
Diskusi lagi, diskusi lagi, bisa nggak sih kalau gue nggak ikut. Lama-lama bosan bertemu dengan Aga, Kak Eza dan Kak Bryan lagi dan lagi. Tapi kalau tidak seperti ini, project yang sedang kami jalankan tidak akan selesai.
"Rhea fokus, dari tadi kamu menguap terus. Lebih baik cuci muka kamu." Kak Eza menegur gue untuk yang kedua kalinya dan sepertinya dia benar-benar sudah kesal. Tapi mau bagaimana lagi, gue benar-benar mengantuk sekarang.
Dengan langkah gontai gue berjalan pelan menuju wastafel untuk mencuci muka. Sepertinya gue butuh kopi, kalau masih seperti ini bisa-bisa gue tertidur selama diskusi dan berakhir dimarahi Kak Eza lagi.
Diskusi sepertinya masih akan berlangsung cukup lama. Gue harus segera mencari kopi kalau mau bertahan sampai akhir diskusi tanpa tertidur.
"Aga, gue keluar beli kopi boleh nggak sih?" Gue berbisik pada Aga yang kebetulan duduk di sebelah gue.
"Lo diem disini, biar gue yang keluar beli. Kalau lo yang ijin keluar yang ada malah kena marah Kak Eza lagi." Aga langsung beranjak dari duduknya dan keluar ruangan.
Suasana menjadi canggung begitu Aga keluar, karena diruangan hanya tinggal gue dan Kak Eza, sedangkan Kak Bryan ijin keluar sejak tadi dan belum kembali lagi. Sebenarnya gue curiga, kalau Kak Bryan malah pergi bersama Lyra yang tadi menyusul gue kesini.
"Lo masih ngantuk? Maaf soal semalem, bikin lo harus begadang ngurusin proposal. Lain kali lo harus lebih teliti lagi biar yang kayak gini terulang." Ujar Kak Eza berbicara informal, gue baru sadar sepertinya bila tidak sedang diskusi atau rapat Kak Eza tidak akan menggunakan bahasa formal, terutama ketika kami hanya berdua saja.
"Nggak apa-apa kok, nanti juga hilang sendiri ngantuknya." Sahut gue pelan.
"Dan soal proposal, gue udah bener ngerjainnya. Itu ulah Aga yang terakhir save filenya."
Setelah itu kami berdua hanya diam, tidak ada suara apapun di ruangan ini dan membuat suasana semakin canggung. Gue hanya menundukkan kepala sambil menahan kantuk yang terus menerus datang. Aga yang keluar membeli kopi bahkan belum juga kembali, padahal gue sudah sangat mengantuk.
Tigapuluh menit sudah berlalu, akhirnya Aga kembali dengan membawa empat cup minuman yang gue yakini itu kopi. Dibelakangnya ternyata ada Kak Bryan yang sepertinya baru kembali dari mengantar Lyra, karena tadi Lyra sempat mengabari gue.
"Nih khusus buat lo," Aga menyodorkan salah satu cup yang sedikit berbeda dari cup lain kepada gue dan dengan cepat gue menyesapnya, berharap kopi ini bisa mengusir kantuk gue.
"Oke, kita lanjut lagi. Soal proposal udah fix ya. Nanti tinggal Aga sama Bryan yang urus. Sisanya serahin anak komunitas aja buat nyari proposal. Buat Rhea, kamu tolong cari-cari buku, boleh bekas, boleh yang baru atau mau buka donasi juga bisa. Untuk sekarang itu dulu, nanti sisanya saya yang urus." Ujar Kak Eza memberi penjelasan sekaligus pembagian tugas.
"Gue sendirian Kak?" Tanya gue karena hanya nama gue saja yang disebut. Yang benar saja kalau hanya gue yang bertanggungjawab masalah buku-buku itu.
"Kamu yang bertanggungjawab, nanti saya dan yang lain akan bantu." Ujar Kak Eza sedikit membuat gue tenang, karena akan repot bila hanya gue yang bekerja.
Begitu pembagian tugas selesai, Kak Eza menutup rapat dan menbiarkan kami untuk pulag. Tapi gue terlalu malas untuk beranjak dari tempat duduk dan memilih menelungkupkan kepala di meja. Memejamkan mata sebentar saja sebelum pulang.
