
Hubungan gue dan Mei sudah kembali seperti biasanya, walaupun gue sedikit canggung. Tapi setidaknya kami sudah akur kembali. Jujur saja, itu sangat melegakan. Rasanya beban gue hilang.
Seperti yang yang sudah gue dan Mei rencanakan. Sejak kemarin kami menginap di rumah Lyra. Tadinya mau memberi kejutan untuk anak itu, tapi malah kami berakhir menemani Lyra yang sedang galau.
"Chat aja sih, daripada lo galau nggak jelas kayak gini."
Gue menyuruh Lyra untuk mengirim pesan pada Kak Bryan.
"Iya, Rhea bener. Coba chat aja, dia udah pulang pasti." Imbuh Mei ikut mengiyakan ucapan gue.
"Tapi kalau nggak dibalas gimana?" Cicit Lyra takut.
"Coba dulu. Belum dicoba juga."
Gue gemas sendiri dengan sikap Lyra yang ragu-ragu. Rasanya, gue mau ambil ponselnya dan telepon Kak Bryan. Tapi, Mei melarang gue, karena katanya tidak sopan. Emang nggak sopan sih, tapi gue geregetan.
"Kalau kamu nggak mau chat, berarti tunggu Kak Bryan chat kamu duluan." Tutur Mei memberi solusi.
"Gue mau cari angin dulu, sekalian minta ajarin gitar sama Kak Eza."
Gue beranjak dari tempat tidur dan langsung keluar kamar menuju teras belakang. Sebenarnya tujuan gue ke teras belakang untuk menjauh sebentar dari Lyra dan Mei, karena gue berniat kembali menghubungi Aga .
Tapi gue langsung mengurungkan niat setelah melihat Kak Eza duduk sambil bermain gitar. Gue langsung mendekati Kak Eza dan diduduk di sampingnya.
"Ngapain lo?" Sambut Kak Eza tidak ramah sama sekali.
"Galak amat sih Kak, cuma mau duduk doang padahal." Ujar gue sambil duduk.
"Gue kan emang gini kalau ngomong." Ujar Kak Eza membela diri.
Iya, ngomongnya nggak santai. Mana galak banget, batin gue. Sengaja gue tidak menyuarakan itu, karena malas berdebat dengan Kak Eza.
Gue lebih memilih duduk diam disampingnya dan menyibukan diri dengan ponsel. Jujur saja, saat ini gue sedikit berharap Aga membalas pesan yang gue kirimkan kemarin.
Sejujurnya gue mulai merindukan Aga. Rasanya sudah lama sekali gue nggak pernah dijemput Aga dan gue merindukan itu. Kebiasaan kecil yang biasanya Aga lakukan. Pokoknya gue merindukan semua itu.
"Rhe, Rhea. Mau belajar gitar nggak? Mumpung gue baik nih, gue ajarin daripada lo bengong nggak jelas.
"Hah?"
Gue menatap Kak Eza bingung. Gue nggak salah dengar nih, Kak Eza menawari gue untuk belajar gitar. Gue yang masih belum menangkap maksud ucapan Kak Eza hanya melayangkan tatapan bingung dan penuh tanda tanya.
"Lah malah bengong dia. Rhea, halo."
__ADS_1
Kak Eza melambaikan tangannya di depan wajah gue dan membuat gue seketika tersadar. Ah, kenapa gue malah bengong di depan Kak Eza. Kan harusnya gue menjawab pertanyaannya tadi.
"Eh, sorry Kak. Boleh deh, mau coba hasil latihan sama Zayn kemarin." Ujar gue buru-buru, setelah tersadar.
Kak Eza malah tertawa melihat gue yang kebingungan tadi. Rasanya gue mau pergi aja dari tempat ini, malu sekali rasanya. Bisa-bisanya gue malah bengong didepan Kak Eza, rusak deh image gue.
Gue mengambil alih gitar milik Kak Eza dan memainkannya secara random, sebelum memulai memainkan sebuah lagu yang gue tahu kuncinya karena baru saja berlatih belum lama ini bersama Zayn.
"Permainan lo makin bagus. Gue rasa lo nggak perlu belajar lagi sama Zayn. Lo udah bisa itu, tinggal diasah terus aja. Soalnya gue lihat lo masih kaku." Komentar Kak Eza setelah mendengarkan permainan gitar gue.
"Makasih Kak,"
"Ngomong-ngomong, lo tadi ngelamunin apa? Masih kepikiran soal masalah lo sama Kara?" Tanya Kak Eza tepat sasaran.
