
Entah kebetulan atau memang sudah saatnya gue dan Mei saling memaafkan. Ah bukan, lebih tepatnya gue yang harus minta maaf sama Mei. Karena dari awal semua itu salah gue dan Aga, sedangkan Mei hanya orang yang kebetulan terkena imbasnya.
Gue membuka pesan yang Mei kirimkan sejak semalam. Sebenarnya gue bisa saja membalas pesan itu setelah membacanya tadi malam. Tapi sejujurnya gue masih ragu-ragu, makanya pagi ini gue membulatkan niat untuk benar-benar meminta maaf pada Mei.
Gue sengaja mengajak bertemu Mei setelah dia selesai kelas, karena gue tahu pagi ini Mei pasti dijemput Aga. Dan gue sedang malas untuk sekedar bertemu dengan Aga.
Gue sebenarnya menunggu Mei untuk mengirim pesan bila dia sudah sendiri, tapi berhubung gue tahu kuliah Mei baru selesai. Tanpa menunggu pesan darinya, gue melangkah menuju ruang kelas yang tadi dipakai kuliah anak Sasing.
Nah kan, Mei masih berdiam diri di tempat duduknya. Gue sengaja tidak langsung mendatangi Mei, tapi justru mengomentari kebiasaannya itu.
Kami mengobrol banyak hal dan saling memaafkan satu sama lain. Rasanya melegakan, rasanya ringan seakan-akan semua beban yang ada dipundak gue terangkat saat itu juga. Saat gue dan Mei saling memaafkan.
"Ini kita diam-diam dulu aja ya. Nanti aja kasih tahu Lyra. Sekarang mendingan kita buruan ke ruang musik sebelum cowok lo ngamuk." Ujar gue mengajak Mei bergegas ke ruang musik.
"Bukan cowokku, cuma teman." Bantah Mei memprotes ucapan gue.
"Terserah deh lo nyebutnya apa. Yang penting kita harus cepet sampai ruang musik."
Begitu sampai ruang musik kami disambut dengan omelan dari Zayn karena menunggu terlalu lama.
Tapi pada akhirnya gue tetap berlatih walaupun sedikit ada perdebatan dengan Zayn. Bahkan, gue tadi sempat mengiringi nyanyian Mei. Sungguh hari yang menyenangkan, kalau saja tidak ada omelan Zayn.
Latihan musik selesai, gue dan Mei langsung pulang. Kebetulan gue membawa mobil jadi Mei ikut dengan gue. Kami mampir ke supermarket untuk berbelanja terlebih dulu sebelum menuju rumah Lyra.
Gue dan Mei memang sengaja tidak mengabari Lyra, karena kami akan memberinya kejutan. Lagi pula, gue punya informan terpercaya soal Lyra, jadi misi kali ini pasti sukses.
Asdos Galak is calling....
Tiba-tiba Kak Eza menelpon gue, tumben sekali. Iya, gue menamai kontak Kak Eza dengan sebutan "Asdos Galak". Padahal sebenarnya gue nggak tahu dia kayak gimana pas ngajar. Tapi, sejauh ini gue tahunya dia galak, galak banget malah mana nyebelin juga lagi.
"Kenapa Kak?"
"Lo jadi kesini? Perlu gue jemput nggak?"
"Jadi, ini lagi mampir beli camilan bentar. Ngapain jemput, gue hari ini sengaja bawa mobil. Kan gue ke rumah kalian sama Mei."
"Yaudah, hati-hati nyetirnya. Lyra lagi galau tuh dikamar, karna Bryan sibuk." Ujar Kak Eza memberikan informasi tanpa kita minta.
"Okey, gue jalan dulu."
Gue langsung memutus sambungan telepon dan bergegas menyelesaikan sesi belanja kami. Karena sebentar lagi jam pulang kerja dan gue malas bila harus terjebak macet di jalan nantinya.
"Buruan Mei, gue males kalau kudu macet-macetan sama yang pulang kerja." Ujar gue sambil membawa troli belanjaan menuju kasir.
__ADS_1
Gue dan Mei tiba di rumah Lyra sejam kemudian karena kami tetap terjebak macet. Tapi untungnya hanya sebentar jadi tidak memakan waktu terlalu lama.
"Siniin belanjaan kalian, banyak amat belinya. Padahal disini juga banyak camilan." Ujar Kak Eza menyambut kami.
"Kita naik ya, Kak." Pamit Mei setelah gue seleai membantu Kak Eza meletakan belanjaan di dapur.
