Bianglala (Revisi)

Bianglala (Revisi)
14.2 [Lyra] Diskusi


__ADS_3

Setelah beberapa hari kemarin tidak bisa bertemu dengan Kak Bryan, karena kesibukannya. Khusus untuk hari ini, Kak Bryan sengaja menjemput gue di rumah dan mengajak gue untuk sekedar jalan-jalan.


"Maaf ya, beberapa hari kemarin saya sibuk." Ujarnya begitu gue memasuki mobil.


"Iya, Kak. Gue tahu kok, soalnya Kak Eza juga sibuk, ya walaupun nggak sesibuk Kakak." Sahut gue memaklumi kesibukan Kak Bryan.


"Hari ini kamu mau kemana?" Tanya Kak Bryan sambil tetap fokus mengemudi.


"Kemana aja deh Kak, tapi kayaknya ke coffeshop enak deh. Hujan-hujan kayak gini minum kopi." Ujar gue sambil membayangkan nyamannya berada di coffeshop dengan secangkir kopi hangat dan beberapa kue.


Mobil melaju dengan kecepatan sedang membelah padatnya jalanan kota Bandung di sore hari. Suasananya tidak terlalu ramai, karena mungkin setelah hujan. Beberapa orang pasti enggan untuk keluar rumah.


Sangat berbeda dengan gue, karena justru lebih senang keluar rumah setelah hujan. Karena biasanya jalanan tidak terlalu ramai, kecuali saat-saat jam pulang kerja. Pasti akan sangat padat dan macet.


Kami memilih untuk nongkrong di Kopi Toko Djawa yang terletak di Braga. Sebenarnya gue ingin mampir ke sebelahnya, ke Sweet Cantina untuk membeli es krim. Tapi tatapan tajam Kak Bryan membuat gue langsung mengurungkan niat.


"Mau pesen apa kamu?" Tanya Kak Bryan begitu kami memasuki toko.


Gue langsung mengedarkan pandangan, mencari-cari camilan untuk menemani kami meminum kopi. Tatapan gue berhenti pada cinnamon roll, entah kenapa kue itu terlihat menggoda.


"Gue mau hazelnut latte sama cinnamon roll, Kak." Ucap gue setelah menemukan menu yang gue inginkan.


"Okey, itu ya pesanannya. Ditambah Affogato satu."


Kami menikmati sore di Kopi Toko Djawa, membicarakan banyak hal dan itu sangat menyenangkan. Kapan lagi kan, gue bisa menikmati waktu berdua dengan cowok kaku yang super sibuk ini. Karena gue nggak tahu, kapan lagi Kak Bryan akan luang disela-sela kesibukannya, jadi mari kita memanfaatkan waktu untuk jalan berdua.


"Ra, kayaknya setelah ini saya akan lebih sibuk. Karena akan ada project dan saya yang ditunjuk jadi penanggung jawab. Ini saya bilang dulu ke kamu, jadi semisal saya nggak mampir rumah atau nggak bales chat kamu jangan marah." Papar Kak Bryan.


Baru juga gue seneng, ternyata Kak Bryan mengajak jalan-jalan sore untuk membicarakan hal itu. Sejujurnya gue ingin protes, tapi apalah daya gue tidak punya hak. Mau tidak mau gue mengiyakan ucapan Kak Bryan, walaupun dengan berat hati.


"Tapi kalau misal lo udah nggak sibuk, luangin waktu ya Kak. Walaupun sekedar telpon." Ujar gue mengajukan permintaan.


"Iya, saya usahakan." Sahut Kak Bryan terdengar tidak meyakinkan.



Benar saja, baru kemarin Kak Bryan memberitahu soal kesibukannya. Hari ini dia sama sekali tidak bisa dihubungi. Susah memang, kalau dekatnya sama orang sibuk. Harus siap diduakan sama pekerjaan.



"Kenapa lo, Dek? Pagi-pagi udah cemberut aja." Tergur Kak Eza yang melihat gue dengan wajah tetekuk.



"Oh, gue tahu..... tapi, Dek. Lo kan bukan siapa-siapanya, ngapain cemberut kayak gitu." Lajut Kak Eza semakin membuat gue menekuk wajah.



"Kakak ih, malah diperjelas." Sungut gue kesal.



"Kan fakta, Dek."



"Terserah deh. Ayo berangkat, katanya mau anter."

__ADS_1



Gue melangkah keluar rumah, meninggalkan Kak Eza yang masih menyesap kopinya. Gue sebal karena digoda Kak Eza seperti itu, walaupun sebenarnya ucapan Kak Eza tidak ada yang salah.



