Bianglala (Revisi)

Bianglala (Revisi)
7.1 [Rhea] Gitar


__ADS_3

H-5 Launching Rumah Baca dan gue jadi makin sibuk, semakin banyak pekerjaan yang dilimpahkan sama gue. Bahkan kadang kerjaan Kak Eza gue juga yang selesein, rasanya kayak gue lagi di perbudak sama Kak Eza.


Seperti hari ini, begitu keluar ruangan Kak Eza sudah berdiri menunggu. Entah mau diajak kemana lagi gue sekarang. Padahal, gue berharap hari ini bisa terbebas dari Kak Eza sebentar, tapi ternyata tidak bisa.


"Mau kemana lagi sih Kak? Dari kemarin gue mulu yang lo pekerjakan. Padahal tuh anak-anak komunitas banyak. Sesekali gantian suruh Aga gitu atau lo sendiri yang kerjain."


Gue memprotes Kak Eza tanpa jeda. Tapi Kak Eza hanya menatap gue dengan eskpresi datar andalannya.


"Buruan Rhea. Lelet banget sih, kalau lo masih lelet juga abis ini gue tambahin kerjaan lo."


"Nggak! Kerjaan gue udah banyak. Nggak usah ditambahin lagi."


"Kan itu emang tugas lo."


"Nggak ada, apaan semuanya aja tugas gue. Lo ketuanya cuma nyuruh-nyuruh doang."


"Kan lo sekertaris, tugasnya bantu ketua lah."


Gue mendelik kesal dan buru-buru mengikuti Kak Eza yang sudah berjalan lebih dulu.


Gue kira Kak Eza akan langsung ke gedung UKM, ternyata dia mampir ke kantin FIB untuk membeli camilan.


"Belum terlalu laper kan, lo? Ganjel pakai camilan dulu. Nanti selesai mantau latihan band, kita makan."


Gue lekas mengangguk dan menerima camilan yang disodorkan Kak Eza. Sebelum dia berubah pikiran dan meminta kembali camilannya.



Ruang latihan ternyata masih sepi, belum ada satupun anggota band yang datang. Bahkan Mei yang biasanya datang paling awal juga belum terlihat.



Gue dan Kak Eza akhirnya memutuskan untuk menunggu di dalam ruangan, karena kebetulan tidak terkunci.



Gue mencoba menelpon Mei untuk menanyakan keberadaannya. Karena ini sudah lewat dari jam biasanya mereka berlatih.



"Mei, lo lagi dimana?" Gue langsung menodongnya dengan pertanyaan alih-alih menyapa sebagai awal obrolan.



"Bentar Rhea, aku masih ngerjain tugas kelompok. Lima belas menit lagi aku kesana."



"Oke, gue tunggu."



Gue segera mengakhiri panggilan begitu pertanyaan gue terjawab.



"Kuliahnya pada belum selesai, Kak. Mereka kesini sekitar lima belas menit lagi."



"Oke, nggakpapa. Gue mau coba main gitar sambil nunggu mereka."



Setelah berucap seperti itu, Kak Eza lekas mengambil gitar akustik yang diletakan di pojok ruangan.

__ADS_1



Permainan gitar Kak Eza memang selalu bagus. Gue masih saja takjub setiap kali Kak Eza bermain gitar. Padahal gue udah cukup sering melihatnya bermain gitar seperti ini.



Entah kenapa gue merasa seperti sedang berhadapan dengan orang yang berbeda. Bukan Kak Eza yang biasanya, yang galak dan pelit senyum. Tapi sisi lain Kak Eza yang terlihat lebih menawan dan manis.



"Kak Eza keren ya? Hati-hati lho, awalnya jatuh hati sama permainan gitarnya, nanti lama-lama sama orangnya." Bisik Mei ditelinga kanan gue.



Gue langsung menengok ke arah kanan setelah mendengar suara yang cukup familiar. Mei ternyata sudah duduk di kursi samping gue. Entah sejak kapan dia duduk di samping gue.



"Keren, Kak. Kenapa lo nggak ikut ngeband aja sekalian sama kita hari ini."



Itu Mei yang memuji Kak Eza, sedangkan gue hanya diam saja. Menyimpan kekaguman gue untuk diri sendiri. Cukup diri gue sendiri yang tahu.



"Nanti, gue malah ganggu latihan kalian. Lagi pula gue cuma sekedar bisa karena hobi, bukan kayak Zayn yang memang udah ahlinya" ujar Kak Eza sambil meletakan kembali gitar ditempat asalnya.



