
Sejak kejadian di Kantin kemarin, Rhea menginap di rumah atas permintaan Kak Eza. Entah sejak kapan kedua orang ini menjadi akrab.
Bahkan pagi ini, sebelum berangkat kuliah gue menitipkan Kak Eza pada Rhea dan anehnya anak itu langsung mengiyakan tanpa protes. Padahal biasanya dia akan protes keras bila berkaitan dengan Kak Eza. Sedikit aneh memang, tapi gue senang dengan perubahan itu.
Gue lekas berangkat ke kampus setelah memastikan bahwa Rhea dan Kak Eza akan baik-baik saja ditinggal berdua di rumah. Bukan apa-apa, gue cuma takut akan ada perang dunia nantinya.
"Gih berangkat lo, udah ditungguin Kak Bryan itu. Dia kan juga harus ke kantor."
Rhea menyuruh gue untuk bergegas karena Kak Bryan sudah menunggu gue.
"Iya, iya, ini gue berangkat. Inget, kalau ada apa-apa langsung bilang Kak Eza atau telpon gue. Awas aja lo aneh-aneh kayak kemarin. Sama satu lagi, lo masih utang cerita sama gue. Akan gue tagih nanti pulang kuliah."
Sebelum benar-benar keluar rumah, gue kembali mengingatkan Rhea tentang janjinya untuk menceritakan semua hal yang berkaitan dengan masalah kemarin. Jujur saja, gue masih tidak menyangka kalau Mei dan Rhea menyimpan masalah serumit itu sendirian.
"Sorry, Kak. Tadi kasih tahu Rhea dulu."
Gue buru-buru masuk mobil Kak Bryan karena gue merasa sudah sedikit terlambat dan membuat Kak Bryan menunggu terlalu lama.
"Nggakpapa, saya nggak buru-buru kok." Sahut Kak Bryan sambil tetap fokus mengemudikan mobilnya diantara padatnya jalanan kota Bandung pagi ini.
"Kak, mau tanya deh. Menurut lo, salah nggak kalau gue minta Rhea atau Mei buat cerita soal masalah kemarin. Gue rasanya kayak orang asing yang nggak tahu apa-apa. Padahal gue sahabat mereka, tapi gue sedikit pun nggak tahu kalau mereka ada masalah." Sesal gue, merasa tidak berguna sebagai sahabat.
"Nggakpapa, tapi kamu nggak boleh maksa kalau mereka belum mau cerita. Dan satu lagi, kamu nggak salah, itu pilihan mereka buat nggak cerita ke kamu. Mungkin mereka nggak pengen kamu ikutan pusing mikirin masalah mereka." Tutur Kak Bryan sedikit menenangkan gue.
"Oh iya, Ra. Nanti kamu pulang sama Zayn ya, saya nggak bisa jemput. Harus beresin beberapa berkas dikantor karena Eza nggak bisa datang."
Gua hanya mengangguk pasrah, padahal sebenarnya gue masih ingin berlama-lama dengan Kak Bryan. Gue kangen jalan-jalan ke pasar malam lagi. Tapi, ternyata Kak Bryan sedang sibuk.
"Yaudah deh, tapi Zayn udah dikasih tahu kan Kak? Males banget soalnya kalau harus nunggu dia latihan Band."
"Udah, dia hari ini nggak ada latihan katanya."
"Okey deh, tapi besok gue mau pulang sama lo, Kak. Pengen ke pasar malem lagi." Pinta gue sebelum turun dari mobil.
Perkuliahan gue berlangsung lebih cepat dari dugaan gue. Karena ternyata hari ini cuma kuis dadakan. Untungnya gue sempat membaca materi kemarin malam walaupun hanya sekilas saja. Tapi setidaknya gue bisa mengerjakan kuis tanpa mengarang bebas seperti teman-teman gue yang lain.
Begitu kuliah berakhir, gue bergegas menuju gedung FISIP untuk menemui Zayn. Gue berniat mengintrogasinya, karena dia bersama Mei kemarin. Pasti dia memperoleh sedikit informasi dari cerita Mei.
"Zayn, ayo pulang. Gue males lama-lama di kampus. Soalnya kek anak ilang, sendirian mulu gue."
"Ntar dulu, gue mau beresin ruang musik bentar. Lo mending ikut gue aja, bantuin biar cepet kelar beberesnya." Pinta Zayn yang mau nggak mau gue turuti.
__ADS_1
Ternyata di ruang musik ada Mei yang sedang bernyanyi sendirian. Kebiasaan Mei bila pikirannya sedang tidak tenang.
