbangun.



"Siapa yang telpon Mei? Ganggu aja."



"Nggak tahu, kan ponselnya ada dideket kamu itu."



Ekspresi Zayn seketika berubah, tidak ada lagi senyum hanya tatapan tajam dan penuh amarah. Entah apa yang membuatnya menjadi seperti itu. Sejujurnya aku merasa takut kalau sisi Zayn yang waktu itu akan kembali muncul.




Ah, ternyata Kara yang menelpon. Pantas saja Zayn langsung marah. Cemburu ternyata dia, padahal aku dan Kara tidak ada urusan apapun lagi.



"Ada apa? Aku lagi sama Zayn ini. Kalau emang penting banget sini aja ke ruang musik."



"Nggak! Lo nggak boleh ketemu Mei."



"Siapa lo larang-larang gue, Mei aja kasih ijin. Lo cuma pacarnya diam aja, nggak usah posesif. Palingan bentar lagi juga putus."



Kara benar-benar, bisa-bisanya dia malah sengaja memprovokasi Zayn. Maunya apa sih sebenarnya dia, sungguh menyebalkan.



"Kamu yang diem. Ganggu aja, kalau nggak penting nggak usah nelpon atau temuin aku."



Aku langsung mematikan panggilan itu secara sepihak dan meletakan ponselku sembarangan di lantai. Karena aku harus buru-buru membujuk Zayn agar tidak marah lagi.



"Udah ya, nggak usah marah. Aku nggak akan ketemu Kara."



"Mei, kamu sayang sama aku kan?"


__ADS_1


Aku mengangguk kecil menanggapi pertanyaan Zayn. Mana mungkin aku tidak sayang pada Zayn, dia satu-satunya cowok yang bisa mengimbangiku jelas aku sangat menyanyanginya.



"Mau cium boleh? Tapi cium dibibir. Aku mau kamu, Mei."



Aku kaget, Zayn tiba-tiba kembali minta cium dan harus dibibir. Apalagi kali ini dia sedikit memaksa.



"No, Zayn. Aku nggak mau."



Aku menolak permintaan Zayn dan sepertinya aku salah, karena tatapan marah itu kembali terlihat. Zayn marah dan kali ini karena ulahku sendiri.



"Kenapa? Lo maunya di cium Kara? Nggak usah sok suci, gue lihat kok kemarin lo diem aja dipegang sama Kara. Kenapa gue nggak boleh, gue pacar lo, Mei. Harusnya gue bisa dapet lebih dari itu."



Zayn tiba-tiba mencekal tanganku dan menarikku semakin mendekat, tinggal beberapa centi lagi Zayn akan benar-benar menciumku. Sebenarnya aku tidak terlalu mempermasalahkan bila kami benar-benar berciuman. Hanya saja, ini di kampus dan aku tidak suka dipaksa seperti ini.



"Nggak! Aku nggak mau."



Aku mendorong Zayn sekuat tenaga dan menamparnya. Aku kecewa dengan Zayn.



"Mei, lo nampar gue? Nampar pacar lo sendiri."



"Iya! Kamu pantas dapat itu." Tantangku sambil menatap Zayn, aku berusaha untuk mengkesampingkan rasa takutku dan melawan Zayn.



"Lo itu punya gue, Mei. Wajar kalau gue cemburu, wajar kalau gue mau minta lebih dari lo. Tapi lo malah kayak gini."



"Aku bukan barang, Zayn! Kamu nggak bisa seenaknya memperlakukan aku kayak gini. Iya, kamu pacar aku. Tapi bukan berarti kamu bisa semaumu."



"Persetan sama semua itu. Lo pacar gue, berarti lo milik gue. Nggak ada yang boleh ambil lo dari gue. Paham."



Zayn berucap dengan penuh penekanan dan sarat akan kemarahan didalam setiap kata yang diucapkannya. Sejujurnya aku sangat takut sekarang, tapi aku tidak bisa kemanapun karena Zayn masih mencekal tanganku.



"Zayn, gila! Lepasin sabahat gue."



"Diem! Nggak usah ikut campur. Urusin masalah lo sendiri, Rhe."



Aku sama sekali tidak menyangka kalau Rhea akan datang ke ruang musik dan menolongku. Setidaknya sekarang aku bisa merasa lega karen terbebas dari Zayn dan kemarahannya.



"Lo, diem disini. Kalau lo nekat, jangan harap setelah ini lo bisa ketemu Mei."



Rhea melepaskan cekalan Zayn ditanganku dan membawaku pergi menjauh dari ruang musik, meninggalkan Zayn bersama dengan Kak Eza. Iya, Rhea datang bersama Kak Eza.



Lupakan dulu soal Rhea, karena sekarang aku harus berpikir bagaimana menjawab pertanyaan Rhea nantinya.


__ADS_1


...~~~~~~~~~~~...


__ADS_2