Bianglala (Revisi)

Bianglala (Revisi)
19.2 [Lyra] Ragu


__ADS_3

Kalau kalian tanya apa hal yang bisa bikin gue seneng saat ini, jawabannya adalah Kak Bryan. Iya! Keliatan bucin banget emang. Tapi emang begitu kenyataannya.


Gue merasa sangat senang karena akhirnya bisa berbaikan dengan Kak Bryan. Memang ya, cemburu itu membuat masalah makin ribet dan cemburunya Kak Bryan sungguh sangat menyusahkan.


Tapi sebenarnya Kak Bryan nggak perlu cemburu segitunya kan? Karena dia bukan siapa-siapa gue, dia hanya seseorang yang kebetulan singgah dihidup gue.


Kalau dipikir-pikir, menyedihkan sekali kisah asmara gue. Tapi yaudahlah, toh sejak awal tujuan gue bukan untuk mendekati Kak Bryan tapi hanya sekedar mengenalnya saja. Kalau memang nantinya akan melibatkan perasaan, biar saja mengalir dengan sendirinya.


"Lo masih mikirin Kak Bryan? Bukannya semalem lo telponan ya sama dia."


Rhea tiba-tiba melontarkan pertanyaan seolah-olah dia tahu apa yang sedang gue pikirkan.


"Iya, semalem telponan. Justru karena itu gue malah jadi kepikiran."


"Aneh lo, harusnya seneng dong udah baikan."


"Gue seneng, seneng banget. Tapi gue bingung."


"Ngomong yang jelas dong, gue jadi ikutan bingung."


"Bentar, gue mikir dulu gimana ngomongnya. Gue masih kaget juga soalnya."


Gue menyusun kata-kata dalam pikiran gue untuk menyampaikannya pada Rhea, agar anak itu paham dan bisa memberi solusi. Karena gue sangat membutuhkan itu sekarang.


"Semalem Kak Bryan bilang, kalau mau aja gue ketemu orang tuanya. Gue harus gimana? Gue deg-degan banget, Rhe. Gue takut kalau nggak diterima karena gue masih kayak bocah."


"Hah! Serius lo? Terus Kak Eza udah tahu?"


"Belum lah, mana berani gue kasih tahu Kak Eza. Dia kan tahu gue sama Kak Bryan nggak ada hubungan apapun."


"Terus ngapain Kak Bryan ngajakin lo buat ketemu sama keluarganya. Udah kayak yang besok lamaran terus nikah aja."


Mendengar ucapan Rhea, gue jadi berpikir lagi. Untuk apa Kak Bryan ngajak gue ketemu keluarganya. Sedangkan kami berdua tidak ada hubungan apapun sebenarnya.


"Ah, entahlah. Lihat aja besok deh, pusing gue jadinya."


Gue berakhir melupakan obrolan dengan Kak Bryan semalam dan berusaha mengalihkan pembicaraan dengan kembali ke tujuan awal gue bertemu Rhea.


Iya, gue bertemu Rhea untuk menagih cerita soal kejadian lalu. Soal dia dan Kara, ah dan juga Kak Eza. Gue penasaran ingin mengintrogasi Rhea soal dia dan Kak Eza. Karena gue rasa, mereka semakin dekat saja. Apalagi setelah pertemuan Rhea dengan Kara.

__ADS_1


"Udah, lupain soal Kak Bryan. Lo jangan cepu ke Kak Eza. Biar gue sendiri yang bilang pas mau pergi aja."


"Siapa juga sih yang mau cepu, ketemu Kakak lo aja males."


"Males, males tapi kemarin gue ditinggal sendiri di rumah. Jalan berdua doang nggak ajak-ajak."


Gue lihat Rhea hanya diam, tidak berniat untuk membantah gue sama sekali. Tidak biasanya bukan, sepertinya memang ada sesuatu diantara Rhea dan Kak Eza dan gue harus tahu itu.


Belum sempat gue menodong Rhea, tiba-tiba Zayn datang mengganggu. Untuk apa anak ini menemui kami. Padahal kami sedang tidak bersama Mei saat ini.


"Kusut amat, abis berantem sama siapa tuh? Pipi memar kayak gitu."


"Nih, ulahnya si santan Kara. Bisa-bisanya dia nembak Mei padahal udah jelas-jelas Mei itu punya gue."


Jujur, gue kaget. Sejak kapan Mei dan Zayn berhubungan. Gue tahu mereka memang dekat karena satu UKM Band dan memang sering bekerja dalam satu project yang sama. Tapi jujur saja, gue tidak menyangka kalo akhirnya Mei menerima Zayn untuk jadi pacarnya.


"Oh, ternyata beneran sahabat gue sendiri. Gue kira kemarin Zayn cuma bercanda."


Gue masih bisa mendengar gumaman Rhea, setelah Zayn menceritakan soal memarnya dan soal Kara yang mengungkapkan perasaannya untuk Mei.


