Bianglala (Revisi)

Bianglala (Revisi)
9.2 [Lyra] Outsider


__ADS_3

Launching Rumah Baca, itu berarti hari ini adalah hari terakhir gue di antar jemput sama bocah tengil ini. Bocah nyebelin yang sayangnya adalah sepupu Bryan dan juga orang yang sedang dekat dengan Mei.


"Lo tuh lama amat sih dadannya. Cuma mau jadi MC doang sih."


"Diem deh lo, nggak usah kebanyakan protes. Lo tuh disini jadi supir gue." Ketus gue sebal, karena dia protes melulu.


"Ya lo kelamaan, gue perlu cek sound lagi ini. Tahu gitu tadi berangkat duluan aja, biar Bang Bryan sendiri yang jemput lo." Cecar Zayn sewot sendiri karena gue terlalu lama dandan. Padahal kan gue dandan biar tampil cantik dan menawan di depan Kak Bryan.


Setelah berdebat tidak jelas masalah dandan tadi, akhirnya gue dan Zayn berangkat juga. Menyusul Rhea dan Kak Eza yang sudah lebih dulu berangkat tadi.


"Muka lo jelek amat, kenapa lo?"


Gue bisa mendengar Kara bertanya pada Zayn karna eskpresinya yang sangat terlihat sedang kesal, lebih tepatnya kesal sama gue sih.


"Cewek-cewek emang kalo dandan selama itu ya? Asli gue sampai bosen nunggunya." Zayn malah balik bertanya pada gue.


"Iya, mereka dandan lama banget." Timpal Kak Eza yang sepertinya juga menjadi korban Rhea, harus menunggu dia terlalu lama.


"Nggak ya, lo aja yang kepagian datangnya."


"Kepagian apanya? Itu kalau kita lebih siang lagi jam segini masih kejebak macet."


Gue dan Zayn berakhir menjadi penonton bayaran pedebatan Kakak kesayangan gue dan salah satu sahabat gue. Iya, Rhea dan Kak Eza berdebat lagi hanya karena hal sepele. Benar-benar kekanakan.


"Tinggalin aja lah mereka, nggak guna disini cuma buat nonton orang berdebat. Mending gue persiapan buat tampil." Zayn menyeret gue meninggalkan Kak Eza dan Rhea yang masih berdebat.



Gue yang di tunjuk sebagai MC secara tiba-tiba ketika gladi bersih mulai bersiap untuk memulai acara. Gue harap, acara kali ini berjalan lancar dan sesuai dengan yang dirancang Kak Eza dan kawan kawan.



Penampilan Band Mei dan Zayn sangat bagus. Gue tidak menyangka kalau penampilan spesial dari mereka benar-benar menakjubkan. Mei dan Zayn terlihat serasi ketika tampil di panggung.



Mereka membawakan lagu Hindia yang berjudul Rumah ke rumah. Dan gue baru sadar, kalau Zayn tidak hanya jago mamainkan drum tetapi juga gitar dan beberapa alat musik lain.



"Lah malah bengong? Terspesona sama Zayn lo." Rhea yang sedari tadi tidak terlihat tiba-tiba datang dan langsung menggoda gue.



"Mana ada, mending Kak Bryan kemana-mana."


__ADS_1


Gue membantah perkataan Rhea, mana mungkin gue terpesona pada Zayn. Tapi dilihat-lihat lagi, Zayn keren juga sih.



"Nggak usah denial, kalau emang terpesona. Gue akui kok, Zayn keren banget emang." Tambah Rhea mengkompori gue.



"Tapi ya bener sih, mereka keren." Gue mengiyakan ucapan Rhea, mengakui kalau Zayn keren.



"Mei juga keren sih, cantik juga ternyata kalau kacamatanya di lepas kayak gitu." Celetuk Kara yang entah sejak kapan berdiri dibelakang kami.



"Lo mah, lihat yang cantik dikit meleng. Udah ada gebetannya itu." Goda gue seseaat setelah mendengar ucapan Kara.



Ada yang sedikit aneh dengan Rhea, biasanya dia akan ikut menggoda Kara dengan semangat. Tapi kali ini dia hanya tersenyum seadanya ketika gue menggoda Kara. Bahkan terlihat tidak berminat.



"Lo kenapa? Kok tumben banget lo diem gini." Gue bertanya heran pada Rhea yang tidak seperti biasanya.




Acara berakhir sampai sore dan ternyata kami. Ah, lebih tepatnya para panitia harus evaluasi kegiatan yang dilaksanakan tadi. Berhubung gue juga termasuk panitia, walaupun dadakan jadi terpaksa gue juga ikut evaluasi.


