Bianglala (Revisi)

Bianglala (Revisi)
17.2 [Lyra] Cemburu


__ADS_3

Misi rahasia yang coba gue lakukan sia-sia, karena ternyata Rhea sudah berinisiatif sendiri untuk meminta maaf pada Kara. Jadi gue hanya sekedar mempermudah pertemuan Rhea dengan Kara.


Tapi gue nggak nyangka, ternyata dibalik inisiatif Rhea ada andil dari Kak Eza didalamnya. Entah apa yang mendorong kakak gue itu. Padahal biasanya dia tidak akan peduli bila itu tidak berkaitan dengan dirinya.


Sejujurnya gue sangat penasaran dan ingin sekali menanyakan soal itu. Tapi kayaknya bukan sekarang, karna Kak Eza sedang dalam mode tidak bisa diganggu. Bisa-bisa gue malah kena amuk kalau nekat tanya sekarang.


"Dek, nanti lo berangkat pakai mobil Rhea ya. Sekalian balikin ke yang punya, dari kemarin nginep sini tuh mobil." Ujar Kak Eza sambil melemparkan kunci mobil milik Rhea.


"Lah, kenapa nggak dia aja yang ambil kesini deh." Tanya gue heran, tapi malah diabaikan oleh Kak Eza.


Mau tak mau, gue tetap berangkat memakai mobil Rhea seperti yang Kak Eza minta. Ternyata Rhea memang sengaja menghubungi Kak Eza, karena dia tahu gue hanya akan menurut kalau Kak Eza yang suruh. Benar-benar ya dia, sengaja banget memanfaatkan kakak gue.


"Jadi lo tuh sengaja bilangnya ke Kak Eza, nggak langsung ke gue. Biar gue mau bawain mobil lo?"


Rhea hanya cengegesan menanggapi protesan gue. Menyebalkan sekali anak itu, awas saja kalau dia seperti itu lagi.


"Udah ah, ntar gue ajak jalan. Nggak usah ngambek. Sekarang ikut gue yuk."


Rhea menyeret gue ke arah ruang musik. Mau apa coba ke ruang musik. Lebih baik gue ke perpustakaan daripada ke ruang musik.


Gue langsung melepaskan rangkulan Rhea dan berbalik arah. Gue bergegas melangkah cepat menuju perpustakaan meninggalkan Rhea yang masih berdiri di lorong.



Perpustakaan masih sepi ketika gue masuk. Hanya ada beberapa mahasiswa yang terlihat sedang membaca buku atau sekedar nongkrong untuk memanfaatkan wifi perpustakaan yang kecepatannya lumayan.



Gue duduk di kursi yang terletak di pojok ruang baca setelah mendapatkan buku yang gue cari. Sebelum membaca buku, gue menyiapkan playlist lagu. Kebiasaan gue memang, kalau membaca harus ditemani lagu.



"Serius amat lo, baca apaan?"



Entah gue salah dengar atau memang Kara yang menyapa gue. Gue langsung mendongak setelah samar-samar mendengar suara yang cukup familiar.



"Ngapain lo disini?" Bukannya menjawab pertanyaan Kara, gue malah balik bertanya padanya.



"Ya cari buku lah, diperpustakaan ngapain lagi emang? Dan ini tuh perpustakaan Univ, jadi semua orang boleh kesini." Jelas Kara membuat gue tersadar.


__ADS_1


"Bentar, sekarang jam berapa? Gue ada kuis."



"Lo kelas jam berapa emang?"



Kara malah balik bertanya dan membuat gue sedikit panik. Percuma dong gue belajar kalau ternyata gue malah telat masuk dan berakhir nggak boleh ikut kuis.



"Gue kelas siang sih, sebelum jam makan siang. Dosennya kadang nggak sesuai jam soalnya." Sahut gue sambil memainkan rambut untuk mengalihkan rasa panik gue.



"Aman, masih ada waktu sekitar setengah jam lagi. Kalau lo khawatir mending lo balik masuk kelas sekarang aja." Ujar Kara memberi saran.



Gue langsung menutup buku yang gue baca tadi dan mengembalikannya ke rak. Menuruti saran Kara untuk segera masuk kelas sekarang daripada nanti gue benar-benar terlambat.



"Sini dulu sih, masih lama lo kuisnya. Gue mau tanya sesuatu."




"Gue masih penasaran. Lo tahu darimana kalau Rhea chat gue tempo hari?"



"Gue nggak sengaja lihat, pas dia abis latihan gitar sama Kak Eza."



