
Setelah kemarin gue meninggalkan Lyra dikampus dan pulang bareng Kak Eza. Hari ini gue kembali menjemput Lyra untuk menebus kesalahan gue kemarin. Walaupun sebenarnya Lyra sudah tidak masalah sih, tapi gue merasa tidak enak padanya.
"Ini lo jemput gue lagi pasti karena ngerasa bersalah ninggalin gue kemarin. Kan gue bilang nggakpapa. Awas aja, lo jemput kayak gini,tapi gue ditinggalin lagi kayak kemarin." Ujar Lyra santai tapi tersirat nada ancaman dalam suaranya.
"Iya, iya, nggak akan ditinggalin. Lagi pula kalau mau protes ke Kak Eza dong, bukan ke gue."
Gue berkilah agar tidak terus menerus disalahkan oleh Lyra.
"Kenapa jadi saya, kan kamu yang mau." Kak Eza yang memang juga berada diteras ikut berbicara, dia tidak terima gue salahkan.
"Yaudahlah terserah. Ra, buruan. Gue ada janji sama Zayn buat latihan gitar."
Gue memburu-buru Lyra agar lebih cepat lagi, karena gue memang sudah janjian dengan Zayn untuk berlatih diruang musik.
"Jadi lo belajar sama Zayn?" Tanya Lyra.
"Jadi lah, daripada nungguin orang nggak jelas. Cuma janji doang mau ngajarin, tapi nggak jadi mulu karena sibuk." Ujar gue dengan suara yang sengaja dinaikan satu oktaf agar Kak Eza mendengarnya.
"Udah sana berangkat kalian, telat nggak boleh masuk ntar." Ujar Kak Eza mengusir kami dengan halus. Sepertinya dia sedikit merasa tersindir dengan ucapan gue.
Kami langsung berangkat begitu Lyra sudah masuk mobil. Kali ini gue sendiri yang mengemudikan mobilnys menuju kampus. Untungnya pagi ini jalanan tidak terlalu ramai, jadi kami bisa tiba lebih cepat.
Gue langsung menuju fakultas Zayn begitu tiba di kampus. Ternyata Zayn sudah menunggu sejak tadi.
"Sorry, tadi nunggu Lyra dulu." Gue langsung minta maaf saat sudah berdiri dihadapan Zayn.
"Gue juga baru dateng ini," sahut Zayn sambil beranjak dari duduknya.
"Yuk, langsung ke ruang musik aja. Nanti mau dipakai latihan soalnya." Imbuh Zayn mengajak gue ke ruang musik.
Kami berdua berlatih di ruang musik, selagi anak-anak band belum datang untuk latihan.
"Udah lumayan sih permainan lo." Ucap Zayn mengomentari permainan gitar gue.
"Kemarin kan gue sempet latihan pas di rumah Lyra. Latihan pakai gitarnya Kak Eza." Sahut gue.
Saat sedang asik bermain, tiba-tiba seseorang masuk keruang musik dan menginterupsi latihan gue. Ternyata itu Mei, kayaknya dia mau latihan bernyanyi. Tapi berhubung ada gue dan Zayn dia mengurungkan niatnya.
__ADS_1
"Eh, maaf. Aku kira cuma ada Zayn." Ujar Mei sedikit canggung.
"Masuk aja Mei, nggak ganggu kok."
Zayn mempersilakan Mei masuk dan kembali fokus mengajari gue kunci gitar. Kami lanjut berlatih tanpa mempedulikan Mei yang berada dalam satu ruangan bersama kami.
Setengah jam sudah berlalu, gue menyudahi latihan dan berpamitan pada Zayn untuk kembali karena sebentar lagi jam kuliah gue akan dimulai.
"Gue balik ya, besok lagi latihannya. Capek, lagi pula bentar lagi kuliah."
Gue beranjak dan langsung keluar ruangan diantarkan oleh Zayn. Sebelum benar-benar pergi, gue menitip pesan pada Zayn.
"Tolong nanti pas pulang Mei dianter sekalian." Pesan gue sebelum benar-benar pergi dari ruang musik.
Mata kuliah hari ini cukup menyenangkan. Rasanya gue ingin bisa segera mahir bermain gitar. Agar suatu saat gue merasa bosan, gue bisa menghibur diri dengan bermain gitar.
Gue kali ini tidak langsung pulang tapi menunggu Lyra, seperti janji gue tadi pagi. Gue menunggu dikantin FEB, biar lebih gampang karena memang parkir juga parkiran fakultas ekonomi.
