Bianglala (Revisi)

Bianglala (Revisi)
1.2 [Lyra] Gara-gara dompet


__ADS_3

Tidak seperti biasanya, saat ini gue sudah berada di kampus untuk menemui kedua sahabat gue, Rhea dan Mei. Kalau bukan karena akan menemui mereka, gue tak akan mungkin berada di kampus sepagi ini.


Rhea langsung melambaikan tangan begitu gue memasuki area kantin yang cukup ramai pagi itu. Sedangkan Mei masih fokus dengan aktivitasnya, sepertinya Mei sedang serius mencatat sesuatu di notesnya dan terkesan tak memperdulikan kedatangan gue, hal seperti itu sudah biasa jadi gue nggak mempermasalahkannya. Namun sepertinya Rhea sangat mempermasalahkan itu, karena Rhea baru saja memprotes Mei yang sedari tadi tak menghiraukannya.


Hufft, sepertinya sebentar lagi akan ada perdebatan panjang bila gue tidak segera menghentikan mereka.


"Nggak usah mulai, gue nggak mau jadi tontonan seisi kantin karena keributan kalian." Gue meperingatkan Mei dan Rheia sambil menatap tajam ke arah mereka. Tapi mereka sama sekali tidak menghiraukan gue dan memilih untuk diam.


Sudah hampir setengah jam kami bertiga hanya seperti ini. Jujur saja, gue bosan, karena tidak melakukan apa pun. Tapi mau bagaimana lagi, gue nggak mungkin mengajak kedua orang yang masih bersitenggang ini untuk mengobrol.


Tak lama kemudian, Mei terihat melirik jam dipergelangan tangannya dan langsung membereskan beberapa barangnya yang masih tercecer di meja kantin.


"Aku mau ke ruang musik dulu. Bentar lagi latihan musik di mulai," ucapnya dan langsung beranjak keluar kantin.


"Iya, semangat latihan ya. Gue sama Rhea juga mau jalan kok."


Gue juga langsung berdiri dan bermaksud mengajak Rhea jalan-jalan ke mall, lumayan bisa sedikit mengurangi rasa bosan. Tapi sayangnya Rhea malah sudah lebih dulu berlari keluar kantin.


"Rhea, tunggu gue." Gue segera berlari mengejar Rhea yang sudah sampai lorong koridor.


"Kenapa lari-lari segala sih Ra? Jalan aja kan bisa," ujarnya santai setelah gue berhasil menjajari langkahnya.


"Lo sih malah lari duluan." Gue bersiap menoyor kepala Rhea karena kelewat sebal. Tapi belum juga niat baik itu terlaksana. Kara lebih dulu menyerukan nama lengkap Rhea.


"Sorry Ra, bukannya mau ninggalin lo. Tapi nih si Aga udah nelponin mulu dari tadi," ucap Rhea santai sambil menunjuk cowok yang saat ini sedang berdiri diam di samping mobilnya. Dia sahabat dekat Rhea dan Rhea lebih suka memanggilnya Aga.


"Lo ada janji sama Kara? Bukannya hari ini kita mau ke supermarket, beli camilan buat ntar malem."


"Kayaknya sih emang ada janji sama Aga, tapi gue lupa janji tentang apaan." Rhea memandang gue bingung, sepertinya ia sedang mengingat janji yang dilupakannya itu.


Tak lama setelah itu, gue seperti orang asing diantara Rhea dan Kara yang sedang berdebat tentang janji yang seharusnya tidak dilupakan oleh Rhea. Karena sepertinya itu sangat penting.


"Lo mau gimana Ra, ini Rhea kudu ikut gue sekarang. Kita ada janji mau bahas proyek komunitas menulis sama Kakak lo," ucap Kara.


"Eh iya, gue lupa. Kan hari ini ketemu sama Kak Bryan juga." Rhea menepuk dahinya sendiri dengan gemas, sepertinya ia baru saja mengingat apa yang dia lupakan.

__ADS_1


Ah, setelah ini dia pasti menolak dan mau tak mau gue hanya akan berjalan-jalan sendiri.


"Maaf ya Ra, nggak bisa nemenin. Tapi tenang aja, gue sama Aga bakalan anterin lo."


Nah kan, benar apa yang gue pikirkan tadi, Rhea menolak ajakan gue. Tapi tak apa, setidaknya gue tidak perlu mengeluarkan uang untuk taxi karena Rhea berjanji akan mengantar, tidak buruk juga.


"Iya deh, kali ini gue maafin. Tapi temenin gue mampir supermarket bentar, beli camilan buat ntar malem."


Gue langsung menyeret Rhea kearah CR-V biru metalik yang terparkir di seberang kantin tanpa memperdulikan sang pemilik yang masih kaget dengan tingkah gue yang kadang lebih tidak jelas di banding Rhea.


Rhea melepaskan tangan yang sedari tadi menariknya dan berbalik untuk meneriaki Kara yang masih berdiri diam, "Aga, ayo anterin kita ke supermarket, masih ada waktu kan."


Namun Kara masih saja diam dan tidak merespon teriakan Rhea yang bisa dibilang cukup keras itu.


"KARA ERLANGGA FARESH."


Rhea kembali meneriakan nama Kara, kali ini di sertai penekanan disetiap kata yang diucapkannya agar cowok itu segera menuruti permintaan kami atau lebih tepatnya permintaan gue.


"Ya udah ayo, keburu sore ini. Dan gue cuma punya waktu sekitar tiga puluv menit."


