
Pagi ini aku berangkat bersama Kara, dia sudah berada diruang tamu rumahku ketika aku sedang bersiap-siap. Tapi anehnya dia sendirian tidak bersama Rhea. Padahal biasanya keduanya tak terpisahkan.
"Tumben sendirian? Rhea nggak bareng sekalian?"
"Rhea bareng Kak Eza, mereka mau ngurus persiapan dulu katanya. Makanya gue jemput lo aja, biar disana bisa lebih leluasa persiapannya."
"Aku kira kalian lagi ribut, karna akhir-akhir ini aku jarang lihat kamu sama Rhea, malah lebih sering lihat dia sama Kak Eza."
Aku lihat, Kara sedikit tersentak. Apa mungkin memang benar mereka sedang ada masalah? Tapi kalau ada masalah pasti Rhea akan bercerita padaku.
"Nggak kok, cuma kita emang sama-sama sibuk aja. Lagi pula job desc kita kan beda." Jelas Kara.
Gedung sekertariat ternyata sudah ramai, aku lihat Zayn juga sudah datang bersama Lyra. Begitu juga Rhea yang terlihat sedang sibuk bersama Kak Eza.
"Mei, ayo siap-siap. Mau cek sound dulu." Zayn menghampiriku dan mengajakku untuk segera menuju ruang tempat acara.
"Kok tadi nggak bilang kalau belum berangkat, tahu gitu gue jemput lo aja Mei daripada jemput Lyra."
Zayn memprotes karna dia tidak bisa menjemputku dan justru harus menjemput Lyra.
"Kan kamu dikasih tugas Kak Bryan buat jemput Lyra, jadi udah bener kamu jemput dia." Sahutku membantah perkataan Zayn.
"Ya tapi kan sebenarnya Lyra bisa bareng kakaknya. Gue jemput lo, daripada lo bareng si santan Kara." Ujar Zayn terlihat kesal sendiri.
"Udah sih, udah lewat juga. Ayo, katanya mau cek sound sama latihan dulu." Ujarku mengingatkan tujuan awal Zayn mengajakku kemari.
Akhirnya setelah cek sound, aku dan Zayn sedikit berlatih untuk lagu spesial yang akan aku nyanyikan diakhir acara nanti.
__ADS_1
"Kamu beneran mau main gitar aja? Nggak mau ikut nyanyi gitu?"
"Nggak ah, mending main alat musik aja gue. Nggak bisa nyanyi juga." Sahut Zayn acuh tak acuh.
Aku hanya menggeleng pelan, Zayn itu sok merendah untuk meroket. Padahal dia memang jago bermain alat musik, menyanyi juga suaranya bagus dan jangan lupakan dia juga bisa menulis lagu. Tapi bisa-bisanya dia malah merendah seperti itu.
"Udah beres? Kalau udah gih kalian siap-siap di backstage dulu aja. Nanti kalau udah saatnya kalian tampil baru kalian naik panggung." Ujar Kara memberitahu kami teknis acara secara garis besar.
"Udah beres kok. Abis ini kita ke sana." Sahutku sambil membereskan beberapa kertas yang tadi aku bawa-bawa sebagai catatan.
Acara sudah dimulai, aku dan Zayn bersiap di belakang panggung. Kami baru naik ke panggung setelah Lyra memanggil kami.
Acara berlangsung dengan lancar dan sesuai dengan gladi kemarin. Hanya beberapa bagian sedikit yang tidak sesuai.
"Okey, kita ke acara terakhir. Denger-denger akan ada penampilan spesial dari Zayn dan Mei. Kira-kira mereka mau menampilkan apa nih."
Setelah acara selesai, kami semua digiring ke salah satu ruangan untuk evaluasi. Tidak terlalu banyak hal yang perlu di evaluasi, hanya beberapa saja dan aku rasa acara tadi bejalan lancar dan cukup memuaskan.
Selama evaluasi aku baru sadar, Rhea tidak menyapa ku seharian ini. Bahkan menatapku pun tidak. Dia memalingkan pandangan tiap kali tanpa sengaja tatapan kami bertemu. Sepertinya dia memang sengaja melakukannya.
Ada apa dengan Rhea sebenarnya, mengapa dia seperti itu? Apa aku ada salah padanya? Tapi kenapa dia hanya diam saja?
Aku sesekali memainkan jari-jariku atau memilin-milin ujung baju. Tidak jarang pula sesekali aku akan mencuri pandang ke arah Rhea, berharap dia juga melakukan hal itu. Tapi, harapan hanya tinggal harapan karena begitu evaluasi selesai, Rhea langsung pergi bersama Kak Eza dan aku pun langsung ditarik Zayn untuk pergi dari tempat itu.