__ADS_1
"Bang, kayaknya gue sama Bang Bryan mau ngurus soal proposal ini mumpung masih sore dan kebetulan anak-anak lagi pada kumpul." Usul Aga yang masih bisa didengar gue walaupun samar-samar, karena setelah itu gue nggak mendengar suara apapun lagi.
"Udah cukup tidurnya? Sekarang pulang sama gue, udah mau malam juga ini." Pinta Kak Eza begitu gue membuka mata. Ah, gue tak sengaja tertidur rupanya.
Gue mengernyitkan dahi dan alis sambil berpikir keras, karena jujur saja setelah bangun tidur seperti ini otak gue nggak bisa di ajak berpikir cepat. "Bentar Kak, gue beresin buku-buku gue dulu. Sama mau cuci muka." Sahut gue setelah bisa mencerna ucapan Kak Eza tadi.
"Udah gue beresin, yuk balik. Nanti sekalian cuci muka sambil keluar." Ajak Kak Eza reflek menarik tangan gue agar segera keluar ruangan.
"Kak, tangannya bisa di lepas dulu nggak? Mau cuci muka." Pinta gue sedikit canggung.
Sepanjang perjalanan kami hanya saling diam, jujur saja gue sendiri masih merasa canggung perkara gandengan tangan tadi. Mungkin juga dengan Kak Eza, karena sedari tadi dia fokus menyetir dan tidak bersuara sedikitpun.
"Mampir makan dulu ya Rhea, lo tadi cuma minum kopi." Akhirnya Kak Eza berbicara juga setelah sejak tadi hanya diam dan fokus menyetir. "Drive thru McD aja ya." Lanjutnya sambil membelokan mobil ke arah McD.
Dia langsung memesan dua paket cheeseburger dengan tambahan satu mcflurry oreo. Tanpa menunggu terlalu, lama pesanan kami sudah jadi. Kak Eza sengaja tidak keluar dari area McD agar kami bisa menikmati makanan yang baru saja di pesan.
__ADS_1
"Mcflurry-nya buat lo, gue tahu lo suka sama ice cream. Sama kayak Lyra." Kata Kak Eza sambil menyodorkan ice cream itu ke gue setelah kami berdua menghabiskan burger masing-masing.
"Kita sambil jalan ya, ini Kara udah chat mulu nanyain lo." Kak Eza kembali melajukan mobilnya membelah jalanan malam yang untungnya tidak terlalu padat.
"Biarin aja Kak, salah sendiri gue ditinggalin."
"Bukan Kara yang ninggalin, gue yang larang dia bangunin lo. Soalnya lo tidur nyenyak banget, kasian kalau di bangunin." Jelas Kak Eza yang membuat gue sedikit kaget.
"Eh, makasih kak. Sorry, gue jadi bikin lo pulang malem kayak gini." Gue merasa bersalah karena sangat merepotkan Kak Eza hari ini.
"Anyaway, makasih ya Kak udah anterin." Gue bergegas turun dari mobil dan masuk rumah.
"Bisa-bisanya lo ninggalin gue kemarin? Gue bilangin Mami ya anaknya nakal." Gue menyabut Aga yang pagi ini datang ke rumah dengan omelan karena hal kemarin.
"Lah kenapa marah sama gue, sama Bang Eza noh. Dia yang nggak bolehin gue bangunin lo." Sahut Aga tak mau kalah.
"Ah, udahlah terserah. Pokoknya awas aja besok lo kayak gitu lagi. Gue aduin Mami." Ancam gue pada Aga, karena gue tahu Aga lebih takut sama Mami daripada Papi.
"Bodo amat, lagian lo seneng kan sebenarnya diantar pulang sama Bang Eza." Goda Aga sambil menunjukkan eskpresi mengejek yang sangat menyebalkan.
"Apaan sih lo, nggak ya. Kalau bukan karena ditinggal sama lo mana mungkin gue bareng Kak Eza." Bantah gue sambil bersiap menimpuk Aga dengan bantal sofa.
__ADS_1
Gue berakhir main kejar-kejaran, dengan Aga karena setelah itu dia justru menggoda gue terus menerus. Dia sangat senang menggoda gue seperti ini dan itu sungguh sangat menyebalkan.
...~~...