"Oh, Rhea deket sama Kakak lo ternyata. Bukannya mereka kayak orang musuhan ya kalau ketemu."



Lho, kok jadi nanyain Rhea sama Kak Eza. Apa Kara cemburu ya? Tapi mana mungkin sih, batin gue penasaran. Tapi gue tidak berniat menyuarakan apa yang gue pikirkan sekarang.



"Ya akurnya mereka kayak gitu doang, akur pas ada gitar. Selebihnya masih sama aja, kek kucing sama anjing, ribut mulu."

__ADS_1



"Kirain, soalnya kemarin Rhea ke rumah dianterin Kakak lo. Setahu gue dia ke rumah lo bawa mobil sendiri." Ujar Kara.



Gue agak bingung kenapa Kara terus menerus menanyakan soal Rhea dan Kak Eza. Apa dia beneran cemburu ya, tapi mana mungkin. Dia kan cuma anggep Rhea sahabat. Tapi kalau Kara beneran cemburu, persahabatan Kara sama Rhea cuma kedok doang.



"Iya, gue yang bawain tadi. Ngomong-ngomong, lo beneran udah baikan sama Rhea? Awas aja ya, kalau gue tahu lo bikin Rhea sedih lagi."



Gue sedikit mengancam Kara, karena sejujurnya gue nggak suka kalau sahabat gue di sakitin. Apalagi sama cowok ngeselin kayak Kara. Iya, gue sebenernya tidak suka dengan Kara. Tapi berhubung dia sahabat Rhea, gue jadi membiasakan diri untuk interaksi dengan Kara.



"Udah ah, gue duluan. Kalau lo kepo soal hubungan Rhea sama Kakak gue. Tanya sendiri sama yang bersangkutan." Ujar gue sebelum melangkah keluar perpustakaan.



"Siapa juga sih yang kepo, justru malah bagus kalau Rhea deket sama Bang Eza. Gue ada yang gantiin buat antar jemput." Gerutu Kara yang masih bisa gur dengar samar-samar.



Gue masuk kelas tepat sebelum dosen masuk. Tak berselang lama, dosen yang mengajar mata kuliah hari ini sudah datang. Siap tidak siap, setelah ini kuis pasti akan di mulai.


"Saya beri kalian waktu 15 menit untuk mengulang kembali yang sudah kalian  pelajari dan setelah itu kuis kita mulai."


Semua anak di kelas buru-buru membuka catatan termasuk gue. Kami semua memanfaatkan waktu yang diberikan dengan sebaik mungkin. Bahkan deretan kursi belakang masih sempat membuat contekan. Sejujurnya gue juga butuh contekan tapi gue terlalu malas untuk membuatnya.


Gue mengikuti kuis dengan pikiran yang sudah buyar. Entah kenapa gue justru kepikiran Kak Bryan. Gue membayangkan seolah-olah dia datang menjemput gue. Hah, sepertinya gue terlalu kangen Kak Bryan sampai-sampai gue berrhalu kalau Kak Bryan datang menjemput.


Gue bergegas merapikan buku-buku dan beberapa kertas yang masih tercecer di meja begitu dosen meminta untuk mengumpulkan jawaban dari soal yang beliau berikan. Sambil mengumpulkan, gue sekaligus membawa tas dan langsung keluar kelas.


"Apakabar, Ra?"


Gue sedikit berjengit ketika ada orang berucap pelan didekat telinga gue. Gue langsung membalik badan dengan kesal, bisa-bisanya melakukan hal seperti itu, nggak sopan.


Gue reflek memekik begitu  mengetahui bahwa yang melakukan itu ternyata Kak Bryan. Tanpa aba-aba gue langsung memeluknya tanpa peduli kalau sedang berada di depan ruang kelas dan menjadi tontonan teman-teman satu kelas yang memang belum pulang.


"Kok nggak bilang kalau udah beres urusannya? Padahal biasanya juga chat atau telpon dulu."


"Kan ceritanya mau kasih surprise, eh tapi tenryata kamu malah keasyikan ngobrol sama Kara." Ujar Kak Bryan dengan nada kesal.


Baru kali ini gue melihat Kak Bryan cemburu, ternyata bisa juga di cemburu seperti itu. Seengganya gue tahu, kalau Kak Bryan benar-benar memperdulikan gue, dibalik kesibukannya itu.

__ADS_1


Tapi tunggu, kalau dia tahu soal gue dan Kara. Berarti Kak Bryan sudah sejak tadi sebelum kelas gue mulai dong ada di kampus.


...~~~~...


__ADS_2