Bianglala (Revisi)

Bianglala (Revisi)
18.1 [Rhea] Confes


__ADS_3

Seperti yang gue janjikan pada Lyra tadi pagi. Siang ini kebetulan Mei dan Zayn mengajak gue dan Lyra untuk makan siang bersama. Sedikit aneh memang, tiba-tiba Zayn mentraktir kami. Katanya, karena sedang bahagia.


"Kenapa pada lihatin gue. Kan yang janji mau cerita Rhea, bukan gue."


Begitu Aga berucap, tatapan mereka beralih pada gue. Benar-benar ya mereka itu, cepat sekali kalau masalah kayak gini.


"Awalnya tuh gue chat Aga, tapi sampai hari berikutnya tetep nggak dibales. Gue cerita sama Kak Eza, terus Kak Eza kasih saran buat ketemu langsung aja. Tadinya gue cuma iya-iya doang. Terus malemnya masih kepikiran, jadilah pagi buta gue gedor kamarnya Kak Eza minta dianterin ke rumah Aga." Papar gue menjelaskan peristiwa tempo hari ketika gue pergi dengan Kak Eza saat pagi buta.


"Jadi, lo bertamu ke rumah orang pagi buta,  Rhe?"


Gue mengangguk dan kembali fokus dengan aktivitas gue tadi.


"Untung lo bertamu dirumah Kara, jadi tetep bakalan di bukain pintu. Coba aja lo bertamu di rumah orang lain."


"Iya juga ya, untungnya."



Gue benar-benar merealisasikan ucapan gue di ruang musik beberapa hari yang lalu. Merealisasikan untuk jujur kepada Aga.



Sebenernya gue takut. Takut ditolak nantinya, akan tetapi kalau tidak diungkapkan sekarang, kapan lagi. Jadi dengan segala keberanian yang sudah gue kumpulkan, gue menghubungi Aga dan mengajaknya untuk bertemu di luar.



Gue mengajaknya bertemu di salah satu coffeshop di daerah Braga. Sejujurnya, agak rawan memilih tempat yang lumayan jauh dari rumah. Tapi mau bagaimana lagi, hanya itu tempat yang terpikirkan oleh gue.



Gue tiba di kafe dengan nuansa klasik yang mendominasi dekorasinya. Dengan segelas kopi yang sudah mulai mendingin, gue menunggu kedatangan Aga dengan sabar. Untungnya, tak lama kemudian Aga terlihat di seberang kafe.



Selama hampir satu jam setelah Aga tiba, gue hanya duduk diam tanpa berniat membuka percakapan. Rasanya gue sangat gugup sekarang dan ingin berlari sejauh mungkin dari tempat ini sekarang. Bisa-bisanya gue mengambil keputusan secepat ini untuk jujur pada Aga. Tapi gue nggak bisa mundur bukan? Jadi ayo selesaikan sekarang juga.



Dengan tekad dan keberanian yang susah payah gue kumpulkan. Gue memulai percakapan setelah sejak tadi hanya diam.



"Aga, gue boleh ngomong sesuatu?"



Atensi Aga sepenuhnya beralih pada gue, setelah sejak tadi jalanan di luar yang mengambil alih atensi Aga.

__ADS_1



"Mau ngomong apa, Rhe? Kayaknya penting banget sampai harus bicara di luar kayak gini."



Gue menelan ludah pelan, jujur saja keberanian yang sudah gue kumpulkan sejak tadi rasanya menguap begitu saja. Rasa ragu menghinggapi gue, membuat gue semakin gugup untuk berbicara.



"Aga, se-sebenernya gue suka sama lo. Nggak tahu sejak kapan, rasa suka gue bukan lagi untuk sahabat pada sahabatnya. Gue suka sama lo sebagai perempuan yang menyukai lelaki pujaannya."



Gue menjeda ungkapan isi hati gue, untuk melihat respon yang diberikan Aga dan juga untuk kembali mengumpulkan keberanian untuk melanjutkan perkataan gue tadi.



"Sejujurnya, gue sangat takut buat ungkapin itu semua sekarang. Takut kalau semua itu akan merusak persahabatan kita. Tapi gue bertekad, apapun yang akan terjadi nanti setelah ini, seenggaknya gue udah ungkapin apa yang gue rasakan untuk lo. Kalaupun nantinya lo akan menjauh, gue akan terima. Apapun jawaban lo nanti, itu urusan lo. Gue hanya mengungkapkan apa yang ada di hati gue selama ini."



Aga hanya diam setelah gue selesai bicara, sepertinya dia masih kaget karena gue tiba-tiba saja mengungkapkan perasaan terpendam gue.




