Bianglala (Revisi)

Bianglala (Revisi)
21.2 [Lyra] Kabur


__ADS_3

Gue berakhir pulang ke rumah Mei, awalnya tujuan gue melakukan itu agar bisa menenangkan diri. Tapi sepertinya salah, karena rupanya Mei juga sedang tidak baik-baik saja.


Jujur saja, ucapan Tante Rila tidak salah, beliau hanya ingin yang terbaik untuk anaknya. Tante Rila sangat sayang pada Kak Bryan, begitu juga gue. Tapi mau sesayang apapun gue sama Kak Bryan, kami hanya akan tetap seperti ini.


Hah! Kenapa sih harus diberi harapan kalau pada akhirnya akan dipatahkan seperti ini. Bukankah lebih baik Tante Rila membenci gue. Mungkin itu akan mempermudah gur untuk melepaskan Kak Bryan. Kalau seperti ini, rasanya gue masih nggak rela.


Dering ponsel Mei membuat gue sedikir tersentak dan sedikit terdistraksi. Gue bersyukur untuk itu, karena setelah itu gue bisa sedikit melupakan masalah yang terjadi tadi.


Gue teralihkan oleh Zayn yang meminta maaf pada Mei lewat telepon barusan. Iya gue yang menjawab panggilan itu, karena Mei enggan untuk berbicara dengan Zayn. Sejujurnya gue penasaran, tapi gue menahan diri untuk tidak menanyakannya pada Mei.


"Nih, handphone lo. Gue mau nyantai di balkon."


Gue menyerahkan ponsel Mei kembali dan berjalan ke arah balkon kamar Mei untuk duduk disana. Entah kenapa, suasana balkon kamar Mei bisa membuat gue merasa nyaman dan tenang.


"Ra, nanti Rhea mau kesini. Kalian berdua nggak usah ribut."


Gue mengabaikan ucapan Mei dan tetap fokus menikmati suasana malam di balkon. Membiarkan Mei sibuk dengan kegiatannya di dalam kamar.


Rhea benar-benar datang seperti ucapan Mei. Tapi satu yang membuat gue sedikit kaget, dia diantar Kak Eza. Sejak kapan mereka sedekat ini? Sepertinya banyak hal yang gue lewatkan hanya karena rencana pertemuan gue dengan keluarga Kak Bryan hari ini, yang sayangnya tidak berakhir baik.


"Nih, makanan. Tadi mampir dulu sebelum kesini. Gue mau cuci muka dulu."


"Mandi sekalian sih, kamu kan dari tadi siang berkeliaran diluar dan sekarang udah malem."


"Berkeliaran banget nggak tuh, udah kayak apaan lo, Rhe."


Tawa gue pecah mendengar ucapan Mei, bisa-bisanya dia menyebut sahabatnya berkeliaran. Tapi kalau dipikir-pikir lagi nggak salah sih, kan Rhea emang seharian ini diluar sama Kak Eza.


"Tuh, makan. Gue mau mandi dulu, daripada diusir yang punya rumah."


Gue dan Mei langsung duduk dikarpet dan memakan makanan yang tadi di bawa Rhea. Kapan lagi kan Rhea dengan sukarela membawakan makanan untuk kami tanpa diminta. Walaupun gue yakin, sebenarnya yang membeli makanan ini Kak Eza.


"Lo nggak usah tanya kenapa gue bisa ada disini. Gue lagi males bahas itu."


Gue langsung menolak, begitu melihat tatapan penuh selidik yang Rhea tujukan. Gue yakin setelah ini Rhea pasti akan melontarkan pertanyaan untuk sekedar memuaskan rasa penasarannya.


"Gue nggak ngomong apa-apa padahal. Berarti ada yang sengaja lo sembunyiin dari kita."


Ucapan Rhea barusan membuat Mei juga menatap gue penasaran. Duh, bisa-bisanya gue malah salah bicara seperti ini.


"Jangan tanya apapun, gue akan cerita nanti. Buat sekarang gue mau lupain soal tadi."


Akhirnya gue mengalah juga. Siap-siap saja, setelah ini gue harus memikirkan kata-kata yang pas untuk menjelaskan kejadian hari ini kepada dua sahabat kesayanganku ini dan juga Kak Eza.


"Iya, aku juga akan cerita kalau udah waktunya. Untuk saat ini aku akan coba buat beresin sendiri."


Ah, ternyata Mei juga. Sepertinya kami memang punya hal yang harus disimpan dan diselesaikan sendiri untuk saat ini, tapi entah dengan Rhea. Karena sampai saat ini dia masih saja diam dan tak berkomentar apapun.



