Bianglala (Revisi)

Bianglala (Revisi)
10.1 [Rhea] Pengalihan


__ADS_3

Project Rumah Baca sudah selesai, itu artinya gue terbebas dari Kak Eza dan segala hal yang merepotkan. Bahkan gue juga terbebas dari Aga.


Seperti kali ini, gue sengaja meminta Lyra menjemput karena kebetulan dia juga ada jadwal kuliah pagi.


"Lo tuh ya, seneng banget repotin gue. Padahal ada mobil sendiri juga, tapi tetep aja minta jemput. Untung gue juga kuliah pagi."


Gue baru masuk mobil dan langsung disambut dengan omelan Lyra yang sangat panjang. Sejak lebih sering bersama Kak Bryan, Lyra jadi hobi mengomel sekarang.


"Justru karena lo ada kuliah pagi juga makanya minta jemput. Lagi pula selama ini gue nggak pernah bawa mobil, jadi males kalau mau bawa tuh."


"Ah, lo hobinya emang ngerepotin. Buruan pakai seatbelt. Gue nggak mau ditilang cuma gara-gara lo nggak pakai seatbelt."


Gue menurut, dengan cekatan gue memakai seatbelt dan duduk manis di samping Lyra yang fokus mengemudi.


"Rhe, lo lagi ada masalah sama Kara?" Tanya Lyra tiba-tiba.


"Hah? Gue sama Aga biasa aja tuh. Lagi males doang gue sama dia. Bosen seminggu kemarin ketemunya dia mulu." Jawab gue asal. Padahal gue justru lebih sering bertemu dengan Kak Eza dan nyaris tidak pernah bertemu dengan Aga karena gue memang sengaja menghindarinya.


Gue memang sengaja tidak menceritakan yang sebenarnya pada Lyra. Gue nggak mau Lyra menjadi canggung dengan Mei nantinya. Toh ini juga salah gue sendiri yang lebih memilih mengikuti emosi dan ego tanpa mempertimbangkan akibatnya.


"Yakin? Soalnya gue lihat lo sama Kara tuh agak beda, sama Mei juga. Kayak lo kalau ketemu mereka jadi lebih diem dan berusaha buat menghindar." Ujar Lyra mengutarakan pendapatnya.


"Capek gue tuh, dipekerjakan 24/7 sama kakak lo." Keluh gue berusaha mengalihkan pembicaraan.


"Lah malah ngeluh lo, gih protes sama Kak Eza, jangan protes ke gue."


"Iya deh iya, siniin ponsel lo. Mau cari lagu gue. Hening banget ini mobil."


Gue mengambil ponsel Lyra yang tergeletak di dasbor dan mengutak-atiknya untuk mencari lagu.


"Kenapa lagunya kayak gini semua?" Protes gue ketika membuka ponsel Lyra.


"Ya tolong, selera kita beda ya. Mending lo buka youtube aja." Sahut Lyra sambil tetap fokus pada jalanan di depannya.


Tak terasa kami sudah sampai kampus dan tiba di kampus tepat waktu. Atau mungkin malah terlalu cepat. Karena kampus terlihat masih sepi.


"Ini kita kepagian apa gimana deh, sepi amat ini kampus?" Ujar Lyra heran sekaligus takjub.


"Kayak nggak tahu anak kampus kita, palingan banyak yang bolos kelas pagi."


Gue berjalan cepat menuju kantin FIB. Seperti biasa, sebelum masuk kelas gue akan membeli susu UHT di kantin. Begitu juga dengan Lyra, dia juga membeli softdrink. Padahal masih pagi tapi dia malah membeli minuman seperti itu.


"Lo tuh ya, masih pagi tapi udah minum soda." Omel gue, karena kebiasaan Lyra satu itu susah untuk dihilangkan.


"Seger tahu, Rhe." Sahut Lyra sambil meneguk sodanya.


"Terserah lo deh, gue duluan. Mau melipir ke perpustakaan dulu."


Gue buru-buru beranjak begitu melihat kelebat Mei, yang berjalan pelan menuju kantin.


"Buru-buru amat sih, masih tiga puluh menit lagi."


Lyra mencoba menahan gue, tapi gue tetap berjalan menjauh dari kantin dan tidak memperdulikan ucapan Lyra. Karena gue masih tidak ingin bertemu Mei atau Kara.



Pergi ke perpustakaan bukan sepenuhnya alasan gue untuk menghindari Mei, tapi tujuan gue ke perpustakaan karena memang harus meminjam buku untuk mengerjakan tugas yang minggu lalu yang belum gue selesaikan.



Gue mengitari beberapa rak buku untuk mencari judul buku yang gue butuhkan saat ini. Bahkan, rak-rak novel yang biasanya menjadi rak favorit, gue lewati begitu saja.



"Cari buku apa sih lo, gue lihat dari tadi muterin rak mulu."


__ADS_1


Gue tersentak, ketika ada suara familiar yang menginterupsi kegiatan gue.