"Saya rasa project tadi sudah cukup baik. Mungkin kedepannya yang perlu diperbaiki managemen waktunya saja. Biar kita nggak pusing ngejar ini itu." Ujar Kak Bryan.


"Saya setuju sama Bryan. Tapi untuk hal-hal yang lain saya rasa Rhea benar, kalau sudah cukup baik."


Gue yang sebenarnya tidak tahu apa-apa hanya bisa diam dan mendengarkan. Sebenarnya gue tidak ikut evaluasi pun juga tidak masalah karna gue hanya pengganti untuk MC asli yang berhalangan hadir karna sakit.


"Kak, bosen terus laper juga. Mau pulang terus tidur." Gue berbisik ke Kak Bryan yang kebetulan duduk tidak jauh dari gue.


"Bentar lagi ya, nanti kamu pulang sama saya." Sahut Kak Bryan.


Gue lekas mengangguk patuh dan kembali ke tempat duduk gue sebelumnya.


Gue baru menyadari, kalau seharian ini Mei dan Rhea sama sekali tidak ada interaksi. Ada yang aneh sama mereka, apa mereka sedang ada masalah ya? Tapi kenapa tidak ada yang membicarakan itu sama gue.


"Mei, tadi lo keren banget." Puji gue, sambil berbasa-basi sebelum bertanya soal dia dengan Rhea. Gue yakin ada yang sedang mereka simpan sendiri dibelakang gue.

__ADS_1


"Makasih. Kamu tadi juga bagus, padahal baru latihan kemarin pas gladi."


Gue tersenyum tipis menanggapi pujian yang diberikan Mei.


"Mau nanya deh. Lo sama Rhea lagi kenapa? Lagi ada masalah ya?" Tanya gue to the point.


"Hah? Aku sama Rhea nggak kenapa-kenapa. Kitanya lagi sama-sama sibuk aja."


"Tapi kok kayaknya kalian saling menghindari satu sama lain ya. Atau perasaan gue doang." Ujar gue masih tidak percaya dengan ucapan Mei.


"Nggak kok, perasaan kamu doang kali. Kan Rhea sibuk banget sama Kak Eza, terus aku juga sibuk latihan." Jelas Mei, tapi dengan sikap yang terlihat gelisah, terbukti dia beberapa kali memainkan jari-jarinya dan memilin ujung sweater yang dia pakai.


"Beneran? Ini kalian bukan sengaja mau sembunyiin dari gue kan?"


Gue memastikan sekali lagi bahwa Mei sudah berbicara jujur.


"Iya, beneran. Udah ah, fokus dengerin Kak Eza aja." Tukas Mei makin meyakinkan gue.


Akhirnya evaluasi selesai juga dan gue bisa pulang sama Kak Bryan. Karena sudah lama kami tidak pulang bersama, lebih tepatnya Kak Bryan yang terlalu sibuk jadi tidak bisa menjemput gue seperti biasa.


"Kak, gue bareng sama Kak Bryan ya. Gue titip Rhea sama lo, anterin sampai rumahnya."


Gue berbicara pada Kak Eza, seolah memerintah dia untuk mengantarkan Rhea dengan selamat.


"Dah ya, kita duluan. Rhea, titip Kakak gue ya, kalau nyebelin tendang aja nggakpapa." Gue berbisik kepada Rhea, takut Kak Eza dengar apa yang gue bilang ke Rhea.


"Zayn buruan, gue tinggal ya. Lama banget sih."


Kalau tadi pagi gue yang diburu-buru, sekarang giliran gue memburu-buru Zayn. Dia terlalu lama membereskan peralatan musiknya.


"Mei, berarti bareng gue ya. Kan Rhea udah sama Kak Eza."


Samar-samar gue denger Kara mengajak Mei pulang dan saat itu juga gue menyadari ada yang berbeda dengan ekspresi wajah Rhea. Dia tidak seperti biasanya.


"Ayok buruan, tadi kamu buru-buru Zayn. Sekarang malah kamu bengong doang disini."


Kak Bryan menuntun gue untuk mengikutinya ke mobil, karena ternyata Zayn sudah selesai beberes dan justru sudah berjalan lebih dulu ke mobil.


"Nih gue udah di mobil, lo malah bengong nggak jelas di tengah ruangan." Cibir Zayn begitu gue masuk mobil.


"Bodoamat, lo juga tadi bengong doang lihat Mei." Bantah gue nggak mau kalah.


"Nggak ada, ngapain gue lihat Mei. Gue lagi kasih kode ke Rhea kok." Elak Zayn buru-buru, seolah sedang menutupi sesuatu.


"Ooh, jadi Rhea bukan Mei?"


Gue semakin semangat menggoda Zayn yang terlihat mulai kesal dan malu. Karena termakan omongannya sendiri.

__ADS_1



__ADS_2