Bianglala (Revisi)

Bianglala (Revisi)
20.3 [Mei] Rahasia


__ADS_3

Aku tetap bungkam sampai Rhea dan Kak Eza mengantarku pulang. Bukan tidak mau menjelaskan soal tadi pada Rhea, tapi aku masih bingung harus bagaimana.


Aku sangat kaget dengan perubahan Zayn yang seperti itu. Iya, aku tahu dia memang tidak bisa menahan emosinya, tapi aku tidak menyangka kalau dia akan berbuat seperti itu padaku.


Kalau tidak ada Rhea, mungkin saja Zayn akan mendapatkan kemauannya atau mungkin akan melakukan lebih dari itu. Mengingat bagaimana nekatnya dia selama ini.


Sejujurnya aku tak ingin pulang, karena aku masih takut bila Zayn mendatangiku. Tapi aku juga tidak mau untuk ikut dengan Rhea yang akan membuatku bertemu dengan Kara, orang yang memulai semua masalah ini.


Zayn♡ is calling....


Ponselku berdering, ternyata Zayn menelponku. Tapi mengingat pesan Rhea tadi, aku hanya membiarkannya sampai dering itu terhenti dengan sendirinya.


Aku sedang tidak ingin diganggu saat ini. Aku masih butuh waktu untuk memproses semuanya. Banyak hal yang diluar kendaliku kemarin dan aku tidak suka itu.


Aku tahu Zayn memang bukan cowok yang baik, tapi aku tidak menyangka kalau dia bisa sebrengsek itu. Aku sedikit menyesal menerimanya, tapi mau bagaimapun aku benar-benar menyukainya.


Katakan aku sangat bodoh karena masih membela Zayn yang kelakuannya seperti itu. Bahkan malah semakin jatuh pada pesonanya. Tapi, Zayn memang semenarik itu. Bahkan Rhea pun pernah tertarik padanya.


Ponselku kembali berdering, tapi kali ini panggilan dari Lyra. Tumben sekali dia menelpon. Bukannya dia sedang bersama Kak Bryan.


"Mei, lo sibuk nggak? Dirumah kan? Gue pengen nginep. Butuh teman ngobrol."


Belum sempat aku menyapa, Lyra sudah lebih dulu memberondongku dengan banyak pertanyaan dan tumben sekali dia minta untuk menginap.


"Dirumah nih, sini aja kalau mau nginep."


Aku mengiyakan permintaan Lyra untuk menginap, hitung-hitung bisa di jadikan pengalihan dari masalah tadi. Setidaknya kalau ada Lyra aku tidak akan overthinking sendiri karena terus menerus memikirkan soal Zayn.


"Okey, setelah ini gue langsung ke rumah lo. Mau nitip sesuatu nggak? Gue mau mampir mini market dulu."


"Camilan manis dong, dirumah camilannya cuma sedikit."


"Okey, gue tutup ya. Nanti kalau udah mau sampai gue chat, biar lo langsung bukain pintu."


Lyra langsung menutup panggilan begitu dia mengiyakan titipanku.


Tapi baru saja aku akan meletakan ponsel di meja, ponsel itu kembali berdering. Kali ini Rhea yang menelpon.


"Kenapa Rhe?"

__ADS_1


"Lo nggakpapa? Terus Zayn nggak nyusulin kamu ke rumah kan? Gue sebenarnya pengen nginep, tapi gue masih ada urusan."


"Aku nggakpapa, cuma kaget aja tadi. Sekarang udah aman kok. Tangannya yang dicengekeram Zayn tadi juga udah aku obatin dan udah mulai hilang juga bekas merahnya."


"Okey, abis ini langsung istrahat. Besok gue jemput lo."


"Iya, besok sekalian bareng Lyra juga. Katanya dia mau nginep. Kamu ngga mau nyusulin nginep abis urusan kelar?"


Aku menawari Rhea untuk menginap juga, kan lumayan bisa berkumpul bertiga lagi. Dan aku akan mendapatkan sedikit waktu untuk mengalihkan pikiranku yang mulai tidak jelas ini.


"Lo mau gue nginep? Gue usahain, tapi gue nggak janji."


"Iya, udah dulu ya. Lyra udah dateng. Dan soal tadi, tunggu sampai gue siap cerita ya. Makasih Rhea."


Aku menutup panggilan dan segera membukakan pintu untuk Lyra sebelum anak itu ribut sendiri karena terlalu lama menunggu.


"Kemana aja sih? Buka pintu doang lama amat."


Kan apa aku bilang, dia pasti ribut sendiri. Padahal juga dia hanya menunggu beberapa menit bukan berjam-jam.


"Baru bentar, ngga usah lebay. Tadi lagi telponan sama Rhea setelah kamu telpon."


