Bianglala (Revisi)

Bianglala (Revisi)
16.3 [Mei] Pantai


__ADS_3

Masih pagi dan Lyra sudah heboh sendiri karena tidak menemukan Rhea dimanapun. Entah pergi kemana anak itu sepagi ini. Padahal biasanya bila menginap di rumah Lyra, dia paling malas untuk bangun pagi. Tapi hari ini dia malah menghilang entah kemana sejak pagi buta.


"Nggak usah panik, Rhea udah gede. Coba kita cek ke bawah atau sekalian tanya Kak Eza."


Aku berusaha menenangkan Lyra yang masih saja panik, padahal sebenarnya itu hal sia-sia. Toh, Rhea bukan anak kecil yang harus selalu diawasi.


Kami bergegas turun ke ruang tengah dan menemukan Kak Eza sedang duduk atau malah tertidur dengan  posisi duduk dikursi meja makan.


Lyra mendekati Kak Eza dan bertanya. Tapi ternyata percuma bertanya padanya, karena Kak Eza malah membuat kami semakin bingung dengan jawabannya.


Aku mencoba menenangkan Lyra yang terlihat semakin panik setelah mendengar jawaban kakaknya yang sangat membingungkan itu. Padahal sebenarnya tidak perlu khawatir segitunya karena Rhea pasti bisa menjaga dirinya sendiri.


"Nggak usah khawatir, Ra."



Setelah tadi pagi berpusing ria karena Rhea yang tiba-tiba menghilang di pagi buta. Akhirnya bisa tenang juga setelah mengetahui keberadaan Rhea. Ternyata dia pergi menemui Kara diam-diam bersama Kak Eza.



Kami lega dan sebal disaat bersamaan, karena Rhea bukan sengaja menghilang karena ada masalah atau yang lainnya. Tapi karena dia buru-buru mau meminta maaf dengan Kara. Kenapa harus sembunyi-sembunyi coba, padahal aku atau Lyra tidak akan melarang kalau dia memberitahu kami.



Masalah selesai, sekarang aku segera bersiap untuk segera pulang juga. Karena Zayn sudah dalam perjalanan untuk menjemputku. Iya, aku memiliki janji untuk pergi bersama Zayn.



"Ini beneran lo mau pulang sekarang? Kan biasanya gue anterin sore." Ujar Lyra setengah tidak rela aku pulang lebih cepat dari biasanya.



"Iya, Zayn udah jalan buat jemput. Dari semalem dia udah ribut soalnya."



"Yaudahdeh, titip salam buat Zayn. Bilang, kalau bawa motor yang bener, awas aja ngebut-ngebut." Ujar Lyra terlihat kesal sendiri.



Tak lama kemudian ada telepon masuk dari Zayn yang ternyata sudah berada di depan rumah Lyra.



Zayn❌ is calling....

__ADS_1



"Ayo, gue udah di depan ini."



"Sebentar, aku pamit sama Lyra dan Kak Eza dulu. Kamu nggak mau nyapa dosenmu dulu gitu."



"Nggak ah, buruan. Nanti kesorean kita."



"Tunggu,"



Aku langsung mematikan panggilan dan langsung berpamitan pada Lyra dan Kak Eza. Lyra langsung terlihat sebal ketika aku mulai menaiki motor gede Zayn.



Sepanjang perjalanan, kami hanya diam. Lebih tepatnya aku yang diam. Karena ingin menikmati pemandangan. Tapi Zayn tetaplah Zayn yang terus menerus mencoba mengajakku mengobrol. Padahal dia harus fokus mengemudikan motornya di tengah padatnya jalanan sore ini.




"Ini beneran nggakpapa, perjalanan ke sana sekitar 3 jam. Nanti pasti pulangnya malem."



Zayn bertanya lagi padaku, untuk meyakinkan dirinya bahwa aku memang benar-benar mau pergi bersamanya hari ini dan tidak masalah bila harus pulang malam.



"Iya, Zayn. Aku mau. Yang penting kamu tanggung jawab, nganter aku pulang dengan selamat sampai rumah." Sahutku menanggapi kekhawatiran Zayn.



Kami melanjutkan perjalanan menuju sebuah wilayah di Kabupaten Garut, katanya ada pantai bagus disana. Dan kami berniat mengunjunginya.



Jujur saja, aku belum pernah pergi sejauh ini. Apalagi memakai motor. Biasanya aku pergi selalu memakai mobil dan tidak sejauh ini. Tapi aku senang, karena pertama kali aku mencoba seperti itu bersama Zayn.

