
Berkat Kak Eza, gue bisa sedikit melupakan kesedihan gue karena ditolak oleh Kara. Tapi, kalau dipikir-pikir lagi, gue jadi merasa sedikir berlebihan. Hanya seperti itu saja tapi sedihnya nggak selesai-selesai.
"Kenapa Rhe? Masih kepikiran yang tadi sore?"
Gue menggeleng pelan, bohong sih sebenarnya. Tapi masa iya gue harus menceritakan soal yang tadi pada Kak Eza, yang benar saja.
"Beneran? Padahal gue udah siap menghibur kalau misal lo masih sedih karena ditolak Kara."
Gue kaget, darimana Kak Eza tahu. Ah, pasti Lyra yang memberitahunya. Memang ya, anak satu itu tidak bisa kalau diminta untuk menjaga rahasia. Awas saja nanti.
"Gue nggakpapa Kak, cuma masih kepikiran dikit."
"Nggakpapa Rhe, sedih karena di tolak itu wajar. Malah aneh kalau lo nggak merasa sedih. Tapi sedihnya juga nggak boleh lama-lama. Toh lo masih bisa ketemu Kara, masih jadi sahabatnya."
Kak Eza menasehati gue dan menepuk pelan kepala gue. Jujur saja, gue sedikit tersentuh dengan perlakuannya itu. Jadi begini rasanya menjadi Lyra, punya Kakak yang sangat baik dan penyayang.
"Makasih Kak. Maaf kalau akhir-akhir ini gue bikin lo repot mulu."
"Iya repot sebenernya, tapi nggakpapa lumayan gue jadi bisa sedikit santai juga berkat lo."
Gue hanya menatap malas Kak Eza yang terkekeh disamping gue. Bisa-bisanya saat sedang serius seperti ini dia malah tidan jelas. Memang ya, Kak Eza dengan mode seperti ini sangat tidak bisa diharapkan.
"Lo tuh nyebelin ya, Kak. Gue serius juga malah dibercandain."
"Oh, kamu mau saya seriusin. Sabar dong Rhe, kamu lulus kuliah dulu. Nanti setelah itu saya seriusin kamu."
Gue semakin cemberut mendengar jawaban Kak Eza yang semakin tidak jelas dan Kak Eza malah tertawa semakin lebar, menertawakan jokes aneh yang baru saja dia lontarkan.
"Diem, Kak! Nggak usah nyari perkara deh. Gue lagi nggak minat ribut sama lo." Ancam gue karena sudah sangat sebal dengan kelakuan aneh Kak Eza.
"Maaf, maaf. Nggak maksud kayak gitu." Ujar Kak Eza masih dengan sisa-sisa tawanya.
"Bodo ah, pulang aja yuk. Males gue, lo nggak jelas mulu dari tadi."
Gue melenggang menuju mobil dan meninggalkan Kak Eza yang masih membayar makanan yang kami makan tadi.
"Mau kemana setelah ini?"
"Mau pulang aja, udah ngantuk."
Setelah itu tidak ada lagi percakapan diantara kami, Kak Eza fokus menyetir dan gue fokus dengan game yang ada di ponsel.
"Rhe, bangun."
Ah, gue nggak sengaja tertidur dimobil selama perjalanan pulang. Tapi tunggu, ada dimana gue sekarang? Bukannya tadi gue ketiduran di mobil, kok sudah di dalam rumah.
"Akhirnya bangun juga, lo tuh kalau mau tidur di kamar bukan malah di sofa kayak gini. Tahu kok lo lagi sedih, tapi nggak kayak gini dong." Cerocos Lyra yang justru membuat gue semakin bingung.
"Bentar, Ra. Ini kenapa gue ada disini? Kayaknya tadi gue sama Kakak lo."
"Kak Eza di ruang kerjanya tuh, ngigo ya lo."
Gue masih berusaha mencerna apa yang sedang terjadi. Gue yakin, tadi gue memang tidak sengaja tertidur di mobil. Berarti ini ulah Kak Eza, awas aja dia.
"Lupakan deh, gue mau cuci muka dulu. Abis itu baru ke kamar."
__ADS_1
Gue langsung beranjak dari sofa dan menuju wastafel yang ada di dekat dapur untuk mencuci muka. Berharap setelah ini gue akan merasa segar kembali.
"Enak tidurnya?"
Gue hanya menatap malas Kak Eza dari kaca yang ada di atas wastafel tanpa berniat menyahuti pertanyaannya. Gue masih sebal dengan ulahnya hari ini. Iyasih, niatnya baik mau menghibur gue. Tapi kenapa harus isengin gue juga.
