Bianglala (Revisi)

Bianglala (Revisi)
13.3 [Mei] Sebuah Usaha


__ADS_3

Aku pikir setelah pulang bareng kemarin dan aku menepati janjiku, Kara tidak akan menggangguku lagi. Ternyata sama saja, dia tetap mendekatiku dan kadang juga memaksa menjemputku. Sebenarnya tidak masalah, karena memang biasanya seperti itu. Tapi untuk saat ini, aku ingin menjauh dari Kara.


Aku ingin fokus menyelesaikan masalahku dengan Rhea. Tapi sepertinya aku harus memastikan Kara tidak akan menimbulkan masalah lagi. Karena keberadaan Kara diantara aku dan Rhea saat ini malah justru memperumit keadaan.


"Mei, ayo. Telat ntar lo."


Aku buru-buru, masuk ke mobil sebelum Kara mengklaksonku sekali lagi.


"Lo ngelamunin apaan sih? Diklakson dua kali masih aja diem." Tanya Kara penasaran.


"Cuma lagi mikir tugas kuliah kok." Kilahku.


"Lo minggu ini lagi banyak banget tugas? Jangan lupa istirahat." Kara menepuk kepalaku pelan.


Jujur saja aku sedikit kaget dengan perlakuan Kara barusan. Walapun sebenarnya aku tahu, itu memang kebiasaan yang sering Kara lakukan. Tapi itu biasanya ketika bersama Rhea, bukan padaku.


Aku hanya mengangguk, menutupi rasa kagetku dan menurut dengan apa yang diucapkan Kara.


"Kara, nanti nggak usah jemput. Aku masih ada urusan sama Zayn. Mungkin pulang sama dia sekalian." Aku sedikit berbohong pada Kara agar dia tidak lagi menjemputku.


"Yaudah, nanti juga gue ada urusan sama anak komunitas." Sahut Kara menuruti permintaanku.



Hari ini aku datang lebih cepat dari jam mulai latihan, karena ingin bernyanyi dulu sepuasnya. Tapi sepertinya aku kalah cepat dengan Zayn. Karena aku lihat dia sudah berada di dalam ruangan dan sedang mengutak-atik gitarnya.



Dengan ragu-ragu aku masuk ke ruang musik, ikut bergabung bersama Zayn yang sudah di dalam sejak tadi.



"Eh, maaf. Aku nggak tahu kalau ternyata ada orang, aku kira cuma ada Zayn."



Aku sedikit terkejut ketika membuka pintu dan menemukan Rhea yang sedang berlatih gitar bersama Zayn.



"Nggakpapa kok, nggak ganggu. Masuk aja Mei."



Zayn mempersilakanku untuk masuk dan menonton latihan Rhea.



Aku hanya menonton Rhea dan Zayn yang sibuk dengan gitar. Sepertinya, Rhea sudah mulai bisa bermain gitar dengan lancar sesuai keinginannya.



"Wah, Rhea keren." Seruku antusias sambil tepuk tangan.



Tapi Rhea tetap diam dan menatapku tanpa minat. Jujur saja, ditatap seperti itu oleh Rhea membuatku sedikit gugup.

__ADS_1



"Udahan ya gue latihannya."



"Kenapa? Gue latihan musik masih lama, anak-anak masih kelas."



Aku bisa mendengar percakapan Rhea dan Zayn samar-samar. Sepertinya Rhea sedikit tidak nyaman karena keberadaanku.



"Nggakpapa, gue capek. Abis ini masih ada kelas juga gue."



Aku bisa melihat Rhea yang langsung keluar ruangan tanpa menengok ke arahku sedikitpun. Zayn mengikuti Rhea dan mereka masih berlanjut mengobrol di depan pintu, entah apa yang mereka bicarakan. Tapi samar-samar, aku seperti mendengar Rhea menyebut namaku.



"Mei, ayo latihan. Anak-anak udah pada dateng ini."



Aku sedikit tersentak ketika Zayn memanggil namaku, karena aku terlalu fokus melamun. Memikirkan Rhea dan sikapnya tadi.




"Masih kepikiran soal Rhea tadi?" Tanya Zayn seolah bisa membaca pikiranku.



"Iya. Rhea masih marah banget sama aku kayaknya. Aku pengen minta maaf dan baikan sama Rhea, tapi aku bingung gimana caranya karena Rhea sekarang jadi pendiem banget."



Aku menunduk sedih, masih teringat Rhea barusan, yang sama sekali tidak melihatku. Aku harus cepat-cepat mengajak Rhea berbaikan. Tapi aku tidak tahu harus berbuat apa. Karena Rhea tidak pernah meresponku dan hanya diam seribu bahasa.



