
Setelah selesai mengurus masalah jadwal kuliah, aku dan Rhea bergegas menuju kantin. Sebenarnya aku malas untuk ke kantin dan lebih senang untuk langsung pulang saja. Tapi karena hari ini UKM band akan mengadakan pertemuan, jadi mau tak mau aku harus tetap berada di kampus bersama Rhea.
"Kalian udah dari tadi?" Dia Lyra datang menyapa kami, dia adalah salah satu sahabatku di fakultas lain atau lebih tepatnya satu-satunya orang yang langsung bisa akrab denganku sejak pertama bertemu.
"Lumayan, lo lama banget sih? Gue kayak anak ilang disini nungguin lo." Ujar Rhea menyerukan protes.
"Kan ada Mei, lagian lo ngajak ketemu pagi banget." Lyra yang tidak mau disalahkan membantah ucapan Rhea.
"Apaan? Mei dari tadi diem mulu, kayaknya punya hobi baru dia, hobi ngelamun," ucap Rhea menyindirku, dia memang seperti itu. Kalau ngomong nggak pakai aturan, asal aja ngomongnya.
"Apaan sih, berisik." Aku sedikit sewot karna kelakuan Lyra dan Rhea yang kadang-kadang nggak jelas itu.
"Dih, gitu aja sewot." Rhea berujar santai dengan sedikit nada sinis dalam ucapannya, menyindir. Memang seperti itulah sahabat dekatku, dia memang gadis yang cukup manis, sayangnya dia adalah gadis yang tomboy dan sedikit frontal. Sangat berbeda denganku dan juga Lyra yang bisa dibilang jauh lebih kalem daripada Rhea dan kami juga jauh lebih feminim.
"Udah, kalian berdua ribut mulu. Bosen dengernya." Lyra berusaha melerai kami, tepatnya aku dan Rhea karna jika dilanjutkan pasti malah jadi makin ribut. Tentu saja karena kami sama-sama keras kepala.
"Iya deh iya," ucap Rhea sedikit kesal sambil kembali memainkan ponselnya. Sedangkan aku, hanya mengangguk kecil menanggapi ucapan Lyra.
Kami kembali sibuk dengan aktivitas masing-masing dan tidak lagi ada obrolan. Beginilah kami, setiap berkumpul seperti lebih banyak diisi dengan keterdiaman, hanya sesekali kami mengobrol dan berguarau. Karena setiap obrolan yang kami lakukan, biasanya akan menjurus ke arah masalah serius atau malah ribut seperti tadi. Karena protes Rhea yang menyuarakan kekesalannya ketika kami mulai membahas salah satu masalah yang sedang kami alami.
Aku melirik jam di pergelangan tangan kiriku, sepertinya waktu tiga puluh menitku sudah terbuang sia-sia hanya untuk berdiam diri bersama kedua sahabatku seperti ini. Seharusnya tadi aku memilih untuk langsung ke ruang musik saja dan melatih vokalku disana sebelum latihan dimulai.
"Udah ah, aku mau ke ruang musik dulu. Bentar lagi latihan band mulai," ucapku sambil membereskan beberapa barangku yang tercecer di meja kantin dan bergegas menuju ruang musik.
"Iya, semangat latihan ya Mei. Gue sama Rhea juga mau jalan kok," ucap Lyra yang juga sudah beranjak dari duduknya, sedangkan Rhea malah sudah melangkah keluar kantin. Dia memang selalu seperti itu, kelewat bersemangat.
***
__ADS_1
Aku melangkah ke arah gedung seberang dengan langkah santai, karena ruang latihan musik berada di lantai dua gedung itu. "Hah, sungguh melelahkan. Tapi tak apa, karena disana aku bisa bebas bernyanyi sesukaku sebelum latihan dimulai." Kupercepat langkahku begitu memasukki gedung itu. Benar dugaanku, ruang latihan masih sepi dan aku lah orang pertama yang datang.
Aku meletakan tas dan bukuku di kursi yang berada di pojok ruangan dan segera bernyanyi untuk melatih vokalku sebelum anak-anak band itu datang. Ya, aku memang tergabung dalam sebuah band dan aku adalah vokalis dalam band itu.
"Wih, baru datang langsung disambut nyanyian merdu cewek cakep euy." Entah sejak kapan Zayn, cowok dalam satu band kami berdiri di ambang pintu sambil menatapku intens. Begitu menyadari kehadiran orang lain dalam ruangan ini, aku langsung menghentikan nyanyianku dan menatap Zayn datar.
"Kok berhenti Mei? Lanjut aja nggak apa-apa." Zayn bertanya sambil berjalan ke arah alat musik yang tertata di sudut ruangan, tepatnya ke arah seperangkat drum dan menyetelnya.
Zayn Ivander Noah, dia seorang drumer dalam band kami dan dia juga orang yang bertugas untuk menyetel setiap alat musik yang akan digunakan untuk latihan.
Aku hanya diam sambil memandang Zayn yang sibuk dengan aktivitasnya tanpa berniat menjawab pertanyaaannya itu. Karena jika aku menjawab, pasti dia akan terus mengajakku berbicara dan aku tidak suka itu. Ah bukan, lebih tepatnya aku agak risih dengan hal itu. Mungkin karena ini pertama kalinya untukku, berbeda dengan Rhea yang memang sejak dulu sudah memiliki sahabat cowok dan memang sangat dekat.
