
Seperti biasa, pagi ini aku sudah dijemput Kara untuk berangkat ke kampus. Kegiatan itu sudah menjadi rutinitasku setiap pagi. Jadi mau bagaimanapun aku menolak, Kara akan tetap menjemputku.
"Kan aku udah bilang, nggak usah jemput aku. Kamu kan biasanya jemput Rhea." Ujarku memprotes Kara.
"Ngapain? Dia aja bawa mobil sendiri." Sahut Kara seolah tidak peduli.
Aku tidak menyahuti lagi perkataan Kara, karena bila aku menyahuti lagi maka kami akan berakhir berdebat. Jadi lebih baik aku diam dan fokus pada ponselku saja.
Aku sedikit tersentak ketika melihat pop up chat, ternyata Rhea membalas pesanku. Cepat-cepat aku membaca pesan itu.
Rhea😼
Sejujurnya gue nggak baik, tapi nggak masalah.
Lo apa kabar?
Ayo, kita ketemu. Berdua.
Gue rasa kita emang perlu bicara.
Kabarin kalau lo udah di kampus dan lagi sendiri.
Aku membaca chat Rhea pelan, masih tidak menyangka kalau Rhea membalas pesanku. Bahkan, pesannya lebih panjang dari biasanya dia chat denganku dan Lyra.
"Kenapa Mei, kayaknya serius banget liat handphone." Ujar Kara.
"Nggakpapa, cuma lagi cek sesuatu aja."
Aku buru-buru menutup pesan Rhea sebelum Kara ikut membaca. Jangan sampai dia tahu kalau aku akan bertemu dengan Rhea. Agar aku bisa menyelesaikan urusanku dengan Rhea tanpa gangguan Kara.
Kami tiba di kampus tepat saat jam kuliah hampir di mulai. Tanpa berpamitan atau mengucapkan terimakasih aku langsung berlari kecil menuju kelasku. Untungnya aku tidak terlambat.
Selama kelas, aku tidak fokus. Pikiranku terbagi antara penjelasan dosen dan tentang chat Rhea tadi pagi. Sejujurnya aku tidak sabar untuk bertemu dengan Rhea, tapi disisi lain aku takut kalau nantinya pertemuan kami hanya sia-sia.
Kelas sudah berakhir lima belas menit yang lalu, tapi aku masih saja duduk diam di dalam kelas. Aku masih ragu-ragu untuk mengabari Rhea. Aku masih bimbang, apakah keputusanku benar atau salah.
Saat sedang asyik melamun memikirkan keputusanku itu. Terdengar suara familiar di luar ruang kelas. Rasa gugup langsung mengambil alih ketika aku tahu kalau itu suara Rhea.
"Gue tungguin dari tadi chatnya, ternyata malah ngelamun di kelas. Untung gue tanya temen kelas lo." Ujar Rhea santai.
__ADS_1
"Maaf," cicitku sedikit takut.
"Kenapa minta maaf sih Mei, lo nggak salah. Gue yang harusnya minta maaf." Ujar Rhea tanpa basa-basi.
Aku hanya bisa diam, bingung harus menjawab apa. Sejujurnya dibanding merasa marah pada Rhea, sekarang aku justru merasa terharu. Karena akhirnya kami bisa duduk berdua dan mengobrol, walaupun masih sedikit canggung.
"Terlepas aku salah ataupun nggak, aku minta maaf sama kamu Rhea. Aku minta maaf karena diamnya aku justru memperumit semuanya, membuat Kara justru menaruh rasa marah padamu." Cicitku pelan.
"Harusnya gue yang minta maaf. Maaf karena gue cuma diem dan milih lari. Maaf karena gue, lo jadi kena imbasnya dan harus menuruti segala kemauan Aga." Tutur Rhea sarat akan rasa bersalah.
"Maaf, karena gue sempat egois dan marah sama lo. Sejujurnya, gue merasa cemburu sama lo, Mei. Gue menyukai Kara, bukan sebagai sahabat dan gue nggak suka kalau dia terlalu dekat sama lo." Lanjutnya yang membuat aku terkejut.
Jujur saja, walaupun kemungkinan ini sempat terpikirkan dalam benakku. Tapi aku tetap saja terkejut saat mendengar sendiri dari ucapan Rhea.
"Tapi lo nggak perlu khawatir, Mei. Lo nggak perlu jauhin Aga buat jaga perasaan gue. Cukup berlaku seperti biasanya aja." Titah Rhea seolah membaca apa yang aku pikirkan.
Aku mengangguk kecil dan tersenyum senang karena akhirnya aku berbaikan dengan Rhea. Jujur saja, aku merindukan sahabatku ini.