"Udahan cemberutnya, mau kuliah kok kayak gitu. Happy dong."



Kak Eza berusaha menghibur gue sebelum dia fokus mengemudikan mobilnya.



Gue mendengus pelan, Kak Eza benar-benar tidak bisa membaca suasana. Adiknya sedang sedih bukan dihibur malah diledek terus.



"Buruan Kak, nggak usah ledekin gue mulu." Akhirnya gue protes juga karena sejak tadi terus menerus di goda oleh Kak Eza.



Tak sampai satu jam, kami tiba di kampus. Kak Eza langsung berjalan menuju kantornya sesaat setelah memarkirkan mobilnya. Sedangkan gue, malah berjalan ke arah gedung jurusan Arkeologi.



"Ngapain lo nyasar sampai sini?"




"Minimal disapa kek, bilang hai, halo atau apa.  Bukan malah langsung ditodong kayak gitu." Protes gue dan hanya dibalas kekehan oleh Kara. Sangat menyebalkan.



"Ada apa? Nggak mungkin lo sampai sini tapi random nggak ada tujuan." Tebak Kara.



"Nggak ada, gue random aja kesini karena parkirnya Kak Eza lebih dekat ke fakultas lo." Sahut gue tak peduli.



"Apa? Meragukan sih ini, buruan bilang aja."



"Gue cuma memanfaatkan waktu, sekalian kan daripada ribet." Kilah gue agar Kara tidak lagi bertanya lagi kenapa gue datang ke fakultasnya.



"Meragukan, pasti punya tujuan lain. Lo bukan Rhea yang hobi keliling fakultas lain hanya karena merasa bosan. Lo bukan orang yang sekurang kerjaan itu buat dateng ke fakultas yang cukup jauh dari fakultas lo."



"Emang bukan, gue kesini juga karena Kak Eza parkir sekitar fakultas lo dan kuliah gue ternyata daring. Jadi yaudah, gue nongkrong disini aja."

__ADS_1



Untuk hari ini, gue berakhir duduk berdua dengan Kara, karena rupanya kuliah gue hari ini di cancel dan dilihkan menjadi daring. Agak menyebalkan sebenarnya, bila tahu seperti itu lebih baik gue berdiam diri di rumah.



Tapi alih-alih pulang, gue justru duduk dan mengobrol dengan Kara atau lebih tepatnya berdebat dengan Kara. Karena ketika gue membahas soal Rhea, reaksi Kara langsung berubah menjadi agak ketus.



"Lagi pula emangnya kenapa sih? Lo berharapnya gue kesini sama Rhea gitu? Karena dia yang hobi keliling fakultas lain." Todong gue tiba-tiba karena Kara lebih dulu membawa topik soal Rhea. Jadi sekalian aja gue ulik soal masalah mereka.



"Kok jadi Rhea? Konteksnya tuh soal lo, bukan Rhea."



"Terserah gue dong. Lagian, kenapa sih sewot banget, padahal gue cuma sebut nama doang."



Kara tidak menjawab, dia pura-pura sibuk dengan ponselnya. Gue tahu, sebenarnya dia mendengarkan apa yang gue ucapkan barusan, tapi dia hanya tidak mau menjawab.



"Lagi pula, harusnya yang marah tuh Rhea sama Mei nggak sih, bukan lo. Karena mereka yang kena imbas dari sikap gegabah lo itu. Harusnya lo yang lebih dulu minta maaf sama Rhea, bukan nunggu Rhea minta maaf."



Memang ya, gue dan Kara tidak bisa disatukan dalam satu obrolan, apalagi obrolan serius. Karena selama waktu mengobrol kami berkahir dengan berdebat dibandingkan membahas apa saja yang menjadi bahan obrolan kami.



"Gue ngajak lo ngobrol serasa kayak lagi latihan buat lomba debat." Cibir gue karena sejak tadi Kara terus menerus menyahuti omongan gue dengan nada sedikit ketus.



"Lo aja yang ngomongnya nggak santai. Cara ngomong gue kan emang begini dari sananya."



"Terserah deh, dasar manusia es."



"Malah ngatain, nggak jelas lo." Ketus Kara seraya beranjak dari duduknya dan melangkah keluar area gedung.



Lain kali, ketika bertemu Kara lagi harusnya gue membawa Rhea. Hanya anak itu yang bisa mengimbangi Kara berdebat. Berarti gue harus membuat keduanya berbaikan dan seperti biasa lagi.



Gue sepertinya harus menyusun rencana dari sekarang kalau memang ingin Kara dan Rhea kembali seperti biasa. Karena mendamaikan dua kepala batu pasti membutuhkan waktu yang lama.


__ADS_1


__ADS_2