Gue dan Zayn mengurungkan niat untuk masuk keruang musik dan memilih untuk menunggu di luar sampai Mei puas bernyanyi. Karena gue tahu, itu adalah bentuk distraksi yang paling sering dilakukan Mei ketika dia ada masalah.
Hampir satu jam sudah gue dan Zayn menunggu di luar ruangan. Akhirnya Mei selesai juga. Dia sedikit kaget melihat gue dan Zayn berada diluar ruangan.
"Kalian udah dari tadi?" Tanya Mei.
"Udah dari se-......."
"Baru aja kok Mei, lo abis latihan?"
Gue memotong ucapan Zayn, karena gue tahu Mei tidak suka ditonton ketika bernyanyi seperti tadi.
"Ah, kita mau beresin ruangan sebentar sama mau cek alat musik. Kan besok kita udah mulai latihan kayak biasa."
"Ah iya, aku bantu boleh?" Tawar Mei.
"Boleh kok, ini Lyra katanya juga mau bantu."
Kami berakhir merapikan ruangan bertiga, karena Mei menawarkan bantuan. Setelah semuanya rapi, gue mengajak Mei beristirahat sambil menunggu Zayn selesai mengecek semua alat musik.
"Lo baik-baik aja kan Mei? Maaf kalau gue nggak bentuin lo kemarin. Gue bingung."
__ADS_1
"Aku nggakpapa kok, cuma sedikit kaget aja. Sejujurnya daripada marah, aku malah merasa bersalah sama Rhea." Lirih Mei sambil menundukan kepala.
"Nggak usah merasa bersalah ya Mei, lo nggak salah. Lo cuma nggak sengaja kena imbasnya. Nggak ada yang salah disini. Kalaupun mau menyalahkan, ego sama gengsi kalian yang patut disalahkan."
Gue mencoba menenangkan Mei agar dia tidak merasa bersalah. Karena masalah kemarin bukan salah Mei. Tapi salah Kara yang plin plan dan tidak bisa memutuskan sesuatu dengan cepat.
"Ayo, pulang. Mei sekalian pulang bareng sama kita ya." Ajak Zayn yang sudah siap pulang.
Gue dan Mei lekas membereskan barang-barang kami dan mengekori Zayn yang sudah lebih dulu berjalan keluar gedung menuju parkiran.
Kami bertiga mampir ke pasar malam atas inisiatif Zayn yang berniat menghibur Mei. Gue hanya mengikuti tanpa protes, walaupun sebenarnya gue sangat kesal karena gue berasa menjadi obat nyamuk.
"Gue berasa obat nyamuk tahu, dari tadi ikutin lo yang gandeng tangan Mei kemana-mana. Sekarang gantian, gue yang gandengan sama Mei, lo ikutin kita dari belakang."
Gue mengambil alih tangan Mei yang digenggam Zayn dan meminta Zayn untuk berjalan di belakang kami.
Gue sangat menikmati hari ini, walaupun sedari tadi hanya menjadi obat nyamuk untuk Zayn dan Mei. Tapi setidaknya gue bisa mengistirhatkan pikiran dan menikmati suasana menarik di pasar malam.
"Thank you ya, gue menikmati hari ini. Walaupun gue jadi obat nyamuk."
Gue mengucapkan terimaksih karena Zayn sudah mengantarkan gue sampai rumah dengan selamat.
"Titip Mei, anterin Mei sampai rumahnya. Awas aja lo bawa Mei melipir kemana-mana." Ancam gue sebelum Zayn benar-benar pergi.
"Pulang sama siapa lo, Dek?"
"Sama Zayn, ada Mei juga tadi." Sahut gue sekenanya.
"Loh kok rumah sepi, Rhea kemana Kak?"
Gue baru menyadari kalau rumah sudah kembali sepi sekarang. Kemana perginya Rhea. Apa dia sudah pulang.
"Rhea udah pulang tadi sore. Lo sih, kelamaan pulangnya, Dek." Jawab Kak Eza.
Padahal dia masih utang cerita pada gue. Awas saja nanti kalau ketemu, pasti gue tagih ceritanya.
"Nggak usah maksa Rhea buat cerita, Dek. Dia pasti bakalan cerita dengan sendirinya kalau dia sudah siap."
__ADS_1
Gue mengangguk, mengiyakan ucapan Kak Eza. Kalau dipikir, benar juga yang diucapkan Kak Eza. Mungkin gue harus bersabar menunggu Rhea dan Mei, sampai mereka mau cerita dengan sendirinya.