Bianglala (Revisi)

Bianglala (Revisi)
11.3 [Mei] Rumit


__ADS_3

Sudah seminggu sejak terakhir kali aku bertemu dengan Rhea dan sampai sekarang aku belum pernah bertemu Rhea lagi. Aku malah jadi lebih sering bertemu dengan Kara.


Dia selalu datang menjemputku tanpa aku minta. Jujur saja, sebenarnya aku merasa tidak enak karena selalu merepotkannya. Tapi Kara terus menerus memaksa.


Seperti hari ini, Kara menjemputku dirumah padahal aku sudah bilang kalau mau berangkat sendiri, karena hari ini akan ada latihan Band.


"Ayo, Mei. Kita mampir makan siang dulu ya."


"Kan aku udah bilang, nggak usah jemput. Aku ntar sore mau latihan band."


"Yaudah sih, ntar sore pulangnya gue jemput. Buruan naik." Kara membukakan pintu untukku dan mempersilakan aku untuk segera masuk.


Aku lekas masuk mobil seperti permintaan Kara. Dan dia bergegas melajukan mobilnya menuju kampus.



Begitu tiba dikampus, Kara langsung menarik tanganku menuju kantin. Dengan susah payah aku mengimbangi langkah Kara yang kelewat lebar.



"Nggak usah narik-narik ah, capek aku ngikutin kamu yang langkahnya lebar banget kayak gitu." Protesku sambil melepaskan cekalan tangan Kara.



"Iya, iya. Nggak gue tarik lagi. Ayo, jalan."



Aku mengekor dibelakang Kara yang kali ini berjalan lebih pelan.



"Kantin fakultas lo aja ya. Fakultas gue jauh."



Aku hanya menuruti Kara tanpa protes, karena aku malas bila harus berdebat dengan anak itu.



Entah kebetulan atau memang Kara sengaja, kami bertemu dengan Rhea. Kali ini Rhea tidak menghindar lagi, dia masih duduk diam ditempatnya sampai aku dan Kara menghampiri.



"Apakabar, Rhea? Lama nggak ketemu kita. Terakhir ketemu seminggu yang lalu."



Aku menyapa Rhea, tapi berakhir diabaikan. Tak apa, mungkin Rhea masih sedikit kesal padaku.



"Lo apakabar? Tumben diam doang, biasanya langsung menghindar."



Aku kaget dengan ucapan Kara, apa maksudnya dia berbicara seperti itu. Aku bisa melihat tatapan Rhea seketika berubah, bukan lagi tatapan datar seperti tadi, tetapi tatapan mata yang mengisyaratkan amarah yang siap meledak kapan saja.

__ADS_1



"Apa-apaan sih kamu! Kita kesini tuh buat ngobrol sama Rhea."



"Buat apa? Percuma ngomong sama dia, kekanakan." Decih Kara.



"Oh, gitu. Cukup tahu aja sih gue. Ternyata sahabat gue ini pengecut."



Dan benar saja, amarah Rhea yang sedari tadi ditahan meledak juga karena terpancing ucapan Kara. Semua hal yang dia pendam selama ini akhirnya keluar juga, menjadi sebentuk amarah yang tidak terbendung.



Jujur saja, disituasi seperti ini aku bingung harus bagaimana. Aku tidak bisa menjadi penegah untuk mereka, aku terlalu takut. Tapi, jika aku tidak segera menghentikan mereka, kami akan semakin menjadi tontonan menarik para penghuni kantin.



Untungnya, tak lama setelah keributan yang dibuat oleh Kara dan Rhea, seseorang datang menengahi dan meminta para pengunjung kantin untuk segera bubar. Perlahan-lahan kerumunan yang disekitar kami mulai berkurang dan menghilang. Menyisakan Kak Eza yang berdiri diujuk kerumunan tadi bersama dengan Zayn.



Aku hanya bisa diam ketika Kak Eza yang membubarkan kerumunan dan membawa pergi Rhea. Aku masih bingung harus bereaksi seperti apa. Sampai sentuhan tangan Zayn di pundakku membuat tersadar.




Aku langsung pergi begitu saja tanpa memperdulikan bagaimana keadaan Kara. Aku lebih memilih mengikuti Zayn ke ruang latihan. Berharap di ruang latihan aku bisa meluapkan segalanya dengan bernyanyi.



Sejak hari dimana Kara dan Rhea berdebat di kantin. Aku tidak pernah lagi berhubungan dengan Kara, bahkan via chat sekalipun.


Aku selalu dengan sengaja pergi lebih dulu sebelum Kara datang menjemput. Aku masih marah dengannya dan tidak berminat untuk memaafkan tingkah lakunya yang kasar itu.