__ADS_1


Malam itu kami berakhir tidur hingga larut malam, akibatnya pagi ini kami bangun kesiangan dan pusing sendiri karena ada kelas pagi.



"MEI! Buruan. Lo mandi apa berendem sih. Kita udah telat ini."



Rhea mengedor pintu kamar mandi karena Mei tidak juga keluar, padahal dia sudah lima belas menit disana. Sudah melebihi waktu yang dijanjikan diawal sebelum sepakat bergantian memakai kamar mandi.



"Ngapain sih Rhe, kamar mandi nggak cuma dikamar ini. Ribut banget sih lo."



"Masalahnya alat mandi gue di dalem sana."



"Yaudahlah, bolos aja sekalian kita. Percuma ke kampus, palingan juga disuruh tutup pintu dari luar."



Pada akhirnya gue memutuskan untuk membolos, bodoamat dengan tugas dan yang lainnya. Daripada diusir dari kelas lebih baik tidak hadir sekalian.




Rhea menyetujui usulan gue untuk membolos, tapi mau dibawa kemana gue sama Mei. Sedikit mencurigakan, tapi gue penasaran akan ada hal gila apa yang dilakukan Rhea nanti.



Setelah semua beres, Rhea langsung mengajak kami untuk segera keluar rumah. Tunggu, sejak kapan ada mobil Rhea di halaman? Bukankah tadi malam dia diantar Kak Eza.



"Nggak usah banyak tanya, buruan masuk. Simpen pertanyaannya buat nanti."



Seolah bisa membaca pikiran gue, Rhea langsung memberi peringatan sebelum gue menyuarakan rasa penasaran. Dia mengemudikan mobilnya keluar gerbang rumah Mei menyusuri jalan yang gue tahu menuju ke arah Lembang.



Gue nggak tahu apa tujuan Rhea membawa kami pergi sejauh itu. Tapi gue akan sangat berterimakasih untuk ide gilanya hari ini. Setidaknya dengan begini gue bisa menjauh dari Kak Bryan sementara waktu dan melupakan soal permasalahan kami.



"Mau kemana sih? Kenapa malah bolos kelas."

__ADS_1



Mei yang dari tadi diam dan menurut, menyerukan protes. Gue pikir diamnya Mei itu karena sudah setuju, ternyata dia hanya sedang mencari waktu yang tepat untuk protes pada Rhea.



"Kenapa nggak? Toh kita juga nggak bakalan dikasih masuk, jadi bolos sekalian aja. Lagi pula, gue yakin kalian berdua nggak akan bisa fokus merhatiin penjelasan dosen dengan kepala penuh kayak gitu."



Gue menatap Rhea tidak percaya, bagaimana bisa dia tahu kalau kami sedang memikirkan banyak hal. Padahal gue belum bicara apapun pada Rhea.



"Gue cuma nebak, lagi pula gue yakin kalian juga butuh pengalihan walaupu sebentar."



"Terserah kamu, aku marah-marah juga nggak akan ngaruh. Kamu pasti tetep bawa kita pergi. Tapi seenggaknya kasih tahu kita mau dibawa kemana."



Mei akhirnya pasrah juga dengan Rhea. Mau tak mau gue dan Mei menuruti Rhea dan berusaha untuk menikmati waktu yang sebentar ini untuk pengalihan sekaligus berpikir bagaimana menyelesaikan masalah yang sedang kami hadapi.



"Kalian mau-nya kemana? Keluar kota atau tetap sekitaran Bandung aja?"



Rhea malah membalikan pertanyaan pada kami. Yang benar saja dia mengajak kami keluar kota tanpa persiapan seperti ini. Tapi, sepertinya menarik kalau bisa kabur sampai keluar kota.



"Lo ada rekomendasi tempat menarik nggak?"



"Aku pernah diajak Zayn ke pantai buat lihat sunset, bagus banget tempatnya. Tapi diluar Bandung dan ini kita berangkatnya kepagian kalau buat lihat sunset."



"Kita nyari sarapan dulu aja kalau gitu sekalian jalan ke pantainya, nggak lihat sunset nggakpapa deh."



Tanpa menunggu lagi Rhea segera mengemudikan mobilnya sesuai dengan gps yang ada di ponsel Mei. Kami benar-benar merealisasikan rencana dadakan yang dibuat Rhea.



...~~~~~~~~...

__ADS_1


__ADS_2