"Ah iya, kemana dia. Kenapa nggak ikut nginep sekalian. Lo bilang kan kalau gue mau nginep. Kok dia nggak mau ikut nginep sekalian."


"Sst, ngomong mulu kamu. Buruan masuk, aku kunciin nih kalau nggak mau masuk."


Aku mengancam Lyra agar segera masuk karena aku sudah malas berdiri didepan pintu seperti ini.


"Galak amat sih lo, nih titipan lo. Beresin sendiri, gue mau ke kamar."


Aku menerima kantung belanjaan yang disodorkan Lyra padaku dan meletakannya dimeja dapur. Sedangkan Lyra sudah berlari masuk kamar. Memang ya, Lyra itu kadang sedikit tidak tahu diri, untuk sahabat kalau bukan sudah aku usir dia.


Setelah membereskan belanjaan Lyra yang ternyata lumayan banyak, aku menyusul Lyra masuk kamar.


"Tumben banget minta nginep, kenapa kamu? Sini cerita."


"Beneran pengen nginep doang gue tuh."


"Nggak usah sok mau rahasia-rahasiaan, buruan cerita. Nggak usah ditahan, nangis aja."

__ADS_1


Lyra langsung memeluk gue dan menangis, tidak biasanya Lyra seperti ini, entah ada masalah apa dia. Tapi apapun itu, aku harap Lyra bisa segera menemukan solusi. Karena aku tidak yakin masih bisa menenangkan Lyra nantinya, mengingat masalahku dan Zayn belum terselesaikan.


Ponsel ku kembali berdering, lagi-lagi Zayn yang menelpon. Aku sengaja mengabaikan panggilannya.


"Mei, hp lo berisik. Angkat sih telponnya." Protes Lyra karena merasa terganggu.


"Biarin aja, nggak penting. Nanti juga berhenti sendiri."


"Ish, siniin hp lo. Gue aja yang jawab."


Lyra mengambil ponselku dan mengernyut heran melihat nama orang yang menelponku.


"Ini telpo dari Zayn dan nggak lo jawab sama sekali, malah lo biarin. Lagi kenapa lo sama dia?"


"Nggak ada apa-apa, lagi males aja. Kalau kamu mau jawab itu telpon, bilang aja udah tidur."


Aku memalingkan wajah dari Lyra dan tidak ingin dia tahu kalau aku sedang ribut dengan Zayn. Cukup Rhea yang tahu soal ini, Lyra jangan dulu. Karena aku nggak mau bikin dia makin pusing karena masalahku.


"Halo, Mei. Kamu dimana? Aku minta maaf."


Aku bisa mendegar suara Zayn, karena sepertinya Lyra sengaja me-loudspeaker penggilan Zayn.


"Ini gue, Lyra. Mei ada di rumah dan dia udah tidur. Besok gue sampein maaf lo ke dia."


"Ra, gue minta tolong bangunin Mei bentar. Gue harus ngomong sama dia sekarang. Gue nggak tenang kalau belum minta maaf sama dia."


Mendengar Zayn yang memohon seperti itu, rasanya aku nggak tega. Ingin rasanya aku menjawab omongan Zayn, kalau aku sudah memaafkannya. Tapi aku sudah berjanji dengan Rhea dan Kak Eza untuk tidak berhubungan dengan Zayn sementara ini.


"Dia udah tidur, Zayn. Kayaknya dia kecapekan. Gue nggak tega bagunin. Besok aja lo coba telpon dia lagi."


"Yaudah, gue titip Mei."


"Udah, telponnya udah dimatiin sama dia. Sekarang gue yang tanya, lo ada masalah apa sama Zayn? Apa yang lo sembunyiin dari gue, dari Rhea?"


"Nggak ada, cuma salah paham doang. Dan gue lagi nggak mau berantem sama Zayn, jadi gue diemin dia."


Aku berusaha menjawab pertnyaan Lyra dengan hati-hati, berharap dia akan percaya dengan apa yang aku ucapkan. Karena untuk saat ini aku benar-benar tidak ingin membahas soal itu.


"Okey, gue nggak akan nanya lagi. Tapi gue mohon, setelah ini tolong jangan diam, cukup Rhea yang kayak gitu, lo jangan. Apapun itu, cerita ke gue." Ujar Lyra sambil menatap mataku.

__ADS_1


Sejujurnya tatapan Lyra sedikit membuatku takut. Takut kalau nantinya Lyra tahu soal aku yang menyembunyikan soal tadi dari dia. Semoga saja, aku bisa menyelesaikan masalahku tanpa melibatkan Lyra ataupun Rhea, karena mereka juga punya masalahnya sendiri dan aku tidak ingin membebani mereka.


...~~...


__ADS_2