Bianglala (Revisi)

Bianglala (Revisi)
13.1 [Rhea] Awal Baru


__ADS_3

Gue kembali ke kampus lagi setelah kemarin sengaja membolos. Tapi ada yang berbeda pagi ini, gue yang biasanya tidak pernah membawa kendaraan, berakhir membawa mobil sendiri. Kalau boleh memilih, sebenarnya gue lebih senang memakai kendaraan umum, tapi mengingat hari ini senin, awal minggu. Pastinya jalanan padat dan kendaraan umum juga ramai, jadi lebih baik membawa kendaraan sendiri.


Gue berinisiatif menjemput Lyra, karena sejujurnya gue malas menyetir. Jadi gue ingin memanfaatkan Lyra untuk menyetir dan gue bisa bersantai.


"Wah, tumben banget nih lo bawa mobil? Biasanya juga minta jemput gue atau Kara." Ujar Lyra kaget sekaligus heran.


"Berisik. Nih, lo yang bawa."


Gue melemparkan kunci ke arah Lyra, yang untungnya langsung ditangkap dengan cekatan.


"Gue kira bakalan ngerasain disetirin sama lo, ternyata ujung-ujungnya gue juga yang jadi supir." Keluh Lyra, tapi tetap duduk dibalik kemudi.


Gue mengikuti Lyra masuk mobil, sebelum Lyra meneriaki gue karena terlalu lama.



Kami tiba di kampus satu jam kemudian karena sempat terjebak diantara padatnya lalu lintas pagi ini. Untung saja kami tidak terlambat.



Gue dan Lyra lekas keluar dari mobil. Kami berdua langsung menuju kantin untuk membeli minuman. Seperti biasa, sebelum kuliah pagi kami akan melipir ke kantin.



"Lo kenapa deh, seneng banget ikut-ikut ke kantin FIB. Padahal fakultas lo juga cuma di sebelah."



"Kayaknya udah dari dulu gue melipirnya kesini, kenapa lo baru protes sekarang?"



"Siapa yang protes sih, gue nanya."



"Lah lo aneh, tiba-tiba nanya kayak gitu."



"Terserah deh, capek gue ngomong sama lo."



Gue melangkah keluar kantin meninggalkan Lyra yang terlalu lama membayar.



"Tungguin gue, kebiasaan. Senengnya ninggalin mulu." Lyra menggeplak pundak gue begitu sudah berhasil menyusul gue.



"Sakit! Tangan lo tuh." Pekik gue kesakitan, Lyra memang kadang tidak kira-kira kalau memukul gue, pakai tenaga dalam kayaknya.



"Kalian tuh, jadi tontonan noh. Masih pagi tapi udah ribut mulu."



Zayn menegahi keributan yang kami buat. Benar saja yang di ucapkan Zayn, kami berdua menjadi tontonan seisi kantin.



"Lyra duluan tuh, gue mah anteng dari tadi." Kilah gue mencoba membela diri.



"Iya deh, gue yang salah. Udah ah, gue mau ke kelas. Bentar lagi masuk gue."



Lyra langsung beranjak setelah menghabiskan soda yang dia beli tadi. Sedangkan gue masih duduk manis di kantin, ditemani Zayn.



"Gimana permainan gitar lo?"

__ADS_1



"Ya kayak terakhir kali lo lihat."



Lah kemarin bukanya lo dirumah Lyra, kenapa ngga belajar sama Bang Eza aja.



"Sibuk, lagi pula gue canggung kalau deket Kak Eza."



"Padahal dia juga jago main gitar. Masih kayak gitu-gitu aja, masih kagok."



Gue berakhir ngobrol dengan Zayn sampai kuliah gue di mulai. Kami mengobrolkan banyak hal, dari yang penting sampai yang tidak penting.



"Ngomong-ngomong,  Mei apakabar ya?"



"Tanya sendiri lah, tinggal chat juga." Jawab Zayn.



Gue hanya tersenyum tipis. Jujur saja gue masih enggan untuk berinteraksi dengan Mei. Perasaan gue masih belum sembuh.



"Masih belum mau ketemu?" Tanya Zayn tiba-tiba.



Gue hanya mengangguk kecil merespon pertanyaan Zayn yang tiba-tiba.




"Gue tuh baru tahu selama ini mereka juga terjebak, terjebak dengan egonya sendiri dan masih belum bisa maafkan.


Sama seperti gue saat ini. Yang masih belum bisa menerima dan memaafkan."



Obrolan kami masih berlanjut sedari tadi. Iya, gue melewatkan kuliah salah satu matkul dan memilih kuliah online saja. Toh dosen yang seharusnya mengajar juga sedang tugas keluar kota.