"Dari mana aja lo, katanya mau latihan di ruang musik. Udah ditungguin hampir sejam ngga muncul-muncul."
Aku dan Rhea yang baru saja membuka pintu sedikit terlonjak karena seruan Zayn yang memprotes Rhea.
"Berisik. Gue abis ngobrol sama Mei." Sahut Rhea.
"Lah kalian udah baikan? Cepet amat?"
"Terus lo maunya gue sama Mei musuhan, gitu?"
__ADS_1
"Bukan gitu, tapi......"
"Udah, malah ribut kalian. Katanya Rhea mau latihan gitar lagi, buruan. Biar abis ini kita bisa langsung ke rumah Lyra."
Aku memotong ucapan Zayn dan menengahi mereka agar tidak berdebat lagi. Karena bila dilajutkan, maka perdebatan mereka tidak akan selesai sampai nanti malam.
Aku hanya menjadi penonton ketika Zayn dan Rhea sibuk dengan gitar. Karena aku sama sekali tidak menguasai alat musik. Aku hanya bisa bernyanyi, itupun aku harus rajin berlatih.
"Mei, coba deh lo nyanyi. Nanti biar Rhea yang ngiringi. Dia udah lumayan."
Zayn memintaku untuk bernyanyi dan akan diiringi permainan gitar dari Rhea.
Tanpa berpikir lagi, aku langsung mengiyakan permintaan Zayn. Aku bernyanyi salah satu lagu yang cukup terkenal dan memang di sukai oleh aku dan Rhea.
Aku sangat menikmatinya, apalagi permainan Rhea juga bagus. Walaupun memang belum terlalu lancar. Tapi setidaknya dia sudah berusaha sejauh ini, aku yakin setelah ini Rhea bisa bermain gitar sesuai dengan keinginannya sejak dulu.
"Wah, keren kalian. Bikin duo aja kalian, eh trio sekalian sama Lyra." Usul Zayn sambil bertepuk tangan.
"Usul ditolak," tukas Rhea tidak berminat.
"Ngomong-ngomong, jadi mau nginep di rumah Lyra? Beneran mau langsung dateng tanpa ngabarin, kalau Lyra pergi sama Kak Bryan gimana?"
"Jadi lah, kan mau kasih surprise. Soal Lyra tenang aja, gue udah tanya Kak Eza kok."
"Dih modus, bilang aja pengen chat Bang Eza. Pura-pura nanyain Lyra segala." Celetuk Zayn dan langsung mendapatkan geplakan sayang dari Rhea.
"Bentar, aku ketinggalan info apa nih? Kok Zayn malah lebih update soal kamu sih, Rhe?"
Aku menatap Rhea menuntut, berharap dia akan memberikan penjelasan agar aku mengerti apa yang mereka bicarakan. Tapi Rhea justru menggeleng pelan dan sibuk kembali dengan gitar.
Aku beralih menatap Zayn, tapi anak itu juga hanya diam dan berpura-pura tidak tahu apa-apa. Aku yakin, sebenarnya Zayn tahu lebih banyak dari yang aku kira. Hanya saja dia tidak mau memberitahuku.
"Udah Mei, nggak usah dipikirin. Omongan Zayn kok lo percaya, tuh bocah asal ngomong. Mending kita mikirin mau kasih kejutan apa buat Lyra besok."
Rhea berusaha mengalihkan pembicaraan agar aku tidak lagi penasaran dengan ucapan Zayn tadi. Aku hanya mengalah dan tidak menanyakan soal itu lagi, walaupun aku sangat penasaran sekarang.
"Bingung juga. Kamu ada ide nggak, Zayn?"
"Nggak perlu kejutan. Denger kalian baikan kayak gini aja, pasti Lyra kaget sih. Jadi ngga perlu tuh bikin kejutan-kejutan." Sahut Zayn dan langsung mendapatkan geplakan sayang dari Rhea untuk kedua kalinya.
"Sakit, Rhe! Bar-bar amat sih jadi cewek." Seru Zayn kesal karena harus jadi korban tangan bar-bar Rhea.
"Lagian lo tuh kalau jawab yang bener makanya." Balas Rhea.
"Kamunya iseng banget sih, udah tahu Rhea tuh galak. Masih aja digangguin."
Zayn hanya tertawa dan itu semakin membuat Rhea kesal. Siap-siap saja, setelah ini pasti dia akan mendapatkan geplakan sayang dari Rhea untuk ketiga kalinya.
__ADS_1
Aku tidak berniat melerai bila itu terjadi, biar saja Zayn bertanggung jawab karena ulahnya sendiri. Aku cukup menjadi penonton saja.