Bianglala (Revisi)

Bianglala (Revisi)
2.3 [Mei] Is a Date?


__ADS_3

Pagi ini sedikit lebih tenang, karena aku ke kampus sendirian. Rhea hari ini tidak ada kelas dan Lyra hanya ada kelas pagi. Sepertinya aku harus benar-benar memanfaatkan waktu dengan baik dan menikmatinya. Kapan lagi kan aku bisa tenang tanpa kedua sahabatku itu. Sebelum nantinya aku akan bersama dengan mereka lagi seharian.


"Loh tumben sendirian?"


Tiba-tiba Zayn duduk di kursi yang berada di depanku. Hah, kenapa aku malah bertemu dengan dia sih. Padahal kan sudah bagus aku terbebas dari Lyra dan Rhea, malah sekarang terjebak dengan cowok tidak jelas ini.


"Mereka lagi ada urusan masing-masing dan aku kan juga ada jadwal latihan sama kamu dan anak band yang lain." Mau tak mau aku menyahuti pertanyaan Zayn juga.


"Berarti nanti abis selesai latihan bisa dong lo jalan sama gue. Kan yang waktu itu belum jadi." Zayn kembali mengajakku untuk pergi bersamanya.


"Kan aku udah bilang dari kemarin, aku nggak bisa karna udah janji mau nginep di rumah Lyra." Aku berusaha menolak dengan halus ajakan dari Zayn, karena jujur saja aku sangat canggung bila harus pergi berdua dengannya. Saat ini saja aku sudah merasa tidak nyaman duduk berdua dengan Zayn seperti ini.


Setelah itu, hanya keheningan yang menyelimuti kami berdua. Sampai dering ponselku memecah keheningan itu. Ternyata Rhea yang menelpon, sepertinya dia mencariku.


"Aku di kampus Rhea, ada latihan Band. Maaf lupa ngabari karena tadi infonya mendadak." Aku menjelaskan alasanku tidak berada di rumah, berusaha meredam kekesalan Rhea karena aku lupa memberitahunya.


"Iya Kara, tolong bilang ke Rhea. Nanti aku nyusul ke rumah Lyra, bilang dia nggak usah khawatir." Aku berpesan kepada Kara sebelum panggilan di akhiri, agar Rhea tidak lagi kesal padaku.


"Mei, kayaknya kita nggak jadi latihan Band. Ini katanya anak-anak dapet tugas tambahan dan harus selesai sore ini." Zayn yang bertanggung jawab soal Band memberitahuku kalau latihan di batalkan.


Hah, tahu seperti itu lebih baik aku tidak usah menunggu disini. Akan lebih berguna kalau aku menunggu diperpustakaan sambil mengerjakan tugas reviewku.


"Yaudah, aku mau ke perpus aja. Mau ngerjain tugas. Lagi pula aku sudah disini." Aku membereskan beberapa barangku dan bergegas keluar dari kantin FIB menuju gedung perpustakaan dan tidak memperdulikan Zayn yang mengikutiku.


"Mei, daripada ke perpustakaan mending lo ikut gue aja. Ngerjain tugasnya sambil nongkrong di cafe." Zayn masih saja berusaha membujukku agar mau jalan-jalan dengannya.


Tapi aku tetaplah aku, jika sekali mengatakan tidak maka seterusnya sebisa mungkin akan menolak. Sayangnya Zayn juga termasuk orang yang pantang menyerah, dia masih aja mengekor di belakangku bahkan ketika aku mencari buku untuk direview.


"Kalau nggak sampai tuh bilang, biar gue ambilin." Zayn yang memang sejak tadi mengikutiku, membantu mengambil buku yang berada di rak teratas. Tapi ternyata buku itu malah di jadikan bahan pertukaran agar aku mau mengiyakan ajakannya.


"Lo butuh buku ini kan? Akan gue kasih, asal setelah tugas lo selesai, kita jalan." Zayn menawarkan kesepakatan padaku.


"Nggak mau, siniin bukunya. Aku mau nugas, terus langsung ke rumah Lyra."


"Kalau lo nggak mau yaudah, bukunya gue balikin lagi." Zayn sudah bersiap meletakan buku yang dipegangnya kembali ke tempatnya sampai aku menahan tangan Zayn.


"Siniin bukunya dan biarin aku beresin tugas. Setelah itu aku akan jalan sama kamu." Pada akhirnya aku yang kalah, mau tak mau aku mengiyakan permintaan yang tidak adil itu karena sangat membutuhkan bukunya.


Tanpa aku meminta dua kali, Zayn langsung memberikan buku itu padaku dan dia langsung duduk diam di pojok membiarkanku fokus mengerjakan review.


Tapi ternyata diamnya Zayn hanya berlangsung tidak lebih dari 20 menit, karena setelah itu dia kembali mengangguku.


"Bisa nggak kamu diem. Kalau kamu ganggu aku kayak gini, bisa-bisa tugasku nggak selesai." Aku mencoba menegur Zayn agar tidak mengangguku. Tapi sepertinya percuma karena dia tetap saja mengganggu.


"Lo kelamaan, gue udah bosen." Zayn memprotes ku karena tidak kunjung selesai.


"Tutup aja bukunya, terus lo ikut gue," lanjutnya sambil menutup buku yang sedang aku baca dan menarikku agar beranjak.

__ADS_1


Karena tidak mau nembuat keributan, akhirnya aku hanya pasrah ketika Zayn menarik ku untuk keluar dari perpustakaan, meninggalkan semua barangku yang masih tercecer di meja baca.