"Sekalian nih bawa, buat ngemil. Nanti kalau udah istirahat sama bebersih turun kalian. Gue delivery ayam." Ujar Kak Eza menyerahkan beberapa toples camilan.
Gue menerimanya dan bergegas naik. Gue tidak sabar melihat bagaimana reaksi Lyra ketika melihat kami berdua. Kira-kira bakalan seheboh apa ya dia? Semoga aja nggak akan ada drama nangis-nangis deh.
Gue mengetuk pintu kamar Lyra dengan keras, sengaja agar Lyra segera membukakan pintu. Tapi sebelum itu, gue sudah menyuruh Mei bersembunyi dibalik punggung gue. Tidak berpengaruh sebenarnya, tapi setidaknya Lyra hanya akan melihat gue ketika membuka pintu.
"Wah, ada angin apa nih mau masuk ketuk pintu dulu. Biasanya juga langsung masuk tanpa permisi, lo." Kata Lyra sengaja menyindir gue.
"Tangan gue penuh, makanya minta bukain."
"Buru masuk, nunggu apa lagi." Lyra langsung berbalik masuk kamar tanpa memperdulikan gue yang kesusahan membawa toples camilan. Benar-benar Lyra itu.
"Mei! Kangen." Pekik Lyra dan langsung menghambur memeluk Mei begitu menyadari keberadaannya dan mengabaikan gue.
"Dih, pelukannya berdua doang. Gue nggak diajak." Ucap gue pura-pura ngambek.
"Diem, lo tuh emang nggak diajak." Sahut Lyra menyebalkan.
"Tapi bentar deh, sejak kapan kalian baikan. Bukannya selama ini lo nggak pernah mau kalau disuruh baikan sama Mei?" Ujar Lyra terlihat penasaran.
"Kata siapa nggak mau, gue cuma belum siap. Bukan apa-apa, gue merasa bersalah sama Mei karena memusuhi dia." Cicit gue masih merasa tidak enak.
"Nggakpapa Rhea, itu udah lewat. Sekarang kita udah baikan." Imbuh Mei sambil merangkul gue.
"Iya, yang penting sekarang kalian udah baikan dan kita bisa bareng lagi. Gue kangen tahu sama kalian."
Lyra merentangkan kedua tangannya dan memeluk kami erat. Kami jadi terlihat seperti teletubies karena berpelukan seperti ini. Tapi tidak apa, karena ini rasanya sangat nyaman.
__ADS_1
"Kan gue bilang suruh tu-....... maaf ganggu reuni kalian."
Kak Eza yang tadinya mau masuk kamar Lyra langsung mengurungkan niatnya setelah melihat kami berpelukan.
"Bentar Kak, nanti kita turun." Lyra berteriak untuk memberitahu Kakaknya itu.
Setelah gue sama Mei mandi dan berganti baju, kami berdua segera turun ke ruang makan. Karena Kak Eza sudah menunggu sejak tadi.
"Maaf ya, Kak. Kita kelamaan." Ujar Mei mewakili gue dan Lyra.
"Nggak masalah, lagi pula kan bukan mau rapat." Ujar Kak Eza lebih kalem.
Gue heran, kalau bicara sama orang lain Kak Eza bisa bicara pelan dan suaranya lembut. Tapi kalau sama gue kenapa lebih sering nyolot sih dan berakhir berdebat.
"Malah ngelamun disini lo, makan tuh, abisin."
Kan benar, dia memang tidak bisa berbicara halus kalau sama gue. Haaah, sangat menyebalkan.
"Berisik Kak, lo sono makan. Gue masih mau kerjain sesuatu."
Gue bergegas pindah ke teras belakang, mengindari Kak Eza, Lyra dan juga Mei. Lebih tepatnya gue sengaja bersembunyi dari mereka. Karena gue berniat menghubungi Aga.
Gue rasa, gue harus mengalah dan meminta maaf lebih dulu pada Aga. Karena bila salah satu dari kami tetap mempertahankan ego, sampai kapanpun kami tidak akan saling memaafkan.
Aga♡
Aga, apakabar? Gue kangen.
Gue minta maaf ya. Harusnya gue nggak ngomong kayak gitu.
Benar kata lo, gue terlalu kekanakan.
Harusnya gue juga bisa bersikap dewasa.
Kalau gue ajak ketemu, apa lo mau?
Gue berakhir mengirim pesan pada Aga. Gue masih belum berani menelponnya. Gue terlalu takut dengan respon Aga nantinya. Tapi apapun itu, semoga gue sama Aga bisa saling memaafkan, seperti gue dan Mei.
__ADS_1