Bianglala (Revisi)

Bianglala (Revisi)
12.1 [Rhea] Distraksi


__ADS_3

Ternyata yang dimaksud dengan tanggung jawab oleh Kak Eza adalah siap untuk diintrogasi Lyra. Kalau tahu seperti itu lebih baik gue pulang aja. Karena jujur saja, menghadapi Lyra yang penasaran jauh lebih merepotkan daripada berdebat dengan Aga seperti tadi.


"Kak, kenapa nggak bilang sih? Tahu gitu kan gue mending balik rumah."


"Kan tadi udah saya peringatkan." Sahut Kak Eza masih dengan gaya bicaranya yang kaku.


Begitu masuk rumah, rupanya gue udah ditunggu Lyra. Walaupun dari jarak yang lumayan jauh, gue bisa melihat tatapan penuh selidik yang memang ditujukan pada gue.


"Dek, biarin Rhea istirahat dulu. Nggak usah banyak tanya."


"Tapi Kak, dia utang penjelasan sama gue." Bantah Lyra tidak mengindahkan teguran Kakaknya.


"Nanti gue bakalan cerita semuanya. Untuk sekarang, gue pengen sendiri dulu."


Gue mencoba menengahi perdebatan kakak beradik ini. Berharap setelah ini gue bisa sedikit menenangkan pikiran.


"Okey, tapi lo masih utang cerita ke gue. Ayo gue anter ke kamar, lo istirahat dulu."


Gue lekas mengikuti Lyra yang sudah lebih dulu berjalan menuju kamar tamu.


"Makasih. Kalau pikiran gue udah bener, gue pasti cerita semuanya sama lo."


Setelah Lyra keluar dari kamar, gue bergegas untuk membersihkan diri dan beristirahat. Walaupun hanya bisa mengistirahatkan tubuh, karena pikiran gue masih saja memikirkan kejadian tadi.


Gue masih merasa kesal bila kembali mengingatnya. Bagaimana Aga, sahabat gue justru memperlakukan gue seperti itu. Gue nggak marah dia dekat dengan Mei, hanya saja gue sedikit merasa iri. Gue juga ingin diperlakukan seperti Mei oleh Aga.


Gue sadar, gue juga salah. Tapi rasa gengsi dan ego yang gue punya tidak membiarkan gue mengalah pada Aga. Sekarang, gue justru merasa bersalah pada Mei, karena melibatkan dia dalam keributan akibat ulang gue dan Aga.


"Gue kira tidur, ternyata lagi bengong."


Gue sedikit tersentak mendengar suara Kak Eza yang tiba-tiba masuk kamar.


"Eh, ada apa Kak?"


"Nggakpapa sih, cuma mau ngecek lo. Tapi kayaknya udah aman sih. Gih istirahat aja, pasti capek kan. Marah sama nangis kan butuh tenaga." Terang Kak Eza.


"Nggak bisa, Kak. Masih kepikiran yang tadi. Kayaknya gue keterlaluan banget ya?" Sesal gue, ketika kembali mengingat perdebatan bersama Aga tadi.


"Gue nggak akan bela siapapun disini. Tapi menurut gue, kalian sama-sama salah. Kenapa sih lo nggak jujur aja, perasaan lo valid. Nggak ada yang salah sama apa yang lo rasakan." Jelas Kak Eza yang justru membuat gue bingung.


Gue hanya menatap Kak Eza dengan tatapan penuh tanya. Karena gue benar-benr tidak paham dengan ucapannya itu.


Melihat gue yang bingung Kak Eza hanya tertawa pelan dan mengacak rambut gue tanpa menjelaskan apapun.


"Pahamin dulu perasaan lo, nggak usah denial. Kalau udah paham, coba belajar memaafkan." Imbuh Kak Eza sebelum keluar kamar.


Gue hanya bisa diam, mencoba memahami ucapan Kak Eza yang penuh teka-teki itu.



Gue berakhir menginap di rumah Lyra, karena kedua Kakak beradik itu tidak membangunkan gue ketika gue tidak sengaja jatuh tertidur. Sepertinya gue terlalu lelah memikirkan segala hal yang terjadi hari ini.



"Lo mau ke kampus nggak hari ini?"


__ADS_1


"Gue cuma satu matkul dan itu presentasi mandiri. Kayaknya mau bolos dulu, belum berminat menginjakan kaki di kampus setelah kejadian kemarin."



"Berarti lo nemenin Kak Eza ya, tolong awasin. Dia lagi kurang fit kayaknya." Pesan Lyra sebelum dia pergi.