"Tenang aja, tunggu dulu ya. Gue rasa Rhea masih butuh waktu sedikit lagi. Terdengar egois mungkin, tapi setiap orang membutuhkan waktu yang berbeda buat pulih." Ujar Zayn mencoba menenangkanku dengan kata-kata sok bijaknya. Jujur saja, aku kaget karena Zayn bisa berbicara seperti itu.



Selanjutnya kami berlatih hingga sore tiba. Kami menghabiskan sebagian waktu untuk berlatih hari ini. Setindaknya latihan kali ini bisa sedikit mengalihkan pikiranku tentang Rhea.



Tapi mau bagaimanapun usahaku, rasa bersalah ini tetap saja menganggu. Membuatku tak bisa fokus melakukan hal lain. Jujur saja, perasaan ini sangat menyebalkan. Bagaimana caranya untuk lepas dari perasaan bersalah ini?



"Gimana ya caranya biar bisa berbaikan sama Rhea? Aku capek lama-lama ngerasa bersalah terus menerus" Gumamku bingung sendiri.

__ADS_1



"Gue bantu Mei, tapi kayaknya lo harus kasih Rhea waktu. Gue rasa, Rhea juga masih berusaha memulihkan hatinya karena ulah Kara."



Aku mengangguk pasrah, karena aku benar-benar tidak tahu harus bagaimana. Sikap Rhea membingungkan, dia benar-benar tidak memberiku celah. Aku sama sekali tidak bisa menebak apa maksud Rhea setiap kali menatapku dalam diam.



"Ayo, lanjut latihan lagi. Sekarang seneng-senang ya kita. Santai aja."



Zayn mengajak kami untuk memulai kembali latihan. Tapi latihan kali ini, kami cukup bersenang-senang. Kami hanya memainkan lagu-lagu random sesuai mood.



Aku rasa, apapun aku lakukan saat ini sudah cukup. Benar kata Zayn, aku harus mmeberi waktu untuk Rhea. Mungkin memang Rhea membutuhkan waktu lebih lama dariku.



Aku dan Zayn baru keluar gedung sekitar pukul delapan malam. Iya kami keterusan berlatih dan juga bersenang-senang tadi. Aku sangat berterimakasih pada Zayn hari ini, dia sangat banyak membantuku. Dari mengurus latihan sampai menemaniku melamunkan Rhea.


"Ayo, pulang bareng gue."


Zayn menarik tanganku dan membantuku untuk menaiki motornya yang sangat tinggi. Sebenarnya aku benci harus menaiki motor seperti ini, tapi pengecualian untuk Zayn. Karena entah sejak kapan, aku menyukai naik motor seperti ini bila bersama pemiliknya, Zayn.


"Mei, lo pulang telat nggakpapa?" Seru Zayn sedikit berteriak karen kalah dengan suara angin.


"Iya, nggakpapa." Sahutku juga dengan suara keras agar Zayn mendengarnya.


Zayn langsung melajukan motornya dengan kecepatan yang sedikit bertambah. Kami menyusuri jalanan Bandung yang cukup longgar hari ini. Dingin memang, tapi ini menenangkan. Sepertinya keliling kota dimalam hari akan jadi hal favoritku setelah pasar malam. Tapi dengan catatan bila itu bersama Zayn. Karena entah sejak kapan, aku mulai nyaman bila bersama cowok itu.


Entah apa tujuan Zayn membawaku berkeliling menyusuri jalanan malam seperti ini. Tapi yang pasti, apa yang dilakukan Zayn sedikit menghiburku, membuatku melupakan apa yang sejak tadi menjadi beban pikiran. Kalau memang itu tujuan Zayn, dia berhasil.


"Makasih ya, udah anterin. Makasih juga karna sudah ajak aku keliling jalanan Bandung kayak tadi."


"You're welcome, gue seneng kalau lo suka."


"Udah ya Mei, cukup mikirin soal kemarin. Sekarang lo masuk rumah, bebersih terus tidur."


Selesai berucap sepeti itu, Zayn memegang pundakku dan membuatku berbaling membelakangi Zayn. Pelan, Zayn mendorongku untuk memasuki rumah dan dia juga bergegas pulang.


Seperti perintah Zayn sebelum pulang tadi, aku langsung bebersih dan bersiap untuk istirahat. Tapi sebelum itu, aku mencoba untuk mengirim chat pada Rhea. Menanyakan kabarnya dan memberitahukan untuk bertemu.


Me


Rhea, apakabar?


Kalau aku minta kita ketemu bisa nggak?


Aku pengen ngobrol sama kamu.


Aku mengirimkan pesan itu dan langsung meletakan ponselku di nakas. Aku tidak berharap pesanku akan di balas. Tapi setidaknya, aku ingin Rhea membaca pesanku itu.


...~~~~...

__ADS_1


__ADS_2