Gue mengiyakan pertanyaan Kak Eza. Tanpa diminta gue menceritakan apa yang sedang gue rasakan saat ini. Apa yang menjadi keraguan gue sejak tadi.
"Gue kepikiran Kak, karena sebenernya kan itu salah gue juga. Kalau waktu itu gue bisa sedikit menahan omongan gue, nggak akan sampai kayak gini."
"Udah terlanjur, nggak usah dipikirin lagi. Lebih baik lo mikirin buat minta maaf sama Kara. Kalau emang lo udah mau minta maaf." Nasehat Kak Eza.
"Iya Kak, ini kemarin gue coba chat dia. Tapi tuh sampai sekarang nggak ada respon. Chat gue yang kemarin aja nggak dibaca sama dia, apalagi gu chat lagi, malah diblok kayaknya."
"Menurut gue, nggak usah nunggu dia bales chat. Datengin aja orangnya, toh rumah kalian deket, hadap-hadapan malah." Ujar Kak Eza memberi saran.
"Masih pagi lho, ada apa?" Ujar Kak Eza.
"Ehehehe, anterin ke rumah. Gue kepikiran terus Kak, nggak tenang rasanya. Gue mau minta maaf sama Kara sekarang."
Kak Eza hanya menatap gue dengan ekspresi datar dan tanpa berkata apapun dia langsung menutup pintu kamarnya.
"Dih, kalau nggak mau tuh bilang. Jangan langsung nutup pintu. Nyebelin banget sih." Sungut gue kesal, karena kelakuan Kak Eza barusan.
__ADS_1
"Sabar neng, gue lagi cuci muka sama ganti baju. Yang bener aja, mau nganter lo tapi masih kucel."
Kak Eza muncul lagi dengan tampilan yang lebih rapi dengan hoodie abu-abu dan celana jeans hitam. Gue baru sadar, ternyata Kak Eza cakep juga kalau berpenampilan santai seperti ini.
"Ya lagian, nggak ngomong apa-apa langsung tutup pintu." Ucap gue masih saja menyalahkan Kak Eza.
"Berisik, buruan. Nanti Lyra keburu bangun. Malah nggak jadi pergi kita."
Gue langsung diam dan mengunci mulur rapat-rapat setelah Kak Eza menegur gue. Kami berdua bergegas menuju garasi untuk mengambil mobil.
Sepanjang perjalanan, kami saling membisu. Tidak ada satupun dari kami yang berniat membuka obrolan.
Gue mengetuk pintu rumah Aga dengan pelan, sebenarnya gue masih ragu-ragu apakah yang gue lakukan saat ini sudah benar. Rasanya gue tidak ingin Aga segera membuk pintu.
Tapi harapan gue cuma akan menjadi harapan. Karena tak lama setelah gue mengetuk pintu, Aga langsung membukakan. Kami sama-sama tersentak, bedanya Aga bisa menyembunyikan kekagetannya sedangkan gue tidak.
"Ada apa, Rhe? Pagi-pagi udah didepan rumah gue." Tanya Aga penasaran.
"Gu-gue.. mau minta maaf. Maaf karena omongan gue waktu itu keterlaluan dan bikin lo sakit hati. Maaf karena nggak mau dengerin penjelasan lo. Gue kangen lo Aga." Seloroh gue tanpa ada lagi yang ditutup-tutupi.
Aga masih diam, dia sama sekali tidak merespon ucapan gue dan itu justru membuat gue takut. Lebih baik gue dimarahi, daripada didiamkan seperti ini.
Gue sudah berniat membalikan badan dan pergi, tapi Aga langsung menarik tangan gue dan memeluk gue dengan erat.
"Gue kangen lo, Rhea. Gue juga minta maaf, karen udah bentak lo kayak gitu. Pasti omongan gue kemarin bikin lo sakit hati." Ujar Aga tidak melepaskan pelukannya yang sangat erat dan membuat gue sedikit sesak
Gue rasanya sangat senang akhirnya bisa berbaikan dengan Aga. Semoga setelah ini tidak ada lagi masalah yang membuat gue dan Aga menjauh lagi. Jujur saja, rasanya sangat aneh bila harus bermusuhan seperti itu dengan sahabat sendiri.
Sebentar, gue melupakan sesuatu. Saking senangnya, gue sampai lupa kalau Kak Eza menunggu. Gue buru-buru melepaskan pelukan Aga dan berlari menuju halaman depan. Tapi ternyata Kak Eza sudah tidak ada ditempatnya tadi.
...~~~~...
__ADS_1