"Lah lo nggak jadi kuliah Rhe?"



Zayn yang baru saja menyadari kalau jam kuliah gue udah lewat bertanya panik.



Gue hanya tertawa geli, membiarkan Zayn panik sendiri. Padahal gue ikut kuliah online yang sedang berlangsung saat ini.



"Gue tuh kuliahnya di ganti online hari ini. Dosennya mendadak ada tugas keluar kota."



"Pantesan lo santai mulu dari tadi, ternyata online kuliahnya." Ujar Zayn.



"Udah lah, gue duluan. Bentar lagi kelas gue dimulai." Lanjutnya.


__ADS_1


Gue akhirnya sendirian dikantin setelah Zayn kembali ke fakutasnya untuk berkuliah.



"Kok belum pulang?" Tegus seseorang yang gue kenali sebagai Kak Eza.



"Nunggu Lyra Kak, dia masih ada kelas. Gue jadinya di ganti hari lain sama kuliah online tadi." Sahut gue menjelaskan.



"Kalau kamu saya ajak pulang bareng mau?" Tawar Kak Eza sambil duduk dihadapan gue.



"Gue bawa mobil Kak."



"Saya yang ikut kamu berarti atau mau balik nanti setelah Lyra selesai kuliah dan mobil kamu biar dipakai Lyra. Kamu pulang sama saya."



Kak Eza memberi gue dua pilihan. Jujur saja gue bingung harus memilih ikut mana. Karena sebenarnya keduanya sama saja, gue akan tetap pulang dengan Kak Eza.



Setelah berpikir lama, gue akhirnya memilih untuk pulang menggunakan mobil gue dan mobil Kak Eza berakhir ditinggal di kampus.



"Mau mampir dulu nggak?"



"Mampir boleh Kak, tapi gue bingung mau mampir kemana." Sahut gue menyetujui usulan Kak Eza.



Jujur saja, tawaran Kak Eza sangat menggoda. Siapa sih yang tidak mau, ketika tawari untuk mampir ke tempat makan dulu. Pasti tidak akan menolak bukan? Tapi gue malah bingung mau mampir kemana.



"Kak, ke Braga boleh? Pengen beli es krim gue." Putus gue akhirnya.



Menuruti permintaan gue, Kak Eza langsung mengemudikan mobil ke arah jalan Braga, lebih tepatnya ke sekitar Sweet Cantina. Kedai es krim yang hanya ada di Bandung saja sepertinya.



Berkat Kak Eza, gue bisa menikmati hari ini dengan kesan yang berbeda. Jadi lebih menarik dan menyenangkan.


Gue rasa, setiap kali bersama Kak Eza akan jadi hal favorit gue mulai saat ini. Entah sejak kapan, gue selalu menikmati tiap momen bila berdua dengan Kak Eza. Karena tidak ada lagi perdebatan kecil atau sekedar adu mulut diantara kami, sekarang kami lebih banyak mengobrol seperti orang kebanyakan.


"Makasih ya Kak, buat hari ini."


Gue mengucapkan terimakasih sebelum Kak Eza masuk ke dalam rumah. Iya, gue mengantarkan Kak Eza, karena tadi kami berkeliling dengan menggunakan mobil gue.


Hari ini benar-benar hari yang menarik, sangat menarik malah dan penuh dengan kejutan.


Tapi tunggu, sepertinya ada yang janggal. Tapi apa ya? Sepertinya ada yang tidak sengaja gue lupakan.


Gue berusaha mengingat-ingat hal yang terlupakan. Karena sangat menganjal. Gue yakin, saat ini gue melupakan sesuatu dan itu hal yang sangat penting.


"Tunggu, gue kan tadi berangkat bareng Lyra. Terus barusan gue bareng Kak Eza. Berarti Lyra pulang sendiri dong."


Gue menyatukan ingatan-ingatan dalam pikiran gue dan terjawab sudah hal penting apa yang gue lupakan.


Iya, gue melupakan Lyra dan bodohnya lagi gue tidak mengabari dia kalau gue pulang dengan Kak Eza.


Bodohnya gue, bisa-bisanya lupa kalau tadi gue berangkat bersama Lyra. Bagaimana ini, gue pasti kena amuk setelah ini.


Lyra calling...


Nah kan benar apa yang gue katakan, setelah ini pasti Lyra akan memberondong gue dengan pertanyaan dan juga protesan karena gue tanpa sengaja meninggalkannya di kampus dan tidak mengabarinya kalau pulang bersama Kak Eza.

__ADS_1


...~~~~~...


__ADS_2