Tapi yang sebenarnya membuat gue lebih kaget adalah tingkah Kara yang diluar dugaan. Dia mengungkapkan perasaannya pada Mei, yang jelas-jelas berpacaran dengan Zayn. Dan juga, bukankah minggu lalu Rhea menemui Kara juga untuk mengungkapkan perasaannya selama ini. Jadi ini alasan Rhea menangis sampai harus di bawa jalan-jalan oleh Kak Eza.


Gue mengangguk-angguk kecil setelah menemukan alasan yang tepat tentang hal-hal yang terjadi dengan kedua sahabat gue ini. Hanya dengan mendengar cerita Zayn dan melihat reaksi Rhea, gue langsung bisa menyimpulkan sendiri, hebat sekali bukan.


"Nggak, cuma lagi mikir doang."


"Kan gue kesini tuh mau nanyain Mei, kenapa malah jadi curhat sama lo berdua sih."


"Ya mana gue tahu, lagi pula dari tadi kita nggak ketemu Mei tuh." Sahut Rhea terlihat tidak terlalu peduli.


"Yaudahlah, gue balik fakultas aja daripada kena hukum Pak Eza lagi."


Zayn langsung beranjak dari duduknya dan langsung keluar kantin meninggalkan kami berdua.


"Mau pulang nggak lo? Gue udah dijemput Kak Bryan nih."


Gue bergegas membereskan tas dan berniat pergi, karena Kak Bryan sudah datang menjemput dan menunggu di area parkir.


"Duluan aja sana, mau ke perpus. Pulangnya ntar gampang."

__ADS_1


Begitu Rhea sudah pergi, gue langsung berlari kecil menuju area parkir untuk segera menemui Kak Bryan.


"Kenapa lari-lari, Ra? Padahal jalan aja juga bakalan sampai."


Gue disambut dengan pertanyaan Kak Bryan yang sebenarnya sudah jelas jabawannya. Tapi gue tetap menjawab pertanyaan basa basi yang dia lontarkan.


"Kan biar cepet ketemu Kak Bryan. Lagi pula, Kakak udah dari tadi."


Gue bergegas memakai seatbelt dan duduk manis di samping Kak Bryan.


Hari ini kami tidak mampir kemanapun, karena ternyata Kak Bryan memiliki pekerjaan yang harus di selesaikan. Tapi tak apa, karena hari ini gue sudah puas bertemu dengannya.


Lagi pula, gue perlu memikirkan soal pertemuan dengan orang tua Kak Bryan dan juga untuk meminta ijin dengan Kak Eza.


"Kamu kepikiran soal semalem ya? Kalau kamu keberatan, saya batalin aja ya."


Seolah bisa membaca pikiranku, Kak Bryan berniat membatalkan pertemuan itu.


Kalo boleh gue sangat ingin pertemuan itu batal, tapi yang benar saja. Kak Bryan sudah merencanakan ini jauh-jauh hari dan harus dibatalkan hanya karena gue belum siap. Apa-apaan itu.


Gue menggeleng pelan, menolak tawaran Kak Bryan. Biar saja masalah bagaimana nantinya menjadi urusan gue sendiri. Kak Bryan nggak perlu tahu soal itu, yang terpenting gue datang seperti permintaannya tadi malam.


"Yaudah kalau gitu, sampai ketemu lusa, Lyra. Nanti soal Eza biar saya aja yang ngomong."


"Nggak perlu, Kak. Nanti biar gue sendiri yang ijin ke Kak Eza."


Lagi, lagi gue menolak tawaran Kak Bryan. Walaupun sebenarnya akan sangat menguntungkan kalau Kak Bryan yang memintakan ijin pada Kak Eza.


Tapi, demi menghindari introgasi dua kali, lebih baik gue sendiri yang meminta ijin sekalian menjelaskan soal hubungan aneh antara gue dan Kak Bryan.


"Okey, kalau gitu saya pamit. Maaf nggak bisa mampir."


Kalau boleh egois, sebenarnya gue ingin Kak Bryan tetap disini. Gue masih mau berduaan dengannya. Gue masih belum puas ketemu dia. Gue ingin manja sama dia. Tapi semua itu cuma sekedar harapan gue, karena gue nggak mungkin menyuarakan semua itu.


Mau tak mau, gue tetap harus memaklumi kesibukan Kak Bryan dan membiarkan dia fokus dengan pekerjaannya yang sangat banyak itu. Toh, sebenarnya gue tidak punya hak apapun soal hidupnya.


"Haah, serba salah emang punya hubungan nggak jelas kayak gini. Awas aja kalau ujung-ujungnya malah bikin sakit."


Gue berakhir mengerutu begitu masuk ke dalam rumah, menyuarakan segala hal yang selama ini menjadi beban tersendiri buat gue. Beban yang sebenarnya ada karena ulah gue sendiri.

__ADS_1


Kalau saja gue nggak penasaran, pasti sekarang gue nggak akan merasakan perasaan aneh ini.



__ADS_2