Mungkin saja, kami bisa berakhir sebagai pasangan bila perasaan kami saling berbalas. Sayangnya itu hanya sebuah harapan saja, karena nyantanya perasaan gue tidak terbalas bahkan mungkin ditolak oleh Aga.



"Gue harap, lo nggak akan menghindari gue kayak kemarin. Maaf kalau gue bikin lo terjebak sama perasaan lo buat gue. Tapi gue berterimakasih sama lo, karena lo udah sayang sama gue sebegitunya."



Gue memaksakan untuk tersenyum, bagaimanapun gue tetap merasa sedih. Walaupun sejak awal tujuan gue hanya mengungkapkan dan tidak berharap apapun. Tapi tetap saja, rasanya menyakitkan tertolak seperti ini.



"Maaf Rhe, gue duluan. Maaf kalau gue sekali lagi bikin lo sakit. Tapi, apapun jawaban gue tadi, gue tetep sahabat lo dan lo boleh bersandar ke gue kapanpun." Ujar Aga sebelum benar-benar pergi dari coffeshop, meninggalkan gue sendirian.



Gue masih saja diam dalam posisi duduk sejak Aga pergi beberapa menit yang lalu. Gue masih belum berniat untuk pergi dari tempat ini. Rasanya masih tidak nyaman, gue bingung dengan perasaan gue sendiri sekarang.


__ADS_1


"Rhe, pulang yuk. Gue anterin,"



Gue mendongak setelah mendengar suara yang familiar di telinga gue. Ah, rupanya Lyra datang menjemput.



Tanpa aba-aba gue memeluk Lyra dan menangis disana. Rasa sedih, kecewa dan sesak berlomba-lomba menyeruak keluar, membuat gue semakin menangis tersedu.



"Ssstt, yuk pulang sama gue. Lo boleh nangis sepuasnya setelah ini, sampai lo lega. Tapi untuk sekarang udahan dulu nangisnya dan kita pulang. Kak Eza udah nungguin." Bujuk Lyra karena gue masih saja memeluknya dengan erat.



Gue mengangguk lemah dalam pelukan Lyra dan segera menghapus jejak air mata di wajah gue. Agar setidaknya gue tidak terlalu menyedihkan.



Kami berjalan beriringan keluar kafe menuju mobil Kak Eza yang ternyata sudah menunggu di seberang jalan. Ah, itu mobil yang terparkir sejak gue mulai berbicara dengan Aga tadi. Ternyata Lyra dan Kak Eza memang sengaja mengikuti gue sejak awal.



Kak Eza membawa gue ke rumahnya, dia sengaja melakukan itu atas permintaan Lyra atau lebih tepatnya permintaan gue. Tetapi gue sampaikan lewat Lyra.


Kedua kakak beradik itu membiarkan gue menangis dikamar Lyra sepuasnya. Iya, gue menangisi diri gue dan perasaan gue yang tak terbalaskan. Agak berlebihan mungkin, hanya seperti itu tapi menangisnya seolah gue habis kehilangan sesuatu yang sangat berharga.


Tapi gue memang sudah kehilangan sahabat gue, karena setelah kejadian ini. Gue yakin, hubungan kami tidak akan sama lagi, akan ada rasa canggung diantara kami. Dan rasanya, Aga akan semakin jauh dan susah untuk didekati seperti dulu.


Terdengar pintu diketuk ketika gue sedang melamunkan kejadian tadi di kafe. Rasanya gue menyesal sudah mengungkapkan perasaan gue. Mungkin memang lebih baik gue menyimpan rapi perasaan gue ini. Tapi sudah terlanjur, gue harus menerima apapun yang akan terjadi setelah ini.


"Masih sedih Rhe? Ayo, temenin gue keluar buat cari camilan. Lyra lagi telponan sama Bryan soalnya, nggak enak mau ganggu."


Gue sedikit tersentak, tidak menyangka kalau yang datang ke kamar ternyata Kak Eza, bukan Lyra. Cepat-cepat gue menghapus jejak air mata yang masih ada di pipi dan memperbaiki posisi duduk gue.


"Gimana Kak?" Sahut gue setelah bisa menetralkan perasaan gue.


"Temenin gue keluar, daripada kamu bengong disini." Ujar Kak Eza sedikit menyebalkan, karena dia terlalu jujur.


Gue mengangguk kecil dan langsung mengambil tas selempang yang gue taruh sembarangan di kasur Lyra.


"Ayo, Kak." Gue berjalan lebih dulu menuju mobil Kak Eza.


Malam ini, gue berakhir jalan-jalan berdua dengan Kak Eza. Seenggaknya dengan begini gue bisa sedikit melupakan kesedihan gue karena ditolak oleh Aga.


__ADS_1


__ADS_2