Latihan langsung dimulai begitu Zayn tiba. Dia tidak pernah main-main bila berkaitan soal band dan musik. Terbukti ketika latihan kali ini, Mei dan Zayn bernyanyi dengan sangat bagus.




Kak Eza menepuk pundak gue pelan. Mengisyaratkan pada gue untuk segera mengikutinya keluar ruangan.



"Udah cukup lihat mereka berlatih. Sesuai sama yang dibilang Kara kemarin, mereka bagus. Lo aja sampai nggak berpaling."



Gue lekas mengangguk, mengiyakan ucapan Kak Eza. Jujur saja, gue masih saja takjub sampai sekarang. "Emang sebagus itu Kak, gue sampai takjub."



Pagi sekali, ponsel gue berdering dan ternyata Kak Eza yang menelpon.


"Duh, Kak. Masih pagi lho ini, tapi udah dikasih tugas aja."


Sepagi ini, gue sudah mendapatkan tugas saja.


"Nggak usah protes, abis ini gue jemput lo. Karena tugas lo masih banyak."


Mau tidak mau, gue mengiyakan ucapan Kal Eza.


Setelah telpon ditutup, gue lekas bersiap-siap sebelum Kak Eza sampai. Jangan sampai Kak Eza menunggu,  karena bila seperti itu, bersiap saja kalau kamu akan memperoleh tugas tambahan.


Tak lama kemudian gue mendengar klakson mobil di depan rumah. Gue lekas keluar untuk menemui tamu yang gue yakini adalah Kak Eza.


Gue langsung masuk begitu dipersilahkan oleh Kak Eza. Memang sejak mendekati hari H, gue lebih sering bersama Kak Eza, bahkan gue tidak sempat bertemu dengan Lyra dan Mei.


"Eh, kok tumben lo bawa gitar Kak?"

__ADS_1


Gue tanpa sadar bertanya dengan nada yang terdengar antusias.


"Pengen aja, sekalian mau minta tolong Zayn nanti buat setel ulang kayak gitar di ruang musik." Sahut Kak Eza sambil tetap fokus pada jalanan.


"Hari ini kamu akan mulai sibuk setelah siang. Jadi manfaatkan waktumu sebelum sibuk buat nyicil tugas-tugas kuliah."


Kak Eza memperingatkan gue sebelum kami berpisah diparkiran kampus.


"Siang nanti temui gue di ruang musik. Gue tunggu lo disana. Kita mau diskusi sama Mei dan Zayn." Lanjutnya.


Gue lekas berjalan ke gedung FIB yang lumayan jauh dari parkiran untuk mengikuti kelad pagi ini dan mengerjakan tugas kelompok setelahnya.




Siangnya, gue langsung menuju gedung UKM untuk menemui Kak Eza yang katanya sudah menunggu di ruang musik.



"Mau keman lo? Buru-buru banget. Padahal kita udah lama nggak ketemu, dirumah pun gue susah ketemu lo. Sekarang kita ketemu tapi lo malah mengabaikan gue."



Samar-samar gue masih bisa mendengar protesan Aga karena gue mengabaikannya barusan. Gue tanpa sengaja papasan dengan Aga. Tapi, karena sudah ditunggu, gue hanya tersenyum tipis dan berlalu begitu saja tanpa menyapa Aga.



Begitu sampai di ruang musik, gue disambut dengan permainan gitar Kak Eza. Ternyata gitar miliknya itu sengaja dibawa untuk ini. Agar dia bisa bebas memainkannya ketika memiliki waktu luang.



"Kedip Rhea, Kak Eza nggak akan hilang kalau lo kedip."



Zayn yang baru datang dengan Mei menggoda gue karena saking takjubnya, gue melihat Kak Eza main gitar sampai tidak berkedip.



"Namanya juga lagi kasmaran, biarin aja. Palingan abis itu ngeluh matanya perih karena nggak kedip dari tadi." Ujar Mei ikut menggoda gue sebelum masuk ruangan.



"Permainan gitar lo keren, Kak. Ada yang takjub tadi sampai lupa nggak kedip."



"Iya Kak, kayaknya dia udah jatuh hati sama permainan gitar Kakak."



Gue mendelik tajam pada Zayn dan Mei yang dengan berani-beraninya menggoda gue di depan Kak Eza. Awas aja mereka setelah ini.



"Iya gue tahu kok, tapi kayaknya dia nggak mau ngaku sih." Ujar Kak Eza mengerling jail.



Huh, sepertinya setelah hari ini tidak akan ada hari tanpa digoda Mei dan Zayn. Jadi Rhea, ayo bersiap-siap dan ucapkan selamat tinggal pada ketenangan.



...~~~~~~~~~~~...

__ADS_1


__ADS_2