
Pagi ini aku sengaja meminta tolong Lyra untuk menjemputku. Agar aku tidak perlu pergi dengan Kara. Sebenarnya sikapku seperti ini justru akan membuat Kara semakin gencar mendekatiku. Tapi mau bagaimana lagi, aku sedang tidak ingin bertemu dengannya.
Untungnya Lyra mau menjemputku, walaupun sempat protes karena terlalu pagi.
"Lo tuh ya, seneng banget bikin gue repot. Kuliah pagi aja baru di mulai jam 8 lho, ini lo jam 6 udah minta jemput.
"Maaf, soalnya aku mau kabur dari Kara."
"Dia ngapain lagi emangnya?" Tanya Lyra.
"Ngajakin sarapan bareng, tapi aku masih marah dengan Kara perihal kemarin. Aku rasanya masih merasa bersalah sama Rhea."
Aku menjelaskan alasanku meminta Lyra menjemput. Jujur saja, aku sangat enggan bertemu dengan Kara, sebelum dia meminta maaf dan berbaikan dengan Rhea.
Kampus masih sepi ketika aku dan Lyra tiba. Jelas saja, karena kami tiba di kampus pukul tujuh dan itu artinya masih satu jam lagi sampai perkuliahan dimulai.
"Tuh kan, Mei. Kita kecepetan berangkatnya, sama pak satpam aja pagian kita."
"Maaf, abisnya aku malas untuk bertemu dengan Kara. Jadi aku milih seperti ini. Lagi pula, malah bisa santai abis ini."
Aku lihat Lyra tidak lagi membantahku, sepertinya dia sudah capek berdebat denganku. Memang hanya Rhea yang selalu bisa mendebat ku.
Ngomong-ngomong soal Rhea, aku masih merasa bersalah padanya atas kejadian tempo hari. Aku tidak menyangka kalau Kara akan berucap seperti itu.
Usahaku untuk menghindari Kara tidak sia-sia. Seharian ini aku aman dari gangguan Kara. Tetapi malah di ganggu oleh Zayn dan Lyra. Huh, memang tidak akan pernah bisa tenang bila punya sahabat yang aktifnya kelewatan.
"Ra, kabar Rhea gimana ya?"
Aku memberanikan diri untuk menanyakan keadaan Rhea. Aku masih mengkhawatirkannya. Karena baru kemarin aku melihat Rhea sampai menangis seperti itu.
"Tenang aja, tuh anak udah baik-baik aja kok. Lo nggak usah khawatir. Tunggu aja, nanti pasti dia sendiri yang akan menghampiri lo." Sahut Lyra.
"Mei, abis ini kegiatan lo apa?" Lanjutnya.
"Gue kuliah satu matkul abis itu mungkin latihan band. Kenapa, Ra?"
"Kuliah gue kosong dong ternyata. Sekarang rasanya jadi sia-sia gue ke kampus." Sesal Lyra.
__ADS_1
"Kalau kamu mau pulang silahkan. Aku abis ini juga udah mulai kelas,"
Lyra hanya menggeleng pelan dan fokus pada ponselnya lagi. Sepertinya Lyra tidak terlalu mempermasalahkan jadwal kuliahnya yang tidak jelas.
Aku bergegas menuju kelas begitu jam menunjukan pukul 8 tepat. Karena kelas kali ini aku tidak boleh terlambat dan termasuk bagian matkul yang aku suka.
Aku membiarkan Lyra berdiam diri dikantin. Karena aku juga bingung sendiri harus bagaimana karena aku masih ada kuliah yang harus diselesaikan.
Kelasku hari ini lebih cepat selesai dari biasanya. Aku memanfaatkan waktu untuk ke perpustakaan, karena beberapa tugas ada yang belum aku kerjakan akibat pikiranku yang tidak tenang kemarin.
Jujur saja, kejadian kemarin sangat mengejutkan. Aku udak menyangka kalau akan terjadi keributan seperti itu.
Aku masih ingat, kalau itu adalah ulah Kara. Entah apa yang dia pikirkan sampai tega membuat keributan seperti itu.
"Gue cariin dari tadi ternyata malah ngumpet di perpustakaan."
Zayn dengan semangat mendatangiku. Huh, setelah ini tidak akan ada hari tanpa berbicara dan ngemil.