__ADS_1



Mungkin istilah, cinta datang karena terbiasa benar adanya. Karena rasanya, saat ini aku dibuat jatuh cinta berkali-kali oleh sosok lelaki tampan di depanku sekarang.



Entah pesona apa yang dia taburkan, hingga aku jatuh sebegitunya pada Zayn. Dia menarik dengan caranya sendiri, unik dan beda dari yang lain. Itu membuatku tertarik padanya sejak pertemuan pertama kami. Tapi, dasarnya Mei si pendiam, jadi Zayn harus ekstra ketika mendekatiku.



"Makasih ya, Zayn. Karena kamu tidak menyerah, tunggu sebentar lagi." Ucapku pelan, entah didengar oleh Zayn atau tidak.



Kami berhenti di rest area terdekat untuk beristirahat dan sekedar membeli minuman, setelah menempuh perjalanan kurang lebih dua jam.


"Capek nggak, Mei?" Tanya Zayn disela-sela istirahat kami.


"Harusnya aku nggak sih yang tanya kayak gitu ke kamu. Soalnya kamu yang bawa motor, aku kan tinggal duduk doang." Sahutku santai.


"Ya kan duduk kayak gitu pegel juga, Mei. Beneran nggak capek nih?" Tanya Zayn sekali lagi, memastikan.


"Benaran Zayn. Aku nggak capek, cuma ngantuk dikit." Ujarku meyakinkan Zayn agar dia percaya dan tidak mengkhawatirkan aku lagi.


Aku bukan sok kuat karena bilang nggak capek, tapi memang benar aku tidak terlalu capek sekarang. Rasa capek itu tergantikan karena pemandangan indah sepanjang perjalanan tadi. Hanya merasa pegal sedikit sih dan itu wajar menurutku. Justru aneh kalau perjalanan jauh dengan motor dan tidak merasa pegal.


Kami melanjutkan perjalanan lagi, setelah dirasa cukup istrahatnya. Karena perjalanan kami masih lumayan jauh. Masih sekitar satu setengah jam lagi lama perjalanan agar sampai di pantai yang di maksud Zayn.


Aku penasaran, apa nama pantai yang akan kami kunjungi. Tapi Zayn sengaja tidak memberitahukanku nama pantainya. Ingin rasanya aku membuka ponsel dan mencari di Internet. Tapi, akan berbahaya jika bermain ponsel ketika berkendara.


Pada akhirnya aku pasrah, toh nanti pasti akan tahu juga nama pantainya. Pasti dipintu masuk akan ada tulisan, selamat datang di pantai blabla. Jadi aku tidak perlu mencari diinternet, hanya saja aku harus bersabar.


Perjalanan kami akhirnya menuju akhir, dari kejauhan aku bisa mendengar suara deburan ombak dan mulai merasakan angin laut menerpa. Dari kejauhan terlihat gerbang pintu masuk yang menjulang tinggi dengan tulisan, selamat datang di Pantai Rancabuaya. Ah ternyata itu nama pantainya, unik namanya.


Zayn langsung mencari tempat parkir setelah kita membayar diloket dekat pintu masuk. Pembayarannya cukup murah, tapi aku tidak tahu berapa nominalnya. Karena Zayn tidak membiarkanku membayar semua itu.


Segera setelah Zayn mendapatkan tempat parkir dan memarkirkan motornya. Aku langsung berlari tanpa alas kaki menuju bibir pantai. Benar-benar indah dan lumayan sejuk juga karena matahari sudah mulai berada disisi barat.


Aku benar-benar menikmati hari ini, Zayn sangat tahu bagimana cara membuatku senang. Hal-hal unik yang tak pernah aku duga. Tapi selalu membekas menjadi kenangan berkesan diantara kami berdua.


"Mei, sini. Duduk sini aja, ini aku pesenin es kelapa." Seru Zayn sedikit berteriak memanggilku yang sedang berlari kecil di bibir pantai.


"Iya sebentar," aku berlari menuju tempat Zayn duduk dan ikut duduk juga disebelahnya.


Kami menikmati sore itu sambil duduk santai dan meminum es kelapa. Jujur saja, ini baru pertama kalinya dan sangat menyenangkan.

__ADS_1


Kami membicarakan banyak hal sambil menunggu matahari terbenam. Kata Zayn, sunset ditempat ini harus diabadikan. Karena itu adalah sunset yang dia nikmati bersamaku. Jadi tidak boleh dilewatkan. Hari ini kami membuat satu lagi kenangan manis berdua, aku harap akan ada lain kali untuk kami.


...~~~~~...


__ADS_2