"Nggak usah dipikirin, nggak usah gelisah. Ayo, sekarang kita pulang."
Zayn mengelus pelan tanganku yang berada di gegamannya, berusaha menenangkanku seolah-olah dia paham apa yang menjadi kekalutanku saat ini.
"Ayo, Mei. Keburu malem, Zayn tinggalin aja." Ujar Kara dan langsung mendapatkan tatapan tajam dari Zayn.
"Diem, gue masih mau sama Mei. Lo pulang aja sana, Mei biar pulang sama gue."
"Lo mau anter pakai apa? Gih, pulang lo. Tuh Lyra udah ngomel."
"Gue duluan ya, Mei. Lo hati-hati pulangnya." Zayn berpamitan dan langsung masuk mobil Kak Bryan.
__ADS_1
Pada akhirnya aku pulang bersama Kara, sedangkan Zayn pulang bersama Kak Bryan dan Lyra. Karena tadi dia tidak membawa motornya.
Sepanjang perjalanan, aku masih saja diam. Terlalu banyak hal yang perlu di proses dalam pikiranku. Tetapi entah kenapa, lagi-lagi soal Rhea memenuhi otak dan pikiranku.
"Udah Mei, nggak usah terlalu dipikirin. Besok kan kalian masih ketemu." Ujar Kara memberiku saran. Padahal entah dia tahu atau tidak masalah yang sedang aku pikirkan sekarang.
Aku hanya mengangguk pasrah, menuruti saran dari Kara. Karena sujurnya badanku sudah lelah dan sangat butuh untuk diistirahatkan.
Sesampainya dirumah, aku bergegas membereskan semua barang-barangku dan langsung menuju kamar mandi.
Usahaku cukup berhasil, walaupun hanya sebentar, aku berhasil menyingkirkan sebentar pikiran tentang Rhea. Terlalu banyak pikiran negatif yang memenuhi otakku.
Dalam pikiranku, masih ingat jelas bagaimana tadi Rhea sengaja menghindariku.
Ketika Lyra atau Zayn menyapaku, Rhea justru berpura-pura berbicara pada Kak Eza. Seolah-olah dia tidak melihatku datang. Padahal biasanya, jika melihatku Rhea pasti akan menghampiri ku dan menyapaku walaupun singkat.
Malam semakin larut, tapi pikiranku semakin kalut hanya karena Rhea. Dengan sedikit keberanian atau bisa dibilang nekat. Aku menelpon Rhea.
Nada sambung terus berdering cukup lama, aku sudah pesimis kalau tidak akan di jawab. Tapi ternyata, panggilanku di jawab oleh Rhea.
"Kenapa malem-malem nelpon?"
Aku bisa mendengar nada bicara Rhea sedikit berbeda, seperti sedang menyimpan kekesalan padaku.
"Nggakpapa sih, cuma mau memastikan kalau kamu udah dirumah. Karena dari tadi selama acara kita sama sekali nggak ngobrol."
Samar-samar aky mendengar Rhea membuang napas kasar. Entah marah atau bagaimana aku tidak tahu.
"Nggak perlu, Mei. Mau gue sampai rumah atau belum itu bukan urusan lo. Dan nggak ada kewajiban gue buat kasih tahu lo."
Aku tersentak mendengar jawaban Rhea di seberang telepon. Nada bicaranya sudah benar-benar berubah. Ini bukan lagi Rhea yang biasanya berbicara padaku. Ada apa dengannya?
"Maaf Rhea, kalau aku malah ganggu kamu istirahat." Ujarku pelan, merasa bersalah.
"Emang ganggu, ngapain coba tengah malem nelpon cuma buat hal nggak pemting kayak gini."
"Yaudah, aku tutup ya. Malam Rhea."
Begitu aku selesai berucap, sambungan telepon langsung diputusakn begitu saja oleh Rhea.
Aku semakin kepikiran, apa salahku. Dari nada bicaranya, Rhea seolah menyimpan banyak kemarahan padaku. Rasanya seperti dia akan menyeprotku dengan kata-kata pedas tadi, tetapi di tahannya.
Tunggu, apa karena akhir-akhir ini Kara lebih sering menjemputku. Tapi bukankah itu sudah biasa dilakukan. Lalu kenapa Rhea harus marah karena hal itu.
"Mana mungkin Rhea marah hanya karena cemburu. Kara kan sabahatnya sejak kecil, tidak mungkin ada rasa cemburu diantara keduanya."
__ADS_1
Aku menggelengkan kepala pelan begitu pikiran itu terlintas di benakku. Tapi walaupun begitu, aku tetap saja masih belum bisa menemukan alasan dibalik marahnya Rhea padaku. Mungkin besok aku harus menemuinya dan bertanya langsung.
...~~~~...