Bianglala (Revisi)

Bianglala (Revisi)
11.1 [Rhea] Amarah


__ADS_3

Gue masih saja menghindari Aga dan Mei. Padahal kalau dipikir lagi, Mei sebenarnya tidak salah apapun. Tapi entah kenapa gue enggan untuk sekedar bertegur sapa dengannya.


"Mau sampai kapan lo kayak gini?" Tanya Zayn heran dengan sikap gue yang terlalu egois.


Gue menggeleng pasrah, sejujurnya gue tidak tahu sampai kapan akan seperti ini.


"Seharusnya lo nggak memusuhi Mei juga, dia nggak tahu apa-apa soal masalah lo sama Kara, tapi dia ikut menanggung kemarahan lo." Tutur Zayn bijak.


"Gue ngomong kayak gini bukan berarti gue belain Mei. Tapi menurut gue, sikap lo itu sedikit keterlaluan." Lanjutnya.


"Iya, iya, gue tahu. Gue juga nggak pengen diemin Mei kayak gini. Tapi tuh setiap kali ketemu Mei, gue selalu keinget gimana Aga marahin gue dan gue nggak suka itu."


"Tapi bukan berarti lo terus-terusan menghindar kayak gini. Masalahnya nggak akan selesai kalau lo gini terus" tutur Zayn mensehati.


"Iya, iya, gue tahu. Bawel amat sih lo. Udah ah, mending lo ngajarin gue main gitar daripada sok bijak kayak tadi. Nggak cocok."


Gue memprotes Zayn yang terus saja menceramahi gue.


Tanpa Zayn menasehati seperti itu, gue sudah paham harus bagaimana. Hanya saja, ego gue terlalu tinggi. Gue masih merasa Aga yang seharusnya minta maaf, bukan gue.


"Yaudah gih coba lo main. Ntar gue yang benerin kalau masih ada yang salah."


Gue lekas memetik gitar dengan pelan karena gue masih belajar dan belum menguasai semua kunci gitar. Untungnya Zayn cukup sabar mengajari gue.


"Udah lumayan sih lo mainnya, tapi kayaknya lo perlu hafalin letak kunci gitar sih. Biar nggak kagok pas main." Zayn memberi gue masukan. Ternyata dia lumayan juga dalam mengajari orang lain.


"Iya, kalau pas ada waktu gue hafalin itu letak kunci gitar. Susah sih, karena gue nggak ada gitar. Jadinya nggak bisa coba sendiri."


"Bawa balik gitar gue gih, tapi jangan sampai lecet. Kalau sampai lecet, lo harus benerin." Ujar Zayn menawari tetapi juga sekaligus mengancam.


Gue menggeleng cepat, menolak tawaran Zayn. Bukan apa-apa, kalau sampai gitarnya lecet, gue juga yang akan kerepotan.


"Gue lihat-lihat, lo berdua sekarang sering banget bareng ya."


Mendengar suara yang familiar, kami berdua otomatis menegok ke arah suara secara bersamaan. Rupanya Lyra datang menghampiri kami.


"Gue privat gitar sama Zayn. Gara-gara coba gitar Kakak lo waktu itu, gue jadi pengen belajar." Sahut gue.


"Kenapa nggak minta diajarin Kak Eza sekalian kemarin? Kan sekarang pasti lo udah bisa."


"Gue? Belajar sama Kak Eza? Yang bener aja."


"Kayaknya bukan latihan gitar tapi malah latihan berdebat nanti." Imbuh Zayn.


Gue mengangguk membenarkan ucapan Zayn.


"Iya juga sih, kan Kak Eza sama Rhea tuh kayak kucing sama tikus." Tambah Lyra yang sepertinya baru menyadari.


"Iya, nggak bisa akur "


Kami bertiga, mengobrol santai membahas banyak hal. Dari hal yang penting sampai tidak penting.




Gue semakin sering bersama Zayn atau Lyra. Bahkan sepertinya gue tidak perlu menghindari Aga atau Mei sebenarnya, seperti kata Zayn tadi pagi.


__ADS_1


Dan disinilah gue sekarang, duduk sendirian di Kantin tanpa Zayn ataupun Lyra. Jadi, gue tidak akan bisa kabur sewaktu-waktu bila tanpa sengaja bertemu dengan Mei atau Aga.


Sebenarnya gue nggak masalah bertemu Mei, hanya saja gue belum bisa kalau harus bertemu Aga.



Tepat seperti dugaan gue, pada akhirnya gue bertemu dengan mereka. Rasanya gue mau lari saja dari kantin melihat Mei dan Aga berjalan menghampiri gue. Tapi nasi sudah menjadi bubur,  mau tidak mau gue harus menghadapinya.