Kara menyanggupi permintaan Rhea dan bergegas menyuruh kami memasuki CR-V birunya itu. Tanpa menunggu diperintah dua kali, gue dan Rhea segera masuk dan Kara langsung mengemudikan mobilnya begitu gue mengunci pintu mobinya itu.


***


Kami bertiga memutuskan untuk berbelanja di daerah Cihampelas, tepatnya Ciwalk. Tapi kami berakhir duduk manis disalah satu meja di Coffeshop dan keributan kecil kembali terjadi, Rhea merajuk meminta Cappucino dan Kara melarangnya.


Huh, sepertinya gue harus kembali menjadi penengah agar keributan ini segera berakhir. "Gue aja yang pesen, lo berdua tunggu sini." Akhirnya gue benar-benar turun tangan menjadi penengah keduanya.


"Ngga usah Ra, gue mau ke atas. Udah di tunggu."


Ah, ternyata ini alasan Kara membawa gue dan Rhea singgah di Coffeshop. Ternyata Kak Eza sudah menunggu di lantai atas Coffeshop ini. Pantas saja gue merasa familiar dengan mobil yang terparkir tak jauh dari mobil Kara.


Mau tak mau gue mempersilahkan mereka untuk pindah ke lantai atas. Karena gue tahu, Kak Eza itu orang yang paling tidak bisa menunggu, bisa-bisa mereka kena marah kalau membuat Kak Eza menunggu lama.


"Ra? Yakin nih nggak apa-apa abis ini gue tinggal?" Rhea bertanya, sepertinya ia tidak tega meninggalkan gue jalan-jalan sendirian di Ciwalk.

__ADS_1


"Tenang aja, gue bisa pulang sendiri ntar atau bareng Kak Eza sekalian deh."


Gue meyakinkan Rhea agar tidak khawatir, padahal gue sendiri sebenarnya masih tidak yakin akan meminta pulang bareng Kak Eza dengan belanjaan yang sebanyak ini.


"Yakin lo mau minta jemput abang lo yang galak itu dengan belanjaan lo sebanyak itu." Rhea berujar sinis menyuarakan keraguan yang terlintas dipikiran gue.


"Tenang aja sih, gih sana." Gue mengusir mereka secara halus agar segera menemui Kak Eza yang sudah menunggu.


Setelah kepergian Kara dan Rhea, gue masih duduk santai sambil menikmati Latte yang masih setengah sambil menatap keluar jendela, menikmati kesibukan orang-orang yang berlalulalang di factory outlet sepanjang jalan Cihampelas.


Setengah jam sudah berlalu dan gue masih betah berlama-lama duduk santai di tempat ini. Gue edarkan pandangan ke seluruh penjuru ruangan, rupanya sekarang tempat ini sudah lebih ramai dibanding saat gue datang tadi.


Saat sedang fokus memindai seluruh ruangan, tiba-tiba mata gue terfokus pada mobil Mercedes Benz hitam yang terparkir tak jauh dari pintu masuk. Gue merasa familiar dengan mobil itu, seperti pernah melihatnya tapi entah dimana. Gue benar-benar penasaran dengan pengemudi mobil itu.


"Mbak, bisa agak cepet ngga? Saya buru-buru ini."


Gue yang baru saja hendak membayar tak sengaja mendengar percakapan cowok yang antri di depan gue. Sepertinya dia sedang diburu waktu, karena sejak tadi dia terus menerus protes pada penjaga kasir.


"Maaf Pak, credit card anda sepertinya trouble. Apa ada uang cash?" ucap penjaga kasir sambil mengembalikan credit card milik cowok itu.


Gue lihat cowok itu mengeluarkan dompetnya, tapi sepertinya ia tak memiliki uang cash sepeserpun. Entah ada angin apa, tiba-tiba gue berinisiatif menolongnya. Gue kembali mengambil dompet yang sudah berada di dalam tas dan mengambil beberapa uang cash di dompet itu.


"Biar saya saja yang bayar mbak. Sekalian sama punya saya." Gue menyodorkan beberapa uang untuk membayar pesanan gue dan juga milik cowok yang saat ini memandang gue dengan heran.


"Makasih, lain kali saya ganti uang kamu. Saya duluan." Cowok itu bergegas pergi menuju lantai atas.


"Maaf mbak, apa mbak mengenal bapak tadi. Ini sepertinya dompetnya tertinggal."


"Ah, saya tidak mengenalnya. Tapi mungkin bisa saya bantu untuk mengembalikannya. Kebetulan saya mau menemui teman saya yang juga berada di lantai atas, mungkin bisa sekalian saya kembalikan."


Entah kenapa gue justru menawarkan bantuan untuk mengembalikan dompetnya, padahal gue sendiri tak mengenal orang itu. Astaga, kenapa bodoh sekali Lyra.


Pada akhirnya mau tak mau gue menuju lantai atas, karena gue sudah menawarkan bantuan. Huh, bagaimana gue mengembalikannya, mengetahui namanya saja tidak. Gue mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru lantai atas dan tanpa sengaja menemukan cowok itu duduk bersama dengan Kak Eza.


"Duh, kenapa dia bareng Kak Eza sih. Ini gimana gue balikinnya. Nggak tahu ah, gue bawa dulu aja nih dompet. Bodo amat kalau dia bingung nyariin." Pada akhirnya gue mengurungkan niat untuk mengembalikan dompet dan justru membawa dompet itu pulang.

__ADS_1


Setelah memastikan bahwa dompet cowok tadi sudah gue masukan ke dalam tas. Gue bergegas keluar dari tempat ini untuk segera pulang. Karna gue nggak ingin mengambil resiko Kak Eza memergoki ketika gue berada di tempat yang sama dengannya.


...~~~~~...


__ADS_2