"Bentar, Zayn. Aku beresin barangku dulu." Aku melepas paksa tanganku dalam gegaman Zayn dan kembali ke ruang baca untuk membereskan barangku.



"Beneran Mei kita cuma kesini? Padahal gue pengen ngajakin lo ke pasar malam, mumpung ada pasar malam disekitar daerah kampus." Zayn kembali memastikan bahwa aku tidak salah memilih tempat.



"Beneran, aku lagi pengen ice cream dan disini tuh langganan aku sama Rhea. Lain kali aja kalau mau ngajak ke pasar malam."



"Yaudahlah, gue pegang omongan lo. Lain kali lo nggak boleh nolak kalau gue ajak jalan lagi."



Aku hanya tersenyum tipis menanggapi ucapan Zayn. Karena aku sendiri tidak yakin apakah masih mau pergi berdua seperti ini dengan Zayn.



Kami menikmati waktu berdua dengan nyaman. Ternyata Zayn memilki banyak hal menarik dan membuatku merasa nyaman. Hingga tanpa sadar sudah menghabiskan waktu cukup lama bersama Zayn.



"Udah sore, aku pulang duluan ya"




"Nggak usah, aku pulang sendiri aja." Aku menolak tawaran Zayn, karena jujur saja aku masih merasa asing dengan keberadaannya di sekitarku.



"Lo nggak perlu nganter Mei, biar dia pulang sama gue."



Tiba-tiba Kara sudah duduk di kursi kosong sebelah Zayn dan membuat ekspresi Zayn yang tadinya terlihat senang menjadi muram.



"Kan aku udah bilang mau kesana sendiri, Rhea nggak dengerin aku," gumamku sedikit kesal karena Rhea tidak mendengarkanku.


__ADS_1


"Bukan Rhea, gue yang mau jemput lo." Ucap Kara seolah menjawab gumamanku.



"Yuk pulang sekarang, Rhea sama Lyra udah nunggu lo."



Aku langsung mengekor di belakang Kara begitu cowok itu beranjak dari duduknya menuju mobilnya yang berada di area parkir FIB.



Sama seperti ketika bersama Zayn, aku hanya diam dan tak berniat memulai percakapan dengan Kara. Aku masih merasa aneh dengan sikapnya itu.



"Kenapa Mei, masih kaget karena gue jemput lo. Atau lo menyesal karena milih pulang bareng gue?"



Aku hanya menggeleng pelan dan tidak berniat untuk memperpanjang obrolan dengan. Karena sebenarnya aku masih merasa aneh dengan hari ini.



Dirumah Lyra, aku disambut oleh Rhea yang penasaran kenapa aku di jemput Kara. Dia juga merasa heran karna Kara mau menjemptku tanpa diminta. Karena biasanya tiap kali menjemputku pasti Kara bersama Rhea.


"Kok lo bisa bareng Aga, Mei? Kayaknya tadi Aga pamit buat ketemu anak komunitas." Rhea menjelaskan alasan keheranannya.


"Nggak tahu, tadi Kara tiba-tiba udah duduk di area parkir fakultas dan langsung ngajakin pulang bareng."


"Emang nggak jelas tuh orang." Lyra menanggapi penjelasanku dengan ejekan yang ditujukan pada Kara.


"Ngomong-ngomong soal Zayn, lo tadi jalan sama dia?" lanjut Lyra yang sepertinya penasaran dengan kedekatanku dan Zayn.


"Jalan berdua, Mei? Apa rame-rame sama anak Band yang lain?" Rhea malah ikut-ikutan bertanya tentang tadi. Padahal aku sudah sengaja tidak menceritakan hal ini pada mereka, tapi justru mereka yang bertanya karena penasaran.


"Berdua doang tadi, karena anak-anak lain sibuk dan latihan juga jadinya dibatalin. Makanya Zayn ngajakin jalan. Udah aku tolak, tapi maksa terus. Akhirnya aku ajakin dia ke kedai ice cream langganan kita." Aku berakhir menjelaskan kegiatan ku bersama Zayn tadi pada Rhea dan Lyra yang sudah sangat penasaran.


Dan kalian tahu apa reaksi mereka, iya mereka malah senyum-senyum tidak jelas sambil terus menggodaku.


"Duh, Mei udah besar ya. Udah ngedate aja nih sama calon." Itu Lyra yang berbicara.


"Iya, bilangnya latihan musik ternyata ngedate sama Zayn." Rhea menimpali candaan Lyra yang menggodaku.


Melihat reaksi Lyra dan Rhea seperti ini, aku jadi merasa bersyukur Kara menjemputku tadi, walaupun entah apa tujuannya melakukan itu. Karena dengan begitu Zayn tidak perlu bertemu mereka dan mendengar semua candaan konyol yang keluar dari mulut Lyra dan Rhea hanya untuk menggodaku.


"Lah sekarang malah bengong dia. Kayaknya kepikiran Zayn nggak sih?" Rhea yang menyadari aku sedikit melamun, kembali menggodaku.

__ADS_1


Lyra hanya tersenyum geli melihat Rhea yang terus-terusan menggodaku. Sedangkan aku, hanya diam dan membiarkan Rhea puas menggodaku, karena bila aku memprotes maka Rhea tidak akan berhenti menggodaku. Karena menurutnya, kekesalanku justru jadi hiburan tersendiri untuknya. Memang sedikit aneh sahabatku satu itu.


...~~~...


__ADS_2