Saat ini, aku lebih suka menyendiri dan menjauh dari orang-orang. Aku lebih senang menikmati waktu luangku sendirian. Bahkan sekarang pun aku enggan untuk sekedar basa basi dengan rekanku ketika latihan band.


Aku kembali pada kebiasaanku dulu, menyendiri dan menghindari orang lain, terutama cowok. Aku kembali menjadi Mei yang pendiam.


"Ngelamun aja lo, kesambet ntar."


Aku mengabaikan Zayn dan lebih memilih mengecek ponselku. Aku menunggu balasan dari Lyra.


"Mei, kenapa gue dicuekin sih." Protes Zayn merajuk.


Tapi aku tetap diam dan tidak memperdulikan tingkah Zayn yang semakin tidak jelas karena mencari perhatian.


"Berisik Zayn. Mending kamu nyiapin alatnya."


Akhirnya aku menyerah juga, daripada Zayn semakin bertingkah.


"Ayo, mulai latihan."

__ADS_1


Aku mengajak Zayn dan yang lain untuk segera berlatih. Agar Zayn tidak bertingkah aneh lagi dan bisa jadi pengalihan pikiranku.


Satu jam berlalu, latihan kami baru saja selesai. Aku lekas membereskan barang-barangku dan bergegas untuk pulang.


"Mei, gue anter ya pulangnya. Udah gelap, nggak baik cewek sendirian."


Dengan sedikit ragu aku mengiyakan tawaran Zayn untuk mengantarku pulang.


"Untung gue tepat waktu datengnya. Yuk, pulang."


Kara tiba-tiba muncul dan langsung menarikku untuk masuk ke mobilnya. Jelas saja aku langsung menolak. Yang benar saja, datang tiba-tiba dan langsung menarikku seperti itu.


"Aku pulang sama Zayn. Kamu sekarang mending balik pulang aja."


Aku menolak Kara dengan halus. Berharap dia mau membiarkanku pulang bersama Zayn.


"Nggak ada, lo pulang sama gue. Biasanya kan juga gitu." Tolak Kara mentah-mentah dan kembali memaksaku untuk pulang bersamanya.


"Kalau dia nggak mau tuh nggak usah di paksa. Biar Mei pulang sama gue."


Suasana diantara kami bertiga seketika terasa tegang. Rasanya seperti akan ada perang setelah ini.


"Kara, tolong kamu pulang aja. Aku bisa pulang sendirian atau bareng Zayn."


Aku kembali membujuk Kara dan untungnya kali ini dia menurut tapi dengan syarat.


"Okey, lo boleh balik sama Zayn. Tapi besok lo harus temenin gue sarapan atau makan siang." Ujar Kara mengajukan syaratnya.


Aku menggigit bibirku, sedikit ragu-ragu menyanggupi syarat dari Kara. Karena sejujurnya aku masih enggan bertemu dengannya setelah kejadian di kantin kemarin.


Tapi daripada aku harus berdua dengan Kara saat ini, lebih baik aku mengiyakan syaratnya.


"Sekarang kamu pulang, tunggu besok dan aku bakalan sanggupin syaratnya." Ujarku sambil mendorong Kara agar kembali masuk ke mobilnya.


"Ayo, pulang. Aku capek banget."


Aku menarik tangan Zayn karena dia terlalu lambat. Tapi rupanya tindakanku itu malah membuat Zayn hanya diam dan tak bergerak sedikitpun.


"Astaga, ini gimana ceritanya playboy kampus di pegang tangannya sama cewek malah jadi patung batu."


Aku tertawa pelan, menertawakan diriku sendiri yang dengan beraninya menggenggam tangan Zayn.


"Lo ngagetin, Mei. Bisa-bisanya main gandeng aja. Padahal tadi gue di cuekin." Protes Zayn setelah bisa meredakan kekagetannya.


"Udah, ayok pulang. Keburu dikunciin sama pak satpam."


Aku berjalan mendahului Zayn yang masih berdiri di tempatnya tadi. Entah mau sampai kapan dia berdiri disana.


"Zayn, buruan. Katanya mau nganterin aku pulang."


"Iya, iya, ini gue lari."


Malam ini, aku bisa sedikit melupakan masalah soal Rhea berkat Zayn. Aku tidak lagi terlalu mengkhawatirkan Rhea karena aku yakin akan ada orang lain yang siap menjadi sandaran Rhea saat ini.


Untuk malam ini, aku ingin sebentar saja memikirkan kesenanganku sendiri. Menikmati waktu berhargaku bersama Zayn dan melupakan semua masalah yang ada. Berharap, besok ketika aku kembali ke realitas masalah itu bisa teratasi.


...~~...

__ADS_1


__ADS_2