Bianglala (Revisi)

Bianglala (Revisi)
10.3 [Mei] Kebingungan


__ADS_3

Setelah seminggu kemarin kegiatanku sangat padat, akhirnya minggu ini aku bisa bernapas lega karena tidak harus mengeluarkan banyak tenaga untuk berlatih menyanyi. Untungnya, karena kesibukan kemarin, seminggu ini UKM Band diliburkan sementara. Setidaknya seminggu ini aku bisa terbebas dari Zayn.


Pagi ini aku berangkat kampus bersama Kara. Anak itu sudah berada di depan rumah ketika aku bersiap untuk berangkat. Tapi anehnya tidak ada Rhea, Kara hanya datang sendiri padahal biasanya mereka selalu datang berdua.


"Udah sampai sini aja, aku mau mampir kantin. Pasti Rhea atau Lyra udah nongkrong disana."


Aku menolak tawaran Kara untuk mengantarku sampai loby fakultas. Karena aku berniat untuk mampir ke kantin.


Benar dugaanku, ada Lyra dan Rhea di sana. Tapi tunggu, kenapa Rhea malah bergegas pergi? Apa dia enggan menemuiku ataukah Rhea masih marah soal kemarin malam.


Lyra melambaikan tangan ke arahku, dengan langkah pasti aku menghampirinya.


"Tumben amat kalian berdua bareng? Mei nggak dijemput Zayn?"


Baru saja aku duduk, langsung disambut dengan pertanyaan soal Zayn. Huh, kenapa sih aku selalu dikaitkan dengan Zayn semenjak Project Rumah Baca.


"Kebetulan sama-sama jadwal kuliah pagi, jadi sekalian." Sahut Kara.


"Loh, Rhea juga ada jadwal kuliah pagi, kok nggak sekalian bareng Rhea."


Aku baru sadar, setiap awal minggu kami bertiga punya jadwal yang sama, kuliah pagi.


"Rhea udah berangkat duluan tadi, makanya gue jemput Mei." Lagi-lagi Kara lebih dulu menyahuti pertanyaan Lyra.


Entah kenapa, aku merasa ada yang dia sembunyikan dari kami. Perihal dia dan Rhea. Rasanya sedikit aneh, ketika Kara tidak bersama Rhea.


"Gue lihat-lihat, kebiasaan jelek lo makin parah ya?"


"Hah? Apaan? Gue diem aja padahal." Bantah Lyra terlihat bingung karena ucapan Kara barusan.


"Minum soda pagi-pagi. Belum kapok lo, sakit perut karna kebanyakan soda."


"Kamu tuh ya, susah kalau dibilangin. Kalau sakit lagi kayak waktu itu gimana?" Tambahku sedikit mengomel.


"Udah ih, pagi-pagi udah galak aja. Gue udah biasa, jadi nggak usah khawatir." Sahut Lyra berusaha meyakinkanku.


"Terserah deh, kalau sakit nggak usah ngeluh ke aku."


Aku mengancam Lyra, berharap dia mengurangi kebiasaannya minum soda di pagi hari. Tapi sepertinya sia-sia, karena Lyra adalah Lyra, larangan adalah perintah untuknya.


"Gue ngeluh ke Rhea aja. Udah ya, gue mau kelas. Bye, Mei."


Setelah Lyra pergi, aku pun bergegas menuju kelas dan tidak memperdulikan Kara yang masih tertinggal di kantin.



Perkuliahan sudah berjalan sekitar setengah jam, tapi pikiranku justru berkelana entah kemana. Untungnya hari ini hanya presentasi tugas minggu lalu. Jadi gue tidak terlalu rugi bila tidak terlalu fokus pada perkuliahan.



"Lo kenapa deh, ngelamun mulu dari tadi. Lo diliatin Miss Yuna dari tadi." Bisik teman sebelahku yang menyadari tatapan tajam Miss Yuna pada kami.

__ADS_1



"Aku nggakpapa, cuma lagi nggak fokus aja. Sedikit bosan juga."



Aku berbisik membalas pertanyaan temanku itu ketika Miss Yuna kembali fokus pada kelompok yang presentasi.



"Mei, can you explain about this?"



Tiba-tiba Miss Yuna mengajukan pertanyaan padaku sambil menunjukkan sebuah novel yang untungnya pernah aku review sebelumnya.



"Um.. that is a novel about science fiction. The novel is very popular among teenagers because the story is interesting and the language is also easy to understand."



"Okay, thank you for your answer."



"You are welcome, Miss."




Aku melangkah menuju perpustakaan, mencari buku bacaan terbaru untuk mengisi waktu luang.