"Makanya lain kali tuh kalau dibangunin langsung bangun. Masih mending gue gendong lo sampai dalem, tadinya mau gue tinggal di mobil."
"Dih, pamrih."
Gue berbalik menatap sinis Kak Eza yang sudah duduk di sofa ruang tengah.
"Lo berat Rhe, kalah lo enteng mah gue gendong sampai kamar."
"Heh! Body shaming lo, Kak. Masa gue seberat itu, padahal masih gede badan lo." Sahut gue tidak terima, karena secara tidak langsung Kak Eza mengatakan kalau gue gendut.
"Ya ampun, gue kan nyuruh lo tidur di kamar. Kenapa malah ribut sama Kak Eza sih."
Lyra yang sedari tadi memang masih menunggu gue, tiba-tiba turun dan memarahi kami. Membuat Kak Eza yang tadinya mau membantah omongan gue jadi mengurungkan niatnya itu.
"Kakak lo tuh, rese. Gangguin mulu, padahal baru juga tadi kita akur. Sekarang udah nyebelin lagi."
"Lah jadi gue. Lo tuh, cewek ngeselin nggak tahu terimakasih. Udah susah payah digendong malah marah-marah nggak jelas." Sahut Kak Eza tidak mau kalah dengan gue.
"Udah ah, malah ribut kayak bocah. Balik kamar aja yuk, biarin Kak Eza sendirian disini."
Keesokan paginya, gue kembali berkuliah seperti biasa. Sejujurnya gue malas sekali karena hari ini hanya satu matkul. Tapi daripada gue harus terjebak bersama Kak Eza, lebih baik gue ke kampus.
"Sabar, gue lagi ambil tas. Untung aja masih ada baju gue disini, jadi gue nggak perlu repot balik rumah dulu."
"Gue tinggal kalau lo harus balik rumah dulu."
"Buruan ah, katanya lo kelas pagi. Sekarang malah main handphone mulu."
Kami tiba di kampus tepat waktu dan Lyra langsung berlari ke fakultasnya karena dia ada kelas pagi dengan dosen yang bisa dibilang minim toleransi soal waktu, terlambat sedikit saja pasti akan langsung diminta keluar dari ruangan.
Sedangkan gue, berjalan santai menuju perpustakaan. Karena memang hari ini gue hanya memiliki kelas siang. Ini aja berangkat pagi karena berangkat bareng Lyra.
Perpustakaan masih sepi saat gue masuk, tentu saja karena hari ini anak FIB lebih banyak yang kelas siang. Tapi tak apa, gue justru senang kalau sepi seperti ini. Jadi gue bisa bebas membaca buku tanpa gangguan.
__ADS_1
"Setelah seharian kemarin ngilang, sekarang lo jadi penghuni tetap perpustakaan?"
Baru juga gue merasa senang, ternyata tidak bertahan lama. Zayn tiba-tiba muncul dan mengganggu gue. Sepertinya setelah ini tidak akan ada ketenangan buat gue.
"Lo lagi, ganggu aja sih." Protes gue dan mengabaikan pertanyaan yang Zayn lontarkan tadi, ah atau lebih tepatnya sindirian untuk gue.
"Lah ini tempat umum, terserah gue dong. Kan gue juga anak kampus sini."
"Tapi lo tuh kurang kerjaan, anak FISIP kok nongkrongnya di perpustakaan FIB."
"Ini kalau bukan karena tugas Pak Eza, gue juga males jauh-jauh sampai sini. Fakultas gue juga punya perpustakaan."
Gue malah berdebat dengan Zayn dan melupakan buku yang tadinya mau gue baca. Memang ya, Zayn itu penganggu. Mana menyebalkan pula.
"Sana, pergi. Tuh cari bukunya terus balik fakultas lo."
Gue mengusir Zayn agar segera pergi dari perpustakaan. Padahal ini tempat umum dan siapapun berhak ada disini. Tapi khusus untuk Zayn, gue melarangnya karena dia berisik dan sangat mengganggu.
"Dih, ngusir. Siapa lo?" Cibir Zayn dan malah duduk di kursi kosong depan gue.
"Heh! Gimana rasanya ditolak? Masih sedih nggak lo, sini gue hibur." Ujar Zayn tiba-tiba.
"Diem! Nggak usah sok tahu."
"Gue tahu, karena sahabat lo itu kemarin nembak cewek gue."
Gue yang sudah kaget karena Zayn tahu soal gue ditolak semakin kaget setelah mendengar ucapannya barusan. Gue nggak salah dengar kan?
__ADS_1