"Udah kan, nggak gue tinggal nih." Ujar gue pada Lyra yang melangkah menuju ke arah gue.
"Percaya deh, lo mau makan siang sekalian atau mau langsung pulang?"
"Makan ditempat lo boleh nggak sih? Males pulang gue."
"Okey, nanti gue masakin. Tapi kita mampir ke supermarket dulu. Gue butuh bahan tambahan. Sekalian isi ulang stok camilan."
Gue dan Lyra bergegas menuju parkiran untuk mengambil mobil dan segera menuju supermarket seperti rencana kami.
Kami tiba di rumah Lyra mejelang sore, karena ternyata Lyra justru kalap dan berkeliling membeli apapun yang dia lihat, sekalian belanja bulanan katanya. Padahal ini masih pertengahan bulan.
Untungnya di rumah Lyra tidak ada siapapun dan hanya kami berdua. Jadi tidak akan ada yang mengomel karena kami belanja terlalu banyak dan juga gue bisa bebas melakukan apapun disini. Karena akan jadi berbeda bila ada Kak Eza di rumah.
"Rhea, mau makan apa lo? Awas kalau bilang terserah."
__ADS_1
Baru juga mau jawab terserah, Lyra sudah lebih dulu memperingatkan. Akhirnya mau tidak mau, gue berpikir juga tentang menu yang akan di masak Lyra.
"Yang simple aja sih berdua doang. Bikin sup telur aja atau apa gitu biar cepet. Gue mau bikin camilan pake sayuran lo." Usul gue memberikan rekomendasi menu untuk di masak Lyra.
Tidak sampai satu jam sup telur yang dibuat Lyra dan juga camilan yang gue buat jadi. Kami berdua makan dengan tenang didalam ruang makan sembari sesekali mengobrol ringan.
"Makasih buat makanannya. Lain kali gue mau dimasakin lagi ya." Ujar gue sambil membawa mangkok bekas ke wastafel untuk dicuci.
Gue berada di rumah Lyra sampai sore. Setelah selesai makan dan membereskan dapur, kami naik ke kamar dan mengabiskan waktu dengan marathon movie terbaru.
Gue tiba di rumah setelah malam. Gue memang sengaja melakukan itu karena gue masih enggan bertemu dengan Aga. Iya gue pulang sore karena untuk menghindari Aga.
Gue masih enggan bertemu dengannya. Entah kenapa masih susah untuk gue memaafkan Aga. Jujur saja, ucapannya sampai sekarang masih belum bisa gue lupakan.
Sebenarnya gue merindukan Aga, tapi ego gue belum mau memaafkan dia. Gue masih merasa kalau itu salah Aga dan dia yang harus minta maaf.
Padahal sebenarnya kami berdua sama-sama salah. Omongan gue yang nggak di filter dan asal ucap memancing amarah Aga yang memang sudah tidak bisa dibendung lagi.
Dan pada akhirnya kami berdua berdebat tanpa henti di kantin waktu itu. Gue rasa, kalau nggak ada Kak Eza yang melerai kami, perdebatan gue dan Aga masih akan berlangsung sampai salah satu dari kami lelah. Karena gue dan Aga adalah tipe orang yang sama-sama keras kepala.
Ngomong-ngomong soal masalah waktu itu, sampai sekarang gue belum meminta maaf sama Mei. Gue masih saja mendiamkannya, padahal seharusnya gue tidak berlaku seperti itu padanya.
Mei justru tidak bersalah sama sekali, dia hanya kena imbas dari perdebatan gue dan Aga. Justru seharusnya kami lah yang meminta maaf pada Mei, terutama gue dan bukan malah menghindarinya seperti ini.
Sejujurnya gue bingung harus bagaimana di depan Mei, gue bukan marah dengannya. Hanya saja gue merasa canggung karena sudah sempat mengikuti ego dan gengsi gue untuk mendiamkan Mei dan menghindarinya juga.
Gue malu, rasanya aneh bila harus bersitatap dengan Mei setelah kejadian itu. Tapi, bagaimanapun gue harus minta maaf dan berbaikan dengan Mei. Gue tidak mau terlalu lama mengabaikan sahabat gue.
Setelah memikirkan semua hal semalam suntuk. Gue bertekad, harus meminta maaf pada Mei dan berbaikan dengannya. Untuk Aga, gue akan mencoba untuk belajar memaafkannya.
__ADS_1
...~~~~~~~~~~...