"Aku lagi nugas Zayn dan tolong nggak usah berisik dulu." Ujar Zayn dan langsung diam seperti permintaanku.
"Iya, iya, gue nggak akan berisik." Seru Zayn yang sepertinya menikmati waktu di perputakaan.
"Lo lama banget sih, Mei? Gue ngantuk." Rengek Zayn seperti bocah yang menginginkan permen.
Aku mengabaikan rengekan Zayn dan masih tetap fokus mengerjakan tugasku. Agar tugas ini segera selesai dan aku bisa menemani Zayn mengobrol.
Satu jam sudah berlalu. Akhirnya aku selesi mengerjakan semua tugas yang harus di kumpulkan. Dan berniat untuk mengajak Zayn pindah ke ruang musik.
Tapi segera aku urungkan niatku setelah malihat Zayn tertidur. Sepertinya dia bosan menungguku. Aku membiarkan Zayn tetap tertidur dan memilih untuk membaca buku sambil menunggu Zayn terbangun dengan sendirinya.
"Eungh... lo udah selesai Mei?" Ujar Zayn sedikit tidak jelas.
"Hah? Kamu bilang apa tadi?"
"Lo udah selesai? Kalau udah ayo pindah di ruang musik.
"Udah, ayo kalau mau ke ruang musik. Tapi kamu cuci muka dulu gih"
Sambil menunggu Zayn mencuci muka aku membereskan semua barang milik ku. Agar begitu Zayn selesai kami tinggal keluar perpustakaan.
Sesampainya di ruang musik, ternyata Kara sudah berdiam diri menunggu kami. Sepertinya dia sengaja menunggu disini karena pagi tadi tidak bertemu denganku. Semoga tidak ada keributan setelah ini.
__ADS_1
"Lo dari mana aja, Mei?" Todong Kara begitu dia melihatku diujung tangga.
"Kan kuliah pagi. Kenapa sih?"
"Lo kan udah janji mau nemenin gue sarapan. Lo lupa? Atau sengaja pura-pura lupa." Ujar Kara sambil berusaha untuk menggenggam jemariku.
Aku menepis tangannya dan tidak membiarkan Kara menyentuhku sedikitpun. Aku masih marah padanya, aku kecewa dengan sikap Kara.
"Lo lagi, bosen gue lihat lo."
"Seharusnya gue yang ngomong kayak gitu." Ujar Zayn sedikit terpancing.
"Whatever, gue kesini buat ketemu Mei bukan lo."
"Gue tunggu sampai lo beres latihan, setelah itu lo harus pulang sama gue."
Duh, gimana ya kabur dari Kara. Tapi kalau aku kabur lagi, Kara pasti akan terus mengejarku sampai dia mendapatkan keinginannya itu. Egois memang, tapi begitulah sifat Kara yang mulai terlihat saat ini.
Latihan musik dimulai, aku berusaha untuk fokus pada latihan dan tidak memperdulikan keberadaan Kara. Tiga puluh menit awal, aku bisa fokus dan tidak memperdulikan Kara.
Tapi ternyata pikiran negatifku lebih mendominasi. Aku memikirkan segala kemungkinan terburuk bila pulang bersama Kara.
Padahal sebenarnya, tujuan utamaku menjauh dari Kara agar Rhea tidak lagi salah paham padaku. Tapi Kara justru terus menerus mendekatiku dan bahkan sepertinya dia tidak perduli dengan Rhea.
Aku berakhir pulang dengan Kara. Dan seperti yang aku janjikan kemarin, aku menemani Kara makan. Seharusnya makan pagi tapi berhubung tadi pagi aku kabur maka diganti sekarang.
Tidak ada obrolan apapun diantara kami selama perjalanan pulang. Bahkan selama berada ditempat makan tadi juga tidak ada obrolan sama sekali. Kami berdua makan dalam diam.
Aku memang sengaja melakukan itu, karena aku enggan berbicara dengan Kara. Berharap setelah ini Kara menepati janjinya untuk tidak lagi mengangguku. Dan menghubungi ku hanya bila dia mempunyai urusan yang berkaitan denganku.
__ADS_1
Mungkin itu terdengar jahat, tapi lebih baik seperti itu saja. Daripada terjadi kesalahpahaman yang sama dan semakin membuatku menjauh dari kedua sahabatku.
...~~~~~...