Semenjak latihan band diliburkan, aku semakin jarang bertemu dengan Zayn. Jangankan bertemu, berpapasan pun tidak pernah padahal kami satu kampus dan fakultas kami juga berdekatan. Seminggu ini aku justru lebih sering bertemu dengan Kara.


Seperti kali ini, aku menemukan Kara sudah duduk manis di kantin FIB. Memang sudah menjadi kebiasaan Kara apabila tidak ada kelas, dia akan berkeliling fakultas untuk menemui temannya.


"Udah sampai sini aja kamu. Kayaknya fakultasmu juga punya kantin dan makanannya nggak kalah enak, tapi kamu malah seneng ke fakultas lain."


"Kan temen gue di fakultas lain. Lagi pula gue pengen ketemu lo." Sahut Kara acuh tak acuh.


"Terserah kamu deh,"


Aku duduk di kursi depan Kara dan fokus pada novel yang baru saja aku pinjam kemarin diperpustakaan.


"Gue kesini bukan buat lo anggurin kayak gini, Mei." Ujar Kara protes karena aku sibuk dengan novel dan memperdulikan dia.


"Aku nggak nyuruh kamu kesini tuh." Sahutku tidak peduli.

__ADS_1


"Iya, salah gue emang, hobi keliling fakultas." Ucap Kara pasrah.


Aku hanya mengangguk kecil, membenarkan ucapan Kara itu.


Akhir-akhir ini aku memang lebih sering bersama dengan Kara. Padahal sudah bagus aku terbebas dari Zayn seminggu ini, ternyata aku malah terjebak bersama dengan Kara.


Lebih baik aku bertemu dengan Rhea atau Lyra daripada harus bersama dengan Kara.


Ngomong-ngomong soal Rhea, sudah seminggu aku tidak bertemu dengannya. Hanya terkadang aku melihat Rhea yang sibuk dengan kegiatannya. Padahal kami satu fakultas, tapi entah kenapa aku susah untuk menemuinya.


"Ra, kamu terakhir ketemu Rhea kapan?" Tanyaku penasaran. Karena memang seminggu terakhir ini kami susah untuk bertemu.


"Beberapa hari yang lalu kayaknya. Itu aja cuma bentar banget. Kenapa Mei?"


"Aku pengen ketemu Rhea, kita satu fakultas tapi susah banget mau ketemu. Tiap aku ke kelasnya pasti Rhea udah nggak ada." Sahutku menjelaskan alasan kenapa aku menanyakan Rhea.


"Ah, itu Rhea. Aku panggil ya." Aku melambaikan tangan heboh ketika melihat Rhea yang berjalan bersama Zayn dan Lyra.


"Ngapain lo lambai-lambai heboh kayak gitu?"


"Kan gue balas lambaian tangan Mei,  gimana sih." Sahut Lyra.


"Rhea apakabar? Terakhir kita ngobrol kayaknya seminggu lalu dan itu lewat telepon."


Aku menyapa Rhea dan menanyakan kabarnya, karena memang seminggu ini aku tidak pernah bertemu dengan Rhea.


"Gue baik." Tukas Rhea singkat.


"Lo apakabar, Mei?"


Zayn bertanya padaku, mungkin merasa kasihan karena Rhea tidak berniat melanjutkan obrolan denganku.


"Baik juga kok, kita udah jarang ketemu ya setelah latihan band diliburkan." Sahutku antusias.


"Kalian lanjut ngobrol aja, gue duluan ya. Mau ke perpustakaan beresin tugas."


Rhea tiba-tiba berpamitan ditengah-tengah obrolan kami. Memang sih yang mengobrol hanya aku, Zayn, Lyra yang sesekali ikut menimpali. Sedangkan Rhea hanya diam sejak tadi.


Dia hanya akan berbicara kalau ada yang bertanya, itupun hanya jawaban singkat. Selebihnya dia hanya akan diam aja.


Jujur saja, selama bersama Rhea tadi aku sedikit merasa bersalah dan ingin meminta maaf. Tapi niatku itu selalu aku urungan setiap kali mengingat Rhea yang tidak pernah menatapku sedikit pun tadi.


Rhea marah kepadaku, aku tahu itu. Karena sikapnya sudah menunjukkan. Tapi, marah karena apa? Apa salahku sebenarnya sampai Rhea marah besar seperti itu.


Ini yang menjadi PR untukku, alasan Rhea marah dan mendiamkanku. Agar aku bisa memperbaiki hubunganku dengan Rhea.


"Apa Rhea marah karena merasa aku merebut sahabatnya, merebut Kara? Tapi alasan itu terlalu kekanakan."


Didalam benakku terpikirkan berbagai alasan yang cukup masuk akal. Tapi entah kenapa, aku tidak bisa menemukan alasan yang paling tepat. Rasanya semua alasan yang ada di benakku terlalu aneh.


__ADS_1


__ADS_2