"Hai, Rhea. Kamu apakabar? Lama banget kita nggak ketemu, kayaknya kamu sibuk ya?" Mei langsung menyapa gue dengan senang.



Gue memaksakan senyum dan berusaha mati-matian untuk menahan emosi gue yang tiba-tiba datang ketika tanpa sengaja bersitatap dengan Aga. Entah kenapa tatapan datarnya memancing emosi gue.



"Lo apakabar, Rhea? Udah capek lari? Makanya sekarang diam aja waktu kita samperin." Cibir Aga entah dengan tujuan apa.



Gue tetap bungkam, tapi tatapan gue menjelaskan bagaimana emosi gue ketika Aga berucap seperti itu.



"Kara, udah. Kita kesini tuh buat ketemu Rhea. Nggak usah bikin ketibutan kamu."



"Buat apa, dianya aja sengaja lari terus. Percuma, lagi pula terlalu kekanakan. Hanya karena masalah sepele aja sampai kayak gini."




Meledak sudah amarah gue dan Aga di kantin. Kami berdebat tanpa memperdulikan sekitar, tanpa peduli kalau nantinya akan menjadi tontonan.



"Gue pengecut? Lo itu nggak tahu diri. Setiap hari gue antar jemput, tapi cuma karena sekali gue nggak jemput lo dan malah jemput Mei. Lo langsung marah-marah nggak jelas dan diemin kita berdua. Lo terlalu kekanakan, bahkan Mei ikut lo diemin, padahal dia nggak salah." Cecar Aga tanpa jeda memojokkan gue.



"Iya, gue kekanakan. Gue egois emang, gue nggak suka lo lebih perhatian ke Mei daripada gue. Gue nggak suka Mei rebut lo dari gue. Gue cemburu Aga, g-gu..." Suara gue melirih diakhir kalimat dan meghilang begitu saja digantikan dengan tangis yang sudah sejak tadi gue tahan.



Gue menumpahkan semua yang menjadi kemelut pikiran gue selama seminggu terakhir ini. Tapi gue nggak sanggup jujur dengan perasaan gue sendiri untuk Aga.



Gue membiakan Aga dan Mei melihat rapuhnya gue saat ini. Melihat gue menangis hanya karena merasa egois karena keinginan kecil gue.



"Kalian semua silahkan bubar."


__ADS_1


"Cepetan bubar, pergi gih. Nggak denger perintah Pak Eza."



Perlahan-laran, kerumunan yang sejak tadi menonton kami berkurang. Sampai ketika Kak Eza berdiri di samping gue, kerumunan penonton tadi sudah hilang sepenuhnya.



"Kamu ikut saya."



Kak Eza mengenggam jemari gue dan membawa gue menjauh dari tempat itu. Membiarkan gue menangis di dalam mobilnya.



"Nangis aja, kalau emang abis itu bisa bikin kamu lega. Tapi setelah itu, tolong jangan nangis lagi. Saya nggak suka." Ujar Kak Eza sambil mengasurkan sekotak tissu di pangkuan gue.



Gue nggak tahu sudah berapa banyak waktu yang terlewat. Tapi selama waktu itu, gue tahu Kak Eza menunggu di samping gue.



"Makasih Kak, maaf malah jadi ngerepotin." Cicit gue masih merasa bersalah.



"Kenapa minta maaf, kamu nggak ada salah sama saya. Kalau mau minta maaf, mungkin sama adik saya dan sahabat kamu itu." Tutur Kak Eza menenangkan.



Ah, gue jadi teringat Mei. Bagaimana ya dia sekarang. Seharusnya gue minta maaf sama Mei, bukan malah meladeni Aga yang emosi dengan emosi juga.



"Mei, aman. Tadi dia di bawa pergi sama Zayn. Kalau Kara, saya nggak tahu. Saya hanya fokus sama kamu tadi."



Kak Eza menjelaskan tanpa gue minta, seolah-olah dia bisa membaca pikiran gue.



"Sekarang saya antar kamu pulang ya, biar kamu bisa istirahat."



Gue menggeleng pelan, jujur saja untuk saat ini gue tidak berniat untuk pulang. Karena bila gue pulang, itu sama saja akan melanjutan perdebatan ronde kedua dengan Aga dan gue nggak mau.



"Yaudah, kamu ikut saya. Tapi setelah ini tanggung jawab sendiri ya."



Gue mengangguk pelan, walaupun sebenarnya gue tidak terlalu paham apa maksud ucapan Kak Eza.


__ADS_1


...~~~~~~~...


__ADS_2