"Mei? Ayo kita mulai latihan," seru Zayn sedikit membuatku kaget. Ah, sepertinya aku sedari tadi melamun. Sampai tidak sadar bahwa anggota band kami sudah lengkap.
Tanpa diminta dua kali aku langsung berdiri di posisiku begitu juga dengan teman-teman yang lainnya dan latihan langsung dimulai. Kami berlatih cukup lama dan benar-benar fokus pada bagian masing-masing.
"Kok belum pulang Mei?" lagi-lagi Zayn mengajakku berbicara, bahkan kini dia juga menatapku seakan menuntut jawaban.
"Mei, maaf ya telat jemputnya. Aga lama sih." Tak lama kemudian Rhea muncul bersama seorang cowok yang sepertinya tidak asing. Ah, ternyata Rhea datang menjemputku bersama dengan Kara, sahabat dekatnya. Aku bergegas melangkah ke arah Rhea yang berdiri didekat mobil milik Kara.
"Kamu kenal dia Mei?" Rhea tiba-tiba bertanya sambil menatap Zayn penuh selidik. Entah apa yang ada di pikiran sahabatku ini. Tapi sepertinya dia penasaran dengan Zayn. Alih-alih aku menjawab pertanyaan Rhea, aku justru ikut menatap Zayn.
"Kalian mau sampai kapan diem dan natap tuh cowok?" Kara berujar pelan menegur kami yang sejak tadi masih terdiam menatap Zayn.
Aku yang langsung tersadar dengan teguran Kara bergegas masuk mobil, sedangkan Rhea yang masih terbuai dengan pikirannya sendiri tak menghiraukan teguran Kara. Sampai Kara menyeretnya untuk masuk mobil, baru ia tersadar.
"Aga! Lo apaan sih? Nggak usah nyeret kayak gini bisa kan?" Rhea berujar dengan nada marah yang sangat ketara. Tidak diragukan lagi, kini sahabatku itu sedang sangat kesal.
__ADS_1
"Salah lo sendiri, kenapa malah bengong natap tuh cowok." Kara berujar dengan nada tak kalah sewot, sepertinya dia juga kesal dengan kelakuan Rhea yang tidak jelas itu.
Aku hanya menatap kedua orang yang duduk di kursi depan dengan malas. Karena aku tahu, sangat tahu kalau sebentar lagi keduanya pasti adu mulut. Hah, sepertinya hariku tidak akan pernah tenang bila berurusan dengan Rhea.
Aku membiarkan kedua anak itu kembali beradu mulut dan berniat hanya menjadi penonton saja. Tapi entah kenapa, tiba-tiba aku teringat tentang Zayn. Aku merasa ada yang sesuatu yang janggal saat ia menatapku tadi. Dia menatapku penuh nafsu seolah-olah aku ini mangsa yang berharga dan harus ia dapatkan, tapi disaat yang bersamaan ada tatapan lembut di manik matanya walaupun samar.
"Apa yang sedang aku pikirkan, huh? Sejak kapan aku jadi sepeduli ini dengan orang lain." Aku seketika mengeleng-gelengkan kepalaku pelan merutuki kebodohanku yang tiba-tiba peduli dengan Zayn.
"Mei? Lo nggak mau turun? Ini udah sampai dari tadi lho." Kara menyadarkanku, menarik ku kembali ke realitas saat ini. Sepertinya aku terlalu lama melamun, bahkan Rhea yang tadinya sibuk dengan ponsel ikut menatapku heran.
"Kamu pasti ngelamun lagi ya Mei?" Rhea melirik ku malas dan mencibir. Begitulah dia, dengan mudahnya menunjukan rasa tidak sukanya tanpa berusaha menyamarkannya sedikitpun.
"Okay, thanks ya udah mau jemput." Aku langsung keluar dari mobil Kara dan bergegas melangkah memasuki halaman rumahku yang cukup luas.
***
Sejak hari itu aku jadi makin dekat dengan Zayn, bahkan sering menghabiskan waktu berdua di ruang musik. Sama seperti kali ini, aku dan Zayn masih saja betah berlama-lama di ruang musik, padahal latihan sudah selesai setengah jam yang lalu.
"Mei? Lo di marahin nggak kalau pulangnya agak telat?" Tiba-tiba Zayn bertanya padaku, entah apa maksud dari pertanyaannya itu.
"Em... nggak tahu." Aku berucap ragu sambil menatap Zayn.
"Gue mau ngajakin lo jalan, kira-kira lo mau nggak?" Zayn bertanya padaku dengan hati-hati.
Ah, sebenarnya aku penasaran bagaimana rasanya pergi berdua dengan seorang cowok, tapi hari ini aku sudah berjanji akan menginap dirumah Lyra bersama Rhea, mengganti waktu menginap minggu lalu yang tertunda. "Sorry, kayaknya nggak bisa, aku ada janji sama Lyra dan Rhea. Nggak enak kalau dibatalin."
"Okay, mungkin lain kali ya Mei. Gue duluan ya, lo hati-hati pulangnya." Zayn mengangguk paham dan bergegas melangkah menuju mobilnya.
__ADS_1
"Iya, kamu hati-hati juga pulangnya." Aku melambaikan tangan sambil terus menatap Zayn sampai cowok itu tak terlihat lagi.