"Ngapain anak HI nyasar sampai di perpustakaan FIB?" Tanya gue heran, karena Zayn berada di tempat yang sama dengan gue.



"Disuruh nyari buku sama Pak Eza, katanya cuma ada di perpustakaan FIB." Ujar Zayn.



"Terus udah ketemu belum bukunya?"



Zayn mengangkat buku yang sejak tadi dipegangnya untuk di tunjukkan sama gue.



"Lah itu udah dapet, terus ngapain masih disini?"



"Gue sekalian ngerjain tugasnya. Ini lagi break bentar." Zayn menjukkan lembara rugas yang gue lihat baru aaja sesai setengah.



"Selamat ngerjain tugas kalau gitu. Gue mau kelas dulu." Gue bergegas melangkah keluar perpustakaan.



Gue kembali ke peperputakaan begitu kelas selesai dan ternyata Zayn masih berada ditempatnya sejak awal pertemuan tadi.


"Masih sini dari tadi pagi?"


Zayn hanya mengangguk pasrah mengiyakan gurauan gue.


Zayn menunjuk gitranya yang dia letakan didekat tempat duduk.


"Diperpus main gitar, kena amuk penjaga gue. Lagian gue juga nggak bisa sih."


"Ya dibawa keluar gitarnya, kok bego sih lo. Siapa juga yang nyuruh lo main disini."


Gue reflek memukul pundak Zayn setelah mendegar ucapannya baru saja.


"Sakit Rhe! Lo tuh, bar bar banget sih. Diem, abis ini gue ajarin main gitar."


"Okey. Ayo ajari gue main gitar, setelah lo beres nugas. Kemarin cuma sempat belajar sebentar sama Kak Eza."


"Iya, diem dulu makanya." Ujar Zayn masih fokus dengan tugasnya tadi.


Gue mengangguk patuh seperti anak kecil yang dijanjikan akan dibelikan mainan.


Zayn menggeleng pelan melihat tingkah gue yang sangat kekanakan dan langsung kembali fokus dengan tugasnya.




Seminggu sudah berlalu dan gue masih berkutat dengan latihan gitar bersama Zayn. Sejak bertemu di perpustakaan minggu lalu, gue jadi semakin sering bertemu dengan Zayn. Gue bertemu dengannya karena ingin belajar gitar dan juga sebagai pengalihan.



"Kenapa lo jadi semangat ngapel ke fakutas gue?" Tanya Zayn heran, karena ini sudah ketiga kalinya gue menemui Zayn ke fakultasnya.


__ADS_1


"Nggakpapa, abis ini gue free. Jadi biar enak aja latihannya."



Gue duduk manis di sebelah Zayn. Gue mulai memainkan gitar dengan petikan asal. Sambil menunggu Zayn yang masih mencatat.



"Kenapa nggak lanjut belajar sama Kak Eza aja, tinggal melipir ke kantor dosen ini."



Gue menggeleng ribut, bisa bahaya kalau Kak Eza tahu aku berada di sini. Karena sejujurnya belajar gitar hanya alasan agar gue bisa menjauh dari Aga dan Mei.



Bagi yang baru tahu kalau kami dekat mungkin akan mengira gue dan Zayn berpacaran. Karena seminggu terakhir ini kami kemanapun berdua, dan gue beberapa kali juga mendatangi Zayn ke fakultasnya.



"Lo berdua pacaran apa gimana?"



Kan benar apa yang gue bilang, salah satu teman kelas Zayn mengira kami pacaran.



"Yang bener aja, masa gue pacaran sama dia. Mending sama Mei lah." Sahut Zayn semangat.



"Gue juga males sama lo." Tukas gue sambil meletakan kembali


Gitar yang sejak tadi gue pangku.



"Kita ke cafe seberang aja yuk, biar lebih leluasa latihannya. Disini rusuh banget."



Zayn mengajak gue untuk berpindah di cafe seberang kampus. Agar bisa berlatih dengan leluasa.



Memang benar, tempat ini sungguh nyaman. Ruangannya bersih dan rapi, selain itu disini juga tidak terlalu ramai dan juga tidak terlalu sepi.



"Biasa aja lihat interior cafenya, kayak nggak pernah lihat."



"Bagus interiornya. Nyaman juga disini tuh, gue lembur sampai nanti malam pub betah kalau nugasnya disini." Sahut gue antusias.



Gue tidak melebih-lebihkan ketika memuji interior cafe ini. Memang benar interior cafe ini sangat menarik dengan sulur-sulur tanaman menghiasi beberapa bagian di sudut cafe.



Gue menikmati hari ini bersama Zayn, bahkan sampai lupa kalau sebenarnya gue sedang dalam misi menghindari Aga. Entah sampai kapan gue akan seperti ini. Tapi semoga gue bisa lebih cepat menurunkan ego.



"Untuk saat ini, cukup seperti ini dulu. Sisanya lihat nanti akan bagimana akhirnya." Ujar gue dalam hati sambil tersenyum tipis.

__ADS_1



...~~~~~~~~...


__ADS_2