Rumah ini langsung terasa sangat sepi setelah Lyra pergi, rasanya seperti tidak ada kehidupan sama sekali disini.



Gue lekas kembali ke kamar setelah selesai sarapan dan mencuci piring bekas sarapan tadi.



Baru sebentar ditinggal Lyra gue sudah merasa bosan, gue bingung harus melakukan apa. Bahkan sampai-sampai aku berkeliling halaman rumah hanya untuk mengusir rasa bosan.



"Lah lo nggak kuliah?"



"Nggak Kak, males. Lagian juga nggak ada dosennya." Kilah gue, agar tidak terlihat seperti mahasiswa bandel. Padahal emang gue sebenarnya bandel.



"Bukan karena mau menghindar?" Kekeh Kak Eza menggoda gue.




"Gue merasa bersalah Kak, sama Mei terutama. Dia nggak tahu apa-apa tapi ikut kena imbasnya."



"Udah, nggak usah dipikirin. Sekarang lo benahin dulu hati lo. Nggak usah mikirin yang lain. Nanti kalau lo udah siap, temui Mei dan ngobrol." Papar Kak Eza menasehati gue.



Gue mengangguk pasrah dan fokus ke ponsel, kembali menonton video tutorial permainan gitar. Karena gue ingin segera bisa menguasi alat musik itu.



"Cuma nonton doang mana bisa. Pakai gitar gue sana, nanti gue ajarin." Pinta Kak Eza.



Gue tidak merespon Kak Eza sama sekali, karena gue sedang berusaha fokus mempelajari video yang gue tonton. Sampai Kak Eza menyodorkan gitarnya ke pangkuan gue baru gue mengalihkan fokus dari video.



"Coba gih main, gue mau denger." Seloroh Kak Eza.


__ADS_1


Ragu-ragu gue mulai memetik gitar dengan pelan, menghasilkan melodi acak yang terdengar lumayan.



"Lumayan juga, ini lo belajar dari video?" Tanya Kak Eza terlihat penasaran.



"Iya, sama diajarin Zayn juga kemarin-kemarin."



"Oh, pantes. Dia kan emang jago main alat musik." Pungkas Kak Eza.



"Lanjut aja latihannya, gue mau ke ruang kerja. Beresin berkas sama tugas-tugas mahasiswa." Lanjutnya.



Gue benar-benar ditinggal sendirian sampai sore. Entah apa yang dikerjakan Kak Eza selama itu.



"Kak, boleh minta tolong anterin pulang nggak? Udah sore dan gue udah dicariin sama orang rumah." Pinta gue ragu-ragu, karena merasa tidak enak mengganggu Kak Eza yang sedang berkutat dengan kerjaan.


"Lo mau pulang sekarang? Nggak nunggu Lyra?"


Gue menggeleng pelan. Sebenarnya gue justru sengaja pulang sebelum Lyra pulang, karena gue enggan diintrogasi olehnya. Gue masih belum siap untuk menceritakan semuanya pada Lyra.


"Tunggu sebentar, gue beresin ini dulu." Ujar Kak Eza dan kembali fokus pada pekerjaannya.


Tidak sampai setengah jam, Kak Eza sudah membereskan perkerjaannya dan bersiap untuk mengantar gue pulang.


"Mampir makan dulu ya, tadi lo belum makan." Tawar Kak Eza.


"Iya, tapi boleh nggak kalau beli makanannya terus dimakan di mobil aja. Biar kayak piknik tapi malem."


Gue dan permintaan aneh gue, entah kenapa gue merasa nyaman didekat Kak Eza, sampai gue berani meminta hal yang aneh seperti itu. Gue merasa dilindungi bila berada di dekat Kak Eza dan itu menyenangkan.


"Boleh, mau makan apa?"


"Kwetiauw enak kayaknya, beli yang di pinggir jalan aja, Kak." Usul gue antusias.


Seperi permintaan gue tadi, Kak Eza langsung menepikan mobilnya begitu menemukan penjual kwetiauw. Kami memesan dua porsi dan juga dua gelas jeruk hangat.


"Enak?" Tanya Kak Eza disela-sela makan.


Gue mengangguk antusias, "Iya, enak banget Kak. Udah lama banget nggak makan kayak gini."


"Abisin, setelah itu gue anter lo pulang."


Gue mengangguk dan menghabiskan makanan tanpa suara.


Malam ini menjadi malam yang berkesan buat gue, walaupun sebenernya tidak ada yang spesial. Tapi setidaknya, semenjak bersama dengan Kak Eza, gue bisa sedikit melupakan masalah kemarin.


...~~